Jalan-jalan Saat Puasa, Why Not?

Sudah hari kedua mengikuti tantangan ngeblog yang diadakan oleh Indscript Writing. Doakan semoga saya bisa finish sampai akhir yaa…

Memasuki hari kedua belas berpuasa, aroma-aroma THR dan lebaran sudah mulai tercium ya… Hehe… Persiapan mudik atau lebaran biasanya sudah ada yamg memulai di sepuluh hari kedua. Meskipun lebaran masih jauh, namun banyak juga yang sudah mempersiapkan sejak awal.

Mudik biasanya dilakukan di akhir bulan Ramadan atau setelah Idul Fitri. Setelah pegawai kantor atau pelajar memasuki libur lebaran. Dan, tujuan utama mudik biasanya adalah untuk silaturahim dengan sanak saudara, orangtua, dan kerabat lain yang jarang bertemu di hari-hari lain.

Nah, sebelum mudik dan persiapan lebaran lainnya, saat Ramadan, seringkah teman-teman jalan-jalan saat puasa? Biasanya nih, saat sedang puasa, kita menghindari jalan-jalan. Kenapa?

Ada beberapa pertimbangan. Pertama, biar ‘gak terlalu lelah. Apalagi kalau jalan-jalan saat puasa bareng anak-anak yang sedang puasa juga. Khawatir jika anak-anak nanti kelelahan, lalu mereka meminta untuk berbuka lebih cepat. Hehe… Sayang ‘kan? Pertimbangan selanjutnya, tidak bisa makan saat jalan-jalan di siang hari. Biasanya, saat jalan-jalan, lalu perut terasa lapar, kita akan mampir ke restoran atau tempat makan. Tapi, karena sedang puasa, jadi opsi ini pun tidak ada. Atau mau janjian sama teman, bertemu untuk ngobrol-ngobrol, yang biasanya opsibpaling banyak dipilih adalah di tempat makan, kali ini pun tidak bisa. ‘Gak mungkin hanya numpang duduk di tempat makan, bukan? 🙂

Tapi, benarkah jalan-jalan saat puasa sebegitu melelahkannya? Padahal, acara jalan-jalan bisa jadi satu alternatif untuk mengisi waktu luang saat puasa, apalagi bagi anak-anak yang biasanya saat Ramadan, sekolah akan diliburkan menjelang lebaran. Jalan-jalan bisa membuat anak-anak lupa kalau mereka sedang berpuasa, karena mereka asyik menikmati acara jalan-jalan.

Tahun lalu, saat anak pertama saya berusia 4 tahun, ia mulai belajar berpuasa. Sahurnya memang fleksibel, jam berapapun saat ia bangun pagi. Kadang jam setengah lima, kadang jam lima, atau jam enam. Tapi, alhamdulillah selalu sampai Maghrib. Tahun lalu kami pernah jalan-jalan saat puasa ke Floating Market dan Kota Mini di Lembang.

Jalan menuju Lembang saat itu sangat sepi. Tidak ramai seperti biasanya. Maklum, sedang berpuasa, tempat-tempat wisata cenderung lebih sepi. Tapi saat waktu menjelang berbuka, jalan-jalan biasanya macet, banyak orang yang buka bersama dengan kerabat mereka. Di Floating Market pun, pengunjung terbilang sepi untuk ukuran tempat wisata di Lembang. Kondisi yang sepi ini bagi keluarga kami malah menjadi keuntungan tersendiri. Tidak harus antri untuk mencoba fasilitas tertentu, dan kalau menemukan spot yang bagus untuk berfoto, bisa langsung berfoto, tanpa desak-desakan dengan pengunjung yang ramai. Hehe…

Minusnya hanya ‘gak bisa makan siang aja, meskipun tempat makan di Floting Market tetap buka.

Alhamdulillah anak saya saat itu tetap bisa menikmati jalan-jalan, meskipun dalam keadaan belajar berpuasa. Saat di Kota Mini, anak saya mengikuti beberapa arena role play, salah satunya menjadi koki. Disini, setelah beres membuat permen atau makanan lainnya, makanan tersebut bisa dibawa pulang oleh anak. Saya dan suami sempet deg-degan juga, apakah anak kami akan tergoda dengan makanan, dan akhirnya minta berbuka. Tapi ternyata, anak kami tetap melanjutkan berpuasa, meskipun ia melihat ada anak yang langsung memakan permen buatanya. Sekantung arumanis dibawa pulang oleh anak kami.

Selama berada di Kota Mini, anak tetap happy dan ceria seperti biasanya. Tidak jadi lemes, mungkin karena ia lupa kalau sedang berpuasa. Pulang dari sana, di perjalanan baru terasa lemes, karena dia dalam mobil, jadi anak tidak ada aktivitas tertentu. Hanya duduk menikmati perjalanan. Kami bujuk untuk tidur saja sambil menunggu waktu berbuka. Alhamdulillah, puasa anak hari itu tidak batal dengan pergi jalan-jalan.

Jadi, saat kita mengajak anak untuk jalan-jalan saat puasa, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, anak di-briefing terlebih dahulu, bahwa kita akan jalan-jalan, anak bisa melakukan apa saja, kecuali makan dan minum. Saat sahur, anak dianjurkan minum yang banyak. Lalu, pilih tempat wisata yang memiliki fasilitas bermain yang disukai oleh anak-anak, dan relatif sepi pada bulan Ramadan. Dampingi anak-anak selalu, agar saat ia mulai lelah, kita bisa menyemangatinya untuk tetap berpuasa bila ia kuat, dan kalau tidak kuat, ya berbuka. Apalagi untuk anak-anak yang masih dalam tahap belajat puasa.

Jangankan anak-anak, kita sebagai orang dewsa saja kadang merasa lelah saat jalan-jalan di bulan puasa, apalagi anak-anak. Hehe..

Oh iya, satu hal, puasa itu bukan berarti kita jadi males ngapa-ngapain ya… Puasa tetap harus produktif juga. Meskipun memang tetap melihat kondisi kita.

Semoga puasanya lancar ya, teman-teman!

~ Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu ~

~ Bergeraklah, karena diam berarti kematian ~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *