5 Fakta tentang Rini Inggriani

Menginjak hari keenam BPN 30 Day Challenge, saya sudah mulai merasa kesulitan dengan tema yang ditentukan. Hehehe…. 🙂

Bener deh, tema hari ini buat saya maju mundur untuk menuliskannya. Temanya adalah 5 fakta tentang diri sendiri. Waah… Awalnya saya ga ada ide sama sekali untuk menuliskan apa. Satu aja sulit, apalagi diminta lima.. Hehe… 😄

Tapi akhirnya saya beranikan diri untuk menuliskannya, bismillaah.. Semoga bukan untuk narsis ya.. Tapi lebih untuk menjadi bahan evaluasi diri sendiri juga. Hehe… Kadang, kalau ga ada momennya atau kalau ga dipaksa, evaluasi diri cuma jadi angan-angan aja. Hehe..

Inilah 5 fakta tentang diri saya yang mungkin belum banyak orang yang tahu. Hehehe.. Sok artis banget yaa… 🙂

Introvert. Sejatinya, saya adalah orang yang introvert. Tempat favorit saya dulu adalah menyendiri di dalam kamar, menulis di buku catatan, corat coeret di kertas tentang apa yang saya pikirkan, dan lain sebagainya. Saya ;lebih merasa nyaman untuk menyimpan semua perasaan rapat-rapat dalam diri. hanya bagian-bagian tertentu yang biasannya saya ceritakan pada orang lain. Itu pun tidak bisa ke sembarang orang. Apalagi ditambah ada beberapa pengalaman yang justru membuat saya semakin memilih untuk tidak menceritakan detail pada orang lain. Karena beberapa kali saya mengalami kesulitan untuk menyampaikan maksud saya, lalu akhirnya terjadi miskomunikasi. Ujung-ujungnya jadi ga enak, dan akhirnya saya memilih untuk diam 🙂 Hehe. .. Namun setelah menikah, alhamdulillah saya memiliki tempat untuk berbagi semua cerita, berbagi semua perasaan yang hadir dalam diri saya, menceritakan hal-hal yang mungkin bagi orang lain, receh banget, hehe, sampai menceritakan mimpi-mimpi besar saya. Ya, siapa lagi kalau bukan pada suami. Alhamdulillah juga dikaruniakan suami yang menjadi pendengar setia istrinya. 😀 Ternyata salah satu hikmah menikah adalah membuat seseorang yang introvert akan terbuka sejadi-jadinya.. Hahaha… Peace 😀

Pemalu. Jangan ada yang protes yaa, pliss… hehe. Mungkin, bagi sebagian orang yang sudah cukup mengenal dekat saya, tidak akan percaya ketika saya katakan bahwa saya ini pemalu. tapi ini bener loh… Hehe… Dari saya kecil hingga sebesar ini, sifat ini masih ada dalam diri saya. Saya merasa sulit untuk memulai berkenalan dan mengobrol dengan orang baru, saya merasa malu untuk berdekatan dengan orang-orang yang belum saya kenal dekat, atau saat hadir di acara-acara tertentu pun, rasa malu ini kerap menghinggapi saya.

Pernah mengalami pendarahan di otak. Meskipun bukan kasus pendarahan yang berat, tapi saat kejadian itu, beberapa aktivitas saya cukup terganggu. Saat itu saya masih duduk di bangku kelas 2 SMA. Beberapa hari saya mengalami rasa sakita yang sangat hebat di bagian belakang kepala bawah. Awalnya saya pikir karena saat itu saya sudah beberapa hari pulang sore, dan tidur sedikit karena tugas sekolah. Bisa saja karena kecapean, lalu muncullah rasa sakit kepala itu. Namun, ternyata semakin hari semakin berat. Seperti dipukul oleh benda yang keras berkali-kali. Akhirnya saya memutuskan untuk memeriksakan diri ke klinik sekolah. Dokter pun mengira karena kecapean dan tidur yang kurang. Saya diberi obat untuk meringankan sakit. Seminggu kemudian, ternyata tidak berubah. Saya kembali ke klinik sekolah, lalu diberi obat. Jika dalam tiga hari ke RS. Ternyata setelah 3 hari pun tidak berubah. Akhirnya saya dirujuk ke RS. Di RS, saya kembali diberi obat, menjalani pemeriksaan, hingga akhirnya disarankan untuk CT Scan. Dari sanalah baru ketahuan, bahwa ada pendarahan di otak, dan ada bagian otak saya yang mengecil karena pendarahan tersebut. Ini cerita lengkapnya kalau ditulis disini bisa panjang banget 🙂 Jadi untuk saat ini, saya skip dulu ya hehe…

Tahun 2016 adalah salah satu tahun yang cukup “wah” untuk saya. Kenapa? Memangnya tahun yang lain tidak berkesan?

Hehe.. Bukan begitu. Setiap tahun, pasti ada hikmah dan merupakan anugerah yang besar dari Allah. Saya masih bisa menghirup udaraNya dengan bebas, masih diberikan kesempatan untuk beramal, dan lain-lain. Namun di tahun 2016 ini saya merasakan nikmat yang luar biasa bertubi-tubi dari awal hingga akhir tahun. Di awal tahun ini saya memang membuat resolusi tahun tersebut secara detail, baik sebagai seorang hamba Allah, peran-peran sebagai istri, ibu, anak, kakak, dan lain-lain, juga sebagai seorang pribadi. Sampai ke hal-hal seperti tempat mana yang ingin saya kunjungi, semua saya tuliskan. Semua saya jabarkan dalam kertas A3. Lalu saya komunikasikan kepada suami, dan tentunya memohon pada Allah agar dikuatkan dalam menjalani resolusi tersebut. Ternyata Allah menjawab do’a-do’a saya. Allah memberikan nikmat yang tak habis-habisnya saya syukuri sampai saat ini. Apa yang saya tuliskan dalam resolusi 2016, ternyata bisa terealisasi hampir 80%. Buat saya, ini pencapaian yang tidak mudah.  Biidznillaah… Mulai dari operasi lasik, buku solo saya lahir di tahun ini, buku antologi juga menyusul 2 bulan kemudian, hamil anak kedua, bisa mengunjungi wishlist tempat impian, dan masih banyak lagi. Alhamdulillaah 🙂

Terakhir, fakta yang kelima adalah menikah dengan seseorang yang dulu saya sempat berpikir, “Apa ga ada ikhwan lain lagi?” wkwkwkw… Bukan apa-apa, saya dan suami dulu termasuk sering berantem hehe… Kami sama-sama satu organisasi, dan lebih sering beradu argumen ketimbang akurnya. Maka, saat disodorkan nama untuk ta’aruf, saya speechless. Lalu galau, tapi akhirnya, istikharah yang jadi jalannya. Allah yang menunjukkan bahwa ya memang insya Allah dia adalah jodoh saya. Hehe.. Kalau ditanya sekarang bagaimna? Sekarang, saya sangat bersyukur memiliki suami yang luar biasa. Pengertian dan sabar menghadapi istri yangg introvert tapi cerewet dan kadang suka labil ini hehe… 😀

Itu  5 fakta tentang saya. Rini Inggriani. 🙂

Tulisan ini sebenernya membuat saya menjadi banyak bersyukur atas apa yang sudah Allah berikan selama saya hidup di dunia ini. Dan semoga menjadi catatan kecil utnuk evaluasi, biar bisa jadi pribadi yang lebih kece di hadapan Allah tentunya.

 

~ Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu ~

~ Bergeraklah, karena diam berarti kematian ~ 

Media Sosial Bagi Saya

  • Welcoming weekend 🙂

Ada yang merasakan hal yang sama dengan saya gak sih? Weekend itu bukannya waktu leyeh-leyeh di rumah seharian atau waktu santai, tapi ternyata weekend itu malah lebih sibuk daripada weekday? 🙂

Yes, buat saya, weekend itu jauh lebih sibuk dibandingkan weekday. Kalau weekend bisa berangkat pagi, sampe rumah malem. kalau weeekend, karena tidak bekerja di ranah publik, otomatis aktivitas banyak dilakukan di rumah. Paling hanya rutinitas antar jemput anak sekolah ( yang deket banget dari rumah, hehe..:)), atau misal lagi ingin ajak anak jalan keman, setelah sepulang sekolah. Itu aja.

Tapi kalau weekend, semua full dilakukan di dua hari itu. Ya pengajian, ya rapat organisasi, ya silaturahim mengunjungi orangtua, atau ajak jalan anak-anak bareng suami, dan masih banyak lagi, Rasa-rasanya badan kalau beres weekend udah kayak habis kerja keras banget. Hehe.. Dan seringnya, di weekend, justru target harian pribadi saya sering tidak terlaksana. Hiks.. Makanya bela-belain nulis, ngedraft, biar tetep bisa setor challenge BPN ini. Alhamdulillah, kerasa banget manfaat challenge ini.

Prolognya panjang bener ya… 🙂

Tema kali ini tentang media sosial.

Wuiih… ini tema yang dekat sekali dengan kita saat ini ya. Apalagi seorang blogger, pasti akan mengoptimalkan media sosialnya untuk melakukan branding, memviralkan tulisannya, atau menaikkan traffic pengunjung blognya, Betul apa betul? 🙂

Ya, media sosial memang sesuatu yang sulit dihindari saat ini. Zaman sudah mengalami perkembangan teknologi sedemikian pesatnya, dan memiliki pengaruh yang sangat besar bagi kehidupan manusia di dalamnya. Termasuk dalam hal komunikasi antar manusia.

Media sosial menjadi salah satu alat berkomunikasi saat ini. Teman lama yang sudah bertahun-tahun kita tidak bertemu, bisa kita dapatkan kabarnya saat ini melalui media sosial. Media sosial juga digunakan untuk membuat jejaring pertemanan yang lebih luas lagi.

Saya bukanlah tipe orang yang pansos kalau kata anak sekarang. Alias panjat sosial. Yang pengen follower sekian-sekian dalam waktu berapa lama, atau tipe yang harus begini begitu dalam menggunakan media sosial.

Media sosial memang penting dan dapat memberikan pengaruh yang positif bila digunakan secara proporsional, namun, bukan berarti waktu kita habis begitu saja karena kita terlalu asyik untuk scrolling timeline media sosial yang kita miliki.

Apalagi buat emak-emak dengan dua anak kecil seperti saya, ga sanggup kalau harus update setiap waktu. hehe.

Media sosial dapat kita gunakan sebagai sarana branding diri, berbagi,  dan juga menjalin silaturahim dengan lebih banyak orang. Namun, media sosial pun pernah menjadi ujian dan godaan bagi diri saya. Betapa tidak, saya yang setiap hari di rumah, kalau melihat pencapaian teman-teman seangkatan saya yang sudah “wah”, terkadang ada perasaan minder yang tiba-tiba menghampiri. Merasa kalau saya tidak memiliki progress yang membanggakan dalam perjalanan kehidupan saya. Wehehehe.. Baper deh. Kadang saya bisa unfollow akun tertentu untuk menjaga mood ketika saya mungkin dalam kondisi kurang “waras” Hehe… Tapi kalau udah balik lagi warasnya, rasa syukurnya sudah kembali di-install, biasanya saya follow lagi.. hehe.. Benar-benar jadi sarana belajar menata hati hehe…

Benar ya, segala sesuatu itu ada sisi positif dan negatifnya. Seperti dua sisi mata uang, media sosial pun bisa menjadi hal yang positif, atau negatif, tergantung bagaimana kita menggunakannya, dan menyikapinya. Oh iya, satu hal yang saya lakukan, biasanya saya membatasi waktu untuk menjelajah di media sosial. Sebab saya masih sangat ingin “hadir” di dunia nyata, menyapa orang-orang terdekat kita.

Karena saat kita ditimpa kesusahan, yang pertama menolong adalah orang-orang terdekat kita, bukan follower kita, bukan? Hehe…

Ingin menikmati real life yang hakiki 🙂 Peace ah…

Ada yang punya pengalaman unik dalam bermedia sosial, share yuk!

~ Bersegeralah, akrena waktu takkan menantimu ~

~ Bergeraklah, karena diam berarti kematian ~

Gabung di Blogger Perempuan Network, Seru!

Bismillaah…

Alhamdulillaah masuk hari keempat challenge. Insyaallah masih tetap semangat, meskipun harus curi-curi waktu untuk menulis. Hehe… 🙂

Tema hari ini, tentang alasan bergabung di Blogger Perempuan Network.

Sebenernya resmi bergabung dengan komunitas Blogger Perempuan Network ini belum terlalu lama kalau dibandingkan dengan teman-teman blogger yang lain. Jadi masih junior lah. Hehe… Tapi kalau ngikutin media sosialnya Blogger Perempuan ini udah lama banget. Jadi selalu dapet update info tentang Blogger Perempuan.

Kembali ke pertanyaan kenapa sih gabung di Blogger Perempuan Network?

Saya ingin belajar lebih banyak. Ya, itu. Motivasi utamanya untuk belajar dan meningkatkan kapasitas diri. Baik kapasitas diri secara teknis maupun secara sosial.

Semenjak resign di tahun 2014 lalu, menulis adalah pilihan bidang yang ingin saya tekuni dan dalami lebih lanjut. Semua hal tentang menulis, ingin saya pelajari, termasuk seluk beluk blogging dan menjadi blogger. Dan di Blogger Perempuan Network ini, saya bisa belajar banyak dari teman-teman blogger yang sudah senior dan kece banget pengalaman-pengalaman bloggingnya.

Alasan yang selanjutnya adalah ingin berkomunitas. Ya, kita ga bisa memungkiri dong ya, kalau kita ini makhluk sosial. Butuh banget bareng-bareng sama orang-orang yang yang memiliki satu frekuensi. Hehe… Termasuk saya. Apalagi semenjak resign, mobilitas saya praktis turun. Hehe.. Dan dengan berkomunitas, saya tetap bisa merasakan hidup yang lebih hidup. Tetap bisa bertemu banyak orang-orang yang dari mereka saya bisa mengambil inspirasi yang luar biasa, dan menyuntikkan motivasi dan semangat ke dalam diri saya. Melalui Blogger Perempuan Network, saya juga bisa belajar, bagaimana menjadi seorang perempuan yang tetap berdaya, dengan segala potensi dan keterbatasannya. Bisa mengenal banyak orang yang meskipun hanya di dunia maya, namun seperti sudah kenal lama 🙂 Semua itu hal yang sangat saya syukuri.

Di Blogger Perempuan Network, bangak sekali event-event menarik dan berfaedah yang diaksanakan baik secara online maupun offline. Rasanya ingin banget mengikuti semua event tersebut.. Hehehe… Ya tujuannya untuk belajar dan berkomunitas tadi.

Kita bisa belajar apapun, dari manapun, dari siapapun, dengan lebih banyak melihat dan mendengar. Kita bisa belajar hal sekecil apapun, dari sekitar kita. Dan itu salah satuya saya temukan di komunitas Blogger Perempuan Network. Terima kasih BPN 🙂

 

~ Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu ~ 

~ Bergeraklah, karena diam berarti kematian ~ 

Menentukan Nama Blog, Susah Susah Gampang!

Yeaay, sudah masuk hari ketiga di BPN Challenge.. alhamdulillah di hari ketiga ini bisa agak tenang nulisnya, karena tidak terburu-buru waktu.  🙂 Tapi tetep, nulis saat anak terlelap, hehe..

Tema hari ketiga ini adalah “Kenapa memilih nama blog yang dipakai saat ini?”

Setiap orang yang mau membuat blog, pasti akan dihadapkan pada posisi memilih nama blog yang akan digunakan. Memilih nama blog ini menurut saya susah susah gampang. Memilih nama blog ini bisa kaya mau milih nama anak, hehe… pasti ingin yang bagus, terdengar indah, dan banyak pertimbangan sebelum menggunakan nama tersebut. Kalau nama blog, mungkin ada satu kriteria tambahan yang sering dipakai oleh blogger, yaitu nama blog yang akan muncul di search engine dengan mudah.

Umumnya,  memakai nama blog yang menggambarkan konten blog itu sendiri, akan lebih mudah untuk menaikkan traffic blognya. Saat orang-orang mencari konten tentang A, bisa jadi akan diarahkan ke blog yang memakai nama A di dalamnya.

Nah, kembali ke diri saya sendiri. Apa alasan memilih nama blog yang sekarang?

Nama blog saya tidak lain adalah nama saya sendiri. Hehe.. Ga mau repot pilih nama… #ups

Eits… bukan itu aja loh alasannya. Alasan kuat lain adalah untuk branding. Yaa.. meskipun saya sepenuhnya sadar, kalau buat newbie macem saya, mungkin akan sulit menaikkan traffic blog menggunakan nama sendiri. Tapi gak masalah, semua berproses, insya Allah.  Beberapa kali terlibat proyek menulis, baik buku solo (tahun 2016) maupun beberapa buku antologi, nama yang saya gunakan adalah nama asli saya, Rini Inggriani. Bukan nama pena. Jadi, makin mantaplah saya untuk menggunakan nama pribadi sebagai nama blog. 🙂

Semoga blog ini ke depan bisa lebih bermanfaat bagi pembaca, khususnya bagi diri saya sendiri 🙂

“kata-kata kita menjelma boneka lilin

saat kita mati untuk memperjuangkannya

kala itulah ruh kan merambahnya

dan kalimat-kalimat itupun hidup selamanya”

-Sayyid Quthb-

~ Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu ~

~ Bergeraklah, karena diam berarti kematian ~

 

Tulisan Favorit di Blog

Kalau nulis di blog, sukanya menulis tentang apa sih?

Sedikit cerita, blog yang saya gunakan ini adalah blog yang baru lahir di Agustus 2018 lalu. Masih newborn banget hehe… Postingannya pun baru beberapa. Karena itulah, jadi ingin men-challenge diri sendiri, dengan ikutan #BPN30dayChallenge2018 ini, sekaligus latihan konsistensi.

Jadi kalau ditanya, suka menulis tema apa di blog, masih terlalu dini untuk menjawab secara sempurna #tsaaah… 🙂

Kalau di “rumah” ini, tulisan yang saya tulis masih dominan tentang review buku yang sudah saya baca, dan beberapa tulisan dalam rangka muhasabah.

Blog ini juga rencananya belum akan dijadikan blog dengan niche tertentu (sampai saat tulisan ini diturunkan yaa… hehe.. belum tahu ke depan seperti apa). Sebab, saya memposisikan diri saya sebagai “blogger wanna be” atau seseorang yang masih awam dan masih sangat perlu belajar segala sesuatunya tentang blog. meskipun sudah mengenal blog lama, tapi sebenarnya, saya belum tau apa-apa. Sama kaya orang yang sudah pacaran bertahun-tahun, tapi ternyata belum tahu luar dalam pasangannya.  Loh… jadi cocokologi hehe… Intermezzo… 😀

berdasarkan pengalaman menulis di blog sebelumnya, beberapa tema yang suka saya tulis, ada beberapa macam.

Tema tentang parenting dan keluarga. Tema ini baru saya tuliskan setelah saya melalui perjalanan menikah, menjadi seorang istri, lalu alhamdulillah menjadi seorang ibu. Semua hal yang berkaitan dengan parenting dan keluarga, sangat menarik bagi saya. Saya sadar banget kalau ilmu saya dalam bab ini masih kurang. Jadi, setiap mendapatkan pengalaman atau ilmu baru, rasanya ingin saya bagikan dalam blog saya. Mungkin saja dari pengalaman yang saya alami, bisa diambil hikmahnya oleh newbie mom macam saya dulu. 🙂

Lalu berikutnya tema mengenai kontemplasi atau muhasabah diri. Saya senang mengamati sekitar saya, lalu saya pikirkan apa hikmah yang ada di dalamnya, lalu saya tuangkan dalam tulisan. No, bukan untuk menggurui siapapun ya.. Ini lebih ke reminder untuk diri saya sendiri.

Tema literasi, adalah tema yang juga saya suka sekali untuk menuliskannya. Termasuk dalam book review, atau perjalanan saat saya melahirkan beberapa buku, baik buku antologi maupun buku solo. Semacam portofolio hidup yang saya simpan kisahnya dalam blog.

Sisanya, masih random banget, ya cerita tentang perjalanan ke kota mana, pengalaman menghadapi situasi yang sulit, atau sekedar curhatan receh yang minim faedah, bisa juga terpampang nyata dalam blog saya. hehe. Inilah salah satu alasan saya untuk pindah rumah ke wordpress, biar lebih serius. Dan memang merupakan salah satu misi yang saya azzamkan di awal tahun 2018 lalu.

Itu tadi beberapa tema yang sering saya tuliskan dalam blog. Ada ide tema tulisan yang kece untuk ditampilkan di blog? Sharing, yuk!

~ Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu ~

~ Bergeraklah, karena diam berarti kematian ~

Book Review : Amazing Parenting

Bismillaah.. Kali ini saya akan me-review sebuah buku tentang parenting, yang saya miliki sejak hampir 5 tahun lalu. Buku ini berjudul “Amazing Parenting”.

Penampakan cover buku

Judul buku : Amazzing Parenting

Penulis : Rani Razak Noe’man

Penerbit : Noura Books

Jumlah halaman : 167 halaman

Buku ini saya beli sekitar tahun 2013, saat saya sedang mengandung Umar. Dulu, saya membeli buku ini lewat seorang teteh di grup ITBMotherhood. Beliau yang mengkoordinir pembelian buku ini. Buku ini termasuk buku yang langka. Alhamdulillaah banget dapat rezeki untuk memiliki buku ini. Buku “Amazing Parenting” ini adalah buku parenting pertama yang saya punya. Jadi, berkesan banget dan punya arti penting dalam perjalanan parenting saya… Ciee….

Kalau buku ini dibayangkan seperti buku teori parenting yang Panjang lebar, atau monoton, ternyata tidak sama sekali, loh. Saat selesai membaca buku ini, saya jadi kebayang bagaimana mempraktekkan “Amazing Communication” yang akan melahirkan “Amazing Parenting”. Di dalamnya dibahas mengenai pentingnya komunikasi dalam pengasuhan anak. Komunikasi atau proses menyampaikan pesan dari orang tua kepada anak inilah yang akan membuat anak mengerti tentang apa yang sedang kita arahkan. Jika pesan yang ingin kita sampaikan tidak tersalurkan dengan baik, maka anak akan gagal paham dengan pesan yang ingin kita sampaikan.

Ilustrasi yang memudahkan untuk memahami penjelasan dalam buku

Di awal buku, penulis juga mengajak kita untuk lebih memaknai peran kita sebagai orang tua. Mengingat bagaimana bahagianya orang tua saat anak yang dinanti-nanti lahir, lalu bagaimana agar amanah sebagai orang tua, bukan menjadi beban, namun menjadi peran yang menyenangkan.

Di dalam buku ini, ada banyak ilustrasi berupa komik pendek, tentang contoh-contoh komunikasi yang selama ini mungkin sangat akrab dengan kita, baik ketika kita berada di posisi sebagai anak, maupun sebagai orang tua. Ada 13 gaya komunikasi tradisional yang oleh ibu Rani Razak dipaparkan dalm buku ini, dan ternyata gaya komunikasi itu tidak sesuai lagi dengan pengasuhan saat ini. Dan, pemaparan yang ringan, ditambah dengan ilustrasi yang mudah dicerna, membuat pembacanya akan mampu membayangkan situasi sebenarnya, dan mulai mengubah gaya komunikasi tradisional ini.

15 Gaya Komunikasi Tradisional

Saya sangat merasakan efek dari buku ini.. hehe… Saat saya sedang bersama anak,, jika ada sesuatu yang tidak saya suka, saya akan mengingat-ingat 15 gaya komunikasi tradisional yang ada dalam buku ini, sehingga saat menghadapi anak, bias lebih mengendalikan diri.

Oh iya, ada satu kalimat yang sangat saya suka dalam buku ini, “Anak berhak atas diri orang tua yang terbaik”. Ini reminder banget buat saya…

Nice reminder

Buku ini bagus sekali, dibaca oleh yang belum memiliki anak, atau sedang menantikan anak, bahkan untuk yang sudah punya anak. Ilmu di dalamnya bisa me-refresh mindset kita sebagai orang tua.

Sayangnya, sepertinya buku ini sudah tidak tersedia di pasaran lagi. Tapi, kalau ada yang mau meminjam buku ini, dengan senang hati saya pinjamkan insyaAllah.

~ Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu ~

~ Bergeraklah, karena diam berarti kematian ~

Book Review : “Wanita Berkarir Surga”

Buku ini sudah cukup lama dibeli… Sekitar November tahun 2017 lalu, hampir satu tahun umur buku ini. Saya ingat sekali, karena saya membeli buku di pameran buku di Pusdai, dan itu beberapa hari sebelum saya dan keluarga berangkat ke Bali dan Lombok. Perjalanan ke Bali dan Lombok saat itu cukup membekas, karena bersamaan dengan meletusnya Gunung Agung, sehingga perjalanan kami diwarnai dengan buka tutup bandara Ngurah Rai dan bandara Lombok. Hehe…

Oke, kembali ke topik utama postingan ini, yaitu review buku “Wanita Berkarir Surga”.

Desain covernya manis sekali…. 🙂

Judul Buku : Wanita Berkarir Surga

Penulis : Felix Y. Siauw dan Tim da’wah @HIJABALILA

Penerbit : AlFatih Press

Jumlah Halaman : 181 halaman

Tahun terbit : Oktober 2017

Buku ini tergolong cepat untuk saya selesaikan membacanya. Meskipun di dalamnya cukup banyak menceritakan tentang sejarah, namun bagi saya tidak terasa membosankan untuk melahap halaman demi halaman yang ada di dalamnya. Hal ini dikarenakan visualisasi yang dituangkan dalam buku ini, memanjakan mata saya. Saya tidak hanya disuguhkan teks, namun juga desain-desain yang bagus sekali dan perpaduan warna yang sangat indah. Masya Allah…

Di halaman-halaman pertama, kita akan diajak untuk flashback ke masa-masa lalu, untuk mengetahui latar belakang adanya “tuntutan kesetaraan gender” yang begitu masif saat ini. Kita diajak untuk mengetahui bagaimana dulu wanita diperlakukan di berbagai negara, hingga sejarah lahirnya feminisme. Setelah itu, dilanjutkan dengan fakta-fakta yang terjadi sebagai efek dari lahirnya paham feminisme ini.

contoh visualisasi yang buat ga bosen untuk membacanya

“Paham feminisme terus digaungkan, feminis berjuang menyetarakan diri agar wanita punya hak dan kebebasan yang sama dengan pria. Tapi apa hasilnya?” (halaman 51).

Di halaman-halaman selanjutnya, kita diajak untuk mengetahui apa sih perbedaan antara laki-laki dan perempuan., baik secara fisik, maupun potensi yang Allah berikan pada keduanya. Perbedaan yang juga melahirkan perbedaan peran dan fitrah bagi laki-laki dan perempuan. Islam memberikan peran yang sesuai dengan fitrahnya masing-masing.

Laki-laki vs Perempuan

Buku ini diperkaya dengan kisah-kisah Muslimah terdahulu yang bisa dijadikan teladan bagi kita, muslimah saat ini, seperti Fatimah Azzahra, dan Khadijah binti Khuwailid ra.

Buku “Wanita Berkarir Surga” ini menjawab kegelisahan dan kegalauan yang sering saya alami sebagai seseorang yang “hanya” berstatus sebagai ibu rumah tangga. Hehe. Seringnya pertanyaan dan pernyataan yang hadir, seperti, “Sayang banget, kuliah di ITB, tapi cuma di rumah”, atau “Tuh liat, si A, karirnya udah bagus, bisa kemana-mana, padahal dulu bukan kuliah di ITB, tapi sekarang karirnya melejit…” dsb.

Oh iya, disclaimer ya… Saya menulis review buku ini bukan mencari pembenaran atau pembelaan tentang apa yang saya pilih ya…. Saya hanya merasa bahwa buku ini bisa membuka mata saya kembali untuk memahami peran yang saya emban saat ini. Tentunya dari sudut pandang Islam.

Islam Menjaga Wanita

Buku yang disajikan ringan, namun isinya padat penuh makna, insyaallah.

~ Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu ~

~ Bergeraklah, karena diam berarti kematian ~

Selamat Datang di Rumah Baru

Assalaamu’alaikum…
Selamat datang di “rumah” baru saya…
Saya baru pindah kesini sekitar bulan Agustus 2018 lalu. Awalnya rumah saya ada di Blogspot. Sekarang, pindah kesini, di rumah yang sudah dibuatkan oleh suami.. Hehe…
Kenapa pindah?
Sebenernya udah betah di rumah lama yang sudah dihuni bertahun-tahun lalu. Tapi ternyata, ada yang melatarbelakangi hingga keputusan pindah inu dibuat. Hehe.. Macem apa aja ya…
Pertama, salah satu resolusi diri sebenernya adalah ingin mengupgrade skill menulis untuk lebih baik lagi. Media yang dipilih, blog dan instagram. Kenapa ga Wattpad? Hiks… Pengen, tapi apalah daya, untuk menulis fiksi, rasanya sulit hehe… Masih mau banyak belajar, dan dari nol banget, jadi belum berani buat akun dulu. Kalau di blog, menulis fiksi pun bisa. Nah, dari saat hamil Hilya, taun 2016 lalu, sampai saat ini Hilya usia 16 bulan, blog sama sekali ga kepegang. Evaluasi diri, liat tulisan-tulisan di blog yang random banget. Hehe.. Jadi ingin memulai sesuatu yang baru aja.. Semoga bisa lebih semangat saat berada di rumah baru. Ingin belajar jadi blogger. Jadi, ga hanya menulis random dan terkesan cuthat banget seperti di blog sebelumnya. Hehe…
Kedua, ingin menampilkan sesuatu yang berbeda. Kalau blog yang dulu memang masih acak-acakan banget… Nah insyaallah blog yang ini akan lebih dimanage dengan baik. Doakan semoga istiqomah ya pemirsah hehe…
Tulisan-tulisan di blog sebelumnya mungkin akan ada yang dipindahkan ke blog ini, yang sesuai dengan tema universal blog ini. Bismillaah…
Let’s start a new fresh day…
Mottonya mah masih tetep yak.. Hehe…
~Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu~
~Bergeraklah, karena diam berarti kematian~