Disangka Tulang Ikan, Ternyata Asam Lambung

Pernah gak sih sedang makan ikan, lalu ada tulang ikan yang nyangkut di tenggorokan? Bagaimana rasanya? Duh, pasti tidak enak, bukan? Sakit dan mengganjal rasanya.

Saya mengalaminya baru-baru ini. Saat itu saya sedang makan ikan. Ketika sedang menikmati ikan, ternyata ada tulang yang ikut serta saya telan. Aduh! Rasanya tidak enak sekali.

Saya segera melakukan apa yang biasa dilakukan oleh orang-orang dulu. Mengepal nasi, lalu menelan nasi tersebut. Tapi si tulang belum juga hilang. Masih tersangkut di tenggorokan. Saya menelan nasi hingga empat kali, namun hasilnya nihil. Saya coba untuk minum air banyak-banyak. Ternyata sama saja. Tidak ada hasilnya.

Tenggorokan saya tetap saja ada yang mengganjal. Saya coba untuk memuntahkan tulang tersebut, namun tidak ada hasilnya. Saya pasrah. Mungkin nanti akan hilang saat saya makan atau minum lagi. Pikir saya saat itu.

Hingga keesokan harinya, saya merasa tulang itu masih tetap di tempatnya. Tidak beranjak sama sekali. Karena saya masih merasa bahwa tenggorokan saya tetap ada yang mengganjal. Saya merasakan ketidaknyamanan saat menelan makanan.

Saya coba googling cara apa lagi yang bisa saya lakukan untuk mengusir tulang ini dari tenggorokan. Semua cara saya coba lakukan, hingga meminum larutan air garam pun saya coba. Berangsur terasa hilang sebentar, namun muncul lagi tak lama kemudian. Sempat terpikir apakah harus memeriksakan diri ke dokter, namun urung saya lakukan. Sebab kalau ke dokter, saya harus membawa anak-anak. Siapa yang akan menjaga mereka. Jadi saya harus menunggu ketika suami bisa menemani.

Ketika hari keempat si tulang masih terasa di tenggorokan, saya memuntuskan untuk pergi ke dokter keesokan harinya. Karena sungguh tidak nyaman rasanya. Khawatir memang harus diambil tindakan medis untuk menyingkirkan tulang tersebut.

Esoknya, Qadarullah dari pagi hingga malam hari saya ada acara dan harus menyetir mobil sendiri dengan membawa 2 anak. Malamnya, suami datang untuk menemani dan menggantikan saya ke dokter. Suami segera mencari dokter spesialis THT yang masih buka malam itu.

Alhamdulillah kami dapat antrian di Klinik Jaya Sentosa. Saya ceritakan keluhan saya pada dokter. Namun dokter ragu jika yang penyebab tenggorokan saya yang mengganjal adalah karena tulang. Menurut beliau, jika memang tulang, biasanya dalam 2 hari pun pasien tidak akan sanggup menahannya. Begitu diperiksa dokter, ternyata dokter tidak menemukan tulang sama sekali. Menurut beliau, penyebabnya adalah asam lambung, karena saya memiliki maag.

Akhirnya beliau memberi saya lansoprazole untuk pemakaian selama 2 minggu. Jika tidak berangsur baik, maka saya harus kontrol kembali dan melakukan endoskopi.

Ternyata, dua kali minum lansoprazole, ganjalan yang selama ini saya kira tulang sudah tidak ada lagi. Berangsur-angsur pergi. Alhamdulillah… Meskipun saya masih berpikir, kok waktunya pas sekali, dengan saat saya ketulangan, lalu tenggorokan saya sakit, padahal disebabkan asam lambung saya yang meningkat? Hehe..

-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-

-Bergeraklah, karena diam berarti kematian-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *