Lika-Liku Melatih Diri Konsisten Nge-Blog

Sebagai blogger pemula, saya sangat menyadari bahwa penting untuk merutinkan diri dalam menulis di blog. Butuh meluangkan waktu khusus untuk menulis, dan blogging. Konsisten itu adalah hal yang ingin saya raih dalam waktu dekat ini. Karena bagi saya, ternyata merutinkan diri untuk menulis di blog itu sangat sulit dan penuh tantangan ternyata.

Saya tipe orang yang masih sulit untuk konsisten menulis dalam blog, kecuali jika terpaksa. Hehe. Makanya kali ini pun saya nekat mengikuti tantangan menulis dari Estrilook Community. Agar saya dapat memaksa diri untuk latihan menulis. Saya pun sangat terbantu dengan adany a tema-tema yang disediakan oleh Tim Estrilook Community. Bener deh, saya sering sekali mati gaya ketka berhadapan dengan layar laptop. Jika saya sulit sekali menuangkan ide atau menemukan ide-ide tulisan, saya lebih memilih untuk mengerjakan yang lain saja. Hehe.

Alhamdulillah dengan mengikuti tantangan ini, saya bisa memaksa diri untuk rajin. Meskipun harus bersusah payah hehe.

Setiap aktivitas yang kita lakukan, tentu harus dikerjakan dengan sebaik-baiknya. Butuh manajemen waktu yang baik agar aktivitas kita dapat optimal. Termasuk dalam hal menulis di blog. Bagi ibu rumah tangga macam saya, menulis adalah salah satu cara saya untuk dapat menjaga kewarasan dalam menjalankan peran sebagai ibu rumah tangga. Rutinitas yang cenderung monoton setiap harinya, kelelahan dalam mengurus dua anak sendiri (saat suami ke kantor, hehe), terkadang memmbuat saya merasa menjadi tidak berdaya. Merasa waktu saya habis untuk segala sesuatu yang tak pernah selesai, hehe.

Menulis adalah salah satu cara agar saya merasa tetap bisa menjadi diri sendiri. Termasuk dengan menulis di blog. Saya sendiri masih merasakan bahwa manajemen waktu saya masih sangat kacau. Saya masih memprioritaskan hal yang lain dibandingkan dengan menulis di blog. Setelah saya melakukan evaluasi setengah tahun dalam pencapaian target saya dalam hal blogging, saya memutuskan untuk melakukan beberapa hal-hal sederhana yang dapat membantu saya rutin menulis di blog.

Beberapa hal yang saya lakukan adalah sebagai berikut :

  1. Menyediakan waktu untuk menulis secara rutin setiap harinya, minimal selama 30 menit. Media menulis pun bisa macam-macam. Kadang saya memilih menulis di instagram, ataupun di blog, dengan cara mencicil tulisan. Karena masih memiliki anak balita, jadi saya belum leluasa untuk menghadap layar laptop dalam jangka waktu lama.
  2. Menulis ide-ide yang saya dapatkan untuk dijadikan bahan tulisan. Saya memiliki buku khusus untuk menulis ide yang saya temukan untuk dijadikan tulisan. Sudah ratusan jumlahnya, namunterkendala di eksekusi yang tidak mulus. Hehe.
  3. Mengikuti komunitas blogger atau tantangan blog yang ada di beberapa komunitas. Ya, haha, ini tentu untuk memaksa agar diri gak mager alias malas gerak.
  4. Membuat tema-tema tertentu untuk postingan blog rutin, agar tidak mati gaya, meskipun ide sangat banyak. Biasanya saya akan menulis review buku saat terkendala ide yang mandeg.
  5. Mencoba untuk latihan mengikuti lomba blog yang cukup banyak tersebar infonya di media sosial. targetnya gak harus menang. Karena itu target yang masih jauh bagi saya pribadi. Saya hanya ingin mmelatih mental untuk berkompetisi, sehingga saya bisa termotivasi untuk memperbaiki kualitas menulis saya. Itu saja, Hehe.

Kelima hal kecil tadi insya Allah akan saya rutinkan hingga akhir tahun ini. baru setelah itu saya evaluasi kembali bagaimana hasilnya. Blogging adalah salah satu hal yang ingin saya fokuskan di tahun ini. Saya ingin bisa bermanfaat bagi orang lain dengan apa yang saya bisa. Doakan semoga saya bisa berhasil ya teman-teman, hehe 🙂

-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-
-Bergeraklah, karena diam berarti kematian-

Disangka Tulang Ikan, Ternyata Asam Lambung

Pernah gak sih sedang makan ikan, lalu ada tulang ikan yang nyangkut di tenggorokan? Bagaimana rasanya? Duh, pasti tidak enak, bukan? Sakit dan mengganjal rasanya.

Saya mengalaminya baru-baru ini. Saat itu saya sedang makan ikan. Ketika sedang menikmati ikan, ternyata ada tulang yang ikut serta saya telan. Aduh! Rasanya tidak enak sekali.

Saya segera melakukan apa yang biasa dilakukan oleh orang-orang dulu. Mengepal nasi, lalu menelan nasi tersebut. Tapi si tulang belum juga hilang. Masih tersangkut di tenggorokan. Saya menelan nasi hingga empat kali, namun hasilnya nihil. Saya coba untuk minum air banyak-banyak. Ternyata sama saja. Tidak ada hasilnya.

Tenggorokan saya tetap saja ada yang mengganjal. Saya coba untuk memuntahkan tulang tersebut, namun tidak ada hasilnya. Saya pasrah. Mungkin nanti akan hilang saat saya makan atau minum lagi. Pikir saya saat itu.

Hingga keesokan harinya, saya merasa tulang itu masih tetap di tempatnya. Tidak beranjak sama sekali. Karena saya masih merasa bahwa tenggorokan saya tetap ada yang mengganjal. Saya merasakan ketidaknyamanan saat menelan makanan.

Saya coba googling cara apa lagi yang bisa saya lakukan untuk mengusir tulang ini dari tenggorokan. Semua cara saya coba lakukan, hingga meminum larutan air garam pun saya coba. Berangsur terasa hilang sebentar, namun muncul lagi tak lama kemudian. Sempat terpikir apakah harus memeriksakan diri ke dokter, namun urung saya lakukan. Sebab kalau ke dokter, saya harus membawa anak-anak. Siapa yang akan menjaga mereka. Jadi saya harus menunggu ketika suami bisa menemani.

Ketika hari keempat si tulang masih terasa di tenggorokan, saya memuntuskan untuk pergi ke dokter keesokan harinya. Karena sungguh tidak nyaman rasanya. Khawatir memang harus diambil tindakan medis untuk menyingkirkan tulang tersebut.

Esoknya, Qadarullah dari pagi hingga malam hari saya ada acara dan harus menyetir mobil sendiri dengan membawa 2 anak. Malamnya, suami datang untuk menemani dan menggantikan saya ke dokter. Suami segera mencari dokter spesialis THT yang masih buka malam itu.

Alhamdulillah kami dapat antrian di Klinik Jaya Sentosa. Saya ceritakan keluhan saya pada dokter. Namun dokter ragu jika yang penyebab tenggorokan saya yang mengganjal adalah karena tulang. Menurut beliau, jika memang tulang, biasanya dalam 2 hari pun pasien tidak akan sanggup menahannya. Begitu diperiksa dokter, ternyata dokter tidak menemukan tulang sama sekali. Menurut beliau, penyebabnya adalah asam lambung, karena saya memiliki maag.

Akhirnya beliau memberi saya lansoprazole untuk pemakaian selama 2 minggu. Jika tidak berangsur baik, maka saya harus kontrol kembali dan melakukan endoskopi.

Ternyata, dua kali minum lansoprazole, ganjalan yang selama ini saya kira tulang sudah tidak ada lagi. Berangsur-angsur pergi. Alhamdulillah… Meskipun saya masih berpikir, kok waktunya pas sekali, dengan saat saya ketulangan, lalu tenggorokan saya sakit, padahal disebabkan asam lambung saya yang meningkat? Hehe..

-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-

-Bergeraklah, karena diam berarti kematian-

Biaya Pendidikan Tinggi, Siapkan Asuransi Pendidikan Sejak Dini

“Hah? Ini serius, biaya masuk untuk sekolah dasar saat ini sudah sebegitu tingginya? Dulu saat lkuliah saja, biaya satu semester masih lebih murah dibandingkan dengan biaya sekolah dasar anak saat ini!”

Itu adalah kalimat yang terlintas dalam benak saya saat saya membaca brosur dari beberapa sekolah dasar yang ada di kota kami. Biayanya sudah tinggi sekali, bahkan ada sekolah dasar dengan uang pangkal yang harus dibayarkan total sekitar 50 juta rupiah. Pikir saya, ini seperti mau DP rumah saja, apa lebih baik untuk menabung biaya berangkat haji saja? Sekolah swasta lain pun rata-rata meminta uang masuk di sekitar 20 juta rupiah.

Biaya pendidikan sekolah dasar yang cukup fantastis ini memang untuk sekolah dasar swasta. Kalau mau biaya pendidikan yang terjangkau, kita memang bisa memilih untuk menyekolahkan anak di sekolah negeri. Namun tidak semua bisa menyekolahkan anaknya di sekolah negeri saat ini. Ada beberapa alasan orang tua tidak bisa menyekolahkan anaknya di sekolah negeri, seperti syarat usia untuk sekolah dasar negeri yang mengharuskan si anak minimal berusia 7 tahun, lalu terkait adanya aturan zonasi sekolah negeri saat ini, sedangkan jumlah sekolah negeri masih sangat terbatas, bila dibandingkan dengan jumlah penduduk di sekitarnya. Orang tua yang tinggal cukup jauh dari sekolah negeri, harus memutar otak untuk menyekolahkan anaknya di sekolah swasta, karena biayanya yang sangat tinggi.

Tentunya setiap orang tua menginginkan anaknya mendapatkan pendidikan yang terbaik, bahkan rela untuk bekerja keras, dan mengorbankan kesejahteraan dirinya demi menyediakan fasilitas pendidikan terbaik bagi sang anak. Tapi saat ini, kita tidak hanya cukup untuk bekerja keras untuk mempersiapkan dana pendidikan anak, namun juga akan lebih baik jika disertai dengan rencana dana pendidikan yang matang. Biaya pendidikan semakin lama akan semakin tinggi, belum lagi dampak dari inflasi yang mempengaruhi nilai mata uang. Nilai uang saat ini akan jauh lebih rendah dibandingan dengan nilai uang yang sama beberapa tahun lagi. Sedangkan semua biaya yang dibutuhkan akan selalu bertambah dari waktu ke waktu.

Dulu, ketika saya masih kecil, ibu saya mempersiapkan dana pendidikan untuk anak-anaknya dengan asuransi dana pendidikan. Setiap bulan, agen asuransi tersebut datang ke rumah, agar ibu saya dapat menyetorkan iuran asuransi bulan tersebut. Tentu saja, zaman saya kecil dulu belum ada fasilitas transfer atau membayar premi asuransi melalui fasilitas daring seperti saat ini, bukan? Momen ketika sang bapak agen asuransi datang ke rumah, menjadi salah satu memori masa kecil yang tidak saya lupakna. Saya begitu ingat dengan wajah sang bapak yang ramah tersebut, karena setiap ke rumah, beliau selalu menyapa saya dan adik, juga terkadang memberikan makanan mkecil untuk kami berdua.

Ketika saya duduk di bangku SMA, tempat ayah saya bekerja melakukan pemangkasan jumlah karyawan sebanyak 3000 orang, dan ayah saya termasuk di dalam karyawan yang diputus hubungan kerja oleh perusahaan. Tentu saja hal ini membuat keluarga kecil kami cukup terguncang. Selama ini ayah sebagai pencari nafkah utama, sedangkan ibu saat itu tidak bekerja di ranah publik. Praktis ketika ayah harus kehilangan pekerjaan, keluarga kami berada di titik terendah secara finansial. Meskipun ayah tetap mendapatkan uang pesangon, namun jika tidak dikelola dengan baik, uang pesangon tersebut hanya akan habis begitu saja untuk memenuhi kebutuhan keluarga kami. Perjalanan pendidikan saya dan adik pun masih cukup panjang. Adik saya bahkan baru saja masuk SMA. Belum lagi memikirkan bagaimana dengan biaya kuliah kelak? Tentunya akan lebih banyak lagi kebutuhan di masa yang akan datang.

Alhamdulillah, saat itu, uang asuransi pendidikan yang selama ini ibu saya bayarkan, sudah bisa diambil. Sehingga dapat memenuhi sebagian kebutuhan dana pendidikan bagi saya dan adik saya saat itu. Meskipun memang saat itu dana pendidikan dari asuransi masih belum bisa menutupi biaya kebutuhan pendidikan, namun saya sudah merasakan keuntungan dari produk asuransi yang ibu saya ikuti.

Dari pengalaman keluarga kami, saya jadi belajar banyak hal, bahwa memang kita harus melek finansial. Harus mengerti apa saja produk yang bisa kita gunakan sebagai sarana untuk mempersiapkan kebutuhan dana di masa yang akan datang, seperti biaya pendidikan, biaya kesehatan, dan biaya untuk hari tua nanti. Semakin hari, biaya pendidikan akan semakin tinggi. perjalanan pendidikan anak pun cukup panjang. Sebagai orang tua, tentu kita menginginkan pendidikan yang terbaik dan setinggi-tingginya bagi anak. Biaya kesehatan juga perlu dipersiapkan dengan matang. Gaya hidup di era modern dan juga tingkat stres yang cukup tinggi saat ini adalah sebagian faktor yang dapat mempengaruhi kesehatan. Kita tidak pernah mengetahui masa depan kita akan seperti apa, berusaha mempersiapkan dengan sebaik-baiknya dan penuh perencanaan adalah salah satu upaya yang bisa kita lakukan untuk kesejahteraan finansial.

Ibu saya mempersiapkan dana pendidikan kami dengan ikut serta dalam asuransi. Dahulu, asuransi belum berkembang pesat seperti saat ini. Pilihan asuransi bisa dibilang terbatas. Berbeda dengan saat ini. begitu banyak pilihan jasa asuransi yang memberikan penawaran terbaik untuk calon konsumennya. Salah satu asuransi yang bisa menjadi pilihan adalah asuransi Sequis. Sequis memiliki layananan yang cukup lengkap, seperti asuransi jiwa, termasuk di dalamnya asuransi pendidikan, juga dana pensiun, asuransi kesehatan, hingga investasi. Semua dapat dipilih berdasarkan kebutuhan kita.

Untuk asuransi pendidikan, Sequis memiliki beberapa produk yang dapat dipilih oleh konsumen. Ada lima jenis asuransi pendidikan yang tersedia di Sequis, yaitu TelePro Beasiswa Berjangka, Edu Plus, Sequis EduPlan Insurance, Sequis eduPlan, dan Sequis Global EduPlan Insurance. Kelima produk asuransi pendidikan dari Sequis ini memiliki syarat dan benefit yang berbeda-beda. Beberapa syarat dan ketentuan yang harus diperhatikan saat ingin memilih asuransi pendidikan Sequis misalnya dari persyaratan usia saat masuk program asuransi, usia maksimum pertanggungan, juga ketentuan mengenai interval pembayaran premi dan metode pembayaran premi yang tidak sama antara satu jenis produk dengan yang lainnya. Konsumen bisa memilih sesuai dengan kondisi finansial dan benefit yang ingin diperoleh. Pemilihan ini bisa dikomunikasikan dengan Sequis Personal Assistant yang akan membantu konsumen untuk menemukan produk asuransi pendidikan yang tepat.

Memiliki visi “Menjadi pemimpin pasar di industri asuransi jiwa dan kesehatan di Indonesia”, Sequis tentu saja dapat menjadi pilihan utama yang anda cari ketika akan ikut serta dalam salah satu produk asuransi. Sequis tidak hanya menyediakan produk asuransi, namun juga memiliki produk investasi yang dapat dijadikan pilihan oleh masyarakat luas. Penghargaan yang sudah diterima oleh Sequis tentu menjadi bukti dari pelayanan dan kinerja terbaik Sequis. Ada beberapa penghargaan yang diraih oleh Sequis Life di tahun 2019 ini, yaitu Top Life Insurance 2019, Contact Center Service Excellence Award 2019, dan Top 10 Most Trusted Insurance Companies. Menarik, bukan?

Jadi, siapkah menggandeng Sequis untuk solusi jaminan pendidikan anak? Tentu saja, iya!

Review Buku : “Di Surga Kita Kenang Hari Ini”

Alhamdulillah bisa mulai nulis lagi.. Setelah hibernasi dan wara wiri silaturahim pasca lebaran…

Kali ini mau bahas buku “Di Surga, Kita Kenang Hari Ini”. Bismillaah….

  • Judul Buku : Di Surga, Kita Kenang Hari Ini
  • Penerbit : Kaysa Media
  • Jumlah Halaman : 124 halaman
  • Tahun Terbit : 2019
  • No ISBN : 9786022150527

Bagi yang sudah menikah, entah itu berapa tahun lamanya, mungkin pernah terlintas, apakah pernikahan yang dijalani ini sudah menjadikan masing-masing sebagai pribadi yang jauh lebih baik, atau tidak, apakah pernikahan ini sudah menjadi jalan untuk semakin dekat kepada Allah, atau justru sebaliknya.

Dulu, saat saya masih kuliah, ada seorang teman yang bertanya pada saya, apakah nanti saat kita menikah, kita gak akan bosan, ketemu sama orang yang sama setiap hari, seumur hidup?

Saat itu saya tidak bisa menjawabnya, karena saya belum menikah, hehe… Tapi, yang ada di pikiran saya saat itu adalah, jika menikah adalah untuk ibadah, maka kebosanan tentu bukan halangan. Itu pkiran sederhana dan sotoy saya sebagai orang yang belum menikah.

Sekarang, setelah saya melalui pernikahan yang hampir tujuh tahun, saya merasakan bahwa kehidupan pernikahan itu tak semudah yang dibayangkan saat sebelum menikah. Ada saja tantangannya.

Nah, buku ini mengajak kita untuk menyelami kehidupan pernikahan agar keberkahan menghampiri. Seperti do’a yang kita ucapkan saat ada teman yang menikah.

Baarakallaahu laka wa baaraka ‘alaika wa jama’a bainakumaa fii khaiir…”

“Semoga Allah memberkahimu dan menetapkan keberkahan atasmu, dan mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan.

Keberkahan…Itu yang kita cari dalam sebuah pernikahan.

Buku ini disajikan dalam bentuk komik. Sehingga mata kita tidak memandang tulisan semua. Hehe. Ilustrasi yang digunakannya mudah dicerna bagi pembaca.

Di buku ini, dibahas mengenai sunnah-sunnah yang bisa dilakukan sehari-hari. Dari mulai pagi hari, hingga malam hari. Sebenarnya sebagian besar sunnah yang digambarkan di buku ini bisa banget dilakukan meskipun kita belum menikah atau masih single, hehe.. Sunnah sehari-hari, yang bisa jadi kita memang sering melupakan atau tidak mengambil perhatian pada sunnah tersebut. Sisanya memang ada beberapa sunnah atau adab-adab dalam hubungan suami istri dalam pernikahan.

Buku ini membagi materi berdasarkan waktu pelaksanaan sunnah-sunnahnya, ada pagi, siang, sore, dan malam hari. Oh iya, di akhir buku ini disediakan “Diary Sunnah”, baik untuk suami maupun istri. Isinya berupa checklist harian untuk suami maupun istri.

Saya membeli buku ini saat masa pre order, jadi dapat bonus berupa kalender :)))

Buku ini termasuk kategori easy reading. Bisa dibaca dalam sekali duduk, bahkan untuk ibu rumah tangga seperti saya yang sering diinterupsi oleh anak, hehe.

Jadi, buku ini cocok banget untuk yang baru menikah, masih menanti jodoh, atau untuk yang sudah lama menikah, untuk merefresh kembali dan mengevaluasi bagaimana kehidupan pernikahan kita selama ini.

Menghidupkan sunnah mulai dari keluarga. Menjadi keluarga yang kelak bisa dipertemukan kembali di surga Allah. Aamiin..

~Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu~

~Bergeraklah, karena diam berarti kematian~

Kenapa Ikut 12 Days Blog Challenge?

Waaah tidak terasa, ini adalah hari terakhir mengikuti 12 Days Blog Challenge yang diadakan oleh Indscript Writing. Selama dua belas hari ini, alhamdulillah saya bisa mengikuti challenge ini, meskipun saya akui, dalam menulis artikel di blog, saya masih merasa kurang optimal.

Bagaimana tidak, saya belum menyediakan waktu khusus untuk menulis dan berlati menulis. Saya masih menulis di sela-sela peran saya sebagai ibu yang mendampingi anak di rumah. Saat membersamai anak, saya akan melepas semua gadget yang saya miliki. Tujuannya agar dapat fokus pada anak. Tapi, seringnya, anak-anak saya tidak memiliki jadwal tidur siang, sehingga saya harus menunggu waktu malam saat mereka tidur di malam hari. Saat itulah saya leluasa untuk menulis. Tapi, tantangannya adalah, menulis di saat kondisi badan sudah meminta haknya untuk beristirahat, atau menulis masih menjadi prioritas kesekian setelah urusan membereskan rumah. Hehe 🙂

Ada beberapa alasan mengikuti 12 Days Blog Challenge ini, yaitu pertama, saya ingin berlatih konsistensi dalam menulis di blog. Saat awal tahun 2019, salah satu resolusi yang saya tetapkan dalam hal tulis menulis adalah menulis di blog minimal 2-3 kali dalam satu pekan. Sekilas tampak mudah, namun ternyata, bagi orang biasa seperti saya, konsistensi menulis itu harus dipaksakan. Saya sudah mencobanya. Ketika tidak mengikuti challenge apapun, kadang rasa malas, tidak sempat, akan menghampiri kita. Tapi ketika mengikuti sebuah challenge, kita akan berusaha menyempatkan diri untuk menulis, meskipun tidak terlalu panjang. Sesempit apapun waktu yang dimiliki, pasti akan kita kejar. Ya, sama seperti saya. Meskipun harus mencuri-curi waktu untuk mengikuti tema challenge.

Alasan kedua adalah untuk berlatih menulis. Menulis adalah salah satu kemampuan yang harus terus dilatih. Saya sadar betul, bahwa cara menulis artikel di blog tidak semudah yang dibayangkan. Ada aturan-aturan penulisan yang harus kita ketahui. Dengan mengikuti 12 Days Challenge ini, saya bisa berlatih menulis setiap hari. Belajar menyusun kata dengan baik, memilih kata-kata yang enak dipakai, dan juga belajar untuk mengemukakan ide dalam tulisan.

Alasan berikutnya, agar termotivasi untuk mengisi blog pribadi. Tahun lalu, saya baru “pindah rumah” maya alias mengganti domain blog, dari blogspot yang sudah saya pakai sejak sekitar 7 tahun lalu, lalu beralih ke wordpress. Sebenarnya sayang sekali saat memutuskan untuk pindahan, karena di rumah yang lama, tulisan sudah cukup banyak. Tapi memang sekitar dua tahun terakhir sebelum memutuskan pindah, saya sudah tidak rutin menulis disana. Hanya sesekali saja. Hal ini terutama terjadi saat saya hamil.anak kedua, lalu lanjut melahirkan, dan akhirnya tidak pernah memyentuh blog kembali. Tahun lalu, saya ingin memperbaiki semuanya. Saya memutuskan untuk memulai yang baru, termasuk dalam mengelola konten blog. Di blig sebelumnya, saya bisa menulis apapun, tema apapun, random sekali. Kali ini, saya ingin lebih menata konten dengan lebih baik. Tapi, kadang tekad itu naik turun dalam perjalanannya. Semangat mengisi blog yang kadang ada, kadang tidak, karena merasa sudah terlalu sibuk dengan rutinitas. Hehe… Alhamdulillah dengan mengikuti 12 Days Blog Challenge ini, saya bisa membuktikan bahwa saya bisa rutin menulis, jika meluangkan waktu untuk menulis. Meskipun terseok-seok, namun akhirnya sampai juga. Alhamdulillah…

Semoga setelah beres mengikuti 12 Days Blog Challenge ini, saya bisa membentuk kebiasaan untuk menulis di blog. Agar blog ini tak seperti sarang laba-laba. Hehe..

~ Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu ~

~ Bergeraklah, karena diam berarti kematian ~

Keutamaan Silaturahmi

Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturrahmi.” (HR. Bukhari no. 5985 dan Muslim no. 2557)

Ramadan sudah terlihat ujungnya. Kita sudah memasuki sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan. Ada yang disibukkan dengan i’tikaf di masjid-masjid tertentu, ada yang juga harus mempersiapkan acara mudik, ada juga yang masih berkutat dengan rutinitas kantor atau rumah, dan lain sebagainya. Tentu saja semua berharap agar bisa menjadi salah seorang hamba yang beruntung mendapatkan keutamaan malam Lailatul Qadr. Apapun kondisinya.

“Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 2020 dan Muslim no. 1169)

Salah satu hal yang paling terasa di bulan Ramadan adalah semangat untuk silaturahmi yang begitu besar. Terlihat dari ajakan buka bersama alias bukber yang begitu besar (semoga bukan sekedar wacana tiada akhir ya, hehe..), janji untuk bertemu saat i’tikaf, hingga silaturahmi saat hari raya tiba, baik yang mudik ataupun tidak.

Bagi teman-teman yang memiliki kampung halaman dengan jarak yang jauh dari tempat tinggalnya, pulang ke kampung untuk silaturahmi pun bisa dihitung dengan jari dalam setahun. Bahkan ada yang beberapa kali lebaran belum bisa pulang. Bukan seperti Bang Toyyib, tapi memang secara ekonomi tidak memungkinkan. Bagi mereka, momen lebaran dan bisa pulang ke kampung halaman, tentu menjadi momen yang sangat istimewa dan dinantikan. Mereka akan pulang membawa oleh-oleh terbaik yang mereka usahakan.

Silaturahmi ternyata sangat dianjurkan dalam Islam. Betapa banyak keterangan tentang pentingnya silaturahmi. Dan tentu saja, teladan dari Rasulullah SAW dalam menjaga hubungan dengan kerabat dan para sahabat beliau.

“Tidaklah masuk surga orang yang suka memutus, ( memutus tali silaturahmi)”. [Mutafaqun ‘alaihi].

Kerasa gak sih, akhir-akhir ini, kita terjabak dalam situasi yang begitu mudah untuk memutuskan hubungan pertemanan, atau silaturahmi dengan orang lain, karena alasan perbedaan pendapat?

Bagi saya, setiap orang berhak dengan pendapatnya masing-masing. Namun, sebagai muslim, saya pasti memiliki prinsip yang tetap harus saya pegang. Prinsip tersebut tentunya tidak dapat dipaksakan untuk sama dengan orang lain, dan saya pun tidak akan memaksa orang lain untuk mengikuti prinsip yang saya pegang.

Yang saya sedihkan adalah, betapa saat ini, lisan kita begitu mudah mengucapkan kata-kata kasar, bagi orang yang dianggap bersebrangan dengan kita. Padahal mungkin dulu, mereka adalah teman baik. Betapa mudahnya memutuskan silaturahmi hanya karena ngotot di media sosial. Ah, media sosial kadang membuat polarisasi perbedaan menjadi semakin tajam.

Pantaslah kalau ganjaran menyambung silaturahmi itu begitu besar. Karena saat kita menyambung sesuatu yang sudah diputus, hal itu butuh energi besar dan menghilangkan ego pribadi. Menghilangkan perasaan bahwa saya yang paling benar, dan dia yang salah.

Kebayang dong, udah ngotot-ngotot, lalu harus meminta maaf, meski mungkin bukan salahnya sepenuhnya? Dan justru Islam sangat mengapresiasi inisiatif untuk memperbaiki silaturahmi ini. Tak peduli siapa yang salah, namun ia berinisiatif menyambung silaturahmi.

“Wahai Rasulullah, aku mempunyai kerabat. Aku menyambung hubungan dengan mereka, akan tetapi mereka memutuskanku. Aku berbuat baik kepada mereka, akan tetapi mereka berbuat buruk terhadapku. Aku berlemah lembut kepada mereka, akan tetapi mereka kasar terhadapku,” maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila engkau benar demikian, maka seakan engkau menyuapi mereka pasir panas, dan Allah akan senantiasa tetap menjadi penolongmu selama engkau berbuat demikan.” [Muttafaq ‘alaihi]

Meskipun untuk bersilaturahmi atau meminta maaf tak harus menunggu waktu lebaran, tapi, gak ada salahnya kan memanfaatkan momen berkumpul di hari raya untuk menyambung silaturahmi. 🙂

~ Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu ~

~ Bergeraklah, karena diam berarti kematian ~

Berbuka Puasa dengan Apa?

Apa sih yang paling ditunggu-tunggu oleh orang yang berpuasa? Lebaran? Iya sih, tapi ada lagi yang ditunggu-tunggu setiap harinya.

Ya, saat berbuka puasa. Adzan Maghrib menjadi adzan yang paling dirindukan setiap harinya di bulan Ramadan. Kalau hari-hari biasa, mungkin kita tidak terlalu memperhatikan adzan. Namun ketika bulan Ramadan, adzan Maghrib menjadi hal istimewa.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang berbuka puasa mempunyai dua kebahagiaan yang bisa ia rasakan; kebahagiaan ketika ia berbuka dan kebahagiaan ketika ia bertemu dengan Rabb-nya karena puasa yang dilakukannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bahkan dalam hadits pun, Rasulullah bersabda, salah satu kebahagiaan dari orang yang berpuasa adalah ketika ia berbuka. Wajar dong ya, kalau kita menantikan waktu berbuka puasa. Hehe. Yang gak wajar itu, baru juga lepas sahur, eh udah langsung pengen berbuka aja. Hehe. 🙂

Kalau bicara tentang waktu berbuka puasa, gak bisa lepas dari yang namanya makanan berbuka. Bahkan di bulan Ramadan, makanan yang biasanya tidak mampir di meja makan, kini tersaji manis di meja makan. Biasanya saat makan, kita cukup dengan nasi dan lauk plus sayur, kini cemilan pun banyak macamnya.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka dengan beberapa biji ruthab (kurma masak yang belum jadi tamr) sebelum shalat Maghrib; jika tidak ada beberapa biji ruthab, maka cukup beberap biji tamr (kurma kering); jika itu tidak ada juga, maka beliau minum beberapa teguk air.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi. Hadits Hasan Shahih)

Makanan favorit berbuka tiap orang tentu saja berbeda-beda. Ada yang senang berbuka dengan yang manis seperti kata iklan, ada yang senang berbuka dengan minuman-minuman menyegarkan, ada yang berbuka dengan kurma, dan lain sebagainya.

Saya pribadi, waktu kecil, makanan favorit berbuka dengan yang manis-manis. Ya teh manis, kolak, atau cendol. Hehe. Karena dulu memang yang tersedia di rumah, makanan atau minuman manis. Jadi saya berbuka dengan apa yang ada. Ketika mulai sering berbuka di luar, bukan makan di luar sih, namun karena saat waktu berbuka, saya belum sampai di rumah, hehe, saya terbiasa makan apapun yang ada. Misal, dulu saat masih kuliah, saya hampir setiap hari beres praktikkum menjelang Maghrib. Tentu saja saya berbuka di luar. Biasanya saya ke Salman untuk shalat Maghrib dan berbuka. Di Salman disediakan makanan untuk berbuka, hingga makanan beratnya, loh. Gratis.

Tapi biasanya saya mengambil kurma dan cemilan yang sudah ditempatkan dalam plastik. Kalau teman-teman saya yang kost, mereka juga mengambil makanan berat untuk berbuka. Lumayan loh, menghemat biaya sekali makan.

Begitu saya bekerja dulu, yang khas dari berbuka puasa adalah berbuka dengan gorengan, atau seblak, haha… Kalau seblak memang sesekali saja, tapi kalau gorengan, hampir tiap hari kerja. Teman-teman selalu pesan gorengan, jadi saya ikut juga hehe. Gorengan, batagor, sop buah, jus, dan semuanya bisa kami pesan tiap hari. Dulu saya bekerja di instalasi farmasi salah satu rumah sakit swasta di Bandung. Saat berbuka, kami tidak bisa istirahat semua. Harus bergantian. Agar pasien tetap terlayani. Jadi, kami kadang makan beratnya baru bisa saat pasien sepi atau bahkan menjelang pulang. Akhirnya, cemilan-cemilan tadi yang kami gunakan untuk meredakan lapar. Hehe.

Saat ini, apa makanan favorit berbuka saya? Nah, sekarang, beda banget sama dulu. Saya udah mulai taubat dari gorengan dan makanan manis-manis. Ya, meskipun sesekali masih, tapi sudah lebih minim dari dulu. Kini saya lebih mengimbangi dengan memperbanyak kurma, dan buah-buahan segar. Lebih enak aja terasa ke badan, dan lebih sehat pastinya. Saat sahur pun, saya tidak sebanyak dulu makan. Secukupnya saja. Bahkan kadang hanya makan buah-buahan dan infuse water. Kadang masih juga tergoda gorengan dan aneka panganan bermecin. Hehe. Tapi ya cukup mencoba saja. Tidak jadi makanan utama. 🙂

Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang-orang (umat Islam) senatiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (Muttafaqun ‘alaih)

~ Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu ~

~ Bergeraklah, karena diam berarti kematian ~

Ramadan, Aku Rindu

Alhamdulillah, kita sudah mulai memasuki sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan. Tak terasa, ya… Waktu begitu cepat berlalu. Kadang berpikir, target amalan yang sudah ada, belum terealisasi seutuhnya, namun Ramadan sudah hampir memasuki penghujungnya.

Ya Allah… Semoga masih bisa mengejar ketertinggalan di sepuluh hari terakhir ini. Oh iya, apakah teman-teman sudah memutuskan akan mengikuti i’tikaf dimana? Wah, pasti sedang mencari dan mulai mengunjungi masjid untuk melaksanakan i’tikaf ya. I’tikaf kini bukanlah sesuatu hal yang aneh. Saat dulu saya masih kecil, saya hanya tahu mengenai i’tikaf dri ceramah-ceramah yang saya dengar saja. Namun, saya tidak pernah melihat bagaimana orang yang beri’tikaf itu. Benar-benar sepuluh hari di masjid terus meneruskah, atau seperti apa. Karena memang dulu, i’tikaf bukan sesuatu hal yang lazim di masyarakat kita.

Ketika saya kuliah di Ganeca 10, saya mulai mengenal i’tikaf lebih dekat. Beberapa organisasi yang saya ikuti, mengadakan acara i’tikaf bareng, biasanya di malam-malam ganjil, di Masjid Habiburrahman. Dulu, masjid Habiburrahman inilah yang sangat terkenal dengan i’tikafnya, setiap malam, imam akan membaca ayat Alquran sebanyak 3 juz pada shalat tahajud. Masjid ini tidak pernah sepi pengunjung. Masjid-masjid lain saat itu belum ada yang mengadakan acara i’tikaf sebesar masjid ini. Beda dengan sekarang. Di Bandung sudah banyak masjid-masjid yang menyelenggarakan i’tikaf. Dari masjid bedar hingga masjid kecil, dan dari masjid yang terkenal, hingga masjid komplek perumahan. Masjid Habiburrahman tetap melaksanakan i’tikaf dan selalu dipadati pengunjung. Bahkan beberapa tahun ini pengunjung sampai harus memesan kavling untuk mendirikan tenda disana. Hehe.. Tenda ini digunakan di pelataran masjid, terutama bagi pengunjung yang membawa keluarga untuk i’tikaf.

Nah, momen i’tikaf ini adalah salah satu hal yang dirindukan dari Ramadan bagi saya pribadi. Suasana i’tikaf ini jarang bisa saya temui di bulan selain bulan Ramadan. Bagaimana seseorang meluangkan waktunya untuk berdiam diri di masjid, memenuhi waktunya untuk beribadah, dan meminimalisir waktu tidur dengan melakukan ibadah. Ini hal yang bisa saya dapatkab ketika sepuluh hari terakhir Ramadan.

Meskipun banyak pula orang-orang yang tak bisa beri’tikaf full selama sepuluh hari, karena alasan pekerjaan yang belum bisa cuti, misalnya, atau kuliah yang belum libur, namun mereka tetap berikhtiar untuk hadir di masjid-masjid. Buat saya, itu keren. Hehe.

Hal lain yang bakal saya rindukan dari Ramadan adalah semarak kajian dimana-mana. Ya, walaupun hari biasa pun sudah banyak jadwal kajian di Bandung, namun ketika Ramadan, kajian semakin banyak, apalagi yang berkaitan dengan Alquran. Teduh sekali melihat banyak orang yang bersemangat menghadiri kajian-kajian Ramadan. Berlomba-lomba dalam kebaikan.

Pernah gak sih merasa, kalau di bulan Ramadan, energi kita jadi jauh lebih besar daripada bulan yang lain? Misal, biasanya saat bulan selain Ramadan, kita hanya sanggup membaca Alquran tiap hari satu juz atau kurang dari itu. Namun begitu Ramadan tiba, banyak orang uang bisa khatam Alquran selama satu bulan. Ada yang bisa khatam satu kali, dua kali, bahkan tiga kali atau lebih. Berarti dalam satu hari minimal ia membaca Alquran sebanyak satu juz atau lebih. Bukankah ini luar biasa? Padahal secara logika manusia, di bulan Ramadan kita lebih lemas, karena tidak makan dan minum di siang hari. Masya Allah….

Oh iya, hampir lupa, bicara sepuluh hari terakhir Ramadan, tentu tidak lepas dari satu malam istimewa, yaitu malam Lailatul Qadr. Ingin sekali bisa mendapatkan kemuliaan di malam itu. Sungguh beruntung orang yang mendapatkan kemuliaan malam Lailatul Qadr. Hidupnya akan berkah. Malam yang lebih baik dari seribu bulan ini gak ada di bulan-bulan lain. Hanya ada di bulan Ramadan. Jika gagal mendapatkan Lailatul Qadr di Ramadan tahun ini, maka kesempatan kita meraihnya ya di Ramadan tahun depan. Itupun jika Allah masih memberikan kesempatan untuk bertemu dengan Ramadan.

Ah, Ramadan terlalu banyak menyimpan hal-hal yang sangat dirindukan kelak. Termasuk lika liku mudik yang biasanya juga akan dihadapi di penghujung Ramadan. Repot tapi menyenangkan. Melelahkan namun membuat bahagia.

Yuk ah, kita manfaatkan sepuluh hari terakhir ini. Masih ada waktu.

Ramadan, semoga kita bisa bertemu kembali!

~ Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu ~

~ Bergeraklah, karena diam berarti kematian ~

Saat Hari Raya, Saatnya Mudik

Apa yang ada dalam pikiran dan bayangan teman-teman, saat mendengat kata “mudik”?

Ada yang membayangkan tradisi tahunan yang terjadi di Indonesia, membayangkan tiket transportasi darat, laut dan udara bisa habis dipesan bahkan jauh sebelum bulan Ramadan tiba, orang-orang yang memadati stasiun, terminal, bandara, dan pelabuhan, kemacetan lalu lintas, dan masih banyak lagi.

Ya, bagi kita, hal-hal diatas adalah sesuatu yang berhubungan dengan mudik. Silaturahim saat mudik di hari raya merupakan momen yang sangat dinantikan. Semua begitu bersemangat menyambutnya. Termasuk pemerintah, yang biasanya menjelang mudik, infrastruktur diperbaiki.

Bicara tentang mudik, waktu kecil dulu, tujuan mudik kami adalah ke Jakarta. Hehe. Disaat orang-orang justru meninggalkan Jakarta untuk mudik, saya dan orangtua beserta adik pergi ke Jakarta. Jalanan Jakarta tentu saja lengang.

Semua saudara kami, baik dari pihak ayah maupun ibu, berada di Jakarta. Kakak tertua dari ayah dan ibu, ada di Jakarta. Hanya sedikit saudara yang masih tinggal di Bukittinggi (saudara ibu), atau di Sidoarjo (saudara ayah). Sebenarnya, kakak dari pihak ibu masih ada di Bukittinggi, namun kami tidak pernah mudik kesana. Alasannya, tentu saja karena biaya mudik ke Bukittinggi yang besar, apalagi untuk kami berempat. Jadi, biasanya kalau ada hal mendesak dan mengharuskan ke Bukittinggi, biasanya hanya ibu yang berangkat. Sampai ketika kakek beberapa kali sakit, lalu akhirnya wafat, itu juga hanya ibu yang pulang.

Sementara nenek dari pihak ayah,kadang beliau di Bandung atau di Jakarta, dan pada saat beliau sakit, beliau ada di tempat kakak ayah yang tinggal di Demak. Nah, saat nenek sakit stroke inilah, baru tujuan mudik kami bergeser ke Demak. Selama lima tahun beliau sakit, kami beberapa kali mudik ke Demak.

Oh iya, dulu, saat nenek sehat, kami pernah sekali saja, berhari raya di tanah kelahiran ayah di Sidoarjo. Saya mengalami macet yang luar biasa seperti yang sering diberitakan di televisi. Selama enam jam, mobil kami berhenti sama sekali karena macet panjang. Macet total. Bagi saya, itu pengalaman yang tak terlupakan. Jalur Pantura memang padat sekali saat momen mudik lebaran. Harus kuat banget yang nyetir. Hehe. Saya sih belum sanggup.

Setelah nenek tidak ada, kami kembali mudik ke Jakarta. Hehe. Kemudian, saya menikah dan jalur mudik pun berubah hehe. Karena rumah orangtua dan mertua saya sama-sama di Bandung, seperti tempat kami tinggal, jadi peta mudik ya hanya di Bandung.

Tapi, biasanya kami juga pergi ke Lampung. Nah, setelah menikah ini, baru deh, perjalanan saya bergeser ke pulau Sumatera. Di Lampung, ada kakak tertua dari ibu mertua, dan adik ibu saya. Walaupun sebenarnya mertua saya berasal dari Bukittinggi, namun sempat pindah juga ke Lampung.

Saya mudik ke Bukittinggi baru di tahun 2016 lalu. Berhari raya disana. Melihat bagaimana tradisi masyarakat Minang dalam menyambut hari raya. Kami pergi menggunakan mobil pribadi. Tapi, buat kami, mungkin ke depan kalau mudik ke Bukittinggi, kami akan memilih jalur udara saja. Bukan apa-apa, meskipun jalanan lancar, tidak macet seperti Pantura, tapi perjalanannya jauh sekali, dan lumayan membuat pegal-pegal badan. Hehe. Sayangnya, tiket pesawat domestik sekarang mahal luar biasa. Jadi tahun ini pun, kami memilih Lampung sebagai tempat yang akan dikunjungi setelah hari raya.

Lampung ini bagi saya tempat yang memuaskan untuk mudik dan liburan. Anak-anak bisa bermain di pantainya yang banyak, tempatnya juga tidak terlalu jauh dari rumah tempat kami menginap, aneka hewan lautnya yang segar, dan ada kuliner khas yang sayang untuk dilewatkan. Ada bakso Sonny, ada pempek, kripik pisang coklat, kemplang, dan hidangan hewan laut yang super banget deh. 🙂

Mudik memang menyenangkan, bisa bertemu dengan kerabat dan saudara yang dirindu, bisa saling berkunjung, dan masih banyak lagi. Beberapa tips yang dilakukan sebelum mudik :

  1. Jika menggunakan kendaraan umum, maka pastikan tiket sudah dibeli jauh-jauh hari. Karena biasanya tiket mudik akan cepat habis, atau jika kita membeli tiket di dekat-dekat lebaran, harganya lebih mahal.
  2. Jika menggunakan kendaraan pribadi, persiapkan kendaraan agar dalam kondisi prima untuk melakukan perjalanan jarak jauh.
  3. Persiapkan bekal selama di perjalanan, agar saat dibutuhkan di perjalanan, kita tidak perlu sulit mencarinya.
  4. Jika membawa anak kecil atau balita, bahkan bayi, persiapkan kebutuhannya dengan baik. Termasuk hal-hal kecil.
  5. Membawa uang secukupnya. Jangan terlalu berlebihan, karena akan mengundang kejahatan.
  6. Berdoa agar perjalanan mudik lancar dan selamat sampai tujuan.

Nah, kalau teman-teman, biasa mudik kemana? Atau kalau tidak mudik, biasanya pergi kemana saja untuk menghabiskan waktu libur hari raya? 🙂

~ Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu ~

~ Bergeraklah, karena diam berarti kematian ~

Sedekah itu Mudah

Menulis ini dengan hati yang bercampur aduk. Melihat berita, banyak sekali yang menjadi korban di Jakarta, media sosial diblokir agar tidak dapat mengirim dan menerima gambar, hingga wafatnya K.H. Arifin Ilham.

Saya memilih untuk tidak mencari tahu lebih jauh tentang berita-berita di Jakarta. Kenapa? Takut bikin nyesek. Gak tega melihat kekerasan yang terjadi. Dan lagipula, saya sudah tidak terlalu percaya media mainstream hehe… Semua ada kecenderungannya. Entahlah, sudah sejak lama saya tidak terlalu berharap pada media-media tersebut. Biasanya, saya mencari kabar di media sosial, ya, walaupun tetap menggunakan filter. Nah, karena media sosial pun sudah dibatasi oleh pejabat yang terhormat, ya, saya fokus yang lain dulu, deh.

Sedih sekali. Marah, kecewa, semua perasaan itu sudah berkumpul dalam diri. Hanya bisa berdoa, semoga Allah karuniakan jalan yang terbaik, dan selalu melindungi negara ini dari tangan-tangan orang yang jahil dan zhalim. Aamiin.

Wah prolognya kepanjangan ya.. Hehe.. Hari ini, tema menulis tentang sedekah. Ah iya, sampai lupa, kalau bulan Ramadan juga bulan dianjurkan untuk memperbanyak sedekah. Nyambung deh sama tulisan kemarin tentang cara mengatur THR.

Kenapa sih harus bersedekah? Masing-masing ‘kan sudah dijamin rezekinya, kalau mau dapet rezeki yang banuak, ya kerja dong, jangan males-malesan. Hehe. Ini komen netizen julid, kalau bahasa sekarang. 🙂

Kalau gak ada orang miskin, apa bisa ada orang kaya? Kalau gak ada orang miskin, lalu zakat nanti untuk siapa? Kalau gak ada orang miskin, lalu bagaimana orang mampu bisa belajar memberi,belajar berempati?

Lagipula, hidup itu berputar. Semua akan dipergilirkan oleh Allah. Misal nih, mungkin yang dulunya berada, bisa jadi lima tahun kemudian, ternyata ia bangkrut, lalu jatuh miskin. Atau sebaliknya. Kita, tidak pernah tahu, apakah di masa yang akan datang, justru kita yang memerlukan sedekah.

“Harta tidak akan berkurang dengan sedekah. Dan seorang hamba yang pemaaf pasti akan Allah tambahkan kewibawaan baginya.” (HR. Muslim, no. 2588)

Jangan takut uang kita akan habis kalau bersedekah. Jangan galau kalau sedekah, THR akan habis. Hehe. Insya Allah akan diganti dengan yang lebih baik lagi.

Terus, kalau kita gak punya apa-apa untuk bersedekah, lalu bagaimana? Apakah sedekah itu hanya untuk orang-orang kaya atau orang yang tajir melintir aja? Hehe.. Ternyata gak juga kok. Kita pun, yang merasa masih kekurangan dari segi finansial, atau pas-pasan sekali, tetap bisa bersedekah, loh. Bagaimana caranya?

jauhilah api neraka, walau hanya dengan bersedekah sebiji kurma. Jika kamu tidak punya, maka bisa dengan kalimah thayyibah” (HR. Al Bukhari 6539, Muslim 1016)

Satu biji kurma pun sudah jadi sedekah. Bila tidak ada, kita bisa mengucapkan kalimat thayyibah. Mudah, bukan?

Oh iya, ada lagi yang lebih mudah, sedekah senyum dan berwajah ceria di hadapan teman kita, juga terhitung sedekah, loh.

‎“Senyummu terhadap wajah saudaramu adalah sedekah.” (HR. Tirmidzi 1956)

‎“Janganlah engkau meremehkan kebaikan sekecil apapun, walaupun itu berupa cerahnya wajahmu ‎terhadap saudaramu.” (HR. Muslim no. 2626)

Wuiiih, ternyata, mudah loh untuk bersedekah. Siapapun bisa. Apalagi di bulan Ramadan ini, semua kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya. Yuk ah, kita mulai bersedekah. Dari apa yang kita miliki. Tak harus rupiah, tapi bisa juga dollar, hehehe..

Ups, maksudnya, tak harus rupiah, namun dengan berwajah cerah dan senyum merekah pun, sudah dinilai sedekah. 🙂

~ Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu ~

~ Bergeraklah, karena diam berarti kematian ~