THR yang Dinanti

Waah… Sudah masuk hari ke 17 Ramadan ya… Biasa kita kenal dengan hari turunnya Alquran, atau Nuzulul Qur’an. Alhamdulillaah… Semangat masih oke kan teman-teman? Hehe.. Saya di hari-hari terakhir ini sedang sangat sulit mengatur waktu, nih. Baik waktu untuk menyelesaikan amalan pribadi, tapi tetap melaksanakan kewajiban di rumah. Semangat naik turun ketika menghadapi Ramadan. Adakalanya saya begitu bersemangat, adalakalanya saya menyerah dengan pekerjaan yang tak ada habisnya.

Ambil hikmahnya aja ya… Sesuatu yang baik itu harus diperjuangkan, bukan? Kalau lurus-lurus aja, tidak ada tantangannya, jadi kurang seru, dong? Hehe.

Oh iya, kita sudah hampir menyelesaikan sepuluh hari kedua di bulan Ramadan. Biasanya sih, menjelang lebaran, ada rezeki tambahan berupa THR. Apakah teman-teman sudah ada yang menerima uang THR? Bagi yang sudah, semoga uang THR nya bermanfaat dan jadi berkah. Bagi yang belum, semoga cepat turun ya. Hehe.. Mungkin diantara teman-teman ada juga yang seperti saya. Tidak menerima THR, hehe.. Karena saya sudah resign sejak hampir lima tahun lalu. Tapi, kalau THR suami, alhamdulillah ada. Hehe… ๐Ÿ™‚

Bagaimana sih mengatur uang THR agar tidak ludes dalam waktu sekejap? Biasanya, uang itu akan lewat begitu saja, jika kita tidak mengelolanya dengan baik. Sayang, ‘kan, uang yang diperoleh susah payah, harus terbuang percuma.

Tidak bisa dipungkiri, kalau kebutuhan menjelang hari raya selalu bertambah, bahkan bisa membengkak anggarannya. Harga bahan kebutuhan pokok yang melambung tinggi, kebutuhan untuk membuat hidangan lebaran, kebutuhan untuk pulang mudik, memberi sanak saudara, dan masih banyak lagi pengeluaran tak terduga lainnya.

Uang THR itulah yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang banyak di momen hari raya.

Biasanga, saat mendapat uang THR, saya akan segera membagi-bagi uang tersebut ke dalam pos-pos pengeluaran. Pengeluaran yang paling pertama saga keluarkan adalah untuk kewajiban zakat, membayar fidyah, atau untuk infak. Zakat berfungsi untuk menyucikan jiwa dan harta kita. Dan karena zakat fitrah ini wajib, maka jangan sampai kelupaan untuk mengalokasikannya ya!

Setelah porsi untuk kewajiban sudah disisihkan, maka selanjutnya pos-pos pengeluaran bisa dibagi untuk kebutuhan lain.

Saya pribadi membagi untuk beberapa pos. Pos untuk memberi orang tua dan mertua, pos untuk keperluan anak-anak, dan untuk keperluan silaturahim di hari raya, termasuk untuk mudik hehe.

Pengeluaran anak-anak biasanya di baju lebaran. Meskipun bukan suatu keharusan untuk membeli baju lebaran, tapi kalau untuk anak, biasanya dibeli aja. Hehe.. Apalagi kakek neneknya juga udah wanti-wanti untuk membeli baju anak-anak. Kalau ayah ibunya sih lebih santai. Hehe. Ya anggap hadiah buat Umar yang sudah rajin shaumnya. ๐Ÿ™‚

Biasanya, pos pengeluaran untuk mudik ini banyak biaya tak terduganya. Hehe.. Pengalaman tahun 2016, kami mudik ke Bukittinggi menggunakan mobil pribadi. Berangkat dari Bandung, ke Lampung. Menginap semalam di Lampung, lalu melanjutkan perjalanan menuju Bukittinggi. Hampir 24 jam perjalanan Lampung-Bukittinggi. Wow… Pengalaman tak terlupakan, saat itu Umar berumur 2,5 tahun, masih anak tunggal saat itu hehe.

Pos pengeluaran untuk service awal mobil sebelum digunakan jarak jauh, lalu bensin yang selalu diisi full tank selama perjalanan, belum biaya makan, minum, ngemil, selama perjalanan, pergi ke tempat wisata, memberi angpao lebaran, wkwkwk… Pulang dari Bukittinggi, kami menginap beberapa hari di Lampung. Disana pun kami jalan-jalan lagi ke pantai. Haha… Kalau suami bilang, ga usah terlalu dipikirkan uang habis berapa. Haha.. Bisa stress. Kan memang niat liburan. Yah, saya nurut aja apa kata suami. Pulang mudik, mobil kami service kembali. Jadi dobel service deh. Tapi tetap harus dianggarkan pos pengeluaran maksimal untuk mudik berapa. Biar gak terlalu nyesek atau bahkan sampai menghabiskan jatah uang sekolah anak, misalnya. Hehe.. Semoga semua diberikan kelapangan rezeki untuk bersilaturahim di hari raya ya teman-teman. Aamiin…

Mengatur uang THR memang susah susah gampang. Harus cermat dalam menghitung kebutuhan dan pengeluaran yang ada. Jangan sampai berlebihan juga ya… Toh salah satu makna Ramadan adalah menahan diri. Jika masih berlebihan dalam sesuatu, termasuk pengeluaran yang sebenarnya masih bisa ditunda, atau bukan sesuatu yang penting dan mendesak, berarti ke depan kita harus lebih memaknai Ramadan yang sudah kita lalui.

Selamat mengatur uang THR, teman-teman! Jangan lupa zakatnya ya! ๐Ÿ™‚

~ Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu ~

~ Bergeraklah, karena diam berarti kematian ~

Ramadan yang Tak Terlupakan

Ramadan selalu hadir di setiap tahun. Namun, kesan yang didapatkan di setiap Ramadan selalu berbeda. Ada saja hikmah baru yang membuat diri menjadiblebih baik. Hikmah-hikmah yang hanya bisa diperoleh di bulan Ramadan. Meskipun sudah melalui sekitar dua puluh tujuh kali Ramadan, setiap kesan yang didapat selalu berbeda.

Bicara tentang Ramadan yang paling berkesan, hm… Rasanya hampir semua berkesan. Ada ketika saya berpuasa penuh selama sebulan untuk pertama kali di usia lima tahun, ada saat Ramadan dimana saya melakukan perjalanan jauh melalui jalur darat ke Sumatera Barat, dan masih banyak lagi.

Dari sekian banyak hal yang terjadi di bulan Ramadan, ada satu Ramadan yang tidak akan terlupakan oleh saya. Kenangan Ramadan berkesan yang ingin saya tulis kali ini adalah saat Ramadan 2017, atau Ramadan 1438 H.

Memasuki Ramadan 1438 H dua tahun lalu, usia kehamilan saya sudah di usia 40 minggu. Ini adalah kehamilan kedua. Dan sudah hampir sepekan yang lalu, saat dokter melakukan pemeriksaan dalam, sudah bukaan tiga. Namun, kontraksi teratur belum juga hadir. Saya masih sempat menjalankan shalat tarawih di masjid di awal-awal Ramadan.

Hari itu hari ketiga Ramadan. Saya melakukan aktivitas seperti biasa. Malam setelah shalat tarawih, saya beristirahat. Sekitar pukul 00.30, Umar terbangun, katanya mau ke kamar mandi. Saya bangun dan menemaninya ke kamar mandi. Setelah beres, Umar pun tidur kembali. Saya juga mencoba untuk tidur kembali. Namun kali ini, istirahat saya tidak begitu nyenyak. Di tengah kantuk, saya merasakan ada sesuatu dalam perut. Saat itu saya tidak berpikir bahwa itu adalah kontraksi. Karena memang belum terlalu kuat, dan teratur. Tapi, sudah cukup mengusik saya.

Sudah mau 2 tahun usianya ๐Ÿ™‚

Saya terus mencoba istirahat, namun semakin lama, saya semakin tidak bisa tidur dengan tenang. Saya hanya mengubah posisi tidur, berharap bisa membuat nyaman. Semua posisi saya coba. Hingga pukul 02.30, suami terbangun, dan menanyakan, apakah sudah terasa kontraksi, dan mau ke rumah sakit sekarang juga.

Saya bilang pada suami, kontraksinya masih bisa ditahan, dan belum sampai membuat saya meringis kesakitan, hehe… Saya mencoba menghitung kontraksi dengan menggunakan aplikasi yang sudah diinstall di telepon seluler.

Pukul 03.00, suami sahur dulu. Saya terus menghitung kontraksi. Ternyata kontraksi sudah teratur datangnya, sekitar 7 menit sekali. Saya pun mandi dulu. Awalnya, saya bilang ke suami, berangkat ke rumah sakitnya setelah subuh saja, atau jam 6 pagi hehe. Suami yang melihat saya sudah bolak balik tarik napas dalam, meminta saya ke rumah sakit saat itu juga. Jam 4 kami berangkat. Umar di rumah bersama kakek neneknya.

Di perjalanan, saya menahan kontraksi sambil terus berdzikir. Alhamdulillah, jalanan masih sepi. Sesampainya di rumah sakit, adzan Subuh terdengar. Saya bilang ke suami, mau shalat Subuh dulu sebelum ke UGD. Shalat Subuh sambil meringis. Hehe.

Pukul 05.15 kami ke UGD. Dicek bukaan, sudah bukaan 5 ke 6. Pantaslah. Suami mengurus administrasi dulu. Bidan memeriksa tekanan darah, dan mengambil darah untuk dilakukan pemeriksaan. Wah, disana saya sudah bolak balik jalan, berdiri, duduk, berbaring, posisi bersujud, dan tarik napas setiap kontraksi datang. Bidan sedang keluar, begitupun suami, belum kembali.

Rasanya sudah mules sekali. Saya merasa ingin buang air kecil. Saya turun dari tempat tidur. Mencoba memanggil suami. Lalu kontraksi datang lagi, saya terduduk di lantai. Suami datang. Membantu saya untuk ke toilet. Ketika saya mencoba berdiri, tiba-tiba ada suara “blurb” dan mengalir cairan disertai darah. Ketuban sudah pecah. Suami bergegas memanggil bidan, dan saya dibawa ke rusng bersalin. Sampai di ruang bersalin, saya sudah ingin mengejan. Ternyata memang sudah bukaan lengkap. Gak sempat nunggu dokter. Akhirnya lahiran dengan bidan. Alhamdulillah prosesnya cepat. Dua kali mengejan, Hilyapun lahir.

4 Ramadan 1438 H, alhamdulillah kami diberi amanah lagi. Yang paling merasa lega adalah suami. Karena sejak menyetir ke rumah sakit, sebenarnya suami deg-degan kalau tiba-tiba lahir di jalan. Hehe. Bayangkan kalau kami berangkat jam 6 dari rumah seperti permintaan saya, Hilya akan lahir di jalan. Sebab Hilya lahir pukul 06.31 WIB. Hehe…

~ Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu ~

~ Bergeraklah, karena diam berarti kematian ~

Ngabuburit, Aktivitas Khas Ramadan

Ramadan sudah berlalu hampir setengah bulan ya teman-teman. Di setengah bulan ini, ada baiknya kita mengevaluasi keberjalanan target Ramadan kita. Tujuannya apa? Ya, agar dapat meningkatkan amalan di setengah bulan berikutnya. Apalagi sebentar lagi sudah memasuki sepuluh malam terakhir, ada i’;tikaf juga yang bisa kita lakukan dalam target amalan Ramadan kita. Bisa keliling atau safari masjid untuk beri’tikaf, atau menetap di satu masjid. Seru, bukan?

Selain mengisi waktu di bulan Ramadan dengan meningkatkan amal ibadah, kita juga bisa mengisi waktu dengan hal bermanfaat lainnya. Prinsipnya, selama itu kebaikan, maka dilakukan saja. Kalau di daerah Jawa Barat, biasanya ada sebutan khusus untuk mengerjakan sesuatu sambil menunggu waktu berbuka, yaitu ngabuburit. Namun, seiring waktu, istilah ngabuburit ini mulai dipakai dimana-mana. Tidak hanya di Jawa Barat saja.

Saya mengenal istilah ngabuburit ini sejak saya masih kecil. Saat duduk di bangku sekolah dasar, saya dan teman-teman biasa ngabuburit ke komplek perumahan elite dekat rumah kami. Saat itu belum banyak penjual jajanan seperti saat ini. Dan kami juga bukan anak-anak yang diberikan banyak uang juga untuk jajan, hehe… Dulu, disana masih ada tanah-tanah yang belum dibangun menjadi rumah mewah. Masih ada akses untuk menembus ke perumahan lain juga. Di tanah-tanah yang belum dibangun itu, dulu kami bisa mencari tanah liat, atau sekedar menaiki bukit-bukit kecil dari tanah tersebut. Saat ini hampir semua tanah disana sudah dijadikan rumah, dan banyak perubahan yang terjadi disana. Tapi, kesan saya dulu, pergi ke komplek perumahan tersebut sambil menunggu waktu berbuka adalah ngabuburit asyik versi kami anak-anak kecil. Tidak butuh mengeluarkan banyak uang, hanya berjalan kaki, bersenda gurau dengan teman, dan ternyata itu cukup mengasyikkan. Ngabuburit bisa melupakan kita dari rasa lapar dan dahaga. Hehe.

Kalau membersamai anak yang sedang belajar berpuasa, ngabuburit ini susah susah gampang. Kita harus mencari aktivitas yang bisa melupakan anak dari rasa lapar dan dahaga, namun tetap asyik bagi mereka. Kadang, kalau sudah bosan, biasanya akan kepikiran lagi puasanya. Hehe.

Ngabuburit asyik versi kami adalah dengan berjalan ke udara terbuka, tidak perlu jauh-jauh, di sekitar rumah saja. Ke lapangan untuk bisa menghirup udara yang segar, menikmati langit senja yang meneduhkan, sambil mencari menu berbuka yang diinginkan anak. Biar lebih semangat saat berbuka puasa nanti. Atau, jika hari hujan, kami menghabiskan waktu untuk beraktivitas di rumah. Membuat sesuatu, bermain lego, kalau sudah habis ide, biasanya emaknya akan buka aplikasi Pinterest untuk mencari inspirasi. Menghadapi anak yang bosan, dalam kondisi lapar itu terkadang menguras emosi jiwa dan raga. Eh kok malah curhat hehe….

Ngabuburit asyik versi teman-teman, tentunya berbeda dengan saya. Apalagi saat ini banyak istilah-istilah baru yang disandingkan dengan kata ngabuburit ini. Misalnya, teman-teman yang memang terbiasa berolahraga lari, mereka akan mengisi waktu ngabuburitnya dengan berlari. Lari dilakukan di sore hari, menjelang berbuka. Biasa disebut dengan ngabuburun. Ada lagi seorang teman yang memang suka ngabuburit untuk jalan-jalan dengan motor kesayangannya ke tempat yang belum pernah ia datangi, ia menyebut aktivitasnya dengan ngabuburide. Hehe, ada-ada saja ya istilahnya.

Nah, kalau teman-teman, biasa ngabuburit dengan melakukan apa? Siapa tahu bisa jadi inspirasi saya untuk melakukan hal yang sama juga ๐Ÿ™‚

~ Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu ~

~ Bergeraklah, karena diam berarti kematian ~

Hakikat Shaum di Bulan Ramadan

Pagi itu, di hari keenam bulan Ramadan. Suasan hati sudah tidak karuan, padahal hari masih pagi. Anak-anak begitu menguji kesabaran. Semua meminta ini, itu, Ingin diperhatikan, sementara rumah masih belum beres sisa hari kemarin. mainan berantakan, cucian piring masih menumpuk, lantai belum disapu dan pel, setrikaan yang menggunung, peer untuk toilet training dan sapih anak kedua, dan masih banyak lagi hal yang berlarian dalam pikiran di kepala.

Berkali-kali menarik napas, untuk mengingat bahwa ini lagi Ramadan. Harus bisa menahan diri ketika Ramadan. Diri ini mengulang-ngulang kalimat tersebut. Sabar… Ini ujian….

Sebenarnya, jauh di lubuk hati yang terdalam, saya ingin melalui Ramadan dengan lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Bisa lebih fokus dalam beribadah. Hati tenang dan tentram saat menjalaninya, dan pikiran ideal lainnya. Hehe.. Siapa sih yang ‘gak mau melalui Ramadan dengan sempurna? Apalagi bisa mendapatkan keistimewaan di malam lailatul Qadr! Aah… pasti bahagianya bila mendapatkan anugerah tersebut. Karena kita tidak pernah tahu, bukan, sampai kapan kita dapat menikmati udara di bulan ramadan mulia ini.

Di pagi yang keenam itu, saya merasa ingin melampiaskan emosi saya. Kenapa sih, saya tidak bisa melalui Ramadan dengan suasana yang lebih kondusif? Kenapa ini sama seperti rutinitas yang juga sering terjadi di hari-hari lain? Pengen deh, Ramadan ini bebas rutinitas dulu.

Eits!

Seketika saya beristighfar. menyesali diri yang masih terbawa nafsu, masih suka berandai-andai. Saya lihat baik-baik diri saya dan sekitar. Hei, saya seorang ibu dari dua anak yang masih berumur lima dan dua tahun. Wajar sekali bila setiap hari ada saja tindakan anak yang mungkin tidak kita harapkan, satau insiden-insiden kecil di rumah yang membuat suasana menjadi ramai. Hehe.

Seorang ibu, tidak mungkin meninggalkan rutinitasnya ketika memasuki bulan Ramadan. Peran dan tanggung jawabnya harus tetap dilaksanakan. Pertanyaan besarnya dalah, bagaimana cara saya, untuk lebih bisa mengatur waktu , agar peran dan tanggung jawab sebagai seorang ibu dan istri tetap berjalan dengann baik, tapi saya juga mampu menngoptimalkan amalan di bulan Ramadan ini.

Pastinya bukan hal mudah untuk melaksanakan semua itu dengan baik. Kalau mudah, berarti ‘gak ada perjuangannya, dong! Hehe… Padahal, sesuatu yang berharga itu harus diperjuangkan. Misalnya apa? Yap, gelar takwa yang kita ikhtiarkan dari shaum kita di bulan ini.

Seketika saya teringat tausiyah dari seorang ustadz. Beliau bilang, sesungguhnya, hakikat shaum di bulan Ramadan adalah menahan. Menahan dari apa? Menahan diri dari sesuatu hal yang levelnya paling bawah, yaitu lapar dan dahaga, lalu menahan diri dari yang level selanjutnya, yaitu dari hawa nafsu, amarah, dst. Menahan diri ketika Ramadan, berarti menjaga diri dari kelalaian, kesia-siaan, dan kemaksiatan. Betapa banyak orang yang shaum ramadan, namun meraka hanya merasakan lapar dan dahaga. Saat berbuka, mereka balas dendam dengan memakan semua makanan yang ada. Hingga tak cukup ruang untuk bersujud pada Allah di malam hari.

Astaghfirullaah…

Berarti, kalau saya masih merasa terganggu dengan hal “remeh” nan “receh” macam rutinitas bocah, ada yang harus diperbaiki dalam “mindset” saya dalam menjalani hari-hari di bulan Ramadan ini.

Harus banyak bersyukur. Itu hal yang ingin saya terapkan di bulan Ramadan ini. Salah satu misi menahan diri ketika Ramadan bagi saya adalah menahan lisan untuk mengucapkan keluhan-keluhan yang membuat saya jadi kurang bersyukur. Keluhan yang membuat saya menjadi fokus pada apa yang tidak saya miliki, dibandingkan dengan apa yang saya miliki.

Berat, yaa… Hehe… Ya, karena pahalanya juga besar. janji Allah ‘gak akan pernah salah. Yuk ah, kita upayakan merebut ridha Allah di bulan Ramadan ini! ๐Ÿ™‚

~ Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu ~

~Bergeraklah, karena diam berarti kematian ~

Jalan-jalan Saat Puasa, Why Not?

Sudah hari kedua mengikuti tantangan ngeblog yang diadakan oleh Indscript Writing. Doakan semoga saya bisa finish sampai akhir yaa…

Memasuki hari kedua belas berpuasa, aroma-aroma THR dan lebaran sudah mulai tercium ya… Hehe… Persiapan mudik atau lebaran biasanya sudah ada yamg memulai di sepuluh hari kedua. Meskipun lebaran masih jauh, namun banyak juga yang sudah mempersiapkan sejak awal.

Mudik biasanya dilakukan di akhir bulan Ramadan atau setelah Idul Fitri. Setelah pegawai kantor atau pelajar memasuki libur lebaran. Dan, tujuan utama mudik biasanya adalah untuk silaturahim dengan sanak saudara, orangtua, dan kerabat lain yang jarang bertemu di hari-hari lain.

Nah, sebelum mudik dan persiapan lebaran lainnya, saat Ramadan, seringkah teman-teman jalan-jalan saat puasa? Biasanya nih, saat sedang puasa, kita menghindari jalan-jalan. Kenapa?

Ada beberapa pertimbangan. Pertama, biar ‘gak terlalu lelah. Apalagi kalau jalan-jalan saat puasa bareng anak-anak yang sedang puasa juga. Khawatir jika anak-anak nanti kelelahan, lalu mereka meminta untuk berbuka lebih cepat. Hehe… Sayang ‘kan? Pertimbangan selanjutnya, tidak bisa makan saat jalan-jalan di siang hari. Biasanya, saat jalan-jalan, lalu perut terasa lapar, kita akan mampir ke restoran atau tempat makan. Tapi, karena sedang puasa, jadi opsi ini pun tidak ada. Atau mau janjian sama teman, bertemu untuk ngobrol-ngobrol, yang biasanya opsibpaling banyak dipilih adalah di tempat makan, kali ini pun tidak bisa. ‘Gak mungkin hanya numpang duduk di tempat makan, bukan? ๐Ÿ™‚

Tapi, benarkah jalan-jalan saat puasa sebegitu melelahkannya? Padahal, acara jalan-jalan bisa jadi satu alternatif untuk mengisi waktu luang saat puasa, apalagi bagi anak-anak yang biasanya saat Ramadan, sekolah akan diliburkan menjelang lebaran. Jalan-jalan bisa membuat anak-anak lupa kalau mereka sedang berpuasa, karena mereka asyik menikmati acara jalan-jalan.

Tahun lalu, saat anak pertama saya berusia 4 tahun, ia mulai belajar berpuasa. Sahurnya memang fleksibel, jam berapapun saat ia bangun pagi. Kadang jam setengah lima, kadang jam lima, atau jam enam. Tapi, alhamdulillah selalu sampai Maghrib. Tahun lalu kami pernah jalan-jalan saat puasa ke Floating Market dan Kota Mini di Lembang.

Jalan menuju Lembang saat itu sangat sepi. Tidak ramai seperti biasanya. Maklum, sedang berpuasa, tempat-tempat wisata cenderung lebih sepi. Tapi saat waktu menjelang berbuka, jalan-jalan biasanya macet, banyak orang yang buka bersama dengan kerabat mereka. Di Floating Market pun, pengunjung terbilang sepi untuk ukuran tempat wisata di Lembang. Kondisi yang sepi ini bagi keluarga kami malah menjadi keuntungan tersendiri. Tidak harus antri untuk mencoba fasilitas tertentu, dan kalau menemukan spot yang bagus untuk berfoto, bisa langsung berfoto, tanpa desak-desakan dengan pengunjung yang ramai. Hehe…

Minusnya hanya ‘gak bisa makan siang aja, meskipun tempat makan di Floting Market tetap buka.

Alhamdulillah anak saya saat itu tetap bisa menikmati jalan-jalan, meskipun dalam keadaan belajar berpuasa. Saat di Kota Mini, anak saya mengikuti beberapa arena role play, salah satunya menjadi koki. Disini, setelah beres membuat permen atau makanan lainnya, makanan tersebut bisa dibawa pulang oleh anak. Saya dan suami sempet deg-degan juga, apakah anak kami akan tergoda dengan makanan, dan akhirnya minta berbuka. Tapi ternyata, anak kami tetap melanjutkan berpuasa, meskipun ia melihat ada anak yang langsung memakan permen buatanya. Sekantung arumanis dibawa pulang oleh anak kami.

Selama berada di Kota Mini, anak tetap happy dan ceria seperti biasanya. Tidak jadi lemes, mungkin karena ia lupa kalau sedang berpuasa. Pulang dari sana, di perjalanan baru terasa lemes, karena dia dalam mobil, jadi anak tidak ada aktivitas tertentu. Hanya duduk menikmati perjalanan. Kami bujuk untuk tidur saja sambil menunggu waktu berbuka. Alhamdulillah, puasa anak hari itu tidak batal dengan pergi jalan-jalan.

Jadi, saat kita mengajak anak untuk jalan-jalan saat puasa, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, anak di-briefing terlebih dahulu, bahwa kita akan jalan-jalan, anak bisa melakukan apa saja, kecuali makan dan minum. Saat sahur, anak dianjurkan minum yang banyak. Lalu, pilih tempat wisata yang memiliki fasilitas bermain yang disukai oleh anak-anak, dan relatif sepi pada bulan Ramadan. Dampingi anak-anak selalu, agar saat ia mulai lelah, kita bisa menyemangatinya untuk tetap berpuasa bila ia kuat, dan kalau tidak kuat, ya berbuka. Apalagi untuk anak-anak yang masih dalam tahap belajat puasa.

Jangankan anak-anak, kita sebagai orang dewsa saja kadang merasa lelah saat jalan-jalan di bulan puasa, apalagi anak-anak. Hehe..

Oh iya, satu hal, puasa itu bukan berarti kita jadi males ngapa-ngapain ya… Puasa tetap harus produktif juga. Meskipun memang tetap melihat kondisi kita.

Semoga puasanya lancar ya, teman-teman!

~ Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu ~

~ Bergeraklah, karena diam berarti kematian ~

Istimewanya Ramadan, Penuh Berkah

Waaah, Ramadan sudah memasuki hari kesebelas! Alhamdulillah.. Sudah sepuluh hari pertama terlewati di bulan ini. Bersyukur banget Allah masih memberi kesempatan untuk meraih berkah Ramadan, yang ‘gak semua orang bisa mendapatkannya. Berapa banyak sih, orang yang sangat menantikan kehadiran bulan Ramadan, namun tidak Allah sampaikan di bulan ini? Tapi, jangan salah juga, berapa banyak orang yang sudah diberi kesempatan untuk masuk dan beramal di bulan Ramadan, namun tidak mampu mengoptimalkan waktunya di bulan Ramadan?

Ngomong-ngomong, di hari kesebelas ini, bagaimana Ramadan teman-teman? Bagaimana dengan target Ramadan yang sudah direncanakan di awal?

Sedikit curhat, .kalau saya pribadi, biasanya, awal Ramadan begitu bersemangat untuk melakukan banyak hal. Ingin bisa khatam Al-Qur’an berapa kali, ingin bisa sedekah sekian, ingin mengikuti kajian ini dan itu, dan masih banyak lagi. Hari-hari awal Ramadan, masih bisa mengikuti target, namun, semakin kesini, semangat itu mulai menurun, apalagi kalau dihadapkan dengan kondisi keseharian saya sebagai ibu rumah tangga yang kesibukan dan rutinitasnya tidak ada habisnya setiap hari. Saat sedang lelah,, kadang ingin menyerah, ingin segera beristirahat saja. Hehehe… Lemah banget ya…

Tapi, alhamdulillah, hal tersebut kadang muncul sesekali, saat diri dilanda kelelahan yang luar biasa. Biasanya, keesokan harinya saya mulai bersemangat lagi. Kenapa? Ya, saya tidak ingin melewati Ramadan ini begitu saja, .saya tidak ingin melewatkan berkah Ramadan yang begitu banyak di bulan ini.

Apa aja sih berkah Ramadan itu? Saya mau sedikit menuliskan tentang berkah Ramadan yang saya rasakan. Disclaimer, kalau tentang Ramadan yang lengkap dengan penjelasan ayat atau haditsnya, itu bisa teman-teman dapatkan dari kajian-kajian ustadz yang memang mumpuni. Hihi… kalau saya disini ingin berbagi tentang apa yang saya rasakan tentang Ramadan.

Salah satu berkah Ramadan adalah dilipatgandakan pahala saat kita berbuat kebaikan. Buat saya, ini kesempatan emas banget. Saat di bulan lain mungkin kita terlalu asyik mengejar dunia dan mencari seonggok berlian (hehehe…), di bulan ini kita secara sadar dikondisikan untuk lebih menata ibadah dan berbuat amal kebaikan. Dulu, saat masih kuliah, saya senang sekali untuk menghabiskan waktu selama bulan Ramadan di masjid kampus. Kenapa? Suasananya kondusif sekali untuk memotivasi memperbanyak ibadah. Lihat setiap sudut masjid, banyak orang sedang bertilawah, di masjid kampus juga setiap hari disediakan makanan berbuka puasa secara gratis. Bukan hanya ta’jil saja, tapi juga makanan beratnya. Ini salah satu berkah Ramadan buat anak kost yang paling terasa. Hehe… Meskipun saya bukan anak kost, sih… hehe…

Di hari-hari biasa, kadang saya merasa sangat berat untuk melakukan ibadah, atau amal kebaikan. Saya merasa sibuk sendiri. Namun, saat bulan Ramadan, atmosfer yang tercipta di sekitar saya membentuk saya untuk lebih bersemangat mengejar pahala. Oh iya, apalagi ada malam Lailatul Qadr yang begitu istimewa.

Berkah Ramadan berikutnya yang paling saya rasakan adalah kesempatan untuk menjalin silaturahim yang terbuka lebar. Bagaimana tidak, hampir setiap Ramadan selalu ada undangan buka bersama atau biasa disingkat bukber, bukan? Ya bukber teman-teman SD, SMP, SMA, kuliah, kerja, keluarga, sampai bukber dengan tetangga komplek. Hehehehe.. bahkan ada temaan-teman yang wakttu berbuka puasa di rumahnya bisa dihitung jari, karena sisanya mengikuti ajakan bukber dengan teman-teman.

Ilustrasi dari rawpixel.com

Bagi saya pribadi, semenjak punya anak, undangan bukber nyaris tidak bisa hadir, selain karena faktor anak, ditambah juga dengan pertimbangan tempat bukber. Sayang saja kalau undangan bukber di restoran mall, apalagi yang fasilitas mushalanya kurang, jadi malah bikin kita tidak nyaman melaksanakan shalat, atau bahkan terlewat waktu shalat Maghrib. Jadi, bagi saya, bulan Ramadan lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga, orang tua, dan saudara yang pada hari biasa sulit untuk bertemu, di bulan ini jadi diagendakan untuk bertemu.

Ada banyak lagi berkah Ramadan di sekeliling kita. Menjamurnya kajian keislaman yang menjadikan kita bisa memilih, mau mengikuti kajian yang mana, materi tentang apa, kegiatan i’tikaf yang makin banyak diselenggarakan oleh masjid-masjid, bahkan oleh masjid yang terbilang kecil sekalipun. Nah, menjelang lebaran, biasanya ada keberkahan lain yang ditunggu-tunggu nih, THR dan waktunya mudik. Hehe. Buat kita yang mendapatkan rezeki berlebih, waktu menjelang lebaran, adalah waktunya untuk berbagi lebih banyak. Zakat fitrah, dan infak bagi orang-orang yang membutuhkan di sekitar kita.

Ilustrasi dari Google

Nah, bagi teman-teman, apa sih keberkahan Ramadan yang paling terasa?

By the way, semoga tetap semangat menjalani hari-hari Ramadannya ya teman-teman.

~ Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu ~

~ Bergeraklah, karena diam berarti kematian ~

Tempat Favorit untuk Berbuka Puasa, Simple aja!

Hari kedua Ramadhan, udah ada yang buka puasa bersama di luar rumah hari ini? Hehe.. Bulan Ramadhan itu identik banget dengan buka bareng atau biasa disingkat dengan bukber. Bisa jadi, dalam satu bulan, buka puasa di rumah bareng keluarga itu lebih sedikit dibandingkan dengan buka puasa bareng teman-teman. Ya bisa buka bareng teman-teman SD, teman-teman waktu SMP, teman saat SMA, kuliah, teman kerja, tetangga komplek, teman-teman satu organisasi, teman dekat, dan masih banyak lagi agenda buka bareng menghiasi hari-hari di bulan Ramadhan.

Bahas buka bareng, tema hari ini tentang tempat buka puasa favorit di kotamu. Waah… Jujur aja, tema ini berat buat saya.. Hehe.. Kenapa? Soalnya saat ini saya benar-benar gak update tentang tempat makan atau tempat ngumpul yang lagi ngehits di Bandung. Rasa-rasanya, terakhir kali saya buka bareng teman-teman itu saat saya masih bekerja dulu. Setelah resign, nyaris gak pernah buka bareng teman-teman di luar. Hehehe..

Dulu, saat masih kuliah, semua agenda buka bareng berusaha untuk diikuti, dengan syarat tempat buka bareng dekat dengan fasilitas shalat yang memadai. Gak asik dong, buka bareng, tapi Maghrib kelewat. Niat silaturahim, eh malah melalaikan diri. Tapi, setelah menikah dan punya anak, rasanya buka bareng itu sesuatu yang menjadi prioritas ke sekian. Hehe.. Bukan apa-apa, mengingat usia anak yang masih balita, lalu jam berbuka itu saat dimana anak mulai ngantuk, rewel, dan seterusnya. Daripada ikut buka bareng tapi anak cranky, atau tantrum, dan kita juga tidak enjoy ikut acara, saya lebih memilih untuk tidak mengikuti agenda buka bareng. Biar lebih waras aja emaknya. Hehe. Kecuali kalau buka bareng bersama keluarga besar, itu selalu dihadiri. Karena ada suami sebagai partner untuk sama-sama rempong. Hehe.

Kalau di Bandung, hampir semua tempat makan, akan penuh saat waktunya berbuka puasa. Dari restoran cepat saji, kafe-kafe dengan menu premium atau dengan view yang bagus, semua akan dipadati pengunjung. Jadi, saya sendiri tidak tahu pasti, apa sih tempat buka puasa favorit bagi orang Bandung. Bagi saya pribadi, tempat favorit untuk berbuka puasa, ya di rumah, ditemani dengan keluarga tercinta. Sederhana, kan?

Tapi, kalau harus berbuka puasa di luar, ada beberapa kriteria yang akan saya perhatikan. Pertama, terdapat fasilitas mushala yang memadai, terdapat menu makanan untuk anak-anak, ramah anak, termasuk tersedia kids corner atau tempat menarik untuk anak-anak, tidak terlalu jauh dari rumah, dan tentunya harga yang terjangkau. Hehe…

Kalau teman-teman, dimana tempat favorit untuk berbuka puasa?

~ Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu ~

~ Bergeraklah, karena diam berarti kematian ~

Istimewanya Waktu Berbuka Puasa

Bismillaah…. Hari pertama Ramadhan. Ramadhan kali ini, memberanikan diri untuk ikut challenge dari Blogger Perempuan Network lagi. Setelah akhir tahun lalu berhasil menantang diri untuk ikut challenge yang diadakan Blogger Perempuan Network, kali ini juga berharap bisa menyelesaikan tantangan. Soalnya, kerasa banget, kalau diri ini butuh ditantang untuk keluar dari perasaan malas. Saat ada tantangan yang harus dikerjakan, eh, ternyata bisa-bisa aja kok curi waktu untuk nulis di blog walaupun singkat. Jadi, lebih banyak alasannya ternyata saat ingin menulis. Hehe. Sok sibuk.

Awalnya aku ragu ikut challenge ini. Kebayang gak sih, challenge di bulan Ramadhan? Buat ngejar targetan Ramadhan aja masih ngos-ngosan, apalagi ditambah targetan nulis? Tapi, suami ikut mendukung, katanya, cobain aja. Yang harus dibenahi adalah manajemen waktu kita, bukan justru malah mundur dari setiap kesempatan yang ada. Baiklaah… Dicobaa yaa… ๐Ÿ™‚

Ngomong-ngomong tentang Ramadhan, apa sih yang paling berkesan di Ramadhan bagi teman-teman?

Ramadhan identik dengan buka puasa. Waktu yang begitu ditunggu-tunggu oleh kaum muslimin ini, memang berbeda dengan hari-hari biasa. Ketika Ramadhan, adzan Maghrib menjadi adzan yang paling dinantikan. Hehe… Semua channel tv dilihat untuk memastikan adzan Maghrib. Kalau lihat di jalan-jalan, hampir semua pedagang makanan saat menjelang berbuk penuh diserbu pembeli. Bahkan, makanan bisa habis dalam waktu sekejap.

ย Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ู„ุงูŽ ูŠูŽุฒูŽุงู„ู ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณู ุจูุฎูŽูŠู’ุฑู ู…ูŽุง ุนูŽุฌูŽู‘ู„ููˆุง ุงู„ู’ููุทู’ุฑูŽ
โ€œManusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.โ€ (HR. Bukhari no. 1957 dan Muslim no. 1098)


Ternyata, Rasulullah pun menganjurkan untuk menyegerakan berbuka. Jadi, memang sudah sesuai dengan sunnah Rasulullah saat kita bersegera berbuka. Namun, tetap sewajarnya saja. Waktu berbuka puasa, bukan waktunya balas dendam karena seharian tidak makan, lalu saat berbuka semua disantap. Udah sering juga lihat orang-orang yang membeli banyak makanan untuk berbuka, tapi saat waktu berbuka tiba, hanya sedikit makanan yang masuk, ternyata sudah membuat kenyang. Hehe… Makanan pun bersisa. Sayang, kan… Makanan enak-enak, tapi harus bersisa, atau bahkan terbuang begitu saja, karena kita mengikuti nafsu yang begitu besar. Sejatinya, berpuasa adalah menahan diri, bukan? Termasuk menahan diri dari hal-hal yang sia-sia. Dan bukankah salah satu hikmah berpuasa agar kita bisa berempati dengan saudara-saudara kita yang kekurangan dan kelaparan?

Berbuka puasa harus semangat, tapi jangan sampai kita kehilangan makna saat berbuka puasa ya… ๐Ÿ™‚

Happy fasting everyone!

~ Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu ~

~ Bergeraklah, karena diam berarti kematian ~