Ramadan, Aku Rindu

Alhamdulillah, kita sudah mulai memasuki sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan. Tak terasa, ya… Waktu begitu cepat berlalu. Kadang berpikir, target amalan yang sudah ada, belum terealisasi seutuhnya, namun Ramadan sudah hampir memasuki penghujungnya.

Ya Allah… Semoga masih bisa mengejar ketertinggalan di sepuluh hari terakhir ini. Oh iya, apakah teman-teman sudah memutuskan akan mengikuti i’tikaf dimana? Wah, pasti sedang mencari dan mulai mengunjungi masjid untuk melaksanakan i’tikaf ya. I’tikaf kini bukanlah sesuatu hal yang aneh. Saat dulu saya masih kecil, saya hanya tahu mengenai i’tikaf dri ceramah-ceramah yang saya dengar saja. Namun, saya tidak pernah melihat bagaimana orang yang beri’tikaf itu. Benar-benar sepuluh hari di masjid terus meneruskah, atau seperti apa. Karena memang dulu, i’tikaf bukan sesuatu hal yang lazim di masyarakat kita.

Ketika saya kuliah di Ganeca 10, saya mulai mengenal i’tikaf lebih dekat. Beberapa organisasi yang saya ikuti, mengadakan acara i’tikaf bareng, biasanya di malam-malam ganjil, di Masjid Habiburrahman. Dulu, masjid Habiburrahman inilah yang sangat terkenal dengan i’tikafnya, setiap malam, imam akan membaca ayat Alquran sebanyak 3 juz pada shalat tahajud. Masjid ini tidak pernah sepi pengunjung. Masjid-masjid lain saat itu belum ada yang mengadakan acara i’tikaf sebesar masjid ini. Beda dengan sekarang. Di Bandung sudah banyak masjid-masjid yang menyelenggarakan i’tikaf. Dari masjid bedar hingga masjid kecil, dan dari masjid yang terkenal, hingga masjid komplek perumahan. Masjid Habiburrahman tetap melaksanakan i’tikaf dan selalu dipadati pengunjung. Bahkan beberapa tahun ini pengunjung sampai harus memesan kavling untuk mendirikan tenda disana. Hehe.. Tenda ini digunakan di pelataran masjid, terutama bagi pengunjung yang membawa keluarga untuk i’tikaf.

Nah, momen i’tikaf ini adalah salah satu hal yang dirindukan dari Ramadan bagi saya pribadi. Suasana i’tikaf ini jarang bisa saya temui di bulan selain bulan Ramadan. Bagaimana seseorang meluangkan waktunya untuk berdiam diri di masjid, memenuhi waktunya untuk beribadah, dan meminimalisir waktu tidur dengan melakukan ibadah. Ini hal yang bisa saya dapatkab ketika sepuluh hari terakhir Ramadan.

Meskipun banyak pula orang-orang yang tak bisa beri’tikaf full selama sepuluh hari, karena alasan pekerjaan yang belum bisa cuti, misalnya, atau kuliah yang belum libur, namun mereka tetap berikhtiar untuk hadir di masjid-masjid. Buat saya, itu keren. Hehe.

Hal lain yang bakal saya rindukan dari Ramadan adalah semarak kajian dimana-mana. Ya, walaupun hari biasa pun sudah banyak jadwal kajian di Bandung, namun ketika Ramadan, kajian semakin banyak, apalagi yang berkaitan dengan Alquran. Teduh sekali melihat banyak orang yang bersemangat menghadiri kajian-kajian Ramadan. Berlomba-lomba dalam kebaikan.

Pernah gak sih merasa, kalau di bulan Ramadan, energi kita jadi jauh lebih besar daripada bulan yang lain? Misal, biasanya saat bulan selain Ramadan, kita hanya sanggup membaca Alquran tiap hari satu juz atau kurang dari itu. Namun begitu Ramadan tiba, banyak orang uang bisa khatam Alquran selama satu bulan. Ada yang bisa khatam satu kali, dua kali, bahkan tiga kali atau lebih. Berarti dalam satu hari minimal ia membaca Alquran sebanyak satu juz atau lebih. Bukankah ini luar biasa? Padahal secara logika manusia, di bulan Ramadan kita lebih lemas, karena tidak makan dan minum di siang hari. Masya Allah….

Oh iya, hampir lupa, bicara sepuluh hari terakhir Ramadan, tentu tidak lepas dari satu malam istimewa, yaitu malam Lailatul Qadr. Ingin sekali bisa mendapatkan kemuliaan di malam itu. Sungguh beruntung orang yang mendapatkan kemuliaan malam Lailatul Qadr. Hidupnya akan berkah. Malam yang lebih baik dari seribu bulan ini gak ada di bulan-bulan lain. Hanya ada di bulan Ramadan. Jika gagal mendapatkan Lailatul Qadr di Ramadan tahun ini, maka kesempatan kita meraihnya ya di Ramadan tahun depan. Itupun jika Allah masih memberikan kesempatan untuk bertemu dengan Ramadan.

Ah, Ramadan terlalu banyak menyimpan hal-hal yang sangat dirindukan kelak. Termasuk lika liku mudik yang biasanya juga akan dihadapi di penghujung Ramadan. Repot tapi menyenangkan. Melelahkan namun membuat bahagia.

Yuk ah, kita manfaatkan sepuluh hari terakhir ini. Masih ada waktu.

Ramadan, semoga kita bisa bertemu kembali!

~ Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu ~

~ Bergeraklah, karena diam berarti kematian ~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *