Ramadan yang Tak Terlupakan

Ramadan selalu hadir di setiap tahun. Namun, kesan yang didapatkan di setiap Ramadan selalu berbeda. Ada saja hikmah baru yang membuat diri menjadiblebih baik. Hikmah-hikmah yang hanya bisa diperoleh di bulan Ramadan. Meskipun sudah melalui sekitar dua puluh tujuh kali Ramadan, setiap kesan yang didapat selalu berbeda.

Bicara tentang Ramadan yang paling berkesan, hm… Rasanya hampir semua berkesan. Ada ketika saya berpuasa penuh selama sebulan untuk pertama kali di usia lima tahun, ada saat Ramadan dimana saya melakukan perjalanan jauh melalui jalur darat ke Sumatera Barat, dan masih banyak lagi.

Dari sekian banyak hal yang terjadi di bulan Ramadan, ada satu Ramadan yang tidak akan terlupakan oleh saya. Kenangan Ramadan berkesan yang ingin saya tulis kali ini adalah saat Ramadan 2017, atau Ramadan 1438 H.

Memasuki Ramadan 1438 H dua tahun lalu, usia kehamilan saya sudah di usia 40 minggu. Ini adalah kehamilan kedua. Dan sudah hampir sepekan yang lalu, saat dokter melakukan pemeriksaan dalam, sudah bukaan tiga. Namun, kontraksi teratur belum juga hadir. Saya masih sempat menjalankan shalat tarawih di masjid di awal-awal Ramadan.

Hari itu hari ketiga Ramadan. Saya melakukan aktivitas seperti biasa. Malam setelah shalat tarawih, saya beristirahat. Sekitar pukul 00.30, Umar terbangun, katanya mau ke kamar mandi. Saya bangun dan menemaninya ke kamar mandi. Setelah beres, Umar pun tidur kembali. Saya juga mencoba untuk tidur kembali. Namun kali ini, istirahat saya tidak begitu nyenyak. Di tengah kantuk, saya merasakan ada sesuatu dalam perut. Saat itu saya tidak berpikir bahwa itu adalah kontraksi. Karena memang belum terlalu kuat, dan teratur. Tapi, sudah cukup mengusik saya.

Sudah mau 2 tahun usianya 🙂

Saya terus mencoba istirahat, namun semakin lama, saya semakin tidak bisa tidur dengan tenang. Saya hanya mengubah posisi tidur, berharap bisa membuat nyaman. Semua posisi saya coba. Hingga pukul 02.30, suami terbangun, dan menanyakan, apakah sudah terasa kontraksi, dan mau ke rumah sakit sekarang juga.

Saya bilang pada suami, kontraksinya masih bisa ditahan, dan belum sampai membuat saya meringis kesakitan, hehe… Saya mencoba menghitung kontraksi dengan menggunakan aplikasi yang sudah diinstall di telepon seluler.

Pukul 03.00, suami sahur dulu. Saya terus menghitung kontraksi. Ternyata kontraksi sudah teratur datangnya, sekitar 7 menit sekali. Saya pun mandi dulu. Awalnya, saya bilang ke suami, berangkat ke rumah sakitnya setelah subuh saja, atau jam 6 pagi hehe. Suami yang melihat saya sudah bolak balik tarik napas dalam, meminta saya ke rumah sakit saat itu juga. Jam 4 kami berangkat. Umar di rumah bersama kakek neneknya.

Di perjalanan, saya menahan kontraksi sambil terus berdzikir. Alhamdulillah, jalanan masih sepi. Sesampainya di rumah sakit, adzan Subuh terdengar. Saya bilang ke suami, mau shalat Subuh dulu sebelum ke UGD. Shalat Subuh sambil meringis. Hehe.

Pukul 05.15 kami ke UGD. Dicek bukaan, sudah bukaan 5 ke 6. Pantaslah. Suami mengurus administrasi dulu. Bidan memeriksa tekanan darah, dan mengambil darah untuk dilakukan pemeriksaan. Wah, disana saya sudah bolak balik jalan, berdiri, duduk, berbaring, posisi bersujud, dan tarik napas setiap kontraksi datang. Bidan sedang keluar, begitupun suami, belum kembali.

Rasanya sudah mules sekali. Saya merasa ingin buang air kecil. Saya turun dari tempat tidur. Mencoba memanggil suami. Lalu kontraksi datang lagi, saya terduduk di lantai. Suami datang. Membantu saya untuk ke toilet. Ketika saya mencoba berdiri, tiba-tiba ada suara “blurb” dan mengalir cairan disertai darah. Ketuban sudah pecah. Suami bergegas memanggil bidan, dan saya dibawa ke rusng bersalin. Sampai di ruang bersalin, saya sudah ingin mengejan. Ternyata memang sudah bukaan lengkap. Gak sempat nunggu dokter. Akhirnya lahiran dengan bidan. Alhamdulillah prosesnya cepat. Dua kali mengejan, Hilyapun lahir.

4 Ramadan 1438 H, alhamdulillah kami diberi amanah lagi. Yang paling merasa lega adalah suami. Karena sejak menyetir ke rumah sakit, sebenarnya suami deg-degan kalau tiba-tiba lahir di jalan. Hehe. Bayangkan kalau kami berangkat jam 6 dari rumah seperti permintaan saya, Hilya akan lahir di jalan. Sebab Hilya lahir pukul 06.31 WIB. Hehe…

~ Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu ~

~ Bergeraklah, karena diam berarti kematian ~

2 Replies to “Ramadan yang Tak Terlupakan”

    1. Waah samaan ya mbak… Aamiin… Jazaakillaahu khairan mbak… Semoga anak2 mbak juga menjadi anak shalih shalihah…. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *