Militansi Diri

Bismillaah…

Beberapa hari yang lalu udah sempet posting tentang militansi di IG story, di @riniinggriani (hehe..sekalian promosi 😂), awalnya mau ditulis lebih dulu di blog, namun belum sempet aja, tapi pikiran di kepala udah penuh, hehe.. Jadi diposting di IG story dulu.

Kenapa sih bahas yang berat-berat? Hm.. Ini ga berat kok.. Ini sebenernya lebih untuk pengingat diri sendiri aja. Karena salah satu tujuan menulis saya adalah untuk pengingat diri saya sendiri. Kalau tulisan itu jadi bermanfaat, alhamdulillah… Biidznillaah… 🙂

Tentang militansi diri…

Pernah ga sih, saya, kami, atau kita, berpikir seperti ini, “Kenapa ya, akang/teteh itu, kalau sudah menikah, apalagi punya anak, kok militansinya kaya berkurang (jleb banget ga siih?)… Jarang dateng kalau ada kajian atau agenda-agenda dakwah, atau telat hadir, dan seterusnya..” Atau minimal dicurhatin temen deh dengan kalimat seperti itu dan sejenisnya.

Waktu saya masih muda dulu, wkwkwk.. Haha… Iya, waktu dulu saya masih kuliah, saya banyak dicurhatin sama temen-temen dengan kalimat-kalimat tersebut. Saya, yang waktu itu belum ngerasain gimana kalau udah menikah dan punya anak, menanggapinya santai aja. Cuma nyengir dan ga banyak komen. Hehe…

Kenapa? Yaiyalah, saya belum ada di posisi akang teteh itu, dan gak tahu seluk beluk kehidupannya secara detail, jadi ga bisa menilai apapun, kan?

Saya hanya berpikir, mungkin tidak seperti itu pada kenyataannya. Kita, seringkali yang masih belum ada amanah yang lebih (misal, pasangan, anak, atau pekerjaan, dll), belum bisa memahami apa yang dihadapi orang yang memiliki amanah lebih tersebut. Kita masih mengukur mereka, dengan ukuran diri sendiri. Dengan kondisi diri pribadi.

Maka sering mungkin terucap atau terlintas,

“Harusnya bisa dong, tetep rajin ke agenda dakwah… Ya kalau alasannya anak, ya berarti persiapannya harus lebih pagi aja…”

Atau,

“Masa sih jadi ga militan cuma karena udah nikah dan punya anak? Padahal dulunya aktivis banget, panutan terbaique”

Ssst… Sudah cukup ya.

Kebayang ya, saya, atau teman-teman yang belum ada di posisi tersebut, tidak bisa mengerti bagaimana (mungkin) sulitnya berada di posisi ada tambahan amanah seperti itu.

Makanya saya ga banyak komentar ketika menanggapi hal-hal macam ini, dulu hehe.

Lalu, setelah saya menikah dan punya anak, bagaimana?

Naah ini… Saya baru merasakan yang namanya perjuangan jadi seorang istri dan ibu itu ga semudah dilihat di timeline medsos, Fergusso! 😂😂

Di media sosial, kita bisa atur apa yang ingin kita tampilkan. Biasanya yang bagus-bagus dong yang kita tampilkan.. Hehe. Anak, ga selamanya bisa duduk manis, sambil tersenyum. bahkan sisanya ya aktif banget kan..

Setelah menikah dan punya anak, langkah saya menjadi terbatas, mobilitas saya pun berkurang dibandingkan dulu. Ada sesuatu yang menahan saya untuk mempercepat langkah saya di luar. Ketika datang ke agenda pekanan menjadi sesuatu yang cukup berat, karena harus jadi emak rempong dengan segala tetek bengeknya. Ya bawa popok, pakaian ganti, makanan, mainan, atau buku, dll. Ketika akan hadir ke kajian, sudah siap berangkat, anak ternyata (maaf) BAB, lalu akhirnya berangkat jadi mundur lagi. Ujung-ujungnya telat hadir agenda, dan semacamnya.

Pernah melihat ga, ibu-ibu, bawa anak 3 orang, sedang hamil besar, pergi ke agenda dakwah, dengan menggunakan angkutan umum, angkot? Bisa jadi ada yang bakal bilang, “Yaudah sih, pake taksi online aja, kan udah banyak tuh taksi online, ribet banget.” Karena bagi ibu tersebut, ongkos taksi online dari rumah ke tempat acara itu masih mahal, broo,sist! Mending naik angkot, meskipun jauh lebih ga nyaman pastinya.

Saya sering melihat ibu-ibu yang semacam ini. Datang ke kajian, menggendong anak yang kecil, dan menggandeng anak yang lebih besar, atau selama kajian, berlomba untuk mendengarkan kajian, dan mengejar-ngejar anak. Istilahnya, dateng ke kajian atau di rumah, sama aja, sama-sama ngasuh dan ngejar-ngejar anak. Apa gak cape? Tapi mereka tetap bersemangat hadir ke kajian atau agenda pekanan, bahkan di agenda-agenda dakwah lain. Mereka, masih menyimpan ghirah yang tinggi, yang berusaha mereka pertahankan, agar tak tergerus rutinitas.

Seorang wanita, dalam hidupnya, ada fase-fase dimana ia mungkin akan “melambat”, ketika ia hamil, baru melahirkan, memiliki bayi, dst. Adakalanya ia harus melakukan “redefining achievement“. Karena hidupnya tak akan pernah lagi sama dengan sebelumnya.

Bagaimana dengan kaum ayah? Wkwkwk… Setelah akang-akang yang biasa kita kenal itu menikah, mungkin kita tidak menyadari bahwa amanah yang ia emban kini semakin berat. Kita yang belum ada di posisi itu, mungkin akan bilang, “Kalau ikhwan udah nikah punya anak, kan ada istrinya yang ngurus anak, kalau istrinya shalihah, ya dukung dong suaminya untuk terus aktif dalam dakwah…”

Kalau hanya berkomentar, pastinya mudah sekali yaaa… Tapii… sadarkah kita, bahwa ketika sudah terjadi pernikahan, maka amanah yang diemban baik laki-laki maupun perempuan akan semakin besar. Apalagi laki-laki. Coba lihat di Al-Qur’an surat At-Tahrim ayat 6.

“ Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6) 

Ternyata, berat banget amanahnya seorang kepala keluarga. Gak main-main. Bagaimana ia harus menjaga diri dan keluarganya dari api neraka. Bayangin aja, menjaga diri sendiri dari kemaksiatan aja kita kadang susah bener ya buat gak ngikutin godaan syaitan, apalagi ini, harus menjaga diri plus keluarga dari api neraka?

Maka, kita yang tidak mengetahui setiap inci perjuangan saudara-saudara kita, yang tidak mengetahui dengan baik setiap pergulatannya dengan masalah, apa yang bisa kita lakukan? Please, tetap support do’a dan empati. Hehe. Mengingatkan itu boleh, bahkan harus, saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran, namun, tetap perhatikan adab-adabnya. Dengan tetap mengedepankan husnuzhan dan tanpa menghilangkan tabayyun.

Jleb banget!

Itu tadi kalau kita, berada di posisi orang yang (merasa) punya hak untuk berkomentar, karena kita belum ada di posisi dengan amanah yang “lebih”. Lalu, bagaimana ketika kita sendiri justru berada di posisi orang dengan amanah yang sudah jauh lebih besar? Misal sudah menikah dan punya anak, punya pekerjaan, atau kewajiban-kewajiban lain yang lebih besar?

Kalau ini, murni apa yang saya lakukan terhadap diri saya. Tiap-tiap orang pasti memiliki pilihan dan juga kondisi yang berbeda-beda.

Ketika saya berada dalam suatu posisi dengan amanah yang lebih (tapi masih banyak kok saudara-saudara saya yang amanahnya jauuuh lebih banyak banget, hehe), saya sangat menyadari, bahwa ada yang akan berubah. Konsekuensi atas hadirnya peran baru. Namun, satu hal yang selalu saya azzamkan, apapun kondisinya, sesulit apapun saya dalam melangkah, atau betapapun terbatasnya waktu yang saya miliki, saya selalu ingin melakukan sesuatu dalam dakwah ini. Meskipun kecil sekali kontribusi yang bisa saya lakukan, namun saya tetap ingin selalu bersama dakwah. Karena, saya sudah mengenal dakwah dan tarbiyah, jauh sebelum saya menikah, punya anak, bekerja, dan seterusnya. Dakwah sudah menjadi gema dalam relung hati saya, yang tak bisa saya abaikan begitu saja.

Sulit? Ya sulit. Hehe. Dengan kondisi keterbatasan mobilitas saat ini, atau kalaupun bisa, pergi kemana-mana dengan membawa serta anak-anak yang tidak bisa ditinggal, dan perjuangan lainnya. Dulu, saat Umar masih berusia 1,5 bulan, saya dan suami membawa serta Umar untuk menghadiri agenda rutin di daerah Bandung Timur, sementara saat itu kami masih di daerah Bandung Utara, pakai motor.

Alhamdulillaah, saya dikaruniai suami yang juga menjadi partner dalam mendukung aktivitas dakwah. Meskipun militansi mungkin tidak bisa disamakan denngan seperti dahulu, namun kami tetap memiliki komitmen untuk setia di jalan ini.

Gambar dari google.com

Jalan dakwah, jalan yang tidak pernah dijanjikan untuk mudah dilalui… Tapi kami bertekad untuk tetap bertahan, bukan karena dakwah membutuhkan kami, namun kamilah yang membutuhkan dakwah…

“Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul, apabila Rasul menyeru kamu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” (QS. Al-Anfaal: 24)

Ah, Ruhul Istijabah….

Semoga kita senantiasa Allah kuatkan untuk tetap istiqomah dalam jalan dakwah, dan saling bersaudara dengan ikatan yang kokoh.. 🙂

~Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu~

~Bergeraklah, karena diam berarti kematian~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *