Berbagi Asa dengan Menjadi Seorang Narablog

2019 sudah hadir menyapa kita. Pasti ada banyak cerita yang kita lalui di tahun 2018, dan tahun-tahun sebelumnya, bukan? Cerita yang mungkin akan terus kita kenang hingga nanti. Kisah-kisah yang menjadi bekal untuk kita bisa menghadapi apa yang terjadi di masa depan.

Bicara tentang awal tahun, biasanya kita punya kebiasaaan untuk membuat resolusi yang akan dijalankan di tahun tersebut. Begitu pun saya.

Sudah beberapa tahun ini saya rutin untuk membuat resolusi di awal tahun. Tapi ternyata pelaksanaannya belum bisa sempurna. Di tengah jalan, seringkali saya lupa dengan resolusi awal tahun yang sudah saya buat. Pernah saya membeli planner sebagai alat bantu agar saya tetap bisa menjalankan resolusi di tahun tersebut. Namun, lagi-lagi saya menyerah. Planner hanya saya isi di bulan-bulan awal saja, setelah itu, planner kembali tidak tersentuh. Ujung-ujungnya,, resolusi saya tidak dapat terlaksana.

Gambar dari www.google.com

Ada yang senasib dengan saya?

Nah, karena saya tidak mau mengulang kesalahan yang sama lagi, di akhir tahun 2018 lalu saya membuat resolusi untuk “karir” saya. Sebenarnya resolusi ini dilatarbelakangi karena saya mengikuti salah satu challenge menulis 30 hari di blog.

Di usia saya yang sudah 31 tahun ini, karir seperti apa yang ingin saya bangun? Alhamdulillah, meskipun saya sudah resign dari pekerjaan sebagai apoteker sekitar 5 tahun lalu, namun saya bisa tetap “waras” dengan melakukan hal yang saya sukai, di tengah kesibukan mengurus dua anak balita, tanpa ART. Ya, tentu saja dengan perjuangan yang tidak mudah juga.

Apa hal yang saya sukai? Menulis.

Yap, menulis bagi saya, bukan sekedar kesukaan, namun ia juga menjadi salah satu cara saya untuk “healing” dari perasaan-perasaan negatif yang muncul, baik dari dalam diri maupun dari luar.

Gambar dari Pinterest

Di awal tahun 2018, saya memiliki target untuk mulai “serius” dalam menulis. Bukan hanya sekedar curhat pribadi semata, hehe… Oleh karena itu, saya memulai dengan membuat blog yang baru. Di blog lama saya, isinya terlalu banyak curhat dan temanya pun masih suka-suka. Semua dituliskan disana. Nah, di blog yang baru, saya ingin membuat tema-tema yang ingin saya tulis dengan lebih rapi dan sistematis.

Sudah sejak lama saya mengenal dan menulis di blog, namun saya tidak serius mendalami dunia blog. Saya masih mencari bentuk diri saya seperti apa di kemudian hari. Maksudnya, setelah resign dan berjibaku dengan aktivitas di rumah, sedikit demi sedikkit, beberapa impian yang dulu sempat saya ingin raih, terlupakan. Di tahun 2018 lalu, saya mulai menata hidup saya. Saya juga ingin memiliki cita-cita seperti orang lain. Seiring waktu, saya seperti benar-benar menemukan diri saya saat menulis.

Semakin banyak saya menulis, semakin saya merasa bahwa diri saya lebih hidup dan bersemangat.

Di tahun 2019 ini, saya ingin memulai merintis untuk menjadi seorang narablog. Kenapa? Jujur, saat saya mencoba serius untuk menggunakan blog sebagai sarana untuk menulis dan berbagi, saya menemukan kebahagiaan yang tidak bisa diukur oleh materi. Membaca komentar-komentar yang hadir, membuat saya menjadi merasa seperti sejenak terbang melangit. Mungkin terkesan agak berlebihan, namun bagi seorang narablog pemula seperti saya, hal sederhana seperti ini begitu luar biasa. Apalagi jika hal yang saya tulis ini bisa bermanfaat bagi pengunjung dan pembaca blog saya.

Menulis di blog, selain mampu menjaga “kewarasan” saya, juga saya bisa mendapatkan banyak manfaat dan energi positif dari teman-teman narablog lain, tentunya melalui aktivitas blogwalking. Saya bisa memiliki teman-teman dunia maya yang hebat dan menginspirasi. Sering saya berharap untuk bisa bertemu dengan teman-teman narablog yang sudah profesional untuk belajar secara langsung dan bertemu sosok-sosok hebat yang selama ini saya kagumi secara diam-diam melalui tulisan mereka.

Di tahun 2019 ini, ada beberapa resolusi yang saya ingin lakukan berkaitan dengan aktivitas menulis di blog. Tema besar resolusi 2019 saya dalam dunia blog adalah merintis karir untuk menjadi narablog profesional.

Waaah… masih jauh sekali ya dari realita yang saya hadapi saat ini. Tapi, bermimpi, boleh dong? 🙂

Insyaallah bermimpi yang disertai dengan ikhtiar yang sungguh-sungguh.

Gambar dari Pinterest

Langkah pertama adalah membangun konsistensi menulis di blog. Ini jelas adalah langkah yang mau tidak mau harus saya lakukan. berbekal semangat mengikuti challenge 30 hari menulis di akhir tahun 2018 lalu, di tahun ini saya ingin konsistensi menulis di blog. Memang belum bisa satu hari satu tulisan, namun saya menargetkan di tahun 2019 ini minimal terbit dua tulisan setiap pekannya.

Kedua, saya akan membuat tema untuk setiap tulisan yang akan terbit di blog pribadi. Selain memudahkan saya untuk menulis (iya, saya sering sekali bingung ketika akan menulis :)), membuat tema tulisan akan memudahkan saya untuk menentukan niche blog saya. Meskipun saat ini, sebagai narablog pemula, saya masih menulis dengan banyak tema.

Ketiga, saya ingin di tahun 2019 ini mengikuti minimal 5 lomba blog, #KompetisiBlogNodi ini adalah lomba blog yang saya ikuti pertama kalinya. Terima kasih kepada Mas Adhi yang sudah mengadakan lomba ini, dan juga para juri yang menjadi inspirasi saya dalam menulis.

Ikutan, yuk!

Keempat, saya ingin mengikuti acara dari komunitas blogger, minimal di daerah dekat saya tinggal. Ini bisa menjadi salah satu sarana saya untuk lebih bisa belajar dan tentunya membangun jaringan pertemanan yang lebih luas.

Nah, itu tadi beberapa resolusi saya di tahun 2019 berkaitan dengan impiam saya untuk membenahi blog. Walaupun jalan untuk menjadi narablog profesional masih panjang, tapi harus dimulai dari saat ini juga, bukan? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?

Saat menulis menjadi bagian dari cara kita mengingatkan diri sendiri dan berbagi pada dunia, maka tak ada alasan untuk berhenti menulis.

Kalau teman-teman, apa resolusi di tahun 2019 ini?

#KompetisiBlogNodi

#NarablogEraDigital

~ Bergeraklah, karena waktu takkan menantimu ~

~ Bersegeralah, karena diam berarti kematian ~

Pengalaman Khitan Smart Klamp di KMC

Yeaay, alhamdulillah ini postingan pertama di 2019. Doa’akan semoga konsisten ngeblognya yaaa…

Setelah berhasil ikut challenge dari Blogger Perempuan Network di akhir tahun lalu, saya bertekad untuk membenahi diri dalam dunia blog di tahun 2019 ini. Buat postingan yang rutin dan berfaedah, bikin tulisan yang ga hanya sekedar curhat pribadi aja, dan lain-lain. Semoga bisa yaaa…

Nah, setelah berhasil ikut challenge, ternyata saya belum nulis lagi.. Wkwkwk… Apa harus dikasih challenge dulu yak? Bisa iya, bisa ga.

Lebih karena efek liburan aja sih… Daan ini dia, agenda penting yang memang sudah kami rencanakan dari jauh-jauh hari untuk dilakukan di Desember 2018 ini.

Apa itu?

Yap, khitan Umar. Kami sudah sounding ke Umar rencana khitan ini jauh-jauh hari. Mempersiapkan mental Umar, dan tentunya kami sebagai orang tua.

Kenapa harus khitan di 2018? Umur Umar kan masih belum 5 tahun?

Naah..mau flashback sedikit. Hehe.. Jadi, saat lahiran Umar, saya dan suami ga pernah kepikiran untuk mengkhitan anak saat anak masih kecil. Karena yang lazim saya temui, biasannya khitan di usia SD. begitupun suami, beliau dan adiknya dikhitan saat SD. Orang tua kami pun tidak membahas tentang khitan. Apalagi orang tua saya, ga ada pengalaman mengkhitan anak laki-laki. Hehe.. Soalnya saya dan adik satu-satunya, perempuan semua.

Praktis, khitan bukan sesuatu yang urgent menurut kami untuk dilakukan saat anak masih kecil.

Namun, seriring waktu, saya cukup sering mendengar beberapa anak teman saya yang harus dikhitan, ada yang dari bayi, atau usia masih 2 tahun, karena ada keluhan, atau seringkali didahului dengan fimosis. Kalau Umar, alhamdulilah tidak ada keluhan. Jadi, kami masih santai-santai saja. Cuma, akhirnya saya mencari tahu tentang khitan anak, dan fimosis. Dan ternyata, saat ini, dokter merekomendasikan untuk khitan di usia yang masih muda. baru deh, kepikiran…. Hehe…

Itu saat Umar usia 3 tahunan.. Tapi, mau khitan kok maju mundur, karena saya sedang hamil Hilya. Jadi tertundalah khitan sampai Hilya lahir dan udah ga bayi banget. hehe.. Pertimbangannya biar saat Umar khitan, Hilya udah bisa ditinggal sebentar.

Yasudah, berbekal nonton film Upin Ipin episode disunat, mulai deh, ngnobrol-ngobrol sama Umar. Awalnya, Umar ga mau khitan, karena kata Mail, “Macam digigit harimau”. Haha… Ternyata salah juga ya ajak nonton ini. Tapi kami tetap berusaha, untuk ngajak ngobrol, pelan-pelan. Kenapa anak laki-laki itu wajib dikhitan, manfaatnya apa, dll. Akhirnya Umar mau, dan kesepakatan kami di liburan sekolah Desember 2018.

Dari sana, mulai cari-cari info tentang khitan, metodenya apa aja, tempatnya dimana aja, berapa biayanya, berapa lama proses penyembuhannya, dan testimoni teman-teman yang anaknya pernah dikhitan. Alhamdulillah juga di ITBMotherhood cukup banyak thread tentang khitan. Jadi bisa banyak dapet info dari satu sumber. 🙂

Yang kami pilih untuk di survey ada tiga tempat, Klinik Mutiara Cikutra (KMC), Pusat Khitan Sumbawa, dan Seno Medika.

Dari segi metode, di KMC ada metode smart klamp, dan cauter. Di Pusat Khitan Sumbawa ada metode konvensional dan cauter, dan di Seno Medika hanya metode konvensional saja. Untuk penjelasan perbedaan dari tiap metode ini apa aja, bisa di googling ya.. Hehe…

Saya dan suami memilih metode yang pemulihannya relatif cepat. Kenapa? karena Desember itu kan liburan Umar, kakek nenek dari kedua belah pihak juga tenntu pengen liburan sama Umar dan adiknya. Jadi kami bagi-bagi waktu untuk liburan, dan khitan beserta pemulihannya. Hehe.. Setelah banyak bertanya kesana kemari, kami mantap memilih KMC dengan metode smart klamp.

Untuk booking waktu khitan, kita bisa langsung telepon ke KMC, dan memilih tanggal yang kita inginkan. Kalau di awal liburan, jadwal khitan full. Bahkan ada dua sesi. Pagi dan sore, karena peminatnya banyak. hehe.. maklum, musim liburan. 🙂

Alhamdulillah kami memang menjadwalkan khitan di akhir liburan. Sepekan sebelum liburan berakhir. Di hari Senin 31 Desember 2018.

Kami dapat jadwal di jam 06.30 WIB. Ga perlu bawa apa-apa, hanya anaknnya harus sudah sarapan aja. Sampai sana, sudah ada 2 anak yang menunggu juga. Kami antrian terakhir di pagi itu.

Ruang tunggunya nyaman, dan ga bikin stress hehe… Sambil menunggu, kami mengajak Umar untuk buang air kecil dulu. Karena menurut pengalaman beberapa teman, yang paling sulit setelah anak dikhitan adalah mengajaknya untuk buang air kecil. Anak biasanya takut akan sakit, jadi lebih sering menahan buang air kecil.

Disini bisa memilih, apakah khitan saja, atau mau ada foto untuk dokumentasi. Kami sekalian aja tambah foto. Hehe.. Namanya juga sekali seumur hidup ya… hehe… Jadi sebelum masuk ruangan, kami diambil foto terlebih dahulu.

Tibalah giliran Umar…

Hm.. sesungguhnya, yang lebih deg-degan itu umminya hehe… Takut aja gitu kalau liat Umar kesakitan. hehe… emak-emak memang…

Umar ditangani oleh dr. Suby. Saat kami masuk ruangan, dokternya menjelaskan sedikit tentang metode smart klamp, dan mengajak ngobrol Umar terlebih dahulu. Diajarin gimana caranya saat ada sesuatu yang sakit (maksudnya saat disuntikkan anestesi). Saya kebagian memegang tangan Umar, dan mengajaknya ngobrol. Sedangkan suami, bagian melihat detail proses khitannya. Beneran deh, saya ga tega liatnya. Dari awal memang saya bilang ke suami agar ia saja yang masuk ruangan. hehe.. Ternyata kami berdua masuk ruangan. 🙂

Setelah diberi anestesi lokal, menunggu obatnya bekerja sekitar 10 menit, lalu tindakan khitan pun dilakukan. Prosesnya cepat, ga sampai 10 menit. Lalu, Umar dipakaikan celana khitan, dan diberikan mainan. Sebelum pulang, kami diinformasikan tentang perawatan pasca khitan juga perawatan setelah tabung lepas.

Obat anestesinya akan bekerja selam 1 jam. Deg-degan banget menunggu reaksi Umar saat anestesinya hilang. Saat itu kami pulang, tapi mampir dulu untuk membeli Tobot Giga Seven. hehe.. karena Umar ingin hadiah ini. Sebelum satu jam, saya memberikan Umar obat pereda nyeri, agar nyerinya tidak terlalu berat saat efek anestesinya hilang.

Ketika efek anestesinya hilang, Umar mulai meringis, dan jalan pun sudah tidak biasa lagi, karena sakit. Di mobil, saya berusaha menenangkan Umar. Memegang erat tangannya setiap ia merasa kesakitan. Tidak lama, Umar pun tertidur, lalu saya mencari Tobot dulu, baru pulang.

Sesampainya di rumah, Umar terbangun, dan mulai merasa kesakitan. Umar pun berbaring. Sambil umminya ga lepas dari sisi Umar. Hehe..

Dan benar saja, sangat sulit untuk mengajak Umar buang air kecil. Sakit, katanya. Abinya yang membujuknya terus. Alhamdulillah saat itu abinya masih libur, dan keesokan harinya masih libur. Selama abinya libur, Umar ke kamar mandi sama abinya. Soalnya umminya masih ga tega liatnya. Hehe. Pertama kali Umar buang air kecil, ia menangis. Duuh, nangisnya tuh bikin umminya sedih banget.. Kasian liatnya… apalagi sambil bilang, “Sakit, Ummi… sakit…”... Ga lama, umminya yang berurai air mata, deh.

Hari kedua, meskipun masih susah untuk mengajak Umar ke kamar mandi, namun Umar sudah terlihat lebih bisa menerima. Hehe.. Sudah mau lebih banyak duduk.

Hari ketiga, mau ga mau Umminya yang menemani Umar ke kamar mandi, karena abinya sudah masuk kantor. Alhamdulillah bisa terlewati juga.

Satu hari sebelum kontrol di hari Sabtu, baru mulai perawatan. Harus ditetesi baby oil sesering mungkin, anak harus berendam selama 2 kali, dan melepas penjepit berwarna putihnya. Sebelumnya, tidak ada perawatan khusus, bahkan sudah boleh kena air dan mandi seperti biasa.

