Disangka Tulang Ikan, Ternyata Asam Lambung

Pernah gak sih sedang makan ikan, lalu ada tulang ikan yang nyangkut di tenggorokan? Bagaimana rasanya? Duh, pasti tidak enak, bukan? Sakit dan mengganjal rasanya.

Saya mengalaminya baru-baru ini. Saat itu saya sedang makan ikan. Ketika sedang menikmati ikan, ternyata ada tulang yang ikut serta saya telan. Aduh! Rasanya tidak enak sekali.

Saya segera melakukan apa yang biasa dilakukan oleh orang-orang dulu. Mengepal nasi, lalu menelan nasi tersebut. Tapi si tulang belum juga hilang. Masih tersangkut di tenggorokan. Saya menelan nasi hingga empat kali, namun hasilnya nihil. Saya coba untuk minum air banyak-banyak. Ternyata sama saja. Tidak ada hasilnya.

Tenggorokan saya tetap saja ada yang mengganjal. Saya coba untuk memuntahkan tulang tersebut, namun tidak ada hasilnya. Saya pasrah. Mungkin nanti akan hilang saat saya makan atau minum lagi. Pikir saya saat itu.

Hingga keesokan harinya, saya merasa tulang itu masih tetap di tempatnya. Tidak beranjak sama sekali. Karena saya masih merasa bahwa tenggorokan saya tetap ada yang mengganjal. Saya merasakan ketidaknyamanan saat menelan makanan.

Saya coba googling cara apa lagi yang bisa saya lakukan untuk mengusir tulang ini dari tenggorokan. Semua cara saya coba lakukan, hingga meminum larutan air garam pun saya coba. Berangsur terasa hilang sebentar, namun muncul lagi tak lama kemudian. Sempat terpikir apakah harus memeriksakan diri ke dokter, namun urung saya lakukan. Sebab kalau ke dokter, saya harus membawa anak-anak. Siapa yang akan menjaga mereka. Jadi saya harus menunggu ketika suami bisa menemani.

Ketika hari keempat si tulang masih terasa di tenggorokan, saya memuntuskan untuk pergi ke dokter keesokan harinya. Karena sungguh tidak nyaman rasanya. Khawatir memang harus diambil tindakan medis untuk menyingkirkan tulang tersebut.

Esoknya, Qadarullah dari pagi hingga malam hari saya ada acara dan harus menyetir mobil sendiri dengan membawa 2 anak. Malamnya, suami datang untuk menemani dan menggantikan saya ke dokter. Suami segera mencari dokter spesialis THT yang masih buka malam itu.

Alhamdulillah kami dapat antrian di Klinik Jaya Sentosa. Saya ceritakan keluhan saya pada dokter. Namun dokter ragu jika yang penyebab tenggorokan saya yang mengganjal adalah karena tulang. Menurut beliau, jika memang tulang, biasanya dalam 2 hari pun pasien tidak akan sanggup menahannya. Begitu diperiksa dokter, ternyata dokter tidak menemukan tulang sama sekali. Menurut beliau, penyebabnya adalah asam lambung, karena saya memiliki maag.

Akhirnya beliau memberi saya lansoprazole untuk pemakaian selama 2 minggu. Jika tidak berangsur baik, maka saya harus kontrol kembali dan melakukan endoskopi.

Ternyata, dua kali minum lansoprazole, ganjalan yang selama ini saya kira tulang sudah tidak ada lagi. Berangsur-angsur pergi. Alhamdulillah… Meskipun saya masih berpikir, kok waktunya pas sekali, dengan saat saya ketulangan, lalu tenggorokan saya sakit, padahal disebabkan asam lambung saya yang meningkat? Hehe..

-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-

-Bergeraklah, karena diam berarti kematian-

Kenapa Ikut 12 Days Blog Challenge?

Waaah tidak terasa, ini adalah hari terakhir mengikuti 12 Days Blog Challenge yang diadakan oleh Indscript Writing. Selama dua belas hari ini, alhamdulillah saya bisa mengikuti challenge ini, meskipun saya akui, dalam menulis artikel di blog, saya masih merasa kurang optimal.

Bagaimana tidak, saya belum menyediakan waktu khusus untuk menulis dan berlati menulis. Saya masih menulis di sela-sela peran saya sebagai ibu yang mendampingi anak di rumah. Saat membersamai anak, saya akan melepas semua gadget yang saya miliki. Tujuannya agar dapat fokus pada anak. Tapi, seringnya, anak-anak saya tidak memiliki jadwal tidur siang, sehingga saya harus menunggu waktu malam saat mereka tidur di malam hari. Saat itulah saya leluasa untuk menulis. Tapi, tantangannya adalah, menulis di saat kondisi badan sudah meminta haknya untuk beristirahat, atau menulis masih menjadi prioritas kesekian setelah urusan membereskan rumah. Hehe 🙂

Ada beberapa alasan mengikuti 12 Days Blog Challenge ini, yaitu pertama, saya ingin berlatih konsistensi dalam menulis di blog. Saat awal tahun 2019, salah satu resolusi yang saya tetapkan dalam hal tulis menulis adalah menulis di blog minimal 2-3 kali dalam satu pekan. Sekilas tampak mudah, namun ternyata, bagi orang biasa seperti saya, konsistensi menulis itu harus dipaksakan. Saya sudah mencobanya. Ketika tidak mengikuti challenge apapun, kadang rasa malas, tidak sempat, akan menghampiri kita. Tapi ketika mengikuti sebuah challenge, kita akan berusaha menyempatkan diri untuk menulis, meskipun tidak terlalu panjang. Sesempