Akun Favorit

Selama di rumah ini, tentu banyak hal yang bisa saya lakukan untuk menambah wawasan dan keterampilan saya. Ada banyak sumber untuk belajar hal-hal yang baru, yang bahkan sebelumnya saya tidak tertarik untuk belajar tentang hal tersebut.

Mengandalkan apa yang ada dalam dunia maya atau secara daring, kita bisa menemukan banyak hal yang bisa kita pelajari dengan sungguh-sungguh.

Saya belum mengkhususkan untuk belajar ke satu akun atau channel saja. Masih random banget sih ya… Karena bagi saya, banyak sekali hal yang bisa dipelajari. Dan karena saya seorang ibu rumah tangga, jadi spesialisasi saya ya tergantung kebutuhan saat itu, hehe.

Namun begitu, ada beberapa akun atau channel yang cukup sering dibuka bila dibandingkan dengan yang lain.

Pertama, akun masak di Instagram, yang sering saya kunjungi. Hehe. Ada beberapa, diantaranya @yackikuka, @isnasutanto, @anitajoyo, dan @bunda_didi. Resep-resepnya bervariasi dan mudah untuk diikuti.

Akun berikutnya adalah kelas online pembelajaran kitab Al Bidayah wa Nihayah. Ada audio pembelajaran yang dibagijan kepada peserta, lalu akan ada ujian setiap bulannya. Karena masih memiliki 2 anak kecil, keberadaan jelas online seperti ini sangat membantu saya untuk tetap bisa menuntut ilmu.

Website-website yang membahas mengenai parenting, pengasuhan anak, aktivitas anak, dan lain-lain. Kalau bagian ini, banyak yang saya kunjungi. Baik website, maupun page di fb, dan akun di fb dan instagram.

Sisanya, saya suka berselancar di Pinterest untuk mencari ide dan inspirasi.

Nb: tulisan kali ini singkat banget ya… karena sudah terlalu lelah juga mengantuk, hehe.. khawatir terlewat sahur nanti. Hehe…

~Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu~

~Bergeraklah, karena diam berarti kematian~

Barang Prioritas Selama di Rumah Aja

Seperti akan berperang, yang membutuhkan paket peralatan perang yang komplit, saat di rumah saja pun, kita membutuhkan barang-barang untuk menunjang aktivitas selama di rumah saja.

Kita gak akan pernah tahu, sampai kapan pandemi ini akan berakhir di Indonesia. Semua pasti berharap agar wabah ini segera berlalu, dan kehidupan segera normal. Meskipun kita semua tahu, bahwa setelah wabah ini beres, tentu akan ada adaptasi yang cukup berat bagi semua.

Selama di rumah, barang-barang apa aja sih yang menunjang aktivitas saya dan keluarga?

Yang pertama tentu gadget, hehe. Bagaimana tidak, suami dan anak pertama selama di rumah aja ini melakukan pekerjaan dan belajar semua dari rumah. Menggunakan media daring. Tentu hal tersebut membutuhkan gadget untuk pelaksanaannya. Laptop, handphone, adalah 2 hal yang sangat penting selama kami di rumah, hehe.

Barang berikutnya adalah mainan dan buku-buku anak. Hal ini penting untuk mengalihkan anak-anak dari kebosanan. Agar anak-anak tetap ada aktivitas meskipun di rumah.

Selanjutnya adalah meja kerja. Hehe. Sebenarnya, kami tidak memiliki meja kerja. Namun di masa work from home ini, ternyata membutuhkan meja kerja. Untuk suami menyelesaikan pekerjaannya. Tapi, kami memakai apa yang ada di rumah saja, meja lipat punya anak-anak. Hehe. Masih cukup kok.

Sisanya barang yang memang sudah ada di rumah saja kami gunakan untuk menemani kami beraktivitas di rumah. Gak mendadak beli barang-barang baru juga. hehe.

~Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu~

~Bergeraklah, karena diam berarti kematian~

Upgrade Keterampilan Selama di Rumah

Tidak dipungkiri, selama di rumah tentu banyak hal yang tadinya tidak bisa kita lakukan karena alasan waktu, menjadi bisa kita lakukan karena aktivitas di rumah. Kita bisa belajar banyak hal, apalagi dengan banyaknya fasilitas pembelajaran melalui daring. Tinggal siapkan kuota dan waktu untuk mengikuti sejumlah kelas atau pembelajaran daring.

Keterampilan pun mulai diasah. Bisa karena untuk mengisi waktu luang, untuk memenuhi kebutuhan, untuk kebutuhan “me time” atau ingin belajar sesuatu hal yang baru.

Saat di rumah, kami pun memiliki target untuk mencoba hal-hal yang baru. Yang selama ini kesulitan untuk kami kerjakan.

Salah satu hal yang kami mulai di rumah adalah belajar bercocok tanam. Kami membeli bibit yang kira-kira mudah untuk ditanam dan dipelihara oleh kami sebagai pemula, dan tidak memiliki halaman yang luas. Kami mencoba menanam beberapa bibit, melakukan perawatan tiap hari, dan melihat perkembangannya. Yang sukses kami tanam dan menghasilkan adalah bawang daun dan kangkung. Alhamdulillah bisa dipakai untuk memasak. Hehe. Akhirnya merasakan bisa panen dari kebun sendiri. Hehe. Bagi kami pemula, hal tersebut sudah membahagiakan.

Keterampilan lain yang saya pelajari ketika di rumah saja ini adalah belajar menggambar, doodle, baik secara manual maupun digital. Walaupun untuk saya pribadi yang tidak memiliki latar belakang seni, hal ini cukup sulit. Apalagi sejak kecil saya sudah dilabel tidak punya bakat seni. Hehe. Setiap hari saya mencoba untuk menyisihkan waktu agar dapat belajar menggambar. Ya, meskipun saya tidak selalu bisa berlatih setiap hari, karena banyak hal lain yang harus dikerjakan, terutama tugas domestik hehe.

Keterampilan lain yaitu memasak menu-menu baru dan juga berlatih memainkan piano. Anak dan suami sangat senang bereksperimen di dapur. Membuat makanan baru yang belum pernah kami masak. Mencari resep mudah, lalu mempraktekkannya.

Untuk piano sendiri, beberapa waktu lalu, piano yang dibeli saat suami masih kecil dulu, dibawa ke rumah, tujuannya agar anak kami bisa belajar memainkan piano. Namun, karena anak yang masih belum mau jika diajar oleh orang lain, maka ibunya yang harus belajar otodidak. Hehe. Bermodalkan aplikasi Pinterest. Padahal ibunya pun belum pernah belajar musik sama sekali.

Alhamdulillah, selama di rumah, cukup banyak kesempatan untuk belajar banyak hal. Jadi, masing-masing anggota keluarga bisa mengupgrade keterampilan diri.

Bagaimana dengan teman-teman?

~ Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu~

~ Bergeraklah, karena diam berarti kematian~

Banyak Aplikasi dalam Satu Genggaman

Selama satu setengah bulan di rumah ini, tentu saja pekerjaan tetap menanti untuk kita kerjakan. Kita juga membutuhkan sarana untuk dapat mengerjakan tugas kita secara lebih efisien, dan juga terorganisir, meskipun di rumah saja.

Banyak kantor dan sekolah yang menerapkan metode daring untuk karyawannya bekerja, dan siswa pun belajar secara jarak jauh dengan metode daring ini. Artinya, baik sebaagai karyawan, guru, siswa, dan orang tua sekalipun membutuhkan website dan aplikasi yang bisa digunakan untuk menunjang pembelajaran dan pekerjaan secara daring ini.

Apa saja sih aplikasi atau website yang sering saya gunakan dan kunjungi selama masa pandemi ini?

  1. Platform untuk rapat secara daring. Ada beberapa yang sering saya gunakan, seperti Zoom, atau Google Meet. Menggunakan aplikasi ini membuat kita bisa melakukan pertemuan secara virtual dengan jumlah peserta yang cukup banyak. Kajian-kajian Ramadan pun banyak yang disajikan melalui aplikasi Zoom. Kita tetap di rumah, namun secara ilmu, kita tetap terpenuhi Insya Allah.
  2. Aplikasi pesan seperti WhatsApp, Line juga Telegram. Pembelajaran jarak jauh yang dilakukan di sekolah anak saya melalui media WhatsApp. Guru memberikan tugas, video petunjuk, dan materi-materi, melalui WhatsApp grup. Dan orang tua pun diminta melaporkan tugas anak pada guru melalui WhatsApp. Sedangkan Telegram, saya lebih sering menggunakannya untuk mengikuti channel-channrl yang bermanfaat, seperti channel ustadz yang berisi materi, channel belajar bahasa, atau kitab.
  3. Pinterest. Duh, ini aplikasi yang saya sukai. Karena aplikasi ini membantu saya untuk menyediakan aktivitas anak di rumah dengan bermacam variasi. Tema apapun bisa kita cari disini. Dan bisa digunakan untuk mencari aktivitas bagi usia berapapun. Untuk anak-anak, tersedia ide bermain, worksheet untuk belajar, dan lain lain. Sementara untuk orang dewasa, Pinterest juga menyediakan inspirasi untuk beraktivitas, misal seperti saya, bisa belajar not balok, belajar doodle, membuat jurnal, dan menjahit.
  4. Aplikasi untuk menonton film. Hehe. Di rumah aja, tentu membuat kita butuh hiburan, salah satunya melalui aplikasi atau website untuk menonton film. Tapi kalau saya pribadi, tidak menggunakan aplikasi ini secara intensif. Karena sudah tidak sempat menonton film yang durasinya panjang. Hehe. Malam hari pun memilih untuk membereskan pekerjaan rumah, atau menulis seperti sekarang. Hehe.
  5. Kelas atau kursus online, seperti Udemy, Coursera, dll. Di masa pandemi ini, banyak penyedia kelas online yang menggratiskan kelasnya untuk memfasilitasi masyarakat belajar di rumah. Ada juga buku-buku yang bisa diakses secara gratis.
  6. YouTube. Menjadi salah satu aplikasi untuk belajar dan hiburan. Karena kami tidak memiliki tv di rumah, saat anak ada pelajaran di TV di saluran TVRI, maka kami pun streaming. YouTube juga digunakan untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan anak dalam menunjang pembelajarannya. Tentu dengan tetap didampingi oleh orang tua.

Sebenarnya masih banyak web atau aplikasi yang saya gunakan di rumah untuk memfasilitasi kami dalam berkegiatan. Ada Let’s Read dan Story Weaver untuk akses ebook anak, aplikasi kuis online untuk pembelajaran, dan masih banyak lagi. Namun untuk kali ini, saya bahas enam saja ya. 🙂

~ Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu~

~ Bergeraklah, karena diam berarti kematian~

Kegiatan Seru di Rumah

Selama di rumah, kadang rasa jenuh akan melanda. Setiap hari beraktivitas di rumah saja. Oleh karena itu, kita harus pandai-pandai mencari kegiatan yang seru dan mengasyikkan untuk seluruh anggota keluarga di rumah.

Bagi keluarga yang memiliki anak yang sudah beranjak remaja atau lebih dewasa, mungkin anak-anak sudah memiliki aktivitas sendiri yang mandiri. Tidak harus mengikuti orangtuanya. Meskipun tetap harus berkomunikasi dan memanfaagkan waktu di rumah untuk menguatkan ikatan di dalam anggota keluarga.

Karena keluarga kami masih memiliki anak-anak kecil, jadi anak-anak masih harus dibimbing untuk berkegiatan secara aktif dan seru. Banyak yang mengeluhkan, selama di rumah aja, anak-anak justru lebih banyak waktu bersama gadget. Karena banyak hal. Faktor jenuh, orang tua yang dituntut deadline pekerjaan, orangtua bingung harus berkegiatan apa lagi, kelelahan, dan lain sebagainya.

Ada banyak hal yang bisa dilakukan di rumah, yang tidak kalau seru dengan aktivitas di luar rumah.

Beberapa hal yang kami lakukan di rumah, misalnya melakukan aktivitas motorik dan sensorik dengan metode bervariasi, membaca buku, mengerjakan worksheet, membuat prakarya, hingga main tebak-tebakan. Permainan ketika saya masih kecil dulu pun saya keluarkan, untuk meminimalisir penggunaan gadget.

Bernyanyi bersama, menonoton film bareng (saat jadwal menonton layar untuk anak-anak), bercocok tanam bersama anak-anak, hingga memasak bersama. Meskipun hasilnya tentu saja rumah tidak akan rapi, namun keseruan aktitas bersama keluarga inilah yang menjadi poin utama.

Bagaimana dengan aktivitas teman-teman bersama keluarga di rumah?

~ Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu~

~Bergeraklah, karena diam berarti kematian~

Di Rumah Saja? It’s Okay!

Entah sampai kapan wabah Covid19 ini akan berakhir dan tertangani di Indonesia. Tidak ada yang tahu, sampai kapan kita harus membatasi aktivitas kita di luar rumah, dan lebih banyak melakukan aktivitas di rumah saja.

Apakah saat di rumah, kita merasa bosan? Sudah sebulan lebih di rumah saja, mungkin bagi sebagian besar orang yang biasa beraktivitas keluar rumah setiap hari, tentu sedikit banyak akan merasa bosan. Tidak hanya orang dewasa, namun anak-anakpun akan merasakan bosan. Anak-anak yang biasanya bertemu dengan teman-temannya di sekolah, belajar dan bermain bersama, kini harus di rumah selama beberapa lama, pasti pernah merasa bosan. Bahkan untuk keluar rumah pun dibatasi.

Saya seorang ibu rumah tangga, yang sebelum terjadi pandemi Covid19 ini pun aktivitas dominan ya di dalam rumah. Keluar rumah jika antar jemput anak sekolah, ajak main anak keluar, atau membeli keperluan di rumah. Kondisi saat ini membuat saya makin di rumah saja. Hehe. Dulu saja sempat ada perasaan jenuh saat menghadapi rutinitas di rumah, apalagi saat ini.

Namun, saat ini jika rasa jenuh atau bosan melanda, saya melihat dari sisi lain, bahwa kami sekeluarga bisa berkumpul bersama di rumah. Pertanyaannya, bagaimana agar membuat seluruh anggota keluarga bisa betah di rumah?

Bagi saya yang masih memiliki anak usia TK dan balita, tentu harus bisa mengalihkan rasa bosan anak dengan hal yang lebih mengasyikkan.

Bermain bersama anak, baik ibu dan ayah, membantu anak-anak untuk tetap gembira di dalam rumah. Kita bisa melakukan aktivitas yang menyenangkan bersama di rumah. Membaca buku, bermain lego, membuat karya bersama, memasak bersama, dan lain lain.

Biasanya, kami hanya bertiga melakukan aktivitas di rumah, karena suami harus ke kantor. Tapi, karena suami saat ini “work from home“, jadi anak-anak bisa bermain sepuasnya dengan ayahnya. Meskipun saat ayahnya ada tugas yang harus dikerjakan, anak-anak diberi pengertian terlebih dahulu.

Cara lain agar tetap betah di rumah, bisa dengan mengerjakan sesuatu yang baru, misal di rumah kami, sejak wabah ini ada, kami mulai belajar bercocok tanam, meskipun hanya di dalam pot. Hehe. Tapi hal ini bisa menjadi sarana belajar anak juga. Mengenalkan tentang proses berkembangnya tumbuhan, dan melatih kesabaran untuk melihat benihnya tumbuh.

Ada banyak cara yang bisa kita lakukan agar tetap betah di rumah. Bisa secara fisik, misal mengganti tata letak barang di rumah, atau posisi tempat tidur dan lemari, misalnya. Agar terasa suasana yang berbeda. Atau secara psikologis, dengan memperbanyak ikatan dengan anggota keluarga. Jika sebelumnya kita fokus pada aktivitas masing-masing, maka sekaranglah waktunya untuk saling mendengarkan dan memberikan support terbaik bagi setiap anggota keluarga.

~Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu~

~Bergeraklah, karena diam berarti kematian~

Jika Covid19 Berakhir

Sudah lebih dari satu bulan kita berada di rumah. Keluar rumah hanya untuk keperluan yang urgent saja. Seperti berbelanja kebutuhan primer, berolahraga dan berjemur di sekitar rumah, atau ke fasilitas kesehatan saat sakit. Itupun dengan tetap memakai masker dan menerapkan social distancing.

Bepergian pun tidak. Mengunjungi keluarga dan kerabat sudah lama tidak dilakukan, bahkan sekarang mudik pun tidak boleh, apalagi pergii ke tempat wisata. Hehe. Semua dilakukan untuk menghentikan penyebaran virus Covid19 ini.

Pernah gak sih berpikir, kira-kira kapan wabah ini akan berakhir?

Hihi… Kalau saya, beberapa kali sempat berpikir, kita-kira kapan wabah ini berakhir. Apakah 29 Mei 2020 seperti yang sudah ditetapkan oleh BNPB? Atau diperpanjang kembali masa tanggap darurat Covid19 ini? Anak pertama saya Juli tahun ini insyaallah akan masuk SD. Sekolah yang baru, dan tentu memiliki banyak peer untuk mempersiapkannya. Sementara hingga saat ini, sekolah TK anak masih libur dan menjalankan pembelajaran jarak jauh. Apakah nanti anak saya ketika masuk sekolah sudah berganti sekolah ke SD? Sampai kapan wabah ini selesai?

Kita gak ada yang pernah tahu dengan pasti, seberapa lama wabah ini di Indonesia.

Jika Covid19 ini berakhir, ada beberapa hal yang ingin sekali saya lakukan.

  1. Saya ingin bisa mengunjungi orang tua dan mertua saya, juga bisa bertemu dengan mereka sesering mungkin.
  2. Bertemu dengan teman-teman yang selama pandemi ini hanya bisa menatap wajah mereka dari layar saja, berjabat tangan, dan memeluk mereka.
  3. Saya ingin mengikuti kajian secara langsung di masjid-masjid. Salah satu masjid yang saya rindukan selama pandemi ini adalah Masjid Salman ITB. Duh, masjid itu memang selalu meneduhkan sejak dahulu.
  4. Mengunjungi dan bersilaturahim dengan keluarga di luar kota.
  5. Pergi ke tempat wisata.
  6. Dan ini, bisa menghirup udara segar, tanpa terhalang masker, hehe….

Alhamdulillaah, ‘ala kulli haal…

Meskipun masih pandemi dan harus di rumah saja, ternyata banyak hal yang masih bisa saya syukuri. Bisa bersama dengan suami di rumah, karena suami WFH. Bonding dengan anak-anak pun jadi lebih terbangun.

Jadi, kapan wabah Covid19 ini akan berakhir? Wallaahu a’lam. Yang bisa kita lakukan hanya berikhtiar dan berdoa pada Allah.

~Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu~

~Bergeraklah, karena diam berarti kematian~

Mari Memakai Masker!

Masker, menjadi barang yang hits akhir-akhir ini. Pada awal merebaknya kasus Covid19 di Indonesia, masker bedah yang menjadi barang yang langka dan jikapun ada, sungguh sangat mahal. Tenaga medis kelimpungan untuk mendapatkan masker. Masyarakat kelas menengah ke atas sibuk memborong masker untuk diri dan keluarganya. Kelangkaan masker menjadi sebab naiknya harga masker berkali-kali lipat dari sebelumnya. Ada juga oknun-oknum yang sengaja menimbun masker untuk dijual dengan harga yang tinggi.

Maka saat itu, anjuran memakai masker hanya untuk tenaga medis dan orang yang sedang sakit saja. Alasan yang dikemukakan saat itu adalah karena penggunaan masker tidak efektif untuk mencegah penularan Covid19 ini. Lebih baik melakukan kebiasaan cuci tangan lebih banyak, dan melakukan social distancing. Bisa jadi, anjuran memakai masker hanya untuk orang yang sedang sakit (masyarakat yang bukan tenaga medis), untuk menghindari kelangkaan dan penimbunan masker. Sehingga tenaga medis bisa mendapatkan masker dengan lebih mudah. Meski tak menjadi jaminan juga, karena hal kelangkaan masker dan APD ini masih banyak dialami oleh teman-teman saya yang berprofesi sebagai tenaga medis.

Penggunaan masker medis adalah salah satu langkah pencegahan yang dapat membatasi penyebaran penyakitpenyakit saluran pernapasan tertentu yang diakibatkanoleh virus, termasuk Covid19.

Selang beberapa minggu, ternyata pemerintah meralat aturannya. Kini, semua orang yang keluar rumah, harus menggunakan masker. Untuk masyarakat biasa, menggunakan masker kan. Masker bedah dan masker N95 hanya untuk tenaga medis. Setelah aturan ini diberlakukan, mulai banyak penyedia masker kain ini, dengan bahan yang bervariasi, motif bermacam-macam, dan juga tersedia berbagai ukuran, dari anak hingga dewasa.

Gugus Tugas Covid-19 menjelaskan ada tiga jenis masker yang bisa digunakan masyarakat dan tenaga medis.

Pertama, masker kain tiga lapis.
Masker ini bisa digunakan warga yang karena alasan tertentu, tak bisa berada di dalam rumah dan beraktivitas di tempat umum.

Kedua, masker bedah.
Masker ini digunakan tenaga medis atau orang yang sakit. Bagian dalam masker ini steril, dengan cara memegang pada tali samping.

Ketiga, masker N 95.
Masker ini dipakai bagi tenaga medis yang berhadapan langsung dengan pasien COVID-19 di rumah sakit atau fasilitas kesehatan lain.

Meskipun demikian, ketika kita berjalan keluar rumah, atau pergi ke jalan raya atau tempat publik, ternyata masih banyak yang belum memakai masker. Semoga ke depannya, selama wabah ini berlangsung, masyarakat bisa memakai masker saat keluar rumah.

~ Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu~

~ Bergeraklah, karena diam berarti kematian~

Ayo, Lakukan Social Distancing!

Social distancing atau pembatasan sosial sudah dihimbau oleh para ahli kesehatan dan pemerintah, untuk menekan penyebaran Covid19 ini. Social distancing ini merupakan serangkaian tindakan pengendalian infeksi nonfarmasi yang dimaksudkan untuk menghentikan atau memperlambat penyebaran penyakit menular.

Akhir-akhir ini juga kerap kita dengar istilah physical distancing atau menjaga jarak fisik secara aman. Baik social distancing maupun physical distancing merupakan pembatassan yang dilakukan untuk menekan angka penyebaran Covid19 ini.

Beberapa daerah bahkan sudah memberlakukan PSBB atau Pembatasan Sosial Berskala Besar. pada gerakan social distancing ini, masyarakat dianjurkan untuk tidak membuat kerumunan massa, membuat acara yang mengundang massa dalam jumlah besar, tidak ada lagi nongkrong-nongkrong atagu kegiatan yang berkumpul bersama. Bahkan, tempat ibadah pun ditutup sementara karena alasan ini.

Namun, apakah semua masyarakat menerapkan social distancing dengan disiplin?

Ternyata tidak. Tetap saja ada wilayah yang cukup tegas dalam menerapkan aturan ini, sementara di wilayah lain, masih banyak ditemukan masyarakat yang berkerumun dan tidak memakai masker saat beraktivitas di luar rumah. Jalanan masih padat, tempat-tempat umum pun masih ramai dikunjungi orang, tanpa mematuhi aturan social ataupun physical distancing.

Mungkin memang belum semua merasa bahwa Covid19 ini sesuatu yang cukup berbahaya. Mereka masih menganggap Covid19 layaknya penyakit flu biasa, yang akan sembuh dengan sendirinya. Atau, bisa jadi memang mereka yang keluar rumah, semuanya memiliki kepentingan besar untuk tidak bisa diam di rumah.

Sebaiknya, ketika kondisi mengharuskan kita untuk keluar rumah, kita tetap menaati aturan social distancing ini. untuk kita sendiri dan untuk kebaikan bersama juga.

Tetap menjaga jarak aman 1-2 meter ketika berada di ruag publik, menggunakan masker saat keluar rumah, membawa hand sanitizer untuk berjaga-jaga, dan sering mencuci tangan dengan air dan sabun.

Virus ini adalah virus baru, yang kajian secara ilmiahnya masih terus dilakukan hingga saat ini. Kita tidak tahu seberapa ganas sebenarnya virus ini menyerang tubuh manusia, bagaimana jika bermutasi, dan lain sebagainya. Sebagai orang yang awam, saya memilih untuk melakukan apa yang bisa saya dan keluarga lakukan untuk meminimalisisr penyebaran Covid19 ini. Karena ini merupakan bagian dari tanggung jawab saya sebagai anggota masyarakat.

Btw, Happy Ramadan for you!

~Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu~

~Bergeraklah, karena diam berarti kematian~

Yuk Hindari Covid19 dengan Konsisten Melakukan Ini!

Ramadan sudah di depan mata, namun saat ini kita akan menjalani Ramadan dengan suasana yang berbeda dengan sebelumnya. Beribadah, berdoa, belajar, bekerja, semua dilakukan di rumah. Salat tarawih tidak diadakan secara berjamaah di masjid, kegiatan-kegiatan kajian kini menggunakan media online. Hal ini dilakukan untuk memutus rantai penyebaran Covid19. Agar wabah ini segera teratasi.

Namun bagaimana dengan masyarakat? Kalau yang selama ini terlihat di daerah saya, masyarakat tetap ada yang menyikapi Covid ini dengan waspada, ada yang tetap tenang dan santai. Ada yang mengurangi kegiatan di luar rumah, ada yang tetap keluar rumah, meskipun mereka sebenarnya bisa tetap tinggal di rumah. Ada yang keluar rumah hanya ketika persediaan di rumah telah menipis, ada yang tetap keluar rumah, hanya untuk bertemu dan ngobrol dengan teman-teman. Berbeda ketika kta bicara tentang mereka yang tidak bisa di rumah saat ini, misalnya tenaga medis, karyawan perusahaan yang memegang sektor yang memang tidak dapat bekerja dari rumah, dan mereka orang-orang yang bekerja harian.

Sikap masyarakat yang berbeda-beda ini tentu sangat bergantung pada kondis yang mereka hadapi,juga kebijakan pemerintah.. Di daerah saya, hari ini adalah hari kedua diberlakukannya PSBB. Namun di setiap check point, kendaraan masih menumpuk.

Apapun yang sikap kita dalam menghadapi Covid19 ini, kita yangn bisa di rumah dan mereka yang tidak bisa di rumah, tetap harus menerepkan perilaku-perilaku untuk meminimalisir penyebaran virus ini. Agar dapat meminimalisir kemungkinan untuk tertular virus ini.

Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan, yaitu sebagai berikut :

  1. Menggunakan masker jika beraktivitas di luar rumah. Untuk masyarakat biasa, menggunakan masker kain. Masker bedah hanya untuk tenaga medis.
  2. Menerapkan etika batuk dan bersin yang baik.
  3. Menerapkan physical distancing saat beraktivitas di luar rumah.
  4. Menghindari kerumunan.
  5. Rajin mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun, jika tidak ada, bisa menggunakan hand sanitizer.
  6. Tidak menyentuh area mata, .hidung dan mulut saat tangan kita kotor.
  7. Makan-makanan yang bergizi.
  8. Olahraga dan berjemur dengan teratur.
  9. Istirahat yang cukup.
  10. Jangan stres.
  11. Berdoa kepada Allah untuk keselamatan pribadi, keluarga dan masyarakat.

Kita memang tidak mampu mengontrol hal-hal yang terjadi di luar diri kita, namun kita mampu memilih akan bersikap seperti apa. Kita mampu mengontrol apa yang ada pada diri kita.

Ramadan sudah mulai esok hari, Insya Allah. Semoga kita bisa menjalani Ramadan kali ini dengan baik, dan semoga Allah segera mengangkat wabah dari negara kita. Aamiin.

~Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu~

~Bergeraklah, karena diam berarti kematian~