Keesokan paginya sebelum kontrol, alhamdulillah tabung transparannya sudah lepas sendiri. Awalnya Umar takut banget kalau saat tabungnya dilepas di klinik, akan terasa sakit.

Saat kontrol, alhamdulillah semua sudah bagus. Kami juga mendapatkan informasi mengenai hal-hal yang mungkin terjadi pasca lepas tabungnya. Dan bisa ambil foto deh hehe… Oh iya, total kami habis sekitar 1,3 jutaan untuk khitan disini. 🙂

Kontrol di hari Sabtu, berarti 5 hari pasca khitan, Alhamdulillah Umar sudah bisa berjalan banyak, meskipun belum seperti biasa, mungkin masih kagok dan masih ada nyeri-nyeri yang timbul sedikit-sedikit.

Hari Ahadnya, bahkan Umar sudah ikut abinya lari di sport Jabar.. Umar sendiri yang bilang pengen ngalahin abi lari. Wkwkwk… Umminya yang deg-degan terus, dan selalu cerewet, kalau sakit, bilang yaa… Heuheu.. Habis masih ngilu gitu liatnya.. Walaupun anaknya alhamdulillah udah enjoy banget. Padahal belum 1 pekan pas ya… 🙂

Hari Seninnya harusnya masuk sekolah, tapi, kami memutuskan Umar di rumah dulu. Hehe. Baru hari ini deh Umar sekolah lagi. Alhamdulillah semua baik-baik, dan semoga ke depan pun akan baik juga…

Jadi, testimoninya gimana? Alhamdulillah sejauh ini sih puas ya… Saat saya tanya suami, kalau nanti ada anak laki-laki, khitan di KMC lagi? Suami dengan mantap menjawab iya. Hehe…

Oh iya, tiap anak pasti beda-beda ya reaksinya setelah khitan, dengan metode apapun. Jadi, tipsnya, selain menyiapkan mental anak, ortu pun harus menyiapkan mental untuk lebih bersabar, dan tahan banting hehe… ✌

Alhamdulillah, salah satu kewajiban kami sebagai orang tua, sudah tertunaikan. Baarakallaahu fiik abang Umar… Semoga kian shalih dan menjadi muslim taat ya… 🙂

~ Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu ~

~ Bergeraklah, karena diam berarti kematian ~

Target Blogging di 2019

Alhamdulillaah…. Sampai di hari ke 30 tantangan menulis dari Blogger Perempuan. Ga nyangka juga bisa finish sampai akhir 🙂 biidznillaah… 

Di hari terakhir ini bahas tentang target blogging di tahun 2019. Yap, ini sudah memasuki pekan-pekan terakhir di bulan Desember 2018. 2019 sudah di depan mata. Saatnya merapikan kembali semua target dan manajemen diri. 

Beberapa target blogging yang insyaallah akan saya kejar di 2019 adalah sebagai berikut : 

Posting di blog minimal dua kali sepekan. Ya, cukup dua kali sebagai awalan. Kenapa ga coba menantang diri untuk posting tiap hari? Toh ikut challenge ini juga ternyata bisa selama 30 hari menuis di blog?  Hehe… Lebih mengukur diri aja sih. Dulu pernah di tahun 2015 berhasil posting sehari satu postingan di blog yang lama. Tapi, ya hanya berhasil di kuantitas. Sementara kualitas, jauh banget dari kata layak wehehehe.. Karena saya mengejar 1 postingan sehari, kadang saya hanya posting quotes dan gambar saja, atau posting materi belajar saya saja. Lalu, evaluasi dari ikut challenge ini, alhamdulillah saya bisa rutin posting sampai akhir. Tapi, itu sangat terbantu dengan tema-tema yang sudah disediakan. Jadi saya ga bingung lagi mau menulis apa. Hehe.. Dan saat mengikuti tantangan ini, saya sempet beberapa hari kejar setoran dengan posting 2-3 tulisan sehari, untuk mengejar ketertinggalan saya saat sakit dan ga bisa posting. Dan ingin melakukan prioritas yang lain juga sih.. Karena saat ikut challenge  ini, prioritas tersebut jadi tidak terlaksana. Hehe… Harus rapiii hehe… 

Menuliskan list tema yang sudah saya tentukan.  Saat blog yang ini sudah dibuat, saya sudah me-list tema-tema tulisan yang ingin saya posting di blog baru ini. Tentang perjalanan saya dan keluarga ke beberapa tempat, resensi buku, pengalaman-pengalaman menulis saya, dan masih banyak list yang sudah saya buat. Namun, karena saya mengikuti tantangan dari Blogger Perempuan, jadi fokus kesini dulu deh. 

Share konten blog via Instagram. Ini biar blog yang saya kelola lebih luas pembacanya. Hehe.. Sekalian branding diri juga ya. 🙂  

Belajar, belajar, belajar. Karena saya masih newbie dalam dunia per-blog-an, jadi tahun 2019 ini saya mau banyak belajar ngeblog, baik lewat komunitas, belajar ikut lomba, belajar semuanya… Hehe… 

Udah, 4 aja dulu. Hehe… Semoga 4 target ini bisa memotivasi saya buat lebih serius untuk ngeblog. Bismillaah…

Kalau target teman-teman apa? Sharing yuk 🙂 

~Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu~

~Bergeraklah, karena diam berarti kematian~

5 Situs Favorit Saya

Yeaay alhamdulillaah, udah sampai di hari ke 29.  🙂

Tema hari ini tentang 5 situs favorit yang sering dikunjungi. 

Hari gini, siapa sih yang ga kenal dengan browsing di dunia maya? Hehe… Mulai dari cari bahan tugas di sekolah, cari bahan buat kerjaan, atau searching sesuatu yang seru, dan masih banyak lagi. 

Kalau orang bilang, teknologi ini ibarat punya dua sisi yang ga bisa dipisahkan dalam keberjalanannya. Ada sisi negatif dan positifnya. Tinggal bagaimana kita menggunakannya aja. Teknologi itu alatnya, kita yang menggunakannya untuk mencapai tujuan kita, kan ya… 🙂

Nah, setiap hari bersinggungan dengan si teknologi ini, membuat saya juga menjadi orang yang cukup sering berselancar di dunia maya. Ini dia kelima situs yang cukup sering saya kunjungi : 

www.google.com. Siapa sih yang kenal dengan situs pencarian yang terpopuler ini? tinggal ketik kata yang kita inginkan, tak lama kemudian muncul deh hasil yang berkaitan dengan kata yang kita ketik tadi. Mulai dari artikelnya, videonya, gambarnya, dan lain-lain. 

www.riniinggriani.com. Wehehehe… bukannya narsis ya.. Tapi karena sekarang lagi ingin merapikan blog dan juga ikut challenge dari Blogger Perempuan, jadilah blog saya ini menjadi situs yang sering saya kunjungi tiap harinya. 

www.facebook.com. Hihi… Jadul mungkin yaa… tapi media sosial ini masih saya pakai hingga saat ini. Bertahan karena masih banyak input positif yang saya dapatkan dari grup-grup di dalam Facebook ini. 

www.tarbawiyah.com.  Situs ini cukup sering saya kunjungi untuk mendapatkan input tentang keIslaman. Materi-materi terdiri dari berbagai macam kategori yang bisa dipilih sesuai dengan apa yang ingin kita ketahui lebih dalam. 

www.instagram.com. Hoho.. ini adalah salah satu media sosial yang juga rajin saya sambangi hehe… Meskipun ga update feed atau ig story, tapi hampir setiap hari saya kunjungi situs ini. Biasanya sih buat cari inspirasi atau emang lagi pengen buka aja.. haha… Buat hiburan 😀

Kalau situs favorit teman-teman, apa? 😀

~Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu~

~Bergeraklah, karena diam berarti kematian~

Online Shopping

Hai hai… Udah masuk hari ke 28 aja nih hari ini. Waktu berlalu begitu cepat ya…. Semoga bertahan sampai finish. Aamiin.. 🙂

Tema hari ini adalah tentang 5 situs belanja favorit buat online shopping. 

Hm… Ga bisa dipungkiri ya kalau dengan kemajuan teknologi, perilaku sosial kita pun akan berubah. Termasuk dalam hal ekonomi. Kalau dulu kita mau cari-cari barang harus menyempatkan diri untuk datang ke mall atau toko tertentu yang ingin kita tuju, sedangkan saat ini, kita tinggal “cuci mata” lewat layar gadget kita. Tinggal pilih barang, transfer uang, lalu menunggu barang diantar ke tempat kita. Efisiensi waktu dan tenaga. 🙂

Saya pun begitu. Saya jarang sekali pergi khusus untuk belanja barang-barang kebutuhan sekunder secara offline. Kecuali kalau saat pergi ke tempat tertentu, lalu ada barang yayng memang saya butuhkan dan ada di tempat tersebut. jarang banget yang menyengajakan pergi untuk membeli barang-barang sekunder atau tersier. 

Kenapa? soalnya masih gendong dan gandeng anak. Hehe… Kebayang kalau pergi ke mall, yang ada bukan menikmati acara belanja, tapi lebih mengawasi anak-anak. Hehe.. Ujung-ujungnya ya mending online. Bisa lebih leluasa memilih, dan ga cape juga. Tapi kekurangan online, kita ga bisa tahu kondisi barang sebenernya ya… Banyak yang kena tipu juga.. Atau barang tidak sesuai ekspektasi. 

Oh iya… Tapi ngomong-ngomong soal online shopping, saya juga sebenernya jarang juga beli barang online. hehe… Trus maunya apa? hahaha.. Bukan yang tipe suka belanja kecuali kalau kebutuhan diri atau keluarga. 

Jadi kalau ditanya situs belanja favorit, bingung juga. Wkwkwk… Tapi saya coba tuliskan beberapa tempat yang saya suka berbelanja disana ya… 

Grup ITBMotherhoood. Hehe… Ini sebenernya grup emak-emak dan calon emak yang dulunya pernah kuliah di ITB. Nah, ada waktu market day setiap pekannya. Disana member bisa menawarkan lapaknya. Nah, biasanya saya lebih suka belanja disini. Karena lebih percaya aja sih. karena lingkaran pertemanannya juga cukup dikenal. Jadi ga takut kalau ketipu wkwkw… Alhamdulillah belanja disini jadi bisa sekalian silaturahim juga. Ini bukan situs tapi yaa… Haha… 

Tokopedia. Saya beberapa kali pernah berbelanja via marketplace ini. Sejauh ini sih alhamdulillah baik-baik saja. 

Lazada. Disini juga saya pernah membeli barang-barang. Tapi ya itu, karena saya jarang belanja, frekuensi mampir kesini pun ga terlalu sering. 

Bookstore anak di instagram. Saya bisa menahan diri untuk tidak membeli keperluan pribadi, tapi kalau lihat buku anak yang bagus-bagus, saya suka kalap. Hehehe… Nah, biasanya saya searching di instagram. Oh iya, selain buku anak, mainan anak second juga biasa berburu di instagram atau ITBMotherhood hehe. 

Itu tadi tempat yang biasa saya kunjungi ketika akan online shopping. Kalau situs tertentu sih ga ada. Hehe.. Ya, karena jarang belanja juga. Pegang gadget juga syusyah… hihi… Tapi positifnya, dompet agak aman sih..

Kalau teman-teman, sering belanja online dimana? 🙂

~Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu~

~Bergeraklah, karena diam berarti kematian~

5 Hal Sederhana yang Bikin Saya Happy

Hari ke 27, alhamdulillaah…. Ga nyangka bisa sampai hari ini. Awalnya ga yakin bisa. Tapi ternyata alhamdulillah bisa sampai hari ini. Semoga bisa sampai hari ke 30. Aamiin. 

Bicara soal kebahagiaan, definisi bahagia bagi tiap orang beda-beda pastinya. Standarnya pun berbeda-beda. Ada yang harus punya uang sekian untuk bisa merasa bahagia, ada yang kebahagiaannya cukup dengan melihat orang yang disayangnya senang, dan masih banyak lagi. 

Kalau kata Mbak Asma Nadia, sebenarnya bahagia itu sederhana, ada pada hati yang bersyukur. Jleb banget ga siih… Kebayang ya, kalau kita selalu mengukur diri dengan kebahagiaan orang lain, ga akan selesai dengan kebahagiaan diri sendiri. Karena pada akhirny selalu membandingkan dengan orang lain. 

Bahagia itu sederhana. Bisa dari hal-hal yang kecil. Ini 5 hal sederhana yang bisa bikin saya bahagia. 

Bisa menikmati kebersamaan dengan keluarga. Leyeh-leyeh bareng di kasur di hari libur, meskipun ga pergi kemana-mana, tapi bahagia aja bisa menghabiskan waktu bareng keluarga. Bercengkrama dan main bareng. 

Bisa mandi dengan tenang. Haha.. Ini sih harapan emak-emak dengan anak masih kecil yang baru ditinggal bentar udah nyariin emaknya dimana. Momen untuk bisa mandi dengan tenang ini adalah momen yang langka untuk emak-emak. Jadi, kalau ada momen ini, alhamdulillah, bahagianya… 🙂 

Suami pulang cepat dari kantor. Hihi…. Ini salah satu kebahagiaan sederhana saya. Akhir-akhir ini, suami sedang sibuk-sibuknya di kantor, karena amanah baru yang diembannya. Pulang bisa baru malam sekali. Nah, saat suami pulang lebih cepat dari kantor, priceless hehe… 🙂 

Bisa menghirup udara pagi yang segar.  

Saya selalu menyukai pagi. Baik udara maupun suasananya. Bagi saya, bisa menyapa pagi lagi, artinya Allah masih memberi kesempatan bagi saya untuk berbekal kembali. Nikmat yang luar biasa. 

Melihat anak-anak tumbuh sehat. Bisa melihat anak-anak tumbuh sehat adalah salah satu kebahagiaan sederhana bagi seorang ibu. 

~Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu~

~Bergeraklah, karena diam berarti kematian~ 

5 Produk Kosmetika yang Rutin Dipakai

Tarrraaa…. Tema hari ini susah lagi nih buat saya. Hehe… 

Tema hari ini adalah 5 kosmetik yang dipakai dan direkomendasikan. Saya ini, termasuk perempuan yang  ga gaul sama kosmetik atau skin care gitu. Beneran deh, bahkan lipstik pun saya ga punya. Apalagi pakai. Hwuaaa…. Bisa dihitung jari, kapan saya memakai lipstik. 😀 Paling banter ya lip balm dan sejenisnya. 

Tapi, semenjak usia menginjak kepala 3, dan di grup ITBMotherhood ada #kamissyantiek, jadi mulai sedikit aware dengan perawatan diri. Ya, bukan yang kosmetik buat merias sih.. Lebih ke perawatan aja. Dan tujuannya bukan buat diliat orang lain, tapi ya demi suami aja lah ya haha… 🙂 

Ini produk yang biasa saya pakai. 

Skin Aqua SPF 50. Ini salah satu produk yang rutin saya pakai. Dan cukup wajib meskipun lebih banyak aktivitas di rumah. Kalau saya cocok pakai ini. Ga lengket, dan mudah meresap. Oh iya, ini juga produk yang saya juga cukup rajin buat re-apply. Kalau yang lain malah ga pernah hahaha… 🙂

Produk kedua adalah bedak loose powder Wardah. Saya lebih suka memakai bedak tabur dibandingkan bedak padat. Dan sejauh ini, saya cukup cocok dengan produk-produk Wardah, salah satunya bedak tabur ini. Cuma kadang, bedak ini suka ga awet karena sering diaminkan oleh anak saya. Hehe.. Ya dibanting-banting, dimainkan. Hehe..

Produk berikutnya adalah Wardah creamy wash C-Defense. Ini facial wash yang saya suka. Aroma jeruknya terasa kuat, jadi merasa lebih segar gitu.. Hehe… Buat emak-emak kaya saya, harus pinter-pinter cari celah buat balikin energi positif di tengah hiruk pikuk rutinitas. Nah, salah satunya dengan mencuci muka pakai produk ini, biasanya lebih segar ke dalam diri. Hehe..

Selanjutnya, Vaseline petroleum jelly. Ya untuk melembabkan area yang kering. Karena kulit saya termasuk tipe kulit kering. 

Produk terakhir adalah jenis lip balm. Saya suka Nivea. Yang murmer aja. Hehe… Tapi overall, saya suka dengan produk ini kok… 🙂 Saya ga pernah pakai lipstik. Ga pernah tau juga brand-brand yang lagi hits apa. Hehe.. Tapi minimal untuk bibir, saya pakao lip balm. 

~Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu~ 

~Bergeraklah, karena diam berarti kematian~

Hikmah Terjatuh dari Sepeda

Ada banyak kenangan yang tersisa dari masa kecil saya. Baik kenangan yang membuatku bahagia ketika mengingatnya, sedih saat kembali merasakan apa yang dulu pernah dialami, atau dan beribu rasa yang menghampiri. 

Selalu ada hal istimewa yang bisa diingat dalam masa kecil. Kali ini saya ingin menceritakan salah satu fragmen ketika saya masih duduk di bangku kelas 6 SD. 

Saat itu, saya sudah menyelesaikan ujian nasional SD, dan sedang liburan, menanti pengumuman hasil UN. Suatu sore, teman-teman saya datang ke rumah untuk mengajak saya bermain sepeda. Awalnya saya menolak, sebab sepeda saya sudah tidak bisa dipakai saat itu. 

Tapi teman-teman membujuk saya untuk ikut, saya bisa dibonceng oleh teman saya. Akhirnya saya meminta izin ibu untuk pergi bersepeda. Ibu bilang, tidak usah ikut. Di rumah saja. Tapi saya tetap bersikeras untuk ikut teman-teman bersepeda. Akhirnya ibu mengizinkan. 

Saya dan teman-teman bersepeda ke komplek perumahan mewah yang tak jauh dari tempat tinggal kami. Disana kompleknya sangat luas dan jalannya juga cukup lebar. Kami bersepeda cukup lama. 

Saat itu, kami hendak pulang. Saya masih dibonceng oleh teman saya. Ada dua jalan pulang yang bisa kami tempuh. Satu jalan yang lebih dekat, namun turunannya lebih tajam dan cukup menikung, sementara jalan satu lagi, agak jauh, namun turunannya lebih landai. Saat teman saya bertanya lebih baik lewat mana, saya memilih jalan yang lebih dekat, meskipun lebih curam turunannya. 

Teman saya membawa sepedanya ke jalan yang dekat. Kami turun, mulai terasa sepeda meluncur keras, tiba-tiba dari arah bawah, ada sepeda motor. Karena tepat di tikungan, temanku tidak sadar ada motor dari bawah, ia terkejut, lalu membanting stir sepeda ke kiri, dan kami pun terjatuh. Tangan saya sulit digerakkan, karena area siku tergesek aspal dengan keras, aku terkilir, kulit di daerah siku terkelupas. Sedang teman saya lebih beruntung. Hanya celananya yang bergesekan dengan aspal, tidak sampai terluka. 

Karena sulit berjalan, saya diantar oleh satpam komplek menggunakan sepeda motor ke rumah. Sampai di rumah, ayah dan ibu saya terkejut. Lalu ibu mencarikan saya tukang urut untuk tangan yang terkilir. 

Singkat cerita, alhamdulilah saya membaik, meskipun bekas luka di daerah siku masih ada hingga kini. Satu hal yang saya ingat adalah, saat itu saya menyesal sekali tidak mengikuti kata ibu untuk tetap di rumah. Akhirnya saya terjatuh hehe… Itu selalu saya ingat hingga kini. Hikmah yang luar biasa. 🙂 

Jangan abaikan perkataan orangtua, apalagi ibu. 😀 

~Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu~ 

~Bergeraklah, karena diam berarti kematian~

 

5 Keinginan yang Belum Tercapai

Setiap manusia sejatinya memiliki keinginan yang ingin diwujudkan atau dicapai. Keinginan yang tidak akan sama antara satu manusia dengan manusia lainnya. 

Kayanya sampai akhir hidup, manusia akan selalu punya keinginan yang ingin ia capai, bukan? Nah, bicara soal keinginan yang belum tercapai, saya juga punya keinginan yang sampai saat ini belum bisa terwujud. Sekalian mumpung akhir tahun 2018, semoga tulisan ini bisa jadi evaluasi untuk 2019, agar bisa berikhtiar untuk mewujudkan keinginan saya. Insyaallah. 

Pertama, hafizh 30 Juz. Keinginan ini sebenernya sudah dari lama sekali saya simpan dalam diri saya. Inginnya bisa hafizh di usia 30 tahun. namun, di usia 30 lewat 1 tahun ini, saya belum menyelesaikan setoran 30 juz Alquran. Masih bolong-bolong ikut halaqah Qur’an dan setorannya. Tapi kalau menghapal, tetap saya lakukan. Meskipun terasa lebih sulit saat ini, karena biasanya saat menghapal, sering ada interupsi dari anak-anak. hehe. 

Kedua, daftar haji. Hehe.. Ini belum juga dilaksanakan. Masih mengumpulkan dananya. Semoga tahun depan sudah bisa terkumpul dan bisa daftar haji. Kebayang kan ya, daftar antrian haji itu sekarang bisa belasan tahun. Hmm.. Semoga Allah sampaikan kita ke Baitullah yaa…. 🙂

Menulis buku solo berikutnya. Ini keinginan yang juga belum tercapai di tahun ini. Dari buku solo perdana di tahun 2016, hingga 2018 ini saya belum melahirkan buku solo kembali. Buku-buku yang terbit di tahun ini adalah buku antologi. Kadang pengeen banget untuk mencoba menulis solo lagi. tapi, lagi-lagi alasan waktu jadi penghambat. Hehe. Bisa nulis maleem banget. padahal bisa ya, disusahakan setiap hari menulis, toh lama-lama jadi bisa terkumpul juga tulisan. hehe. Insyaallah. 

Melanjutkan kuliah. Naah ini… hehe… pengen kuliah lagi dari dulu. Tapiii ga mau jurusan yang dulu saya ambil saat S1. Hehe.. Pusing, kan mau ambil apa? Wkwkwk…. Kalau cerita sama suami, saat ditanya, mau ambil jurusan apa, masih bingung hehe. Tahun lalu saya sempat iseng (beneran iseng) untuk apply beasiswa Chevening. Lolos? Ya gaklah.. hehe… Orang beneran itu nyobain aja yang nothing to lose hehe… Ga ada persiapan apapun. Dan udah tahu juga kalau ga bakal lolos. 

Terus, kenapa dilanjutin? Hehe… Soalnya saya ingin merasakan seperti dulu saat mencoba berbagai kesempatan beasiswa. Ingin mencoba “suasana” seperti dulu lagi. Haha.. Iseng banget ya… Tapi beneran, kalau keinginan saya untuk melanjutkan kuliah ini serius loh. 🙂

Keinginan yang kelima, yang belum tercapai adalah bisa mengendarai motor. Hoho… receh banget yaa.. Tapi saya memang belum bisa mengendarai motor. Baru bisa nyetir mobil aja. Tapi akhir-akhir ini merasa butuh untuk bisa bawa motor. Mobilitas untuk antar jemput anak atau beli bahan keperluan rumah, lebih enak pakai motor, apalagi dengan rumah di daerah gunung. bawa mobil kalau jaraknya cuma dekat-dekat aja, rasanya sayang. hehe.. Kecuali kalau bareng sama anak-anak. 

Hihi… itu 5 keinginan saya yang belum tercapai. Sebenernya kalau mau didetailin, masih banyak deh keinginan yang belum tercapai. Yaiyalah yaa…. Namanya manusia, ada aja yang diinginkan 🙂

Semoga teman-teman bisa mencapai apa yang ingin diraih di 2019 ya… Biidznillaah… 🙂

~Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu~

~Bergeraklah, karena diam berarti kematian~

Menyesal dalam Hidup

Hidup mana pernah sih selalu sesuai dengan yang kita inginkan? Dalam hidup, kita juga tak selalu bahagia, bukan? 

Ada kecewa, sedih, marah, gembira, bahagia, semua datang silih berganti dalam hidup kita. Ga mungkin kita berharap bisa bahagia terus. Saat ada sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan kita, adakalanya membuat kita sedih atau kecewa. 

Begitupun saya. Selama 31 tahun diberi kesempatan untuk menghirup udara di dunia, saya mengalami semua rasa itu. Kadang saya bisa menangis sesenggukan, marah-marah geje, hehe.. Atau bisa tertawa begitu lepas. 

Bicara tentang penyesalan, rasanya wajar ya perasaan menyesal itu kalau pernah kita rasakan. Menyesal mengapa kita tidak lebih dulu, menyesal mengapa kita tidak berusaha lebih baik, menyesal kenapa harus memilih dia, menyesal kenapa harus berhenti, dan lain sebagainya. Bagi saya, menyesal adalah proses yang wajar dan alamiah dirasakan oleh manusia. 

Namun, di dalam Islam, perasaan menyesal ini pun ada tuntunannya. Bagaimana dalam hadits Rasulullah pun ada yang menerangkan tentang ini. 

Bersungguh-sungguhlah dalam hal-hal yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusan), serta janganlah sekali-kali kamu bersikap lemah. Jika kamu tertimpa sesuatu (kegagalan), maka janganlah kamu mengatakan, ‘seandainya aku berbuat demikian, pastilah tidak akan begini atau begitu’. Tetapi katakanlah, ‘ini telah ditakdirkan oleh Allah dan Allah berbuat sesuai dengan apa yang dikehendaki’. Karena sesungguhnya perkataan seandainya akan membuka (pintu) perbuatan setan”. (HR. Muslim no. 2664)

Ternyata, berkata “seandainya aku berbuat demikian, pastilah tidak akan begini atau begitu..”  tidak disukai oleh Allah dan Rasulnya, karena dapat membuka pintu perbuatan setan. Kalimat ini pun sama maknanya dengan penyesalan. 

Bukan berarti kita tidak boleh menyesal, karena penyesalan adalah sesuatu yang sulit dihindari saat kita terbentur dengan kenyataan hidup yang tidak mengenakkan, hehe… Namun, yang perlu diperhatikan adalah penyesalan yang berkepanjangan, dan menjurus jadi meratapi nasib. Hehe… 

Kadang ya… Godaan setan itu luar biasa banget… Bikin diri ga mau bersyukur.. Lupa aja gitu kalau nikamat yang sudah diberi itu jauh lebih banyak dari kesusahan yang kita rasakan.

Jadi, apakah yang saya sesali? Dari sekian banyak pengalaman penyesalan, yang paling bikin kepikiran adalah kenapa saat dulu belum menikah, saya tidak optimal dalam menghapal Alquran. Kenapa nyesel? Iya, soalnya mau menghapal Alquran saat menikah dan punya anak itu tantangannya banyak banget. Waktunya udah ga fleksibel seperti dulu. Hehe.. Itu aja sih. Tapi ga sampai meratapi, yang ada ya saat ini saya ikhtiar lebih keras aja. 

Kalau teman-teman, gimana menyikapi penyesalan yang ada? 

~ Bersegeralah karena waktu takkan menantimu ~ 

~ Bergeraklah, karena diam berarti kematian ~