Tiga Hal Kecil dalam Mengasuh Tiga Anak

Menjadi orang tua memang bukanlah perkara yang mudah. Tidak ada yang namanya sekolah untuk menjadi orang tua. Pada umumnya, saat kita menjadi orang tua, metode yang kita pakai dalam pengasuhan adalah metode yang orang tua kita pakai dulu. Pengasuhan orang tua kita tentu sangat membekas dan menjadi contoh bagi kita dalam mengasuh anak.

Namun, bagaimana jika pola asuh orang tua dulu dirasakan memiliki kekurangan dan kita tidak mau memakai pola asuh tersebut pada anak kita? Di tengah maraknya ilmu parenting yang ada saat ini, kelas-kelas pengasuhan, buku-buku yang membahas mengenai parenting secara lengkap, situs atau media sosial yang juga banyak menyediakan pengetahuan mengenai tips parenting tersedia di sekitar kita, tentu ini menjadi peluang untuk kita belajar banyak mengenai pola pengasuhan terhadap anak. Salah satu situs yang menyediakan artikel parenting yang cukup lengkap untuk dikunjungi yaitu https://id.theasianparent.com/, bisa juga kita mengakses melalui aplikasi the Asianparent yang dapat diunduh di Google Play.

Aplikasi the Asianparent

Sebagai ibu dari tiga orang anak, saya merasakan benar bahwa menjadi ibu dan orang tua adalah tanggung jawab yang sangat besar. Saya tidak pernah diajari bagaimana menjadi orang tua yang baik di bangku sekolah atau kuliah. Saya gagap ketika menghadapi ritme yang berubah drastis saat menjadi seorang ibu, yang kadang membuat saya merasa bersalah saat menyadari bahwa masih banyak kekurangan saya sebagai orang tua. Setelah membaca salah satu artikel di situs the Asianparent yang rasanya “saya banget”, ternyata saya tidak merasa sendiri. Setiap orang tua pasti pernah merasa bersalah terhadap anak-anaknya. Artikel lengkap bisa dibaca di https://id.theasianparent.com/merasa-gagal-jadi-ibu.

Di tengah perasaan yang tidak menentu, saya mencoba kembali menata diri. Bertekad untuk berusaha melakukan yang terbaik untuk anak-anak saya. Dengan segala keterbatasan ilmu parenting yang saya miliki, saya coba untuk mulai belajar segala sesuatu dari nol. Menjadikan pengalaman masa lalu saya sebagai pelajaran berharga dalam mendidik anak.

Kita semua tahu, tidak ada orang tua yang sempurna, namun semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Begitupun dengan orang tua saya dulu. Saya tahu, di tengah keterbatasan mereka, sejatinya mereka sudah berusaha untuk menjadi yang terbaik. Kekurangan mereka dulu, menjadi bekal untuk saya dalam mengasuh anak saya saat ini.

Saat ini, saya sedang membangun simpul-simpul ikatan dengan ketiga anak saya. Siapa sih yang tidak ingin tetap dekat dengan anaknya, meskipun anak mereka sudah dewasa, bahkan sudah berkeluarga? Ada banyak cerita mengenai hubungan anak dan orang tua yang justru semakin merenggang seiring dengan berjalannya waktu. Konflik yang semakin pelik, perasaan kedua belah pihak yang merasa tidak nyaman satu sama lain, dan persoalan mengenai luka pengasuhan yang tak jarang membuat sang anak semakin berjarak dengan orang tua.

Tiga Anak

Saya ingin menjadi orang tua yang bisa membersamai anak-anak dengan baik. Tetap dekat dengan anak hingga mereka dewasa. Ya, disinilah saya saat ini. Sedang menyusun simpul-simpul ikatan yang kelak bisa menjadi bekal saya untuk mendampingi mereka. Menemani mereka belajar dan bermain, menyediakan waktu dan diri untuk mereka, baik secara kualitas maupun kuantitas. Tidak mudah untuk bisa menata emosi setiap harinya. Adakalanya saya lepas kendali, tidak bisa menahan diri dan bersabar dalam membersamai anak-anak. Apalagi jika ketiganya sedang menuntut perhatian yang lebih.

Ada beberapa hal yang saya biasakan saat menjadi orang tua bagi ketiga anak saya. Pertama, saya selalu membiasakan diri untuk meminta maaf pada anak, jika saya memang sudah melakukan kesalahan. Jujur, saya merasa sangat kaku untuk meminta maaf terlebih dahulu, apalagi pada anak. Dulu, di keluarga saya, sangat jarang orang tua meminta maaf kepada anak. Biasanya, anak yang meminta maaf pada orang tua. Karena tidak terbiasa, pada awalnya saya kaku untuk meminta maaaf pada anak. Belum ditambah dengan ego sebagai orang tua yang merasa paling benar dan paling berhak melakukan apapun pada anak. Semakin sering membiasakan meminta maaf pada anak, saya mulai terbiasa, dan berharap anak-anak kelak akan menjadi pribadi yang tidak malu mengakui kesalahan dan juga mau meminta maaf saat mereka melakukan kesalahan.

Kedua, saya membiasakan untuk mengucapkan kalimat sayang dan memberi anak-anak pelukan hangat setiap harinya. Lagi-lagi, hal ini tidak biasa dilakukan di keluarga saya dulu. Ungkapan sayang, jarang sekali dilontarkan, sehingga saya merasa malu dan risih untuk mengungkapkan perasaaan sayang. Belajar dari pengalaman saya dulu, maka saya membiasakan untuk mengungkapkan perasaan sayang dan memeluk anak-anak sesering mungkin. Selama anak-anak masih mau dipeluk, maka peluklah mereka dengan erat. Kelak, ada saatnya mereka enggan dipeluk seperti saat mereka kecil, bukan? Dan waktu anak-anak kecil takkan pernah terulang lagi.

source from unsplash.com

Ketiga, saya membiasakan diri untuk tidak membanding-bandingkan anak yang satu dengan anak yang lain. Wah, ternyata, tidak membanding-bandingkan anak itu tidak semudah kata-kata yang sering sayan dapatkan dalam kelas parenting, atau artikel di media sosial. Seringkali kita sebagai orang tua merasa wajar ketika membandingkan anak satu dengan anak lain, terutama jika tujuannya untuk memotivasi anak agar bisa mengikuti saudaranya yang dianggap lebih baik oleh orang tua. Padahal, ketika anak dibanding-bandingkan dengan yang lain, ada perasaan tidak percaya diri yang kelak akan muncul dari dalam diri anak. Memotivasi anak tentu saja diperbolehkan, namun pastikan kita sebagai orang tua melakukannya dengan cara yang bijak.

Ketiga hal tersebut adalah sesuatu hal yang kecil yang coba saya biasakan sehari-hari. Hal kecil yang nampak mudah, namun ternyata bagi saya, butuh usaha yang cukup keras juga untuk konsisten melaksanakannya. Saat sedang lelah, saya kembali mengingat, bahwa saya sedang membangun simpul-simpul ikatan dengan anak. Semoga kita senantiasa diberi kekuatan untuk menjadi orang tua yang baik bagi anak-anak kita ya.

Kalau teman-teman, apa sih hal kecil yang ingin dibiasakan ketika bersama anak?

Niat yang Seringkali Ternoda

Malam ini, saat baca postingan dari @risalah_ammar, tentang hisab pembuat konten. Berasa ngejleb banget. Secara, selain akun instagram pribadi, saya juga admin dari beberapa akun instagram, yang tentu saja, mau tidak mau, akan berkaitan erat dengan konten dari akun-akun tersebut.

Iya ya, segala sesuatu yang kita lakukan, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah. Di era digital saat ini, jempol kita juga akan dihisab berkaitan dengan apa yang sudah kita tuliskan di dunia maya. Konten apa yang kita buat, baik atau tidak, benar atau dusta, dan juga, tentang masalah niat dibalik unggahan kita ke media sosial.

Tentang niat, memang itu bukan hak kita untuk menilai niat orang lain saat memposting tulisannya di media sosial. Tapi, menjadi kewajiban kita pribadi, ya, saya, dan teman-teman juga, untuk memberi perhatian lebih pada bab niat ini ketika melakukan sesuatu, termasuk ketika melakukan aktivitas di media sosial.

Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907]

Bagi saya pribadi, mungkin tidak jarang bab niat ini menjadi hal yang bias. Bisa jadi niat awalnya hanya ingin berbagi sedikit pada orang lain, saat ada teman-teman yang banyak memberikan like pada postingan saya, niat ini menjadi berubah. Ada bunga-bunga yang terbit di dalam diri dan sesuatu yang melambungkan rasa diri. Merasa lebih baik dari orang lain, merasa diri paling benar, merasa sudah berbuat amal shalih, dan sebagainya.

Ada keinginan untuk menambah follower, untuk apa? Apakah agar kebaikan lebih terasa manfaatnya secara luas? Atau hanya ingin terkenal? Hiks. Suka ada aja kepikiran seperti ini. Bukankah semakin banyak follower, berarti kelak kita harus mempertanggungjawabkan lebih pula? Jika apa yang kita sampaikan adalah sesuatu yang tidak diridhai Allah, lalu itu ditiru oleh followerr kita, bagaimana kita akan menghidar saat dihisab kelak?

Memperbarui niat, menjaganya untuk senantiasa lurus, diridhai Allah, bukanlah perkara mudah. Bayang-bayang untuk bisa terlihat baik di mata manusia, selalu hadir untuk menjauhkan diri kita dari jalan yang lurus.

Ah, niat… Tampaknya, saya masih memiliki banyak pe-er tentang niat. Menjaganya agar tidak menjauhi keridhaan Allah. Menjaganya agar selalu hanya kepadaNya.

~Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu~

~Bergeraklah, karena diam berarti kematian~

Jalan-jalan di Summarecon Bandung

Waah, pekan ini adalah long weekend. Biasanya nih, kalau long weekend seperti ini, banyak yang menggunakan waktunya untuk berlibur bersama keluarga. jalan menuju tempat-tempat wisata dipadati pengunjung. Baik dari dalam maupun luar kota. Ini sudah lima bulan kami memilih tetap di rumah, kecuali ada keperluan yang sangat penting. Jika keluar rumah pun, sangat berusaha untuk menghindari kerumunan. Oh iya, ketika butuh untuk pergi ke supermarket, biasanya saya dan anak-anak akan menunggu di mobil. Karena anak di bawah tujuh tahun dilarang memasuki area perbelanjaan.

Sebenarnya, kami juga sudah ingin liburan, atau mengajak anak-anak pergi ke tempat wisata, taman bermain, namun kami masih memilih untuk tetap di rumah, mengingat kasus positif Covid19 yang masih terus naik. Selain itu, kami juga ada Ziyad yang masih bayi, sehingga lebih baik kami mencari tempat yang jauh dari kerumunan saja jika ingin refreshing. Hehehe.

Biasanya, kami menyempatkan diri untuk ke lapangan di dekat rumah kami. Sekedar membawa anak-anak untuk berlari, main sepeda, dan suami juga berlari. Lapangan di dekat rumah kami ini cenderung sepi. Jadi memang pas untuk tempat bermain dan berolahraga. Tapi, lama-lama, mulai bosan juga. Ingin pergi ke tempat yang sedikit jauh dari rumah, sebagai variasi tempat. Dulu, sebelum pandemi ini ada, kami biasanya pergi ke Sport Jabar di Arcamanik. Namun hingga kini, Sport Jabar masih ditutup untuk umum, karena alasan kesehatan tentunya. Jadi kami harus mencari tempat baru nih.

Di salah satu grup WhatsApp yang saya ikuti, sempat ada yang bercerita kalau ia dan anaknya pergi ke Summarecon, Gede Bage untuk bermain sepeda. Waah, karena Summarecon masih relatif dekat dari rumah, maka kami pun mencoba membawa anak-anak kesana. Dan alhamdulillah, anak-anak senang. Jarak dari rumah kami ke Summarecon bisa ditempuh dalam waktu sekitar 20 menit.

Komplek Summarecon ini luas, jadi kita bisa memilih spot yang sepi dan bisa dipakai untuk anak-anak bermain sepeda dan berlari-lari. Memang sih, saat kami ke Summarecon, ada rombongan pesepeda (Brompton, penting banget ini ditulis) yang melintas. Meskipun jumlah pesepeda cukup banyak, tetapi karena tempatnya yang luas, kami tetap bisa leluasa memilih tempat yang sepi.

Disini ada juga taman dan jalan setapak yang bisa dipakai sebagai tempat lari atau sekedar berjalan-jalan. Pemandangannya juga cukup bagus. Bisa juga dipakai untuk foto-foto. Di dalam komplek, terdapat area tempat makan, meskipun memang belum semua dibuka. Yang sudah buka dan sering terlihat penuh saat kami kesana adalah McDonalds. Rata-rata pesepeda yang membawa mobil, memilih memarkirkan mobil mereka di area parkir restoran ini.

Sudah beberapa kali kami ke Summarecon, dan alhamdulilllah kami menemukan tempat alternatif untuk membawa anak-anak menyalurkan energinya, namun tetap jauh dari kerumunan.

Ada yang mau mencoba kesini? 🙂

~ Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu ~

~ Bergeraklah, karena diam berarti kematian ~

Aliran Rasa di Tahun Baru Hijriah

Assalaamu’alaikum…

Sudah empat purnama tidak menulis disini. Setelah melahirkan, banyak adaptasi yang dilakukan. Bahkan hingga adaptasi pikiran dan perubahan rencana. Belum berani bermimpi terlalu jauh saat ini. Okelah, bahasan tentang mimpi, lain kali aja ya…

Balik lagi nulis disini, pas banget dengan momen tahun baru Islam, 1 Muharram 1442 Hijriah. selamat tahun baru Islam semuanya! 🙂

source : freepik

Momen tahun baru, terutama tahun baru Masehi, biasanya identik dengan resolusi dan juga perayaan. Benar atau benar? 🙂 Meskipun tahun baru Islam tidak sepopuler tahun baru Masehi, namun biasanya ada juga yang merayakan tahun baru Islam sesuai dengan adat dan kebiasaan yang berlaku di daerahnya. Ada juga yang mengadakan acara berupa pengajian di lingkungan masing-masing. Nah, di masa pandemi seperti ini, perayaan atau kegiatan yang melibatkan kerumunan massa dibatasi. Sehingga praktis lebih sepi juga ya dari tahun-tahun sebelumnya.

Ketika mendengar “Tahun baru Islam”, biasanya apa sih yang terlintas dalam benak? Kalau saya pribadi, yang pertama terlintas adalah hijrah. Lalu dalam kepala sibuk mengingat momen hijrah yang terjadi di masa Rassulullah SAW. dan sepertinya, hijrah ini juga yang sering dijadikan tagline saat mengadakan acara di 1 Muharam.

Hijrah…

Membawa saya pada kerinduan terhadap sosok rassulullah SAW. Mungkin bagi saya, hijrah selalu bermakna tentang perjuangan diri untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. hijrah pada kondisi ketaatan yang lebihh pada Allah. Namun bagi Rasulullah dan para sahabat kala itu, momen hijrah adalah momen yang mempertaruhkan segalanya. Keluarga, harta, bahkan jiwa. Ternyata semua karena kecintaan dan ketaatan pada Allah.

Ada banyak hal yang saya pikirkan di tahun baru ini. Tentang bagaimana saya harus mengejar ketertinggalan saya dengan teman-teman, tentang bagaimana saya ingin bangkit untuk menata mimpi dan msa depan, juga tentang usia yang semakin hari semakin berkurang jatah di dunia.

Apakah ini tentang resolusi? Sedihnya, saat ini saya merasa tidak memiliki energi untuk membuat resolusi yang fantastis seperti sebelum-sebelumnya. Hehehe. Saya harus berhenti sejenak saat ini, untuk memaknai kembali langkah-langkah yang sudah maupun yang akan saya ambil di kemudian hari.

Disadari atau tidak, momen hijrah selalu hadir pada setiap diri manusia. Dan bagi saya, di tahun ini, semoga mendekat kepada Allah menjadi jalan ninjaku, eh menjadi jalan hijrahku. Karena kita takkan menjadi apa-apa saat Allah meninggalkan kita.

Berbenahlah wahai diri, masih banyak lubang-lubang yang tersemat

Hingga Allah sampaikan kita pada suatu masa menghadapNya

Dengan kondisi terbaik

~ Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu ~

~ Bergeraklah, karena diam berarti kematian ~

Akun Favorit

Selama di rumah ini, tentu banyak hal yang bisa saya lakukan untuk menambah wawasan dan keterampilan saya. Ada banyak sumber untuk belajar hal-hal yang baru, yang bahkan sebelumnya saya tidak tertarik untuk belajar tentang hal tersebut.

Mengandalkan apa yang ada dalam dunia maya atau secara daring, kita bisa menemukan banyak hal yang bisa kita pelajari dengan sungguh-sungguh.

Saya belum mengkhususkan untuk belajar ke satu akun atau channel saja. Masih random banget sih ya… Karena bagi saya, banyak sekali hal yang bisa dipelajari. Dan karena saya seorang ibu rumah tangga, jadi spesialisasi saya ya tergantung kebutuhan saat itu, hehe.

Namun begitu, ada beberapa akun atau channel yang cukup sering dibuka bila dibandingkan dengan yang lain.

Pertama, akun masak di Instagram, yang sering saya kunjungi. Hehe. Ada beberapa, diantaranya @yackikuka, @isnasutanto, @anitajoyo, dan @bunda_didi. Resep-resepnya bervariasi dan mudah untuk diikuti.

Akun berikutnya adalah kelas online pembelajaran kitab Al Bidayah wa Nihayah. Ada audio pembelajaran yang dibagijan kepada peserta, lalu akan ada ujian setiap bulannya. Karena masih memiliki 2 anak kecil, keberadaan jelas online seperti ini sangat membantu saya untuk tetap bisa menuntut ilmu.

Website-website yang membahas mengenai parenting, pengasuhan anak, aktivitas anak, dan lain-lain. Kalau bagian ini, banyak yang saya kunjungi. Baik website, maupun page di fb, dan akun di fb dan instagram.

Sisanya, saya suka berselancar di Pinterest untuk mencari ide dan inspirasi.

Nb: tulisan kali ini singkat banget ya… karena sudah terlalu lelah juga mengantuk, hehe.. khawatir terlewat sahur nanti. Hehe…

~Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu~

~Bergeraklah, karena diam berarti kematian~

Barang Prioritas Selama di Rumah

Seperti akan berperang, yang membutuhkan paket peralatan perang yang komplit, saat di rumah saja pun, kita membutuhkan barang-barang untuk menunjang aktivitas selama di rumah saja.

Kita gak akan pernah tahu, sampai kapan pandemi ini akan berakhir di Indonesia. Semua pasti berharap agar wabah ini segera berlalu, dan kehidupan segera normal. Meskipun kita semua tahu, bahwa setelah wabah ini beres, tentu akan ada adaptasi yang cukup berat bagi semua.

Selama di rumah, barang-barang apa aja sih yang menunjang aktivitas saya dan keluarga?

Yang pertama tentu gadget, hehe. Bagaimana tidak, suami dan anak pertama selama di rumah aja ini melakukan pekerjaan dan belajar semua dari rumah. Menggunakan media daring. Tentu hal tersebut membutuhkan gadget untuk pelaksanaannya. Laptop, handphone, adalah 2 hal yang sangat penting selama kami di rumah, hehe.

Barang berikutnya adalah mainan dan buku-buku anak. Hal ini penting untuk mengalihkan anak-anak dari kebosanan. Agar anak-anak tetap ada aktivitas meskipun di rumah.

Selanjutnya adalah meja kerja. Hehe. Sebenarnya, kami tidak memiliki meja kerja. Namun di masa work from home ini, ternyata membutuhkan meja kerja. Untuk suami menyelesaikan pekerjaannya. Tapi, kami memakai apa yang ada di rumah saja, meja lipat punya anak-anak. Hehe. Masih cukup kok.

Sisanya barang yang memang sudah ada di rumah saja kami gunakan untuk menemani kami beraktivitas di rumah. Gak mendadak beli barang-barang baru juga. hehe.

~Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu~

~Bergeraklah, karena diam berarti kematian~

Upgrade Keterampilan Selama di Rumah

Tidak dipungkiri, selama di rumah tentu banyak hal yang tadinya tidak bisa kita lakukan karena alasan waktu, menjadi bisa kita lakukan karena aktivitas di rumah. Kita bisa belajar banyak hal, apalagi dengan banyaknya fasilitas pembelajaran melalui daring. Tinggal siapkan kuota dan waktu untuk mengikuti sejumlah kelas atau pembelajaran daring.

Keterampilan pun mulai diasah. Bisa karena untuk mengisi waktu luang, untuk memenuhi kebutuhan, untuk kebutuhan “me time” atau ingin belajar sesuatu hal yang baru.

Saat di rumah, kami pun memiliki target untuk mencoba hal-hal yang baru. Yang selama ini kesulitan untuk kami kerjakan.

Salah satu hal yang kami mulai di rumah adalah belajar bercocok tanam. Kami membeli bibit yang kira-kira mudah untuk ditanam dan dipelihara oleh kami sebagai pemula, dan tidak memiliki halaman yang luas. Kami mencoba menanam beberapa bibit, melakukan perawatan tiap hari, dan melihat perkembangannya. Yang sukses kami tanam dan menghasilkan adalah bawang daun dan kangkung. Alhamdulillah bisa dipakai untuk memasak. Hehe. Akhirnya merasakan bisa panen dari kebun sendiri. Hehe. Bagi kami pemula, hal tersebut sudah membahagiakan.

Keterampilan lain yang saya pelajari ketika di rumah saja ini adalah belajar menggambar, doodle, baik secara manual maupun digital. Walaupun untuk saya pribadi yang tidak memiliki latar belakang seni, hal ini cukup sulit. Apalagi sejak kecil saya sudah dilabel tidak punya bakat seni. Hehe. Setiap hari saya mencoba untuk menyisihkan waktu agar dapat belajar menggambar. Ya, meskipun saya tidak selalu bisa berlatih setiap hari, karena banyak hal lain yang harus dikerjakan, terutama tugas domestik hehe.

Keterampilan lain yaitu memasak menu-menu baru dan juga berlatih memainkan piano. Anak dan suami sangat senang bereksperimen di dapur. Membuat makanan baru yang belum pernah kami masak. Mencari resep mudah, lalu mempraktekkannya.

Untuk piano sendiri, beberapa waktu lalu, piano yang dibeli saat suami masih kecil dulu, dibawa ke rumah, tujuannya agar anak kami bisa belajar memainkan piano. Namun, karena anak yang masih belum mau jika diajar oleh orang lain, maka ibunya yang harus belajar otodidak. Hehe. Bermodalkan aplikasi Pinterest. Padahal ibunya pun belum pernah belajar musik sama sekali.

Alhamdulillah, selama di rumah, cukup banyak kesempatan untuk belajar banyak hal. Jadi, masing-masing anggota keluarga bisa mengupgrade keterampilan diri.

Bagaimana dengan teman-teman?

~ Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu~

~ Bergeraklah, karena diam berarti kematian~

Banyak Aplikasi dalam Satu Genggaman

Selama satu setengah bulan di rumah ini, tentu saja pekerjaan tetap menanti untuk kita kerjakan. Kita juga membutuhkan sarana untuk dapat mengerjakan tugas kita secara lebih efisien, dan juga terorganisir, meskipun di rumah saja.

Banyak kantor dan sekolah yang menerapkan metode daring untuk karyawannya bekerja, dan siswa pun belajar secara jarak jauh dengan metode daring ini. Artinya, baik sebaagai karyawan, guru, siswa, dan orang tua sekalipun membutuhkan website dan aplikasi yang bisa digunakan untuk menunjang pembelajaran dan pekerjaan secara daring ini.

Apa saja sih aplikasi atau website yang sering saya gunakan dan kunjungi selama masa pandemi ini?

  1. Platform untuk rapat secara daring. Ada beberapa yang sering saya gunakan, seperti Zoom, atau Google Meet. Menggunakan aplikasi ini membuat kita bisa melakukan pertemuan secara virtual dengan jumlah peserta yang cukup banyak. Kajian-kajian Ramadan pun banyak yang disajikan melalui aplikasi Zoom. Kita tetap di rumah, namun secara ilmu, kita tetap terpenuhi Insya Allah.
  2. Aplikasi pesan seperti WhatsApp, Line juga Telegram. Pembelajaran jarak jauh yang dilakukan di sekolah anak saya melalui media WhatsApp. Guru memberikan tugas, video petunjuk, dan materi-materi, melalui WhatsApp grup. Dan orang tua pun diminta melaporkan tugas anak pada guru melalui WhatsApp. Sedangkan Telegram, saya lebih sering menggunakannya untuk mengikuti channel-channrl yang bermanfaat, seperti channel ustadz yang berisi materi, channel belajar bahasa, atau kitab.
  3. Pinterest. Duh, ini aplikasi yang saya sukai. Karena aplikasi ini membantu saya untuk menyediakan aktivitas anak di rumah dengan bermacam variasi. Tema apapun bisa kita cari disini. Dan bisa digunakan untuk mencari aktivitas bagi usia berapapun. Untuk anak-anak, tersedia ide bermain, worksheet untuk belajar, dan lain lain. Sementara untuk orang dewasa, Pinterest juga menyediakan inspirasi untuk beraktivitas, misal seperti saya, bisa belajar not balok, belajar doodle, membuat jurnal, dan menjahit.
  4. Aplikasi untuk menonton film. Hehe. Di rumah aja, tentu membuat kita butuh hiburan, salah satunya melalui aplikasi atau website untuk menonton film. Tapi kalau saya pribadi, tidak menggunakan aplikasi ini secara intensif. Karena sudah tidak sempat menonton film yang durasinya panjang. Hehe. Malam hari pun memilih untuk membereskan pekerjaan rumah, atau menulis seperti sekarang. Hehe.
  5. Kelas atau kursus online, seperti Udemy, Coursera, dll. Di masa pandemi ini, banyak penyedia kelas online yang menggratiskan kelasnya untuk memfasilitasi masyarakat belajar di rumah. Ada juga buku-buku yang bisa diakses secara gratis.
  6. YouTube. Menjadi salah satu aplikasi untuk belajar dan hiburan. Karena kami tidak memiliki tv di rumah, saat anak ada pelajaran di TV di saluran TVRI, maka kami pun streaming. YouTube juga digunakan untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan anak dalam menunjang pembelajarannya. Tentu dengan tetap didampingi oleh orang tua.

Sebenarnya masih banyak web atau aplikasi yang saya gunakan di rumah untuk memfasilitasi kami dalam berkegiatan. Ada Let’s Read dan Story Weaver untuk akses ebook anak, aplikasi kuis online untuk pembelajaran, dan masih banyak lagi. Namun untuk kali ini, saya bahas enam saja ya. 🙂

~ Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu~

~ Bergeraklah, karena diam berarti kematian~

Kegiatan Seru di Rumah

Selama di rumah, kadang rasa jenuh akan melanda. Setiap hari beraktivitas di rumah saja. Oleh karena itu, kita harus pandai-pandai mencari kegiatan yang seru dan mengasyikkan untuk seluruh anggota keluarga di rumah.

Bagi keluarga yang memiliki anak yang sudah beranjak remaja atau lebih dewasa, mungkin anak-anak sudah memiliki aktivitas sendiri yang mandiri. Tidak harus mengikuti orangtuanya. Meskipun tetap harus berkomunikasi dan memanfaagkan waktu di rumah untuk menguatkan ikatan di dalam anggota keluarga.

Karena keluarga kami masih memiliki anak-anak kecil, jadi anak-anak masih harus dibimbing untuk berkegiatan secara aktif dan seru. Banyak yang mengeluhkan, selama di rumah aja, anak-anak justru lebih banyak waktu bersama gadget. Karena banyak hal. Faktor jenuh, orang tua yang dituntut deadline pekerjaan, orangtua bingung harus berkegiatan apa lagi, kelelahan, dan lain sebagainya.

Ada banyak hal yang bisa dilakukan di rumah, yang tidak kalau seru dengan aktivitas di luar rumah.

Beberapa hal yang kami lakukan di rumah, misalnya melakukan aktivitas motorik dan sensorik dengan metode bervariasi, membaca buku, mengerjakan worksheet, membuat prakarya, hingga main tebak-tebakan. Permainan ketika saya masih kecil dulu pun saya keluarkan, untuk meminimalisir penggunaan gadget.

Bernyanyi bersama, menonoton film bareng (saat jadwal menonton layar untuk anak-anak), bercocok tanam bersama anak-anak, hingga memasak bersama. Meskipun hasilnya tentu saja rumah tidak akan rapi, namun keseruan aktitas bersama keluarga inilah yang menjadi poin utama.

Bagaimana dengan aktivitas teman-teman bersama keluarga di rumah?

~ Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu~ ~Bergeraklah, karena diam berarti kematian~

Di Rumah Saja? It’s Okay!

Entah sampai kapan wabah Covid19 ini akan berakhir dan tertangani di Indonesia. Tidak ada yang tahu, sampai kapan kita harus membatasi aktivitas kita di luar rumah, dan lebih banyak melakukan aktivitas di rumah saja.

Apakah saat di rumah, kita merasa bosan? Sudah sebulan lebih di rumah saja, mungkin bagi sebagian besar orang yang biasa beraktivitas keluar rumah setiap hari, tentu sedikit banyak akan merasa bosan. Tidak hanya orang dewasa, namun anak-anakpun akan merasakan bosan. Anak-anak yang biasanya bertemu dengan teman-temannya di sekolah, belajar dan bermain bersama, kini harus di rumah selama beberapa lama, pasti pernah merasa bosan. Bahkan untuk keluar rumah pun dibatasi.

Saya seorang ibu rumah tangga, yang sebelum terjadi pandemi Covid19 ini pun aktivitas dominan ya di dalam rumah. Keluar rumah jika antar jemput anak sekolah, ajak main anak keluar, atau membeli keperluan di rumah. Kondisi saat ini membuat saya makin di rumah saja. Hehe. Dulu saja sempat ada perasaan jenuh saat menghadapi rutinitas di rumah, apalagi saat ini.

Namun, saat ini jika rasa jenuh atau bosan melanda, saya melihat dari sisi lain, bahwa kami sekeluarga bisa berkumpul bersama di rumah. Pertanyaannya, bagaimana agar membuat seluruh anggota keluarga bisa betah di rumah?

Bagi saya yang masih memiliki anak usia TK dan balita, tentu harus bisa mengalihkan rasa bosan anak dengan hal yang lebih mengasyikkan.

Bermain bersama anak, baik ibu dan ayah, membantu anak-anak untuk tetap gembira di dalam rumah. Kita bisa melakukan aktivitas yang menyenangkan bersama di rumah. Membaca buku, bermain lego, membuat karya bersama, memasak bersama, dan lain lain.

Biasanya, kami hanya bertiga melakukan aktivitas di rumah, karena suami harus ke kantor. Tapi, karena suami saat ini “work from home“, jadi anak-anak bisa bermain sepuasnya dengan ayahnya. Meskipun saat ayahnya ada tugas yang harus dikerjakan, anak-anak diberi pengertian terlebih dahulu.

Cara lain agar tetap betah di rumah, bisa dengan mengerjakan sesuatu yang baru, misal di rumah kami, sejak wabah ini ada, kami mulai belajar bercocok tanam, meskipun hanya di dalam pot. Hehe. Tapi hal ini bisa menjadi sarana belajar anak juga. Mengenalkan tentang proses berkembangnya tumbuhan, dan melatih kesabaran untuk melihat benihnya tumbuh.

Ada banyak cara yang bisa kita lakukan agar tetap betah di rumah. Bisa secara fisik, misal mengganti tata letak barang di rumah, atau posisi tempat tidur dan lemari, misalnya. Agar terasa suasana yang berbeda. Atau secara psikologis, dengan memperbanyak ikatan dengan anggota keluarga. Jika sebelumnya kita fokus pada aktivitas masing-masing, maka sekaranglah waktunya untuk saling mendengarkan dan memberikan support terbaik bagi setiap anggota keluarga.

~Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu~

~Bergeraklah, karena diam berarti kematian~