Bersenang-senang di Sport Jabar

Salah satu resolusi saya di tahun 2019 ini adalah bebas maag dan menjalani hidup yang lebih sehat. #2019BebasMaag dan #2019LebihSehat menjadi hashtag saya dalam bidang kesehatan pribadi. Hehe…

Naah, alhamdulillaah banget, rumah lumayan dekat dengan Sport Jabar. Tempat yang enak banget untuk olahraga. Luas, tersedia kantin, dan parkir gratis. Parkir gratis ini memang jadi daya tarik sendiri bagi kami. Hehe. Jadi bisa berlama-lama disana tanpa khawatir tagihan prakir membengkak. Soalnya, kalau bareng anak-anak, biasanya harus menyediakan waktu ekstra untuk hal-hal yang di luar prediksi. Misal anak masih ingin main, atau anak tantrum, dan lain-lain. 🙂

Sebenarnya, terinspirasi dari suami yang dari tahun lalu memang sudah rajin untuk olahraga rutin, dengan lari. Bukan lari dari kenyataan yah.. Wkwkwk… Lari beneran…

Nah, sebagai istri, jadi meneladani deh. Mulai untuk serius di 2019 ini, insya Allah. Dan tentu ngajak anak-anak juga. Mau rutin berenang, lari, atau sepeda, dan hiking insyaAllah. Semoga bisa terwujud. Karena kesehatan itu nikmat yang sering banget kita lalaikan. Baru terasa saat nikmat sehat itu diambil.

Oh iya, balik lagi ke tempat untuk olahraga, sebenernya kalau di dekat rumah, ada juga lapangan dekat rumah. Ada track larinya atau bersepeda juga, jadi kami memang tidak selalu ke Sport Jabar. Kalau waktunya sedikit, ya kami ke lapangan dekat rumah saja.

Lapangan dekat rumah, ada track larinya juga

Tapi, kalau di weekday, saat Umar ingin main sepeda, biasanya saya akan lebih memilih untuk sekalian ke Sport Jabar aja. Lebih worthed untuk bawa 2 sepeda pakai mobil. 🙂 Dulu pernah main sepeda di lapangan, dan ujung-ujungnya saya tetap harus membawa mobil untuk membawa 2 sepeda dari lapangan. Karena medan yang menanjak dan menurun, ngos-ngosan juga dorong sepeda 2 buah sambil menggendong si kecil yang mau digendong, karena ga betah lama di sepeda. Kebayang ‘kan rempongnya. 😀

Ini penampakan saat bertiga aja di weekday… 😁

Sport Jabar ini terletak di daerah Arcamanik. Waktu tempuh dari rumah sekitar 15 menit menggunakan mobil. Jadi, lebih enak sih buat emak-emak seperti saya, kalau membawa 2 anak di hari kerja. kalau weekend, baru full team dengann suami kesana. Oh iya, kami lebih memilih sore hari kesana. Karena pagi hari jam 8 biasanya matahari sudah bersinar terik. Dan anak-anak seringnya jadi gak betah karena kepanasan. Sore lebih adem dan menentramkan, sekalian melihat langit senja. hehe…

Langit senjanya bagus banget….

Sport Jabar buka dari pukul 5 pagi hingga 6 sore untuk dipakai kegiatan. Biasanya, menjelang jam 6 sore, ada petugas yang akan berkeliling untuk mengingatkan bahwa waktunya sudah mau habis. Jadi pengunjung bisa bersiap-siap untuk menghentikan aktivitasnya.

Semoga bisa terus istiqomah buat membiasakan olahraga. Seringnya, karena udah jadi emak-emak, merasa udah capek duluan dan ga ada waktu untuk olahraga. Tapi kalau dipaksain, ternyata bisa juga. Saat bertiga aja sama anak-anak, saya mencoba mencari celah-celah untuk sedikit berolahraga. Misal, saat anak-anak lagi ngemil, saya bisa lari-lari kecil di sekitar mereka. Jadi selalu siap pakai sepatu olahraga. Meskipun nanti gak kebagian olahraga,ya, minimal olahraga injek kopling, wkwkkw 😀

Tapi, serius, kalau dipaksain, ternyata bisa aja kok meluangkan waktu untuk olahraga. Demi mensyukuri nikmat sehat yang udah Allah kasih, kenapa gak mau berjuang sedikit? Hehe..

Kadang iri (dalam arti positif ya..), sama teman-teman yang bisa rutin olahraga, bisa ikut event-event lari, atau bisa berenang, yoga, pillates, dsb.. Huahahaha…. Pengen juga… Tapi balik lagi, setiap orang kondisinya beda-beda. Ya, mau ikut lari atau olahraga yang serius banget, waktunya udah kesita dengan kewajiban di rumah. Ada anak-anak yang gak bisa ditinggal lama, ada kewajiban lain menanti ditunaikan.

So, syukuri aja, toh masih bisa lari-lari sambil dorong sepeda roda tiga, plus gendong bocah, di Sport Jabar. Hehe.. Seru aja, dan meyakinkan diri bahwa kelak, masa-masa ini yang akan dirindukan 🙂

Saat bocah ngemil, waktunya ummi olahraga agak serius 😁

~ Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu ~

~ Bergeraklah, karena diam berarti kematian ~

Militansi Diri

Bismillaah…

Beberapa hari yang lalu udah sempet posting tentang militansi di IG story, di @riniinggriani (hehe..sekalian promosi 😂), awalnya mau ditulis lebih dulu di blog, namun belum sempet aja, tapi pikiran di kepala udah penuh, hehe.. Jadi diposting di IG story dulu.

Kenapa sih bahas yang berat-berat? Hm.. Ini ga berat kok.. Ini sebenernya lebih untuk pengingat diri sendiri aja. Karena salah satu tujuan menulis saya adalah untuk pengingat diri saya sendiri. Kalau tulisan itu jadi bermanfaat, alhamdulillah… Biidznillaah… 🙂

Tentang militansi diri…

Pernah ga sih, saya, kami, atau kita, berpikir seperti ini, “Kenapa ya, akang/teteh itu, kalau sudah menikah, apalagi punya anak, kok militansinya kaya berkurang (jleb banget ga siih?)… Jarang dateng kalau ada kajian atau agenda-agenda dakwah, atau telat hadir, dan seterusnya..” Atau minimal dicurhatin temen deh dengan kalimat seperti itu dan sejenisnya.

Waktu saya masih muda dulu, wkwkwk.. Haha… Iya, waktu dulu saya masih kuliah, saya banyak dicurhatin sama temen-temen dengan kalimat-kalimat tersebut. Saya, yang waktu itu belum ngerasain gimana kalau udah menikah dan punya anak, menanggapinya santai aja. Cuma nyengir dan ga banyak komen. Hehe…

Kenapa? Yaiyalah, saya belum ada di posisi akang teteh itu, dan gak tahu seluk beluk kehidupannya secara detail, jadi ga bisa menilai apapun, kan?

Saya hanya berpikir, mungkin tidak seperti itu pada kenyataannya. Kita, seringkali yang masih belum ada amanah yang lebih (misal, pasangan, anak, atau pekerjaan, dll), belum bisa memahami apa yang dihadapi orang yang memiliki amanah lebih tersebut. Kita masih mengukur mereka, dengan ukuran diri sendiri. Dengan kondisi diri pribadi.

Maka sering mungkin terucap atau terlintas,

“Harusnya bisa dong, tetep rajin ke agenda dakwah… Ya kalau alasannya anak, ya berarti persiapannya harus lebih pagi aja…”

Atau,

“Masa sih jadi ga militan cuma karena udah nikah dan punya anak? Padahal dulunya aktivis banget, panutan terbaique”

Ssst… Sudah cukup ya.

Kebayang ya, saya, atau teman-teman yang belum ada di posisi tersebut, tidak bisa mengerti bagaimana (mungkin) sulitnya berada di posisi ada tambahan amanah seperti itu.

Makanya saya ga banyak komentar ketika menanggapi hal-hal macam ini, dulu hehe.

Lalu, setelah saya menikah dan punya anak, bagaimana?

Naah ini… Saya baru merasakan yang namanya perjuangan jadi seorang istri dan ibu itu ga semudah dilihat di timeline medsos, Fergusso! 😂😂

Di media sosial, kita bisa atur apa yang ingin kita tampilkan. Biasanya yang bagus-bagus dong yang kita tampilkan.. Hehe. Anak, ga selamanya bisa duduk manis, sambil tersenyum. bahkan sisanya ya aktif banget kan..

Setelah menikah dan punya anak, langkah saya menjadi terbatas, mobilitas saya pun berkurang dibandingkan dulu. Ada sesuatu yang menahan saya untuk mempercepat langkah saya di luar. Ketika datang ke agenda pekanan menjadi sesuatu yang cukup berat, karena harus jadi emak rempong dengan segala tetek bengeknya. Ya bawa popok, pakaian ganti, makanan, mainan, atau buku, dll. Ketika akan hadir ke kajian, sudah siap berangkat, anak ternyata (maaf) BAB, lalu akhirnya berangkat jadi mundur lagi. Ujung-ujungnya telat hadir agenda, dan semacamnya.

Pernah melihat ga, ibu-ibu, bawa anak 3 orang, sedang hamil besar, pergi ke agenda dakwah, dengan menggunakan angkutan umum, angkot? Bisa jadi ada yang bakal bilang, “Yaudah sih, pake taksi online aja, kan udah banyak tuh taksi online, ribet banget.” Karena bagi ibu tersebut, ongkos taksi online dari rumah ke tempat acara itu masih mahal, broo,sist! Mending naik angkot, meskipun jauh lebih ga nyaman pastinya.

Saya sering melihat ibu-ibu yang semacam ini. Datang ke kajian, menggendong anak yang kecil, dan menggandeng anak yang lebih besar, atau selama kajian, berlomba untuk mendengarkan kajian, dan mengejar-ngejar anak. Istilahnya, dateng ke kajian atau di rumah, sama aja, sama-sama ngasuh dan ngejar-ngejar anak. Apa gak cape? Tapi mereka tetap bersemangat hadir ke kajian atau agenda pekanan, bahkan di agenda-agenda dakwah lain. Mereka, masih menyimpan ghirah yang tinggi, yang berusaha mereka pertahankan, agar tak tergerus rutinitas.

Seorang wanita, dalam hidupnya, ada fase-fase dimana ia mungkin akan “melambat”, ketika ia hamil, baru melahirkan, memiliki bayi, dst. Adakalanya ia harus melakukan “redefining achievement“. Karena hidupnya tak akan pernah lagi sama dengan sebelumnya.

Bagaimana dengan kaum ayah? Wkwkwk… Setelah akang-akang yang biasa kita kenal itu menikah, mungkin kita tidak menyadari bahwa amanah yang ia emban kini semakin berat. Kita yang belum ada di posisi itu, mungkin akan bilang, “Kalau ikhwan udah nikah punya anak, kan ada istrinya yang ngurus anak, kalau istrinya shalihah, ya dukung dong suaminya untuk terus aktif dalam dakwah…”

Kalau hanya berkomentar, pastinya mudah sekali yaaa… Tapii… sadarkah kita, bahwa ketika sudah terjadi pernikahan, maka amanah yang diemban baik laki-laki maupun perempuan akan semakin besar. Apalagi laki-laki. Coba lihat di Al-Qur’an surat At-Tahrim ayat 6.

“ Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6) 

Ternyata, berat banget amanahnya seorang kepala keluarga. Gak main-main. Bagaimana ia harus menjaga diri dan keluarganya dari api neraka. Bayangin aja, menjaga diri sendiri dari kemaksiatan aja kita kadang susah bener ya buat gak ngikutin godaan syaitan, apalagi ini, harus menjaga diri plus keluarga dari api neraka?

Maka, kita yang tidak mengetahui setiap inci perjuangan saudara-saudara kita, yang tidak mengetahui dengan baik setiap pergulatannya dengan masalah, apa yang bisa kita lakukan? Please, tetap support do’a dan empati. Hehe. Mengingatkan itu boleh, bahkan harus, saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran, namun, tetap perhatikan adab-adabnya. Dengan tetap mengedepankan husnuzhan dan tanpa menghilangkan tabayyun.

Jleb banget!

Itu tadi kalau kita, berada di posisi orang yang (merasa) punya hak untuk berkomentar, karena kita belum ada di posisi dengan amanah yang “lebih”. Lalu, bagaimana ketika kita sendiri justru berada di posisi orang dengan amanah yang sudah jauh lebih besar? Misal sudah menikah dan punya anak, punya pekerjaan, atau kewajiban-kewajiban lain yang lebih besar?

Kalau ini, murni apa yang saya lakukan terhadap diri saya. Tiap-tiap orang pasti memiliki pilihan dan juga kondisi yang berbeda-beda.

Ketika saya berada dalam suatu posisi dengan amanah yang lebih (tapi masih banyak kok saudara-saudara saya yang amanahnya jauuuh lebih banyak banget, hehe), saya sangat menyadari, bahwa ada yang akan berubah. Konsekuensi atas hadirnya peran baru. Namun, satu hal yang selalu saya azzamkan, apapun kondisinya, sesulit apapun saya dalam melangkah, atau betapapun terbatasnya waktu yang saya miliki, saya selalu ingin melakukan sesuatu dalam dakwah ini. Meskipun kecil sekali kontribusi yang bisa saya lakukan, namun saya tetap ingin selalu bersama dakwah. Karena, saya sudah mengenal dakwah dan tarbiyah, jauh sebelum saya menikah, punya anak, bekerja, dan seterusnya. Dakwah sudah menjadi gema dalam relung hati saya, yang tak bisa saya abaikan begitu saja.

Sulit? Ya sulit. Hehe. Dengan kondisi keterbatasan mobilitas saat ini, atau kalaupun bisa, pergi kemana-mana dengan membawa serta anak-anak yang tidak bisa ditinggal, dan perjuangan lainnya. Dulu, saat Umar masih berusia 1,5 bulan, saya dan suami membawa serta Umar untuk menghadiri agenda rutin di daerah Bandung Timur, sementara saat itu kami masih di daerah Bandung Utara, pakai motor.

Alhamdulillaah, saya dikaruniai suami yang juga menjadi partner dalam mendukung aktivitas dakwah. Meskipun militansi mungkin tidak bisa disamakan denngan seperti dahulu, namun kami tetap memiliki komitmen untuk setia di jalan ini.

Gambar dari google.com

Jalan dakwah, jalan yang tidak pernah dijanjikan untuk mudah dilalui… Tapi kami bertekad untuk tetap bertahan, bukan karena dakwah membutuhkan kami, namun kamilah yang membutuhkan dakwah…

“Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul, apabila Rasul menyeru kamu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” (QS. Al-Anfaal: 24)

Ah, Ruhul Istijabah….

Semoga kita senantiasa Allah kuatkan untuk tetap istiqomah dalam jalan dakwah, dan saling bersaudara dengan ikatan yang kokoh.. 🙂

~Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu~

~Bergeraklah, karena diam berarti kematian~

Berbagi Asa dengan Menjadi Seorang Narablog

2019 sudah hadir menyapa kita. Pasti ada banyak cerita yang kita lalui di tahun 2018, dan tahun-tahun sebelumnya, bukan? Cerita yang mungkin akan terus kita kenang hingga nanti. Kisah-kisah yang menjadi bekal untuk kita bisa menghadapi apa yang terjadi di masa depan.

Bicara tentang awal tahun, biasanya kita punya kebiasaaan untuk membuat resolusi yang akan dijalankan di tahun tersebut. Begitu pun saya.

Sudah beberapa tahun ini saya rutin untuk membuat resolusi di awal tahun. Tapi ternyata pelaksanaannya belum bisa sempurna. Di tengah jalan, seringkali saya lupa dengan resolusi awal tahun yang sudah saya buat. Pernah saya membeli planner sebagai alat bantu agar saya tetap bisa menjalankan resolusi di tahun tersebut. Namun, lagi-lagi saya menyerah. Planner hanya saya isi di bulan-bulan awal saja, setelah itu, planner kembali tidak tersentuh. Ujung-ujungnya,, resolusi saya tidak dapat terlaksana.

Gambar dari www.google.com

Ada yang senasib dengan saya?

Nah, karena saya tidak mau mengulang kesalahan yang sama lagi, di akhir tahun 2018 lalu saya membuat resolusi untuk “karir” saya. Sebenarnya resolusi ini dilatarbelakangi karena saya mengikuti salah satu challenge menulis 30 hari di blog.

Di usia saya yang sudah 31 tahun ini, karir seperti apa yang ingin saya bangun? Alhamdulillah, meskipun saya sudah resign dari pekerjaan sebagai apoteker sekitar 5 tahun lalu, namun saya bisa tetap “waras” dengan melakukan hal yang saya sukai, di tengah kesibukan mengurus dua anak balita, tanpa ART. Ya, tentu saja dengan perjuangan yang tidak mudah juga.

Apa hal yang saya sukai? Menulis.

Yap, menulis bagi saya, bukan sekedar kesukaan, namun ia juga menjadi salah satu cara saya untuk “healing” dari perasaan-perasaan negatif yang muncul, baik dari dalam diri maupun dari luar.

Gambar dari Pinterest

Di awal tahun 2018, saya memiliki target untuk mulai “serius” dalam menulis. Bukan hanya sekedar curhat pribadi semata, hehe… Oleh karena itu, saya memulai dengan membuat blog yang baru. Di blog lama saya, isinya terlalu banyak curhat dan temanya pun masih suka-suka. Semua dituliskan disana. Nah, di blog yang baru, saya ingin membuat tema-tema yang ingin saya tulis dengan lebih rapi dan sistematis.

Sudah sejak lama saya mengenal dan menulis di blog, namun saya tidak serius mendalami dunia blog. Saya masih mencari bentuk diri saya seperti apa di kemudian hari. Maksudnya, setelah resign dan berjibaku dengan aktivitas di rumah, sedikit demi sedikkit, beberapa impian yang dulu sempat saya ingin raih, terlupakan. Di tahun 2018 lalu, saya mulai menata hidup saya. Saya juga ingin memiliki cita-cita seperti orang lain. Seiring waktu, saya seperti benar-benar menemukan diri saya saat menulis.

Semakin banyak saya menulis, semakin saya merasa bahwa diri saya lebih hidup dan bersemangat.

Di tahun 2019 ini, saya ingin memulai merintis untuk menjadi seorang narablog. Kenapa? Jujur, saat saya mencoba serius untuk menggunakan blog sebagai sarana untuk menulis dan berbagi, saya menemukan kebahagiaan yang tidak bisa diukur oleh materi. Membaca komentar-komentar yang hadir, membuat saya menjadi merasa seperti sejenak terbang melangit. Mungkin terkesan agak berlebihan, namun bagi seorang narablog pemula seperti saya, hal sederhana seperti ini begitu luar biasa. Apalagi jika hal yang saya tulis ini bisa bermanfaat bagi pengunjung dan pembaca blog saya.

Menulis di blog, selain mampu menjaga “kewarasan” saya, juga saya bisa mendapatkan banyak manfaat dan energi positif dari teman-teman narablog lain, tentunya melalui aktivitas blogwalking. Saya bisa memiliki teman-teman dunia maya yang hebat dan menginspirasi. Sering saya berharap untuk bisa bertemu dengan teman-teman narablog yang sudah profesional untuk belajar secara langsung dan bertemu sosok-sosok hebat yang selama ini saya kagumi secara diam-diam melalui tulisan mereka.

Di tahun 2019 ini, ada beberapa resolusi yang saya ingin lakukan berkaitan dengan aktivitas menulis di blog. Tema besar resolusi 2019 saya dalam dunia blog adalah merintis karir untuk menjadi narablog profesional.

Waaah… masih jauh sekali ya dari realita yang saya hadapi saat ini. Tapi, bermimpi, boleh dong? 🙂

Insyaallah bermimpi yang disertai dengan ikhtiar yang sungguh-sungguh.

Gambar dari Pinterest

Langkah pertama adalah membangun konsistensi menulis di blog. Ini jelas adalah langkah yang mau tidak mau harus saya lakukan. berbekal semangat mengikuti challenge 30 hari menulis di akhir tahun 2018 lalu, di tahun ini saya ingin konsistensi menulis di blog. Memang belum bisa satu hari satu tulisan, namun saya menargetkan di tahun 2019 ini minimal terbit dua tulisan setiap pekannya.

Kedua, saya akan membuat tema untuk setiap tulisan yang akan terbit di blog pribadi. Selain memudahkan saya untuk menulis (iya, saya sering sekali bingung ketika akan menulis :)), membuat tema tulisan akan memudahkan saya untuk menentukan niche blog saya. Meskipun saat ini, sebagai narablog pemula, saya masih menulis dengan banyak tema.

Ketiga, saya ingin di tahun 2019 ini mengikuti minimal 5 lomba blog, #KompetisiBlogNodi ini adalah lomba blog yang saya ikuti pertama kalinya. Terima kasih kepada Mas Adhi yang sudah mengadakan lomba ini, dan juga para juri yang menjadi inspirasi saya dalam menulis.

Ikutan, yuk!

Keempat, saya ingin mengikuti acara dari komunitas blogger, minimal di daerah dekat saya tinggal. Ini bisa menjadi salah satu sarana saya untuk lebih bisa belajar dan tentunya membangun jaringan pertemanan yang lebih luas.

Nah, itu tadi beberapa resolusi saya di tahun 2019 berkaitan dengan impiam saya untuk membenahi blog. Walaupun jalan untuk menjadi narablog profesional masih panjang, tapi harus dimulai dari saat ini juga, bukan? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?

Saat menulis menjadi bagian dari cara kita mengingatkan diri sendiri dan berbagi pada dunia, maka tak ada alasan untuk berhenti menulis.

Kalau teman-teman, apa resolusi di tahun 2019 ini?

#KompetisiBlogNodi

#NarablogEraDigital

~ Bergeraklah, karena waktu takkan menantimu ~

~ Bersegeralah, karena diam berarti kematian ~

Pengalaman Khitan Smart Klamp di KMC

Yeaay, alhamdulillah ini postingan pertama di 2019. Doa’akan semoga konsisten ngeblognya yaaa…

Setelah berhasil ikut challenge dari Blogger Perempuan Network di akhir tahun lalu, saya bertekad untuk membenahi diri dalam dunia blog di tahun 2019 ini. Buat postingan yang rutin dan berfaedah, bikin tulisan yang ga hanya sekedar curhat pribadi aja, dan lain-lain. Semoga bisa yaaa…

Nah, setelah berhasil ikut challenge, ternyata saya belum nulis lagi.. Wkwkwk… Apa harus dikasih challenge dulu yak? Bisa iya, bisa ga.

Lebih karena efek liburan aja sih… Daan ini dia, agenda penting yang memang sudah kami rencanakan dari jauh-jauh hari untuk dilakukan di Desember 2018 ini.

Apa itu?

Yap, khitan Umar. Kami sudah sounding ke Umar rencana khitan ini jauh-jauh hari. Mempersiapkan mental Umar, dan tentunya kami sebagai orang tua.

Kenapa harus khitan di 2018? Umur Umar kan masih belum 5 tahun?

Naah..mau flashback sedikit. Hehe.. Jadi, saat lahiran Umar, saya dan suami ga pernah kepikiran untuk mengkhitan anak saat anak masih kecil. Karena yang lazim saya temui, biasannya khitan di usia SD. begitupun suami, beliau dan adiknya dikhitan saat SD. Orang tua kami pun tidak membahas tentang khitan. Apalagi orang tua saya, ga ada pengalaman mengkhitan anak laki-laki. Hehe.. Soalnya saya dan adik satu-satunya, perempuan semua.

Praktis, khitan bukan sesuatu yang urgent menurut kami untuk dilakukan saat anak masih kecil.

Namun, seriring waktu, saya cukup sering mendengar beberapa anak teman saya yang harus dikhitan, ada yang dari bayi, atau usia masih 2 tahun, karena ada keluhan, atau seringkali didahului dengan fimosis. Kalau Umar, alhamdulilah tidak ada keluhan. Jadi, kami masih santai-santai saja. Cuma, akhirnya saya mencari tahu tentang khitan anak, dan fimosis. Dan ternyata, saat ini, dokter merekomendasikan untuk khitan di usia yang masih muda. baru deh, kepikiran…. Hehe…

Itu saat Umar usia 3 tahunan.. Tapi, mau khitan kok maju mundur, karena saya sedang hamil Hilya. Jadi tertundalah khitan sampai Hilya lahir dan udah ga bayi banget. hehe.. Pertimbangannya biar saat Umar khitan, Hilya udah bisa ditinggal sebentar.

Yasudah, berbekal nonton film Upin Ipin episode disunat, mulai deh, ngnobrol-ngobrol sama Umar. Awalnya, Umar ga mau khitan, karena kata Mail, “Macam digigit harimau”. Haha… Ternyata salah juga ya ajak nonton ini. Tapi kami tetap berusaha, untuk ngajak ngobrol, pelan-pelan. Kenapa anak laki-laki itu wajib dikhitan, manfaatnya apa, dll. Akhirnya Umar mau, dan kesepakatan kami di liburan sekolah Desember 2018.

Dari sana, mulai cari-cari info tentang khitan, metodenya apa aja, tempatnya dimana aja, berapa biayanya, berapa lama proses penyembuhannya, dan testimoni teman-teman yang anaknya pernah dikhitan. Alhamdulillah juga di ITBMotherhood cukup banyak thread tentang khitan. Jadi bisa banyak dapet info dari satu sumber. 🙂

Yang kami pilih untuk di survey ada tiga tempat, Klinik Mutiara Cikutra (KMC), Pusat Khitan Sumbawa, dan Seno Medika.

Dari segi metode, di KMC ada metode smart klamp, dan cauter. Di Pusat Khitan Sumbawa ada metode konvensional dan cauter, dan di Seno Medika hanya metode konvensional saja. Untuk penjelasan perbedaan dari tiap metode ini apa aja, bisa di googling ya.. Hehe…

Saya dan suami memilih metode yang pemulihannya relatif cepat. Kenapa? karena Desember itu kan liburan Umar, kakek nenek dari kedua belah pihak juga tenntu pengen liburan sama Umar dan adiknya. Jadi kami bagi-bagi waktu untuk liburan, dan khitan beserta pemulihannya. Hehe.. Setelah banyak bertanya kesana kemari, kami mantap memilih KMC dengan metode smart klamp.

Untuk booking waktu khitan, kita bisa langsung telepon ke KMC, dan memilih tanggal yang kita inginkan. Kalau di awal liburan, jadwal khitan full. Bahkan ada dua sesi. Pagi dan sore, karena peminatnya banyak. hehe.. maklum, musim liburan. 🙂

Alhamdulillah kami memang menjadwalkan khitan di akhir liburan. Sepekan sebelum liburan berakhir. Di hari Senin 31 Desember 2018.

Kami dapat jadwal di jam 06.30 WIB. Ga perlu bawa apa-apa, hanya anaknnya harus sudah sarapan aja. Sampai sana, sudah ada 2 anak yang menunggu juga. Kami antrian terakhir di pagi itu.

Ruang tunggunya nyaman, dan ga bikin stress hehe… Sambil menunggu, kami mengajak Umar untuk buang air kecil dulu. Karena menurut pengalaman beberapa teman, yang paling sulit setelah anak dikhitan adalah mengajaknya untuk buang air kecil. Anak biasanya takut akan sakit, jadi lebih sering menahan buang air kecil.

Disini bisa memilih, apakah khitan saja, atau mau ada foto untuk dokumentasi. Kami sekalian aja tambah foto. Hehe.. Namanya juga sekali seumur hidup ya… hehe… Jadi sebelum masuk ruangan, kami diambil foto terlebih dahulu.

Tibalah giliran Umar…

Hm.. sesungguhnya, yang lebih deg-degan itu umminya hehe… Takut aja gitu kalau liat Umar kesakitan. hehe… emak-emak memang…

Umar ditangani oleh dr. Suby. Saat kami masuk ruangan, dokternya menjelaskan sedikit tentang metode smart klamp, dan mengajak ngobrol Umar terlebih dahulu. Diajarin gimana caranya saat ada sesuatu yang sakit (maksudnya saat disuntikkan anestesi). Saya kebagian memegang tangan Umar, dan mengajaknya ngobrol. Sedangkan suami, bagian melihat detail proses khitannya. Beneran deh, saya ga tega liatnya. Dari awal memang saya bilang ke suami agar ia saja yang masuk ruangan. hehe.. Ternyata kami berdua masuk ruangan. 🙂

Setelah diberi anestesi lokal, menunggu obatnya bekerja sekitar 10 menit, lalu tindakan khitan pun dilakukan. Prosesnya cepat, ga sampai 10 menit. Lalu, Umar dipakaikan celana khitan, dan diberikan mainan. Sebelum pulang, kami diinformasikan tentang perawatan pasca khitan juga perawatan setelah tabung lepas.

Obat anestesinya akan bekerja selam 1 jam. Deg-degan banget menunggu reaksi Umar saat anestesinya hilang. Saat itu kami pulang, tapi mampir dulu untuk membeli Tobot Giga Seven. hehe.. karena Umar ingin hadiah ini. Sebelum satu jam, saya memberikan Umar obat pereda nyeri, agar nyerinya tidak terlalu berat saat efek anestesinya hilang.

Ketika efek anestesinya hilang, Umar mulai meringis, dan jalan pun sudah tidak biasa lagi, karena sakit. Di mobil, saya berusaha menenangkan Umar. Memegang erat tangannya setiap ia merasa kesakitan. Tidak lama, Umar pun tertidur, lalu saya mencari Tobot dulu, baru pulang.

Sesampainya di rumah, Umar terbangun, dan mulai merasa kesakitan. Umar pun berbaring. Sambil umminya ga lepas dari sisi Umar. Hehe..

Dan benar saja, sangat sulit untuk mengajak Umar buang air kecil. Sakit, katanya. Abinya yang membujuknya terus. Alhamdulillah saat itu abinya masih libur, dan keesokan harinya masih libur. Selama abinya libur, Umar ke kamar mandi sama abinya. Soalnya umminya masih ga tega liatnya. Hehe. Pertama kali Umar buang air kecil, ia menangis. Duuh, nangisnya tuh bikin umminya sedih banget.. Kasian liatnya… apalagi sambil bilang, “Sakit, Ummi… sakit…”... Ga lama, umminya yang berurai air mata, deh.

Hari kedua, meskipun masih susah untuk mengajak Umar ke kamar mandi, namun Umar sudah terlihat lebih bisa menerima. Hehe.. Sudah mau lebih banyak duduk.

Hari ketiga, mau ga mau Umminya yang menemani Umar ke kamar mandi, karena abinya sudah masuk kantor. Alhamdulillah bisa terlewati juga.

Satu hari sebelum kontrol di hari Sabtu, baru mulai perawatan. Harus ditetesi baby oil sesering mungkin, anak harus berendam selama 2 kali, dan melepas penjepit berwarna putihnya. Sebelumnya, tidak ada perawatan khusus, bahkan sudah boleh kena air dan mandi seperti biasa.

Keesokan paginya sebelum kontrol, alhamdulillah tabung transparannya sudah lepas sendiri. Awalnya Umar takut banget kalau saat tabungnya dilepas di klinik, akan terasa sakit.

Saat kontrol, alhamdulillah semua sudah bagus. Kami juga mendapatkan informasi mengenai hal-hal yang mungkin terjadi pasca lepas tabungnya. Dan bisa ambil foto deh hehe… Oh iya, total kami habis sekitar 1,3 jutaan untuk khitan disini. 🙂

Kontrol di hari Sabtu, berarti 5 hari pasca khitan, Alhamdulillah Umar sudah bisa berjalan banyak, meskipun belum seperti biasa, mungkin masih kagok dan masih ada nyeri-nyeri yang timbul sedikit-sedikit.

Hari Ahadnya, bahkan Umar sudah ikut abinya lari di sport Jabar.. Umar sendiri yang bilang pengen ngalahin abi lari. Wkwkwk… Umminya yang deg-degan terus, dan selalu cerewet, kalau sakit, bilang yaa… Heuheu.. Habis masih ngilu gitu liatnya.. Walaupun anaknya alhamdulillah udah enjoy banget. Padahal belum 1 pekan pas ya… 🙂

Hari Seninnya harusnya masuk sekolah, tapi, kami memutuskan Umar di rumah dulu. Hehe. Baru hari ini deh Umar sekolah lagi. Alhamdulillah semua baik-baik, dan semoga ke depan pun akan baik juga…

Jadi, testimoninya gimana? Alhamdulillah sejauh ini sih puas ya… Saat saya tanya suami, kalau nanti ada anak laki-laki, khitan di KMC lagi? Suami dengan mantap menjawab iya. Hehe…

Oh iya, tiap anak pasti beda-beda ya reaksinya setelah khitan, dengan metode apapun. Jadi, tipsnya, selain menyiapkan mental anak, ortu pun harus menyiapkan mental untuk lebih bersabar, dan tahan banting hehe… ✌

Alhamdulillah, salah satu kewajiban kami sebagai orang tua, sudah tertunaikan. Baarakallaahu fiik abang Umar… Semoga kian shalih dan menjadi muslim taat ya… 🙂

~ Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu ~

~ Bergeraklah, karena diam berarti kematian ~