THR yang Dinanti

Waah… Sudah masuk hari ke 17 Ramadan ya… Biasa kita kenal dengan hari turunnya Alquran, atau Nuzulul Qur’an. Alhamdulillaah… Semangat masih oke kan teman-teman? Hehe.. Saya di hari-hari terakhir ini sedang sangat sulit mengatur waktu, nih. Baik waktu untuk menyelesaikan amalan pribadi, tapi tetap melaksanakan kewajiban di rumah. Semangat naik turun ketika menghadapi Ramadan. Adakalanya saya begitu bersemangat, adalakalanya saya menyerah dengan pekerjaan yang tak ada habisnya.

Ambil hikmahnya aja ya… Sesuatu yang baik itu harus diperjuangkan, bukan? Kalau lurus-lurus aja, tidak ada tantangannya, jadi kurang seru, dong? Hehe.

Oh iya, kita sudah hampir menyelesaikan sepuluh hari kedua di bulan Ramadan. Biasanya sih, menjelang lebaran, ada rezeki tambahan berupa THR. Apakah teman-teman sudah ada yang menerima uang THR? Bagi yang sudah, semoga uang THR nya bermanfaat dan jadi berkah. Bagi yang belum, semoga cepat turun ya. Hehe.. Mungkin diantara teman-teman ada juga yang seperti saya. Tidak menerima THR, hehe.. Karena saya sudah resign sejak hampir lima tahun lalu. Tapi, kalau THR suami, alhamdulillah ada. Hehe… 🙂

Bagaimana sih mengatur uang THR agar tidak ludes dalam waktu sekejap? Biasanya, uang itu akan lewat begitu saja, jika kita tidak mengelolanya dengan baik. Sayang, ‘kan, uang yang diperoleh susah payah, harus terbuang percuma.

Tidak bisa dipungkiri, kalau kebutuhan menjelang hari raya selalu bertambah, bahkan bisa membengkak anggarannya. Harga bahan kebutuhan pokok yang melambung tinggi, kebutuhan untuk membuat hidangan lebaran, kebutuhan untuk pulang mudik, memberi sanak saudara, dan masih banyak lagi pengeluaran tak terduga lainnya.

Uang THR itulah yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang banyak di momen hari raya.

Biasanga, saat mendapat uang THR, saya akan segera membagi-bagi uang tersebut ke dalam pos-pos pengeluaran. Pengeluaran yang paling pertama saga keluarkan adalah untuk kewajiban zakat, membayar fidyah, atau untuk infak. Zakat berfungsi untuk menyucikan jiwa dan harta kita. Dan karena zakat fitrah ini wajib, maka jangan sampai kelupaan untuk mengalokasikannya ya!

Setelah porsi untuk kewajiban sudah disisihkan, maka selanjutnya pos-pos pengeluaran bisa dibagi untuk kebutuhan lain.

Saya pribadi membagi untuk beberapa pos. Pos untuk memberi orang tua dan mertua, pos untuk keperluan anak-anak, dan untuk keperluan silaturahim di hari raya, termasuk untuk mudik hehe.

Pengeluaran anak-anak biasanya di baju lebaran. Meskipun bukan suatu keharusan untuk membeli baju lebaran, tapi kalau untuk anak, biasanya dibeli aja. Hehe.. Apalagi kakek neneknya juga udah wanti-wanti untuk membeli baju anak-anak. Kalau ayah ibunya sih lebih santai. Hehe. Ya anggap hadiah buat Umar yang sudah rajin shaumnya. 🙂

Biasanya, pos pengeluaran untuk mudik ini banyak biaya tak terduganya. Hehe.. Pengalaman tahun 2016, kami mudik ke Bukittinggi menggunakan mobil pribadi. Berangkat dari Bandung, ke Lampung. Menginap semalam di Lampung, lalu melanjutkan perjalanan menuju Bukittinggi. Hampir 24 jam perjalanan Lampung-Bukittinggi. Wow… Pengalaman tak terlupakan, saat itu Umar berumur 2,5 tahun, masih anak tunggal saat itu hehe.

Pos pengeluaran untuk service awal mobil sebelum digunakan jarak jauh, lalu bensin yang selalu diisi full tank selama perjalanan, belum biaya makan, minum, ngemil, selama perjalanan, pergi ke tempat wisata, memberi angpao lebaran, wkwkwk… Pulang dari Bukittinggi, kami menginap beberapa hari di Lampung. Disana pun kami jalan-jalan lagi ke pantai. Haha… Kalau suami bilang, ga usah terlalu dipikirkan uang habis berapa. Haha.. Bisa stress. Kan memang niat liburan. Yah, saya nurut aja apa kata suami. Pulang mudik, mobil kami service kembali. Jadi dobel service deh. Tapi tetap harus dianggarkan pos pengeluaran maksimal untuk mudik berapa. Biar gak terlalu nyesek atau bahkan sampai menghabiskan jatah uang sekolah anak, misalnya. Hehe.. Semoga semua diberikan kelapangan rezeki untuk bersilaturahim di hari raya ya teman-teman. Aamiin…

Mengatur uang THR memang susah susah gampang. Harus cermat dalam menghitung kebutuhan dan pengeluaran yang ada. Jangan sampai berlebihan juga ya… Toh salah satu makna Ramadan adalah menahan diri. Jika masih berlebihan dalam sesuatu, termasuk pengeluaran yang sebenarnya masih bisa ditunda, atau bukan sesuatu yang penting dan mendesak, berarti ke depan kita harus lebih memaknai Ramadan yang sudah kita lalui.

Selamat mengatur uang THR, teman-teman! Jangan lupa zakatnya ya! 🙂

~ Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu ~

~ Bergeraklah, karena diam berarti kematian ~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *