Institut Ibu Profesional (IIP),  Sharing

Insight dari Gelanggang Inspirasi Founder (Resume #2)

Ini sudah masuk pekan terakhir di bulan Oktober 2021. Artinya, sudah waktunya mengumpulkan resume ke 2 dan 3 sebagai tugas orientasi di Kampung Main. Pekan lalu, alhamdulillah mendapatkan materi yang luar biasa dari gelanggang inspirasi yang berlangsung selama 5 hari.

Ada kemajuan, lho! Kalau sebelumnya dalam 5 hari, saya selalu menjadi tim santai, alias menonton siaran ulang via YouTube, pekan kemarin, ada satu hari saya menjadi tim antusias, alias bergabung melalui Zoom. Sisanya sih masih menonton siaran ulang, hehe. Karena biasanya, dalam sepekan saya sudah ada minimal agenda online di malam hari, dan sisanya, jam tidur anak2, hehe.

Kali ini saya mau sedikit memaparkan mengenai apa yang saya dapatkan dari acara Gelanggang Inspirasi Founder, dimana di acara ini menghadirkan Founding Mother Ibu Profesional.

Siapa beliau? Ah, pastinya semua sudah mengenal beliau.

Yak! Ibu Septi Peni Wulandani. Sosok ibu yang luar biasa, dan menginspirasi ribuan ibu lain untuk bisa menjadi ibu yang profesional, ibu yang produktif, dan tentu saja ibu yang bahagia dalam setiap perannya.

Tema yang disampaikan oleh Ibu Septi kali ini adalah mengenai “Berdaya Bersama Komunitas”. Tema yang sangat bagus, dan sering dicari oleh ibu rumah tangga seperti saya. Biasanya, ibu rumah tangga merasa insecure dengan perannya yang “hanya” di ranah domestik. Banyak pertanyaan seperti, apakah saya akan tetap produktif, apakah saya tetap bisa berdaya, bagaimana saya bisa mengaktualisasi diri, dan sebagainya. Apalagi jika dulunya, ibu meimliki aktivitas yang luar biasa padat di ranah publik, sebelum menjadi ibu rumah tangga. Saya yakin, bukan hanya saya saja yang memiliki pertanyaan dan kegelisahan seperti ini.

Jadi, yuk kita simak paparan dari Ibu Septi berikut!

Waktu yang Tepat untuk Berkomunitas

Kapan waktu yang tepat untuk berkomunitas?

Ibu Septi menjawab bahwa tidak ada patokan khusus mengenai kapan waktu yang tepat untuk berkomunitas. Setiap orang akan berbeda-beda waktunya, tidak bisa disamakan. Oleh karena itu, komunitas Ibu Profesional menerima setiap jenjang usia dan status untuk bergabung. Kapan waktu yang tepat untuk berkomunitas adalah ketika ada rasa lapar dari dalam diri kita. Lapar apa? Rasa lapar untuk memberdayakan diri, rasa lapar untuk bisa berkontribusi, dan berperan aktif. Rasa lapar ini tentunya akan berbeda-beda bagi tiap orang. Jadi, kapanpun rasa lapar ini datang, maka saat itulah saat untuk berkomunitas.

Komunitas = Mencintai Tanpa Tapi

Ketika melahirkan komunitas, sama dengan melahirkan anak. Bagaimana perjuangan panjang ketika hamil dan melahirkan, lalu membesarkannya. Bukan anak yang membutuhkan kita, namun kitalah yang membutuhkan anak untuk bisa meningkatkan perann kita di mata Allah. Begitu pula dengan komunitas. Bukan komunitas yang membutuhkan kita, namun kitalah yang membutuhkan komuniitas, untuk memenuhi rasa lapar yang muncul dari dalam diri kita. Memeperlakukan komunitas, seperti pada anak, mencintai tanpa tapi, agar muncul aksi-aksi yang produktif. Berbinar di rumah, dan berbinar di komunitas.

Komunitas Ibu Profesional pun memiliki proses yang panjang dan bertahun-tahun. Ia adalah buah dari konsistensi diri yang dipupuk selama bertahun-tahun. Melahirkan komunitas, mmelahirkan sebuah ide dan gagasan, adalah rangkaian proses yang panjang dan tidak instan.

Ibu Septi Wulandani

Berkomunitas,Memberi Dampak yang Luas

Sepanjang perjalanan komunitas Ibu Profesional, ada banyak kisah yang berkesan dan tak terlupakan. Ibu Profesional menyasar seluruh kalangan dari ibu yang ada di masyarakat, tak peduli perbedaan usia, pendidikan, maupun strata sosial. Menjadi seorang ibu pembelajar, akan membuat mindset pada anak dan menanamkan kepercayaan diri pada anak. Anak akan melihat, bahwa ibunya adalah seorang yang senang belajar, sehingga ia akan mencontoh. Dampaknya bisa terasa, meskipun kelak saat anak-anak sudah dewasa.

Naik Turun dalam Berkomunitas

Dalam hal apapun, pasti ada masanya kita mengalami kejenuhan, atau semangat yang menurun. Begitupun dalam berkomunitas. Ibu Septi pun pernah mengalami hal ini. Dan yang beliau lakukan adalah melakukan jeda/break sejanak dari aktivitas berkomunitas. Namun tetap diberi tenggat waktu, hingga kapan melakukan jeda tersebut. Saat jeda, tidak memikirkan segala sesuatu tentang komunitas, lalu diri akan merasa lebih rileks, dan bisa kembali dengan semangat yang lebih besar.

Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Berkomunitas

Pertama, lihat siapa founder atau leader komunitas tersebut. Biasanya, founder atau leader komunitas, akan menggambarkan bagaimana member komunitas tersebut. Lihat value yang dibawa, apakah sesuai dengan nilai yang kita anut, atau prinsip dalam keluarga kita. Kemudian, pahami bagaimana cara bergabungnya, aturan-aturan di dalamnya, dan bagaimana keluar dari komunitas tersebut. Agar jika suatu saat kita memang memilih untuk keluar dari komunitas tersebut, maka kita akan keluar dengan baik-baik, sehingga kesan yang diperoleh tetap baik.

Berkomunitas dengan Bahagia

Salah satu tips dalam berkomunitas agar kita berbahagia adalah ambillah peran, jangan menunggu untuk diberikan peran. Ambil peran yang membuat diri bahagia. Dengan berbahagia,aka seluruh energi kita akan optimal, dan peran-peran kita akan luar biasa. Komunitas besar bukan karena founder atau leadernya, namun karena kita yang turut serta mengambil peran dan aktif di dalamnya.

Yuk, berkomunitas dengan bahagia!

#Resume2

#Gelangganginspirasifounder

#orientasikampungkomunitas

#balaimaingembira

#ibuprofesional2021

#komunitasibuprofesional

#kampungmain3

#semestakaryauntukindonesia

#salamberprestasi

#PrestAsyik

Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu

Bergeraklah, karena diam berarti kematian

Rini Inggriani

Ibu dengan tiga anak. Menulis adalah salah satu cara self healing dan berdialog degan dirinya sendiri. Interest dengan menulis, jurnaling, hand lettering, dan berkomunitas :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *