Blogging / Mamah Gajah Ngeblog / Review Film

Review Film “Coco”, Tentang Cita-cita dan Keluarga

Liburan sekolah sudah tiba. Namun, kami masih belum bisa pergi kemana-mana. Masih dalam pandemi yang belum usai. Apalagi di tempat kami, Bandung, saat ini sedang zona merah. Hampir setiap hari ada berita teman-teman atau keluarganya yang terkonfirmasi positif, atau teman-teman yang kehilangan keluarganya. Dengan kondisi seperti ini, anak-anak pun banyak menghabiskan waktu di rumah. Kadang mereka bosan, atau orang tuanya yang mati gaya untuk membuat anak-anak tetap gembira, meskipun di rumah saja. Kami jadi menjadwalkan nonton film bareng anak-anak untuk variasi kegiatan selama di rumah, sekaligus sebagai hiburan untuk anak-anak.

Sudah ada beberapa film yang kami tonton bersama anak-anak. Biasanya, kami menonton di Disney+ Hotstar, atau Netflix. Salah satu film yang kami tonton adalah Coco. Nah, ternyata, Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Juni ini adalah mengenai review film keluarga. Maka saya mengambil film Coco sebagai bahan untuk menaklukkan tantangan ini. Meskipun kali ini, saya menjadi tim pejuang deadline. Semoga berhasil!

Detail Film

Judul Film : Coco

Sutradara : Lee Unkrich

Penulis Skenario : Adrian Molina

Produser : Darla K. Anderson

Produksi : Pixar Animation Studio dan Walt Disney Pictures

Tahun : 2017

Musik adalah Kutukan

Film ini mengisahkan tentang seorang anak bernama Miguel, yang memiliki mimpi menjadi seorang musisi handal seperti Ernesto de la Cruz, musisi legendaris di daerahnya. Namun, keinginan Miguel ini ditentang oleh keluarganya, karena pengalaman pahit yang dialami oleh keluarganya di masa lalu. Nenek buyut Miguel, Imelda Rivera, dan putrinya, Coco, ditinggalkan oleh suaminya yang berprofesi sebagai seorang musisi. Sejak saat itu, musik menjadi musuh bagi keluarga mereka. Keluarga ini kemudian beralih menjadi pembuat sepatu, dan tidak membiarkan anak dan keturunannya ada yang berhubungan dengan musik. Bahkan, tetangganya pun tidak diperbolehkan bermain musik, ataupun bernyanyi, di dekat keluarga mereka. Keluarga Miguel menganggap musik adalah kutukan.

Mengikuti Ajang Pemilihan Bakat

Saat Miguel sedang menjadi penyemir sepatu di taman kota dekat rumahnya, ia bertemu seorang musisi dan menceritakan cita-citanya untuk bermain musik pada musisi tersebut. Lalu ia diberikan informasi bahwa akan ada ajang pemilihan bakat di taman kota itu. Miguel pun tertarik untuk mengikutinya. Miguel dipinjamkan gitar oleh musisi tersebut, saat ingin memainkan gitar, neneknya melihat dan langsung memarahinya.

Waktu pemilihan bakat telah tiba, ia sembunyi-sembunyi keluar rumah dengan membawa gitar miliknya. Namun tidak berhasil, dan gitar miliknya terlihat oleh sang nenek. Saat itu pula, neneknya langsung menghancurkan gitar tersebut.

Namun, ia tidak menyerah sampai di situ. Ia tetap berangkat ke taman kota, dan berusaha untuk meminjam gitar dari para musisi yang hadir di sana. Namun tidak ada yang meminjamkannya. Dan saat ingin mendaftar dalam ajang itu, ia tidak diperbolehkan karena tidak membawa alat musik.

Die de Muertos (Hari Kematian)

Di Meksiko ada sebuah perayaan yang disebut Die de los Muertos atau Hari Kematian. Perayaan itu dipercaya menjadi reuni keluarga besar antara dua dunia, kehidupan dan kematian. Itu bukanlah momen untuk berduka, melainkan mengingat kembali anggota keluarga dan orang-orang yang telah berpulang, menjaganya agar tetap dekat di hati.

Saat perayaan Hari Kematian di keluarganya, Miguel menemukan foto keluarga nenek buyutnya, Mama Imelda yang tidak utuh. Foto nenek buyutnya, putrinya, Mama Coco, dan seorang pria memegang gitar. Foto bagian kepala pria itu sudah sobek. Namun Miguel mengenali gitar yang ada dalam foto tersebut adalah gitar musisi terkenal, Ernesto de la Cruz. Miguel yakin bahwa ia adalah cucu buyut dari musisi tersebut. Miguel semakin mantap untuk mengejar cita-citanya sebagai seorang musisi.

Ernesto de la Cruz, memiliki pemakaman yang spesial di dekat rumahnya. Ia seakan sangat dicintai oleh penggemarnya. Terdapat gitar miliknya di dalam pemakaman. Miguel langsung berpikir untuk meminjam sejenak gitar yang ada di makam Ernesto de la Cruz, hanya untuk acara pemilihan bakat.

Namun, saat ia sudah meraih gitar itu, ia menjadi seorang arwah yang masuk dalam dunia kematian (Land of Dead). Di situ ia menemui leluhurnya dan mencoba untuk menceritakan cita-citanya. Leluhurnya pun tidak merestuinya.

Ia terus mencari cara untuk bisa menjadi seorang musisi. Melihat di dunia kematian terdapat sang idola, ia mencoba untuk menemuinya dan meminta restu darinya. Itu dikarenakan ia merasa bahwa Ernesto de la Cruz adalah kakek buyutnya. Lantas ia mencari cara untuk bisa menemui Ernesto de la Cruz, dan meminta izin untuk menjadi seorang musisi.

Dalam perjalanan menemui Ernesto de la Cruz, ia bertemu dengan seseorang yang bernama Hector. Hector membantunya menemui Ernesto de la Cruz dengan imbalan membawa foto dirinya ke dunia nyata, agar dapat mengunjungi keluarganya di sana.

Apakah Miguel berhasil menemui Ernesto de la Cruz dan meminta restunya untuk menjadi musisi? Bagaimana dengan leluhur Miguel yang lain? Apakah keluarga Miguel tetap meminta Miguel menjadi pembuat sepatu?

Ulasan Film

Pada awalnya, saya dan anak-anak tidak melanjutkan untuk menonton film Coco hingga selesai.

Apa sebabnya? Saat Miguel menjadi arwah karena ia mengambil gitar Ernesto de la Cruz, lalu muncul tokoh-tokoh dari dunia kematian yang berupa tengkorak, anak-anak sempat takut, dan kami mengira bahwa ini film horor. Hehe..

Namun, beberapa hari kemudian, akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan menonton film Coco, karena testimoni dari adik ipar, bahwa film Coco ini bagus. Dan ternyata memang benar! Film Coco ini bagus! Gak nyesel deh untuk menonton sampai akhir.

Film besutan Lee Unkrich, yang juga merupakan sutradara Toy Story 2 dan Toy Story 3, menyajikan animasi yang penuh warna yang memanjakan penontonnya. Meskipun tema film ini banyak berbicara tentang kematian, namun tidak disajikan dalam nuansa gelap, suram, justru dibuat penuh warna yang memikat. Dunia Kematian dibuat dengan berbagai gemerlap yang menakjubkan, menampilkan imajinasi yang luas dan kaya. Kualitas teknologi animasi yang dibawakan oleh Pixar Studio ini pun sudah tidak diragukan lagi.

Tidak hanya nilai-nilai kehidupan yang disuguhkan Coco. Pilihan lagu yang mengiringi film ini juga memberi warna dan nuansa tepat dalam setiap momen yang disuguhkan. Karena di film ini bercerita tentang Miguel yang ingin menjadi musisi, maka ada banyak lagu dan nyanyian dalam film ini.

Penonton diajak untuk mengenali salah satu budaya yang ada di Meksiko, yaitu perayaan hari kematian. Membawa kita pada makna kematian orang-orang tercinta. Bahwa mereka yang telah mendahului kita, sejatinya tak pernah hilang, mereka akan selalu hidup dalam setiap kenangan kita. Kematian hanyalah berbeda dunia saja, untuk kelak akan bersama kembali dengan orang-orang tercinta.

Untuk mengangkat budaya Meksiko ini, tim Pixar tidak main-main, lho! Film ini mulai dikerjakan di tahun 2011 dengan beberapa kunjungan penelitian ke Meksiko. Pixar Animation Studio turut berkolaborasi dengan tim konsultan budaya. Hal itu dilakukan mereka agar bisa menghidupkan cerita serta mempertimbangkan seluruh detail. Mereka juga turut mengunjungi museum, pasar, plaza, gereja, hingga kuburan di Meksiko yang menjadi inspirasi untuk menciptakan kota fiksi Santa Cecilia secara akurat. Butuh waktu enam tahun hingga film ini keluar di tahun 2017.

Oh iya, ada dua nilai yang sangat membekas bagi saya dari perjalanan anak berumur 12 tahun dalam film ini. Pertama, bagaimana mimpi bisa menjadikan seseorang memiliki energi yang besar untuk mewujudkannya, dan membuatnya mampu melewati tantangan sebesar apapun yang akan menghalanginya. Kedua, film ini mengajarkan mengenai arti kejujuran, kebersamaan dan pentingnya keluarga. Keluarga adalah orang-orang yang akan selalu mendukung dalam setiap keadaan. Sejauh apapun kita melangkah, maka tempat terbaik untuk kembali adalah di tengah-tengah keluarga.

Satu hal yang membuat Coco menjadi menarik bagi saya adalah di akhir cerita, penonton dikejutkan dengan adanya plot twist yang tak terduga. Saya bahkan tidak pernah berpikir bahwa akhirnya akan semenawan ini. Penasaran dengan kisah Miguel dan keluarganya? Film ini bisa jadi list tontonan berikutnya bareng keluarga, lho!

Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu

Bergeraklah, karena diam berarti kematian

Rini Inggriani

Author

yahdi@tass.telkomuniversity.ac.id
Ibu dengan tiga anak. Menulis adalah salah satu cara self healing dan berdialog degan dirinya sendiri. Interest dengan menulis, jurnaling, hand lettering, dan berkomunitas :)

Comments

July 2, 2021 at 3:16 pm

Aku juga suka film ini. Ceritanya dalam sekali dan penuh makna walaupun ditujukan untuk anak anak. Terimakasih reviewnya teh.



July 3, 2021 at 1:17 pm

Pixar memang totalitas banget kalau bikin. Survey dan penelitiannya sampai dalam sekali. Hmmm, anakku suka ga ya film ini? Hehe



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *