Place to Visit / Tempat Makan

Makan dan Menikmati Udara Segar di 150 Coffee & Garden

Setahun Pandemi

Pandemi sudah setahun. Tampaknya masyarakat sudah banyak yang hidup berdamai dengan kondisi ini. Pada awalnya, kita semua mungkin kaget, dan bingung bagaimana menghadapi pandemi ini. Semua serba tidak menentu, kekhawatiran akan kesehatan diri dan keluarga, sepanjang tahun ini mendengar kabar duka, dan juga adaptasi dengan kebiasaan normal baru. Setelah satu tahun, semua harus kembali berbenah, bukan? Hidup harus terus berjalan.

Begitupun dengan keluarga kami. Kami perkembangan pandemi ini. Anak yang melaksanakan pembelajaran jarak jauh, suami yang bekerja dari rumah, adalah bentuk adaptasi yang juga kami lakukan. Biasanya di akhir pekan kami akan pergi entah untuk menghadiri acara, maupun pergi bersama anak-anak ke tempat wisata atau bermain di tempat terbuka.

Memilih Tempat Terbuka Bersama Keluarga

Ketika pandemi, kami memilih untuk tetap di rumah, kecuali jika ada keperluan yang mengharuskan kami untuk keluar rumah. Tapi, seperti kebanyakan orang, tentu setahun pandemi ini sudah membuat diri jenuh. Ditambah memiliki anak-anak yang masih kecil, seringkali kami membutuhkan tempat terbuka untuk membebaskan mereka berlari kesana kemari untuk menghabiskan energi. Kami juga sudah lama tidak pergi ke tempat wisata ataupun berkunjung ke luar kota.

Saat memilih tempat yang akan kami kunjungi bersama anak-anak, tentunya kami akan memilih tempat yang menerapkan protokol kesehatan yang bagus, memiliki ruang terbuka yang cukup luas, sehingga memungkinkan untuk menjaga jarak dengan pengunjung lain, dan juga memilih waktu kunjungan bukan di waktu ramai.

Mengunjungi 150 Coffee & Garden

Beberapa waktu lalu, kami pergi ke 150 Coffee & Garden. Tempatnya tidak jauh dari rumah kami. Lokasi tepatnya ada di Jalan Sulaksana No. 50. Dari review beberapa teman, dan coba cek di instagramnya, kami akhirnya memutuskan untuk membawa anak-anak kesini.

Kunjungan pertama kami waktu itu di hari Ahad, sekitar pukul 13.00 WIB. Pengunjung saat itu memang agak ramai, tapi kami bisa mendapatkan tempat di area lesehan dan menyewa bean bag. Untuk menyewa bean bag, pengunjung dikenakan biaya 20.000/bean bag, atau 50.000/3 bean bag. Kami menyewa 3 bean bag.

Area terbuka dan bisa menyewa bean bag

Tempatnya cukup luas. Ada beberapa tempat makan yang bisa kita pilih. Konsepnya memang seperti di alam terbuka, dengan nuansa warna coklat. Kesan pertama saat berkunjung disana, seperti bukan di tengah kota. tapi seperti sedang berada di Lembang atau Dago Atas, hehehehe. Ada ruang terbuka yang cukup luas, banyak tanaman yang tumbuh disana, ada kolam bunga teratai yang mendukung suasana di alam terbuka.

Kolam dengan bunga teratai

Dari segi makanan, ada beberapa pilihan makanan berat, cemilan, dan juga minuman. Minuman yang disediakan disini pun tidak hanya kopi. Jadi, bagi yang bukan penikmat kopi, atau membawa anak-anak, bisa memesan minuman selain kopi. Harga makanannya terbilang cukup affordable. Memang yang dijanjikan oleh tempat ini adalah view yang bisa dinikmati oleh pengunjung.

Daftar menu 150 Coffee & Garden

Menghabiskan Waktu Bersama Keluarga

Kami cukup puas datang ke tempat ini. Anak-anak pun merasa senang. Ahad itu, adik ipar juga baru datang ke Bandung, setelah setahun lebih kami tidak dapat bertemu, karena terhalang pandemi. Kami mengajak mertua, adik ipar dan keluarganya untuk janjian di tempat ini keesokan harinya, di hari Senin. Alhamdulillah semua sepakat.

Keesokan harinya, kami pergi ke 150 Coffee & Garden sekitar pukul 09.00 WIB. Ternyata masih sepi. Pengunjung disana hanya kami sekeluarga dan 2 pengunjung lainnya. Waah, kami bisa menikmati area kafe ini dengan leluasa. Anak-anakpun berlari dan bermain sepuasnya. Oh iya, kafe ini buka dari pukul 07.00 WIB pagi.

Selama bulan Ramadhan, kafe buka mulai dari jam 14.00 WIB. Untuk info lebih lanjut bisa ikuti info yang ada di instagram mereka.

Alhamdulillah, kami menemukan alternatif tempat untuk beraktivitas bersama keluarga, dan tempatnya pun tidak jauh dari rumah. Alhamdulillaah ‘ala kulli haal…

“Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu, bergeraklah, karena diam berarti kematian”

Rini Inggriani

Author

yahdi@tass.telkomuniversity.ac.id
Ibu dengan tiga anak. Menulis adalah salah satu cara self healing dan berdialog degan dirinya sendiri. Interest dengan menulis, jurnaling, hand lettering, dan berkomunitas :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Blog untuk Kini dan Nanti

April 15, 2021