Muhasabah

Perindu Surga

Cita-citaku sederhana saja : Membangun surga dalam keseharian”

Surga..
Begitu mendengarkan kata itu saja, yang terbayang adalah keindahan yang tak bertepi
Kenikmatan yang jauh dari nikmat dunia yang fana
Balasan yang disediakan bagi orang-orang yang amalnya adalah amal yang terbaik.. Ahsanu ‘Amala

-Dan bagi siapa yang takut akan saat menghadap Tuhannya, ada dua surga-

Surga..
Bagaimana mungkin kita disebut sebagai perindu surga,
Jika cara menujunya saja tak kita akrabi
Bagaimana mungkin kita disebut sebagai pemburu surga
Jika surga sendiri tak mampu kita mendefinisikannya
Karena sungguh, surga hanya mampu terdefinisi di hati para pejuangnya

-Kedua surga itu (kelihatan) hijau tua warnanya- 

Surga itu begitu lekat dalam pandangannya
Begitu dekat dalam setiap tarikan nafasnya
Cita dan cintanya adalah surga
Ghirahnya adalah ghirah perindu surga
Ah, bahkan seisi dunia pun cemburu padanya
Bagaimana mungkin ia mengacuhkan dunia yang menawarkan banyak kemegahan
Yang melenakan banyak manusia
Dengan sesuatu yang belum pernah ia lihat dan rasakan
Yang hanya ia ketahui dari kalamNya saja..

-Dan orang-orang yang paling dahulu (beriman), merekalah yang paling dahulu (masuk surga)-

Mengukir surga dalam benak
Menjadikan ia lekat di pandangan
Dekat… Dekat sekali di hati..
Sesederhana itu cita dan cintaku
Membangun surga dalam keseharian
Merindu surga hanya karena cinta
Memburu surga hanya karena cita
Cinta.. Cinta sekali padaMu ya Rabb..

-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-
-Bergeraklah, karena diam berarti kematian-

Author

yahdi@tass.telkomuniversity.ac.id
Ibu dengan tiga anak. Menulis adalah salah satu cara self healing dan berdialog degan dirinya sendiri. Interest dengan menulis, jurnaling, hand lettering, dan berkomunitas :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *