Jalan-jalan Saat Puasa, Why Not?

Sudah hari kedua mengikuti tantangan ngeblog yang diadakan oleh Indscript Writing. Doakan semoga saya bisa finish sampai akhir yaa…

Memasuki hari kedua belas berpuasa, aroma-aroma THR dan lebaran sudah mulai tercium ya… Hehe… Persiapan mudik atau lebaran biasanya sudah ada yamg memulai di sepuluh hari kedua. Meskipun lebaran masih jauh, namun banyak juga yang sudah mempersiapkan sejak awal.

Mudik biasanya dilakukan di akhir bulan Ramadan atau setelah Idul Fitri. Setelah pegawai kantor atau pelajar memasuki libur lebaran. Dan, tujuan utama mudik biasanya adalah untuk silaturahim dengan sanak saudara, orangtua, dan kerabat lain yang jarang bertemu di hari-hari lain.

Nah, sebelum mudik dan persiapan lebaran lainnya, saat Ramadan, seringkah teman-teman jalan-jalan saat puasa? Biasanya nih, saat sedang puasa, kita menghindari jalan-jalan. Kenapa?

Ada beberapa pertimbangan. Pertama, biar ‘gak terlalu lelah. Apalagi kalau jalan-jalan saat puasa bareng anak-anak yang sedang puasa juga. Khawatir jika anak-anak nanti kelelahan, lalu mereka meminta untuk berbuka lebih cepat. Hehe… Sayang ‘kan? Pertimbangan selanjutnya, tidak bisa makan saat jalan-jalan di siang hari. Biasanya, saat jalan-jalan, lalu perut terasa lapar, kita akan mampir ke restoran atau tempat makan. Tapi, karena sedang puasa, jadi opsi ini pun tidak ada. Atau mau janjian sama teman, bertemu untuk ngobrol-ngobrol, yang biasanya opsibpaling banyak dipilih adalah di tempat makan, kali ini pun tidak bisa. ‘Gak mungkin hanya numpang duduk di tempat makan, bukan? ๐Ÿ™‚

Tapi, benarkah jalan-jalan saat puasa sebegitu melelahkannya? Padahal, acara jalan-jalan bisa jadi satu alternatif untuk mengisi waktu luang saat puasa, apalagi bagi anak-anak yang biasanya saat Ramadan, sekolah akan diliburkan menjelang lebaran. Jalan-jalan bisa membuat anak-anak lupa kalau mereka sedang berpuasa, karena mereka asyik menikmati acara jalan-jalan.

Tahun lalu, saat anak pertama saya berusia 4 tahun, ia mulai belajar berpuasa. Sahurnya memang fleksibel, jam berapapun saat ia bangun pagi. Kadang jam setengah lima, kadang jam lima, atau jam enam. Tapi, alhamdulillah selalu sampai Maghrib. Tahun lalu kami pernah jalan-jalan saat puasa ke Floating Market dan Kota Mini di Lembang.

Jalan menuju Lembang saat itu sangat sepi. Tidak ramai seperti biasanya. Maklum, sedang berpuasa, tempat-tempat wisata cenderung lebih sepi. Tapi saat waktu menjelang berbuka, jalan-jalan biasanya macet, banyak orang yang buka bersama dengan kerabat mereka. Di Floating Market pun, pengunjung terbilang sepi untuk ukuran tempat wisata di Lembang. Kondisi yang sepi ini bagi keluarga kami malah menjadi keuntungan tersendiri. Tidak harus antri untuk mencoba fasilitas tertentu, dan kalau menemukan spot yang bagus untuk berfoto, bisa langsung berfoto, tanpa desak-desakan dengan pengunjung yang ramai. Hehe…

Minusnya hanya ‘gak bisa makan siang aja, meskipun tempat makan di Floting Market tetap buka.

Alhamdulillah anak saya saat itu tetap bisa menikmati jalan-jalan, meskipun dalam keadaan belajar berpuasa. Saat di Kota Mini, anak saya mengikuti beberapa arena role play, salah satunya menjadi koki. Disini, setelah beres membuat permen atau makanan lainnya, makanan tersebut bisa dibawa pulang oleh anak. Saya dan suami sempet deg-degan juga, apakah anak kami akan tergoda dengan makanan, dan akhirnya minta berbuka. Tapi ternyata, anak kami tetap melanjutkan berpuasa, meskipun ia melihat ada anak yang langsung memakan permen buatanya. Sekantung arumanis dibawa pulang oleh anak kami.

Selama berada di Kota Mini, anak tetap happy dan ceria seperti biasanya. Tidak jadi lemes, mungkin karena ia lupa kalau sedang berpuasa. Pulang dari sana, di perjalanan baru terasa lemes, karena dia dalam mobil, jadi anak tidak ada aktivitas tertentu. Hanya duduk menikmati perjalanan. Kami bujuk untuk tidur saja sambil menunggu waktu berbuka. Alhamdulillah, puasa anak hari itu tidak batal dengan pergi jalan-jalan.

Jadi, saat kita mengajak anak untuk jalan-jalan saat puasa, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, anak di-briefing terlebih dahulu, bahwa kita akan jalan-jalan, anak bisa melakukan apa saja, kecuali makan dan minum. Saat sahur, anak dianjurkan minum yang banyak. Lalu, pilih tempat wisata yang memiliki fasilitas bermain yang disukai oleh anak-anak, dan relatif sepi pada bulan Ramadan. Dampingi anak-anak selalu, agar saat ia mulai lelah, kita bisa menyemangatinya untuk tetap berpuasa bila ia kuat, dan kalau tidak kuat, ya berbuka. Apalagi untuk anak-anak yang masih dalam tahap belajat puasa.

Jangankan anak-anak, kita sebagai orang dewsa saja kadang merasa lelah saat jalan-jalan di bulan puasa, apalagi anak-anak. Hehe..

Oh iya, satu hal, puasa itu bukan berarti kita jadi males ngapa-ngapain ya… Puasa tetap harus produktif juga. Meskipun memang tetap melihat kondisi kita.

Semoga puasanya lancar ya, teman-teman!

~ Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu ~

~ Bergeraklah, karena diam berarti kematian ~

Istimewanya Ramadan, Penuh Berkah

Waaah, Ramadan sudah memasuki hari kesebelas! Alhamdulillah.. Sudah sepuluh hari pertama terlewati di bulan ini. Bersyukur banget Allah masih memberi kesempatan untuk meraih berkah Ramadan, yang ‘gak semua orang bisa mendapatkannya. Berapa banyak sih, orang yang sangat menantikan kehadiran bulan Ramadan, namun tidak Allah sampaikan di bulan ini? Tapi, jangan salah juga, berapa banyak orang yang sudah diberi kesempatan untuk masuk dan beramal di bulan Ramadan, namun tidak mampu mengoptimalkan waktunya di bulan Ramadan?

Ngomong-ngomong, di hari kesebelas ini, bagaimana Ramadan teman-teman? Bagaimana dengan target Ramadan yang sudah direncanakan di awal?

Sedikit curhat, .kalau saya pribadi, biasanya, awal Ramadan begitu bersemangat untuk melakukan banyak hal. Ingin bisa khatam Al-Qur’an berapa kali, ingin bisa sedekah sekian, ingin mengikuti kajian ini dan itu, dan masih banyak lagi. Hari-hari awal Ramadan, masih bisa mengikuti target, namun, semakin kesini, semangat itu mulai menurun, apalagi kalau dihadapkan dengan kondisi keseharian saya sebagai ibu rumah tangga yang kesibukan dan rutinitasnya tidak ada habisnya setiap hari. Saat sedang lelah,, kadang ingin menyerah, ingin segera beristirahat saja. Hehehe… Lemah banget ya…

Tapi, alhamdulillah, hal tersebut kadang muncul sesekali, saat diri dilanda kelelahan yang luar biasa. Biasanya, keesokan harinya saya mulai bersemangat lagi. Kenapa? Ya, saya tidak ingin melewati Ramadan ini begitu saja, .saya tidak ingin melewatkan berkah Ramadan yang begitu banyak di bulan ini.

Apa aja sih berkah Ramadan itu? Saya mau sedikit menuliskan tentang berkah Ramadan yang saya rasakan. Disclaimer, kalau tentang Ramadan yang lengkap dengan penjelasan ayat atau haditsnya, itu bisa teman-teman dapatkan dari kajian-kajian ustadz yang memang mumpuni. Hihi… kalau saya disini ingin berbagi tentang apa yang saya rasakan tentang Ramadan.

Salah satu berkah Ramadan adalah dilipatgandakan pahala saat kita berbuat kebaikan. Buat saya, ini kesempatan emas banget. Saat di bulan lain mungkin kita terlalu asyik mengejar dunia dan mencari seonggok berlian (hehehe…), di bulan ini kita secara sadar dikondisikan untuk lebih menata ibadah dan berbuat amal kebaikan. Dulu, saat masih kuliah, saya senang sekali untuk menghabiskan waktu selama bulan Ramadan di masjid kampus. Kenapa? Suasananya kondusif sekali untuk memotivasi memperbanyak ibadah. Lihat setiap sudut masjid, banyak orang sedang bertilawah, di masjid kampus juga setiap hari disediakan makanan berbuka puasa secara gratis. Bukan hanya ta’jil saja, tapi juga makanan beratnya. Ini salah satu berkah Ramadan buat anak kost yang paling terasa. Hehe… Meskipun saya bukan anak kost, sih… hehe…

Di hari-hari biasa, kadang saya merasa sangat berat untuk melakukan ibadah, atau amal kebaikan. Saya merasa sibuk sendiri. Namun, saat bulan Ramadan, atmosfer yang tercipta di sekitar saya membentuk saya untuk lebih bersemangat mengejar pahala. Oh iya, apalagi ada malam Lailatul Qadr yang begitu istimewa.

Berkah Ramadan berikutnya yang paling saya rasakan adalah kesempatan untuk menjalin silaturahim yang terbuka lebar. Bagaimana tidak, hampir setiap Ramadan selalu ada undangan buka bersama atau biasa disingkat bukber, bukan? Ya bukber teman-teman SD, SMP, SMA, kuliah, kerja, keluarga, sampai bukber dengan tetangga komplek. Hehehehe.. bahkan ada temaan-teman yang wakttu berbuka puasa di rumahnya bisa dihitung jari, karena sisanya mengikuti ajakan bukber dengan teman-teman.

Ilustrasi dari rawpixel.com

Bagi saya pribadi, semenjak punya anak, undangan bukber nyaris tidak bisa hadir, selain karena faktor anak, ditambah juga dengan pertimbangan tempat bukber. Sayang saja kalau undangan bukber di restoran mall, apalagi yang fasilitas mushalanya kurang, jadi malah bikin kita tidak nyaman melaksanakan shalat, atau bahkan terlewat waktu shalat Maghrib. Jadi, bagi saya, bulan Ramadan lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga, orang tua, dan saudara yang pada hari biasa sulit untuk bertemu, di bulan ini jadi diagendakan untuk bertemu.

Ada banyak lagi berkah Ramadan di sekeliling kita. Menjamurnya kajian keislaman yang menjadikan kita bisa memilih, mau mengikuti kajian yang mana, materi tentang apa, kegiatan i’tikaf yang makin banyak diselenggarakan oleh masjid-masjid, bahkan oleh masjid yang terbilang kecil sekalipun. Nah, menjelang lebaran, biasanya ada keberkahan lain yang ditunggu-tunggu nih, THR dan waktunya mudik. Hehe. Buat kita yang mendapatkan rezeki berlebih, waktu menjelang lebaran, adalah waktunya untuk berbagi lebih banyak. Zakat fitrah, dan infak bagi orang-orang yang membutuhkan di sekitar kita.

Ilustrasi dari Google

Nah, bagi teman-teman, apa sih keberkahan Ramadan yang paling terasa?

By the way, semoga tetap semangat menjalani hari-hari Ramadannya ya teman-teman.

~ Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu ~

~ Bergeraklah, karena diam berarti kematian ~

Tempat Favorit untuk Berbuka Puasa, Simple aja!

Hari kedua Ramadhan, udah ada yang buka puasa bersama di luar rumah hari ini? Hehe.. Bulan Ramadhan itu identik banget dengan buka bareng atau biasa disingkat dengan bukber. Bisa jadi, dalam satu bulan, buka puasa di rumah bareng keluarga itu lebih sedikit dibandingkan dengan buka puasa bareng teman-teman. Ya bisa buka bareng teman-teman SD, teman-teman waktu SMP, teman saat SMA, kuliah, teman kerja, tetangga komplek, teman-teman satu organisasi, teman dekat, dan masih banyak lagi agenda buka bareng menghiasi hari-hari di bulan Ramadhan.

Bahas buka bareng, tema hari ini tentang tempat buka puasa favorit di kotamu. Waah… Jujur aja, tema ini berat buat saya.. Hehe.. Kenapa? Soalnya saat ini saya benar-benar gak update tentang tempat makan atau tempat ngumpul yang lagi ngehits di Bandung. Rasa-rasanya, terakhir kali saya buka bareng teman-teman itu saat saya masih bekerja dulu. Setelah resign, nyaris gak pernah buka bareng teman-teman di luar. Hehehe..

Dulu, saat masih kuliah, semua agenda buka bareng berusaha untuk diikuti, dengan syarat tempat buka bareng dekat dengan fasilitas shalat yang memadai. Gak asik dong, buka bareng, tapi Maghrib kelewat. Niat silaturahim, eh malah melalaikan diri. Tapi, setelah menikah dan punya anak, rasanya buka bareng itu sesuatu yang menjadi prioritas ke sekian. Hehe.. Bukan apa-apa, mengingat usia anak yang masih balita, lalu jam berbuka itu saat dimana anak mulai ngantuk, rewel, dan seterusnya. Daripada ikut buka bareng tapi anak cranky, atau tantrum, dan kita juga tidak enjoy ikut acara, saya lebih memilih untuk tidak mengikuti agenda buka bareng. Biar lebih waras aja emaknya. Hehe. Kecuali kalau buka bareng bersama keluarga besar, itu selalu dihadiri. Karena ada suami sebagai partner untuk sama-sama rempong. Hehe.

Kalau di Bandung, hampir semua tempat makan, akan penuh saat waktunya berbuka puasa. Dari restoran cepat saji, kafe-kafe dengan menu premium atau dengan view yang bagus, semua akan dipadati pengunjung. Jadi, saya sendiri tidak tahu pasti, apa sih tempat buka puasa favorit bagi orang Bandung. Bagi saya pribadi, tempat favorit untuk berbuka puasa, ya di rumah, ditemani dengan keluarga tercinta. Sederhana, kan?

Tapi, kalau harus berbuka puasa di luar, ada beberapa kriteria yang akan saya perhatikan. Pertama, terdapat fasilitas mushala yang memadai, terdapat menu makanan untuk anak-anak, ramah anak, termasuk tersedia kids corner atau tempat menarik untuk anak-anak, tidak terlalu jauh dari rumah, dan tentunya harga yang terjangkau. Hehe…

Kalau teman-teman, dimana tempat favorit untuk berbuka puasa?

~ Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu ~

~ Bergeraklah, karena diam berarti kematian ~

Istimewanya Waktu Berbuka Puasa

Bismillaah…. Hari pertama Ramadhan. Ramadhan kali ini, memberanikan diri untuk ikut challenge dari Blogger Perempuan Network lagi. Setelah akhir tahun lalu berhasil menantang diri untuk ikut challenge yang diadakan Blogger Perempuan Network, kali ini juga berharap bisa menyelesaikan tantangan. Soalnya, kerasa banget, kalau diri ini butuh ditantang untuk keluar dari perasaan malas. Saat ada tantangan yang harus dikerjakan, eh, ternyata bisa-bisa aja kok curi waktu untuk nulis di blog walaupun singkat. Jadi, lebih banyak alasannya ternyata saat ingin menulis. Hehe. Sok sibuk.

Awalnya aku ragu ikut challenge ini. Kebayang gak sih, challenge di bulan Ramadhan? Buat ngejar targetan Ramadhan aja masih ngos-ngosan, apalagi ditambah targetan nulis? Tapi, suami ikut mendukung, katanya, cobain aja. Yang harus dibenahi adalah manajemen waktu kita, bukan justru malah mundur dari setiap kesempatan yang ada. Baiklaah… Dicobaa yaa… ๐Ÿ™‚

Ngomong-ngomong tentang Ramadhan, apa sih yang paling berkesan di Ramadhan bagi teman-teman?

Ramadhan identik dengan buka puasa. Waktu yang begitu ditunggu-tunggu oleh kaum muslimin ini, memang berbeda dengan hari-hari biasa. Ketika Ramadhan, adzan Maghrib menjadi adzan yang paling dinantikan. Hehe… Semua channel tv dilihat untuk memastikan adzan Maghrib. Kalau lihat di jalan-jalan, hampir semua pedagang makanan saat menjelang berbuk penuh diserbu pembeli. Bahkan, makanan bisa habis dalam waktu sekejap.

ย Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ู„ุงูŽ ูŠูŽุฒูŽุงู„ู ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณู ุจูุฎูŽูŠู’ุฑู ู…ูŽุง ุนูŽุฌูŽู‘ู„ููˆุง ุงู„ู’ููุทู’ุฑูŽ
โ€œManusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.โ€ (HR. Bukhari no. 1957 dan Muslim no. 1098)


Ternyata, Rasulullah pun menganjurkan untuk menyegerakan berbuka. Jadi, memang sudah sesuai dengan sunnah Rasulullah saat kita bersegera berbuka. Namun, tetap sewajarnya saja. Waktu berbuka puasa, bukan waktunya balas dendam karena seharian tidak makan, lalu saat berbuka semua disantap. Udah sering juga lihat orang-orang yang membeli banyak makanan untuk berbuka, tapi saat waktu berbuka tiba, hanya sedikit makanan yang masuk, ternyata sudah membuat kenyang. Hehe… Makanan pun bersisa. Sayang, kan… Makanan enak-enak, tapi harus bersisa, atau bahkan terbuang begitu saja, karena kita mengikuti nafsu yang begitu besar. Sejatinya, berpuasa adalah menahan diri, bukan? Termasuk menahan diri dari hal-hal yang sia-sia. Dan bukankah salah satu hikmah berpuasa agar kita bisa berempati dengan saudara-saudara kita yang kekurangan dan kelaparan?

Berbuka puasa harus semangat, tapi jangan sampai kita kehilangan makna saat berbuka puasa ya… ๐Ÿ™‚

Happy fasting everyone!

~ Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu ~

~ Bergeraklah, karena diam berarti kematian ~

Berenang di Rumah Oma Opa

Hari Sabtu 2 minggu lalu, Umar ingin berenang lagi. Tapi belum tahu, kolam renang mana yang akan kita kunjungi. Pagi-pagi sekali, suami ada acara hingga baru pulang sekitar pukul 9. Umar segera mengajak untuk pergi berenang.

Saat ditanya, akan ke kolam renang mana kita, Umar bilang ingin ke kolam renang Progressif di Soekarno-Hatta. Wew, lumayan juga kalau dari rumah. Hari udah mau siang, nanti malah kepanasan saat berenang. Hehe. Oleh abinya, diajak ke kolam renang Wika saja di Komplek Taman Sari. Tapi Umar tetep ingin ke Progressif.

Si ummi pun keingetan sama kolam renang yang pernah dikunjungi oleh teman, dan jaraknya lumayan deket dari rumah. Kolam renang di Rumah Oma Opa. Langsung search sebentar di instagram @rumahomaopa, terus tunjukin ke Umar dan abinya, mereka oke, dan langsung deh kita meluncur ke tkp.

Rumah Oma Opa ini terletak di daerah Giri Mekar. Dari jalan A.H. nasution, nanti kita masuk ke jalan Cijambe untuk menuju kesana. Dilanjutkan belok kiri ke arah jalan Kosar. Nah, nanti, belok kanan di jalan SD Sekemendung. Disini sudah mulai ada tanda penunjuk arah menuju Rumah Oma Opa. Jalan menuju ke Rumah Oma Opa, dari masuk Cijambe ini semakin ke atas semakin menyempit. Jalannya pas sekali untuk 2 mobil. Apalagi jika ada mobil yang parkir di pingggir jalan seperti yang kami alami, jalanan bisa macet. Tapi, alhamdulillah saat pulang, mobil yang parkir di pinggir jalan itu sudah tidak ada.

Area parkir

Sampai di Rumah Oma Opa, pemandangan disana bisa membayar perjalanan yang sudah kita lalui. Hehe… Rumah Oma Opa ini terdiri dari villa, kolam renang, dan ada juga cafe. Letak villa terpisah dari kolam renang dan cafe. Tapi, gak jauh kok.

Harga tiket masuk kolam renang disini terhitung murah, dibandingkan dengan kolam renang lain yang pernah kami kunjungi. Saat weekend, HTM nya 25.000 rupiah, sedangkan weekday 20.000 rupiah. Anak di bawah 3 tahun belum bayar. Di tempat lain, biasanya anak diatas 1 atau 2 tahun sudah bayar, Oh iya, misal kita masuk, tapi di dalam gak berenang, dikenakan biaya lebih murah, kemarin sih 15.000 rupiah. Tapi saya tidak bertanya apakah kalau weekday, untuk yang menngantar atau tidak berenang dikenakan biaya 15.000 rupiah juga atau berbeda.

Di dekat area parkir, ada ayunan dan jungkat-jungkit untuk anak-anak bermain. Disini juga bisa dipakai untuk foto-foto. Hehe…

Mini Playground

Area kolam renang untuk anak dan dewasa terpisah. Namun, di area kolam renang untuk anak, ada juga kolam renang yang bisa digunakan oleh orang dewasa. Di area kolam renang anak, ada 3 buah kolam renang, area air mancur dan playground. Sedangkan di area kolam renang dewasa, hanya ada satu kolam renang.

Umar dan Hilya senang banget main di sini. Bisa berenang, main air mancur, ayunan, atau serodotan juga. Oh iya, kelebihan di Rumah Oma Opa ini adalah banyak pohon yang berada di sekitar kolam renang. Jadi, saat matahari terik, disini tidak terlalu panas.

Kamar bilas dan ruang gantinya pun masih relatif bersih, dan cukup banyak juga. Semoga masih terus terjaga kebersihannya sampai nanti, hehe… Musholanya juga bersih dan terang, karena mendapatkan cahaya matahari yang cukup.

Disini kita juga bisa foto-foto, disediakan payung-payung kertas sebagai properti foto, yang bisa disewa dengan harga 2000 rupiah.

Kolam renang dewasa

Karena Rumah Oma Opa ini bisa dibilang terletak di daerah atas, mendekati gunung, hehe, jadi kita bisa melihat pemandangan kota di bawah.

Kesimpulannya, Rumah Oma Opa ini cukup oke buat melipir dari kolam-kolam renang di kota, hehe… Fasilitas yang ditawarkan, dan harganya juga oke. Awalnya, saat kami terjebak macet akibat adanya mobil parkir di pinggir jalan, suami udah ilfil duluan. Soalnya jalan udah ngepas, ya dipake parkir, gimana gak zhalim ke pengguna jalan yak. Wkwkwk…. Tapi setelah kami mencoba kolam renangnya, alhamdulillah, gak jadi nyesel deh bela-belain mdateng kesini untuk mencoba fasilitasnya. Anak-anak juga seneng banget, dan bilang mau kalau kesini lagi. Haha… namanya juga anak-anak yak, diajak main air aja udah seneng banget.

~ Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu ~

~ Bergeraklah, karena diam berarti kematian ~

Berenang di Kolam Renang Wika, Tamansari Bukit Bandung

Salah satu agenda keluarga yang ingin kami rutinkan di 2019 ini adalah berenang, dan salah satu resolusi saya tahun ini adalah belajar berenang. Jadi, ingin menjajal beberapa kolam renang yang ada di Bandung. Hehe…

Anak sulung saya sangat menyukai aktivitas berenang. Bisa berjam-jam main di kolam renang, dan sulit untuk diminta berhenti.

Kali ini saya mau review sedikit kolam renang yang kami kunjungi terakhir. Hari Sabtu lalu, kami berkunjung ke kolam renang Wika di Komplek Tamansari Bukit Bandung. Letaknya di pinggir jalan A.H. Nasution, Bandung. Lokasinya tepat setelah gerbang komplek dan pos satpam. Strategis banget lokasinya.

Biaya masuk ke kolam renang ini untuk Senin-Jum’at 20 rb rupiah, dan Sabtu-Ahad 30 rb rupiah. Disini juga mengadakan les berenang untuk anak dan dewasa.

Area kolam renangnya memang tidak terlalu luas seperti kolam renang dengan konsep water park atau water boom yang sudah kami kunjungi, misalnya Karang Setra, Big Water Park, atau Taman Air Progressif. Tapi nilai plusnya adalah jaraknya yang relatif sangat dekat dengan rumah dibandingkan dengan kolam renang yang biasa kami kunjungi.

Kolam renang disini terdiri dari 2 kolam yang bersatu. Ada kolam yang dalam, dan kolam dangkal yang disertai serodotan dan ember tumpah. Oh iya, airnya juga bersih. Ada kios-kios kecil yang menjajakan makanan dan minuman di sekitar area kolam, jadi gak takut kelaparan, walaupun tentu lebih puas kalau membawa bekal makanan sendiri ya… Hehehe..

Tempat duduk untuk pengunjung yang tidak berenang pun cukup banyak disini, jadi nyaman misalnya untuk orang tua yang mengantarkan anaknya berenang, atau pengunjung yang memang sedang tidak ingin menceburkan diri ke dalam kolam renang.

Ada mushalanya juga. Mushalanya walaupun tidak besar, tapi bersih. Untuk menuju mushala,, kita memang harus keluar dari pintu masuk kolam renang, tapi kita bisa masuk lagi kok, tanpa dipungut biaya masuk kolam lagi.

Alhamdulillah, secara keseluruhan sih, kolam renang ini nyaman kok, apalagi buat kami yang lookasi rumah tak jauh dari kolam renang ini. Tapi, tetap ada waktu lain untuk pergi ke kolam renang lain. Apalagi kalau bukan karena permintaan anak.. Hehe…

~Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu~

~Bergeraklah, karena diam berarti kematian~

Jangan Lupa Bersyukur!

Jangan Lupa bahagia!

Akrab dengan kalimat itu?

Ya, akhir-akhir ini banyak terdengar kalimat seperti ini, atau bahkan hashtag #JanganLupaBahagia di media sosial. Apa ada yang salah?

Hehe. Gak kok, gak ada yang salah. Bahkan, karena hashtag tersebut, saya jadi menyadari, bahwa menjadi bahagia itu ya harus diusahakan, bahkan sampai diingatkan seperti ini. Karena begitu cepatnya dunia di sekitar kita bergerak, dan diri kita sedang terengah-engah mengejar “dunia”, seringkali kita lupa untuk membahagiakan diri sendiri.

Betapa banyak orang yang memiliki harta yang berlimpah, tapi setiap hari, yang keluar dari lisannya adalah keluhan, dan wajah murung yang teramat jelas dari wajahnya. Nyatanya, harta berlimpah tak jadi jaminan untuk bahagia.

Ada yang bilang, hidup hanya sekali, jangan lupa bahagiakan diri.

Semakin kesini, saya jadi lebih berpikir, kalau untuk saya pribadi, saya lebih cocok dengan kalimat, “Jangan Lupa Bersyukur”. Kenapa? Buat saya, bersyukur adalah inti untuk mendapatkan hati yang lapang, dan bahagia pun akan hadir, insya Allah.

Kalau saya sedang kurang banget rasa syukurnya, mau sebanyak apapun nikmat di depan mata, rasanya ada aja yang bikin saya kesal, gelisah, banyak mengeluh, dan uring-uringan. Gimana perasaan mau bahagia?

Syukur itu, salah satu kondisi yang bisa membuat seorang mukmin tetap berada dalam kebaikan. Apapun kondisinya.

“Sungguh menakjubkan urusan seorang Mukmin. Sungguh semua urusannya adalah baik, dan yang demikian itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh orang Mukmin, yaitu jika ia mendapatkan kegembiraan ia bersyukur dan itu suatu kebaikan baginya. Dan jika ia mendapat kesusahan, ia bersabar dan itu pun suatu kebaikan baginya.” (HR. Muslim)

Dan selalu berada dalam kondisi syukur ini gak mudah untuk saya pribadi. Ada aja godaannya, ya selalu lihat rumput tetangga yang lebih hijau, sampe lihat akun instagram sebelah yang tampilannya kece banget. hehe… ๐Ÿ™‚

Jadi, jangan lupa bersyukur, biar bisa tetap bahagia, itu intinya…

Hidup hanya sekali, harus berarti. Berarti dalam apa? Ya dalam pandangan Allah. Pandangan manusia suka tipu-tipu dan menipu soalnya… ๐Ÿ˜€

~Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu~

~Bergeraklah, karena diam berarti kematian~

Akhirnya, Aku Menemukanmu!

Kemarin, hari kejepit nasional, bertepatan dengan hari Tahun baru Imlek. Hehe. Karena libur hanya sehari, dan kami tidak ada agenda pergi ke luar kota, jadi kami tetap di Bandung saja. Padahal, kalau suami ambil cuti di hari Senin, bisa jadi long weekend yaa… ๐Ÿ™‚ malah curhat.

Kalau teman-teman, libur kemarin kemana saja? Apa ada agenda berlibur atau seperti saya dan keluarga yang di tidak punya agenda liburan? ๐Ÿ˜€

Akhirnya, kemarin, saya tetap melaksanakan agenda rutin saya yang diadakan di hari Selasa. Suami dan anak sulung pergi ke Taman Lalu Lintas sambil menunggu saya selesai agenda. Setelahnya, suami mengajak ke Gramedia. Waah, anak-anak dan saya tentunya excited sekali diajak ke Gramedia. Sudah lama juga gak kesana. Biasa beli berburu buku secara online.

Cuma, kadang ada aja kerinduan untuk berburu buku secara offline, jadi kadang kami juga pergi ke Gramedia, atau Togamas, dan ke pameran-pameran buku.

Nah, beberapa hari yang lalu, kami sempat pergi ke Liga Buku Bandung 2019. Namun, kami tidak merasa puas disana.. Hehe… Kami tidak mendapatkan buku yang kami cari, dan juga, variasi judul buku juga penerbit yang diikutsertakan di event tersebut agak terbatas, menurut saya pribadi yaa… Kata suami, untuk mengobati ketidakpuasan tersebut, jadilah beliau mengajak kami ke Gramedia kemarin.

Gramedia di Jalan Merdeka, yang kami kunjungi, sudah agak berbeda dari segi layout-ing nya dari kunjungan kami sebelumnya. Anak-anak senang sekali kesini, apalagi di area buku-buku anak. Judulnya bervariatif dan menarik semua. (Ini menarik buat anaknya atau umminya ya? Hehehe…)

Ternyata kemarin, ada promo diskon 30% untuk buku-buku terbitan Gramedia Group dan apabila transaksi menggunakan kartu BNI. Alhamdulillah, karena suami ada kartu BNI, jadi kami bisa dapat memanfaatkan diskon 30% tersebut. Yang dicari ya buku terbitan Gramedia Group. Hehe.

Setelah anak dan suami menemukan buku pilihan mereka, saya beranjak ke rak buku resep-resep masakan. Sudah lama sekali ingin membeli buku resep masakan, namun belum menemukan waktu yang pas aja. hehe.. Inginnya beli offline soalnya. Biar bisa “ngintip” isinya dulu…:)

Mata saya langsung tertuju pada satu buku resep masakan yang saya incar beberapa waktu lalu. Yaaap. Buku resep masakan yang ditulis Mbak Clarissa Noviany dari akun instagram @dapurbekal .

Waaah, terbitan Gramedia juga, kan? Langsung deh minta izin ke suami buat beli buku ini. Senangnyaaa… Waktu terakhir ada open pre order melalui akun instagramnya, saya kelewat infonya. Hiks… Tapi alhamdulillah sekarang bisa mendapatkannya.

Saya sudah cukup lama follow akun @dapurbekal ini, bermanfaat banget buat dapet inspirasi bekal untuk suami. Soalnya saya kurang kreatif dalam membuat bekal. Hehe.. Itu-itu lagi yang dimasak. Jadi, kasian kalau suami bosan dibawain bekal yang itu-itu aja.

Oh iya, resep-resep yang dishare di akun ini, mudah untuk dicoba, bahan-bahannya pun gak terlalu sulit untuk didapatkan. Tapi, variasinya banyaak banget, jadi betah berlama-lama mantengin akun ini. Hehe.

Alhamdulillah, udah ada bukunya, jadi bisa dibaca kapanpun, meskipun ga punya kuota internet untuk buka Instagram. ๐Ÿ™‚

Buat yang suka bawain bekal untuk anak atau suaminya, buku dan akun instagram @dapurbekal ini recommended banget deh.

~Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu~

~Bergeraklah, karena diam berarti kematian~

Ikut Setip Yuk, Biar Gak Mager Nge-blog!

Sudah 1 bulan ya, tahun 2019 berjalan. Gak kerasa udah masuk bulan Februari lagi. Langsung kepikiran sama resolusi 2019 gang sudah dirancang di awal tahun ini.

Ternyata, waktu 31 hari itu bisa berlalu sedemikian cepat tanpa kita sadari. Kita bisa terlena dengan waktu, tanpa menyadari bahwa ada banyak waktu yang kita sudah abaikan begitu saja.

Nah, sekitar 2 hari lalu, saya melihat postingan salah satu teman saya di Instagram, tentang event yang diadakan oleh Estrilook Community. Event ini tentang ajakan untuk ngeblog setiap pekan minimal 3 kali postingan, alias SETIP. Wiiih… Langsung dong, syaraf-syaraf di otak bekerja, dan menemukan “AHA” moment . Ini yang saya butuhkan.

Salah satu resolusi saya tahun ini dalam bidang blogging adalah membuat postingan minimal 2-3 kali sepekan, karena kalau sehari satu postingan, saya ga kuat deh. Hehe. Nyerah.

Makanya realistis aja di angka 2-3 postingan. Eh eh… Ternyata, setelah 1 bulan berlalu, saya juga gak berhasil menjalankan resolusi ini. Di bulan Januari 2019, saya hanya berhasil membuat 4 postingan aja, yang berarti kalau dirata-ratakan, seminggu hanya bisa 1 kali posting.

Begitu ketemu challenge SETIP ini, saya ingin banget bisa ikut, agar bisa memaksa diri saya untuk bisa mewujudkan resolusi yang sudah saya buat. Siapa tahu, kalau saya konsisten mengikuti SETIP ini, saya bisa terlatih untuk rajin nge-blog, dan gak mager untuk buat postingan.

Doakan semoga saya berhasil yaa… Buat teman-teman yang butuh menantang diri juga, bisa banget loh ikut SETIP, mumpung masih baru mulai. ๐Ÿ˜„

~Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu~

~Bergeraklah, karena diam berarti kematian~

Bersenang-senang di Sport Jabar

Salah satu resolusi saya di tahun 2019 ini adalah bebas maag dan menjalani hidup yang lebih sehat. #2019BebasMaag dan #2019LebihSehat menjadi hashtag saya dalam bidang kesehatan pribadi. Hehe…

Naah, alhamdulillaah banget, rumah lumayan dekat dengan Sport Jabar. Tempat yang enak banget untuk olahraga. Luas, tersedia kantin, dan parkir gratis. Parkir gratis ini memang jadi daya tarik sendiri bagi kami. Hehe. Jadi bisa berlama-lama disana tanpa khawatir tagihan prakir membengkak. Soalnya, kalau bareng anak-anak, biasanya harus menyediakan waktu ekstra untuk hal-hal yang di luar prediksi. Misal anak masih ingin main, atau anak tantrum, dan lain-lain. ๐Ÿ™‚

Sebenarnya, terinspirasi dari suami yang dari tahun lalu memang sudah rajin untuk olahraga rutin, dengan lari. Bukan lari dari kenyataan yah.. Wkwkwk… Lari beneran…

Nah, sebagai istri, jadi meneladani deh. Mulai untuk serius di 2019 ini, insya Allah. Dan tentu ngajak anak-anak juga. Mau rutin berenang, lari, atau sepeda, dan hiking insyaAllah. Semoga bisa terwujud. Karena kesehatan itu nikmat yang sering banget kita lalaikan. Baru terasa saat nikmat sehat itu diambil.

Oh iya, balik lagi ke tempat untuk olahraga, sebenernya kalau di dekat rumah, ada juga lapangan dekat rumah. Ada track larinya atau bersepeda juga, jadi kami memang tidak selalu ke Sport Jabar. Kalau waktunya sedikit, ya kami ke lapangan dekat rumah saja.

Lapangan dekat rumah, ada track larinya juga

Tapi, kalau di weekday, saat Umar ingin main sepeda, biasanya saya akan lebih memilih untuk sekalian ke Sport Jabar aja. Lebih worthed untuk bawa 2 sepeda pakai mobil. ๐Ÿ™‚ Dulu pernah main sepeda di lapangan, dan ujung-ujungnya saya tetap harus membawa mobil untuk membawa 2 sepeda dari lapangan. Karena medan yang menanjak dan menurun, ngos-ngosan juga dorong sepeda 2 buah sambil menggendong si kecil yang mau digendong, karena ga betah lama di sepeda. Kebayang ‘kan rempongnya. ๐Ÿ˜€

Ini penampakan saat bertiga aja di weekday… ๐Ÿ˜

Sport Jabar ini terletak di daerah Arcamanik. Waktu tempuh dari rumah sekitar 15 menit menggunakan mobil. Jadi, lebih enak sih buat emak-emak seperti saya, kalau membawa 2 anak di hari kerja. kalau weekend, baru full team dengann suami kesana. Oh iya, kami lebih memilih sore hari kesana. Karena pagi hari jam 8 biasanya matahari sudah bersinar terik. Dan anak-anak seringnya jadi gak betah karena kepanasan. Sore lebih adem dan menentramkan, sekalian melihat langit senja. hehe…

Langit senjanya bagus banget….

Sport Jabar buka dari pukul 5 pagi hingga 6 sore untuk dipakai kegiatan. Biasanya, menjelang jam 6 sore, ada petugas yang akan berkeliling untuk mengingatkan bahwa waktunya sudah mau habis. Jadi pengunjung bisa bersiap-siap untuk menghentikan aktivitasnya.

Semoga bisa terus istiqomah buat membiasakan olahraga. Seringnya, karena udah jadi emak-emak, merasa udah capek duluan dan ga ada waktu untuk olahraga. Tapi kalau dipaksain, ternyata bisa juga. Saat bertiga aja sama anak-anak, saya mencoba mencari celah-celah untuk sedikit berolahraga. Misal, saat anak-anak lagi ngemil, saya bisa lari-lari kecil di sekitar mereka. Jadi selalu siap pakai sepatu olahraga. Meskipun nanti gak kebagian olahraga,ya, minimal olahraga injek kopling, wkwkkw ๐Ÿ˜€

Tapi, serius, kalau dipaksain, ternyata bisa aja kok meluangkan waktu untuk olahraga. Demi mensyukuri nikmat sehat yang udah Allah kasih, kenapa gak mau berjuang sedikit? Hehe..

Kadang iri (dalam arti positif ya..), sama teman-teman yang bisa rutin olahraga, bisa ikut event-event lari, atau bisa berenang, yoga, pillates, dsb.. Huahahaha…. Pengen juga… Tapi balik lagi, setiap orang kondisinya beda-beda. Ya, mau ikut lari atau olahraga yang serius banget, waktunya udah kesita dengan kewajiban di rumah. Ada anak-anak yang gak bisa ditinggal lama, ada kewajiban lain menanti ditunaikan.

So, syukuri aja, toh masih bisa lari-lari sambil dorong sepeda roda tiga, plus gendong bocah, di Sport Jabar. Hehe.. Seru aja, dan meyakinkan diri bahwa kelak, masa-masa ini yang akan dirindukan ๐Ÿ™‚

Saat bocah ngemil, waktunya ummi olahraga agak serius ๐Ÿ˜

~ Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu ~

~ Bergeraklah, karena diam berarti kematian ~