Jalan-jalan di Summarecon Bandung

Waah, pekan ini adalah long weekend. Biasanya nih, kalau long weekend seperti ini, banyak yang menggunakan waktunya untuk berlibur bersama keluarga. jalan menuju tempat-tempat wisata dipadati pengunjung. Baik dari dalam maupun luar kota. Ini sudah lima bulan kami memilih tetap di rumah, kecuali ada keperluan yang sangat penting. Jika keluar rumah pun, sangat berusaha untuk menghindari kerumunan. Oh iya, ketika butuh untuk pergi ke supermarket, biasanya saya dan anak-anak akan menunggu di mobil. Karena anak di bawah tujuh tahun dilarang memasuki area perbelanjaan.

Sebenarnya, kami juga sudah ingin liburan, atau mengajak anak-anak pergi ke tempat wisata, taman bermain, namun kami masih memilih untuk tetap di rumah, mengingat kasus positif Covid19 yang masih terus naik. Selain itu, kami juga ada Ziyad yang masih bayi, sehingga lebih baik kami mencari tempat yang jauh dari kerumunan saja jika ingin refreshing. Hehehe.

Biasanya, kami menyempatkan diri untuk ke lapangan di dekat rumah kami. Sekedar membawa anak-anak untuk berlari, main sepeda, dan suami juga berlari. Lapangan di dekat rumah kami ini cenderung sepi. Jadi memang pas untuk tempat bermain dan berolahraga. Tapi, lama-lama, mulai bosan juga. Ingin pergi ke tempat yang sedikit jauh dari rumah, sebagai variasi tempat. Dulu, sebelum pandemi ini ada, kami biasanya pergi ke Sport Jabar di Arcamanik. Namun hingga kini, Sport Jabar masih ditutup untuk umum, karena alasan kesehatan tentunya. Jadi kami harus mencari tempat baru nih.

Di salah satu grup WhatsApp yang saya ikuti, sempat ada yang bercerita kalau ia dan anaknya pergi ke Summarecon, Gede Bage untuk bermain sepeda. Waah, karena Summarecon masih relatif dekat dari rumah, maka kami pun mencoba membawa anak-anak kesana. Dan alhamdulillah, anak-anak senang. Jarak dari rumah kami ke Summarecon bisa ditempuh dalam waktu sekitar 20 menit.

Komplek Summarecon ini luas, jadi kita bisa memilih spot yang sepi dan bisa dipakai untuk anak-anak bermain sepeda dan berlari-lari. Memang sih, saat kami ke Summarecon, ada rombongan pesepeda (Brompton, penting banget ini ditulis) yang melintas. Meskipun jumlah pesepeda cukup banyak, tetapi karena tempatnya yang luas, kami tetap bisa leluasa memilih tempat yang sepi.

Disini ada juga taman dan jalan setapak yang bisa dipakai sebagai tempat lari atau sekedar berjalan-jalan. Pemandangannya juga cukup bagus. Bisa juga dipakai untuk foto-foto. Di dalam komplek, terdapat area tempat makan, meskipun memang belum semua dibuka. Yang sudah buka dan sering terlihat penuh saat kami kesana adalah McDonalds. Rata-rata pesepeda yang membawa mobil, memilih memarkirkan mobil mereka di area parkir restoran ini.

Sudah beberapa kali kami ke Summarecon, dan alhamdulilllah kami menemukan tempat alternatif untuk membawa anak-anak menyalurkan energinya, namun tetap jauh dari kerumunan.

Ada yang mau mencoba kesini? 🙂

~ Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu ~

~ Bergeraklah, karena diam berarti kematian ~

Aliran Rasa di Tahun Baru Hijriah

Assalaamu’alaikum…

Sudah empat purnama tidak menulis disini. Setelah melahirkan, banyak adaptasi yang dilakukan. Bahkan hingga adaptasi pikiran dan perubahan rencana. Belum berani bermimpi terlalu jauh saat ini. Okelah, bahasan tentang mimpi, lain kali aja ya…

Balik lagi nulis disini, pas banget dengan momen tahun baru Islam, 1 Muharram 1442 Hijriah. selamat tahun baru Islam semuanya! 🙂

source : freepik

Momen tahun baru, terutama tahun baru Masehi, biasanya identik dengan resolusi dan juga perayaan. Benar atau benar? 🙂 Meskipun tahun baru Islam tidak sepopuler tahun baru Masehi, namun biasanya ada juga yang merayakan tahun baru Islam sesuai dengan adat dan kebiasaan yang berlaku di daerahnya. Ada juga yang mengadakan acara berupa pengajian di lingkungan masing-masing. Nah, di masa pandemi seperti ini, perayaan atau kegiatan yang melibatkan kerumunan massa dibatasi. Sehingga praktis lebih sepi juga ya dari tahun-tahun sebelumnya.

Ketika mendengar “Tahun baru Islam”, biasanya apa sih yang terlintas dalam benak? Kalau saya pribadi, yang pertama terlintas adalah hijrah. Lalu dalam kepala sibuk mengingat momen hijrah yang terjadi di masa Rassulullah SAW. dan sepertinya, hijrah ini juga yang sering dijadikan tagline saat mengadakan acara di 1 Muharam.

Hijrah…

Membawa saya pada kerinduan terhadap sosok rassulullah SAW. Mungkin bagi saya, hijrah selalu bermakna tentang perjuangan diri untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. hijrah pada kondisi ketaatan yang lebihh pada Allah. Namun bagi Rasulullah dan para sahabat kala itu, momen hijrah adalah momen yang mempertaruhkan segalanya. Keluarga, harta, bahkan jiwa. Ternyata semua karena kecintaan dan ketaatan pada Allah.

Ada banyak hal yang saya pikirkan di tahun baru ini. Tentang bagaimana saya harus mengejar ketertinggalan saya dengan teman-teman, tentang bagaimana saya ingin bangkit untuk menata mimpi dan msa depan, juga tentang usia yang semakin hari semakin berkurang jatah di dunia.

Apakah ini tentang resolusi? Sedihnya, saat ini saya merasa tidak memiliki energi untuk membuat resolusi yang fantastis seperti sebelum-sebelumnya. Hehehe. Saya harus berhenti sejenak saat ini, untuk memaknai kembali langkah-langkah yang sudah maupun yang akan saya ambil di kemudian hari.

Disadari atau tidak, momen hijrah selalu hadir pada setiap diri manusia. Dan bagi saya, di tahun ini, semoga mendekat kepada Allah menjadi jalan ninjaku, eh menjadi jalan hijrahku. Karena kita takkan menjadi apa-apa saat Allah meninggalkan kita.

Berbenahlah wahai diri, masih banyak lubang-lubang yang tersemat

Hingga Allah sampaikan kita pada suatu masa menghadapNya

Dengan kondisi terbaik

~ Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu ~

~ Bergeraklah, karena diam berarti kematian ~