Niat yang Seringkali Ternoda

Malam ini, saat baca postingan dari @risalah_ammar, tentang hisab pembuat konten. Berasa ngejleb banget. Secara, selain akun instagram pribadi, saya juga admin dari beberapa akun instagram, yang tentu saja, mau tidak mau, akan berkaitan erat dengan konten dari akun-akun tersebut.

Iya ya, segala sesuatu yang kita lakukan, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah. Di era digital saat ini, jempol kita juga akan dihisab berkaitan dengan apa yang sudah kita tuliskan di dunia maya. Konten apa yang kita buat, baik atau tidak, benar atau dusta, dan juga, tentang masalah niat dibalik unggahan kita ke media sosial.

Tentang niat, memang itu bukan hak kita untuk menilai niat orang lain saat memposting tulisannya di media sosial. Tapi, menjadi kewajiban kita pribadi, ya, saya, dan teman-teman juga, untuk memberi perhatian lebih pada bab niat ini ketika melakukan sesuatu, termasuk ketika melakukan aktivitas di media sosial.

Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907]

Bagi saya pribadi, mungkin tidak jarang bab niat ini menjadi hal yang bias. Bisa jadi niat awalnya hanya ingin berbagi sedikit pada orang lain, saat ada teman-teman yang banyak memberikan like pada postingan saya, niat ini menjadi berubah. Ada bunga-bunga yang terbit di dalam diri dan sesuatu yang melambungkan rasa diri. Merasa lebih baik dari orang lain, merasa diri paling benar, merasa sudah berbuat amal shalih, dan sebagainya.

Ada keinginan untuk menambah follower, untuk apa? Apakah agar kebaikan lebih terasa manfaatnya secara luas? Atau hanya ingin terkenal? Hiks. Suka ada aja kepikiran seperti ini. Bukankah semakin banyak follower, berarti kelak kita harus mempertanggungjawabkan lebih pula? Jika apa yang kita sampaikan adalah sesuatu yang tidak diridhai Allah, lalu itu ditiru oleh followerr kita, bagaimana kita akan menghidar saat dihisab kelak?

Memperbarui niat, menjaganya untuk senantiasa lurus, diridhai Allah, bukanlah perkara mudah. Bayang-bayang untuk bisa terlihat baik di mata manusia, selalu hadir untuk menjauhkan diri kita dari jalan yang lurus.

Ah, niat… Tampaknya, saya masih memiliki banyak pe-er tentang niat. Menjaganya agar tidak menjauhi keridhaan Allah. Menjaganya agar selalu hanya kepadaNya.

~Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu~

~Bergeraklah, karena diam berarti kematian~