Lika-Liku Melatih Diri Konsisten Nge-Blog

Sebagai blogger pemula, saya sangat menyadari bahwa penting untuk merutinkan diri dalam menulis di blog. Butuh meluangkan waktu khusus untuk menulis, dan blogging. Konsisten itu adalah hal yang ingin saya raih dalam waktu dekat ini. Karena bagi saya, ternyata merutinkan diri untuk menulis di blog itu sangat sulit dan penuh tantangan ternyata.

Saya tipe orang yang masih sulit untuk konsisten menulis dalam blog, kecuali jika terpaksa. Hehe. Makanya kali ini pun saya nekat mengikuti tantangan menulis dari Estrilook Community. Agar saya dapat memaksa diri untuk latihan menulis. Saya pun sangat terbantu dengan adany a tema-tema yang disediakan oleh Tim Estrilook Community. Bener deh, saya sering sekali mati gaya ketka berhadapan dengan layar laptop. Jika saya sulit sekali menuangkan ide atau menemukan ide-ide tulisan, saya lebih memilih untuk mengerjakan yang lain saja. Hehe.

Alhamdulillah dengan mengikuti tantangan ini, saya bisa memaksa diri untuk rajin. Meskipun harus bersusah payah hehe.

Setiap aktivitas yang kita lakukan, tentu harus dikerjakan dengan sebaik-baiknya. Butuh manajemen waktu yang baik agar aktivitas kita dapat optimal. Termasuk dalam hal menulis di blog. Bagi ibu rumah tangga macam saya, menulis adalah salah satu cara saya untuk dapat menjaga kewarasan dalam menjalankan peran sebagai ibu rumah tangga. Rutinitas yang cenderung monoton setiap harinya, kelelahan dalam mengurus dua anak sendiri (saat suami ke kantor, hehe), terkadang memmbuat saya merasa menjadi tidak berdaya. Merasa waktu saya habis untuk segala sesuatu yang tak pernah selesai, hehe.

Menulis adalah salah satu cara agar saya merasa tetap bisa menjadi diri sendiri. Termasuk dengan menulis di blog. Saya sendiri masih merasakan bahwa manajemen waktu saya masih sangat kacau. Saya masih memprioritaskan hal yang lain dibandingkan dengan menulis di blog. Setelah saya melakukan evaluasi setengah tahun dalam pencapaian target saya dalam hal blogging, saya memutuskan untuk melakukan beberapa hal-hal sederhana yang dapat membantu saya rutin menulis di blog.

Beberapa hal yang saya lakukan adalah sebagai berikut :

  1. Menyediakan waktu untuk menulis secara rutin setiap harinya, minimal selama 30 menit. Media menulis pun bisa macam-macam. Kadang saya memilih menulis di instagram, ataupun di blog, dengan cara mencicil tulisan. Karena masih memiliki anak balita, jadi saya belum leluasa untuk menghadap layar laptop dalam jangka waktu lama.
  2. Menulis ide-ide yang saya dapatkan untuk dijadikan bahan tulisan. Saya memiliki buku khusus untuk menulis ide yang saya temukan untuk dijadikan tulisan. Sudah ratusan jumlahnya, namunterkendala di eksekusi yang tidak mulus. Hehe.
  3. Mengikuti komunitas blogger atau tantangan blog yang ada di beberapa komunitas. Ya, haha, ini tentu untuk memaksa agar diri gak mager alias malas gerak.
  4. Membuat tema-tema tertentu untuk postingan blog rutin, agar tidak mati gaya, meskipun ide sangat banyak. Biasanya saya akan menulis review buku saat terkendala ide yang mandeg.
  5. Mencoba untuk latihan mengikuti lomba blog yang cukup banyak tersebar infonya di media sosial. targetnya gak harus menang. Karena itu target yang masih jauh bagi saya pribadi. Saya hanya ingin mmelatih mental untuk berkompetisi, sehingga saya bisa termotivasi untuk memperbaiki kualitas menulis saya. Itu saja, Hehe.

Kelima hal kecil tadi insya Allah akan saya rutinkan hingga akhir tahun ini. baru setelah itu saya evaluasi kembali bagaimana hasilnya. Blogging adalah salah satu hal yang ingin saya fokuskan di tahun ini. Saya ingin bisa bermanfaat bagi orang lain dengan apa yang saya bisa. Doakan semoga saya bisa berhasil ya teman-teman, hehe 🙂

-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-
-Bergeraklah, karena diam berarti kematian-

Disangka Tulang Ikan, Ternyata Asam Lambung

Pernah gak sih sedang makan ikan, lalu ada tulang ikan yang nyangkut di tenggorokan? Bagaimana rasanya? Duh, pasti tidak enak, bukan? Sakit dan mengganjal rasanya.

Saya mengalaminya baru-baru ini. Saat itu saya sedang makan ikan. Ketika sedang menikmati ikan, ternyata ada tulang yang ikut serta saya telan. Aduh! Rasanya tidak enak sekali.

Saya segera melakukan apa yang biasa dilakukan oleh orang-orang dulu. Mengepal nasi, lalu menelan nasi tersebut. Tapi si tulang belum juga hilang. Masih tersangkut di tenggorokan. Saya menelan nasi hingga empat kali, namun hasilnya nihil. Saya coba untuk minum air banyak-banyak. Ternyata sama saja. Tidak ada hasilnya.

Tenggorokan saya tetap saja ada yang mengganjal. Saya coba untuk memuntahkan tulang tersebut, namun tidak ada hasilnya. Saya pasrah. Mungkin nanti akan hilang saat saya makan atau minum lagi. Pikir saya saat itu.

Hingga keesokan harinya, saya merasa tulang itu masih tetap di tempatnya. Tidak beranjak sama sekali. Karena saya masih merasa bahwa tenggorokan saya tetap ada yang mengganjal. Saya merasakan ketidaknyamanan saat menelan makanan.

Saya coba googling cara apa lagi yang bisa saya lakukan untuk mengusir tulang ini dari tenggorokan. Semua cara saya coba lakukan, hingga meminum larutan air garam pun saya coba. Berangsur terasa hilang sebentar, namun muncul lagi tak lama kemudian. Sempat terpikir apakah harus memeriksakan diri ke dokter, namun urung saya lakukan. Sebab kalau ke dokter, saya harus membawa anak-anak. Siapa yang akan menjaga mereka. Jadi saya harus menunggu ketika suami bisa menemani.

Ketika hari keempat si tulang masih terasa di tenggorokan, saya memuntuskan untuk pergi ke dokter keesokan harinya. Karena sungguh tidak nyaman rasanya. Khawatir memang harus diambil tindakan medis untuk menyingkirkan tulang tersebut.

Esoknya, Qadarullah dari pagi hingga malam hari saya ada acara dan harus menyetir mobil sendiri dengan membawa 2 anak. Malamnya, suami datang untuk menemani dan menggantikan saya ke dokter. Suami segera mencari dokter spesialis THT yang masih buka malam itu.

Alhamdulillah kami dapat antrian di Klinik Jaya Sentosa. Saya ceritakan keluhan saya pada dokter. Namun dokter ragu jika yang penyebab tenggorokan saya yang mengganjal adalah karena tulang. Menurut beliau, jika memang tulang, biasanya dalam 2 hari pun pasien tidak akan sanggup menahannya. Begitu diperiksa dokter, ternyata dokter tidak menemukan tulang sama sekali. Menurut beliau, penyebabnya adalah asam lambung, karena saya memiliki maag.

Akhirnya beliau memberi saya lansoprazole untuk pemakaian selama 2 minggu. Jika tidak berangsur baik, maka saya harus kontrol kembali dan melakukan endoskopi.

Ternyata, dua kali minum lansoprazole, ganjalan yang selama ini saya kira tulang sudah tidak ada lagi. Berangsur-angsur pergi. Alhamdulillah… Meskipun saya masih berpikir, kok waktunya pas sekali, dengan saat saya ketulangan, lalu tenggorokan saya sakit, padahal disebabkan asam lambung saya yang meningkat? Hehe..

-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-

-Bergeraklah, karena diam berarti kematian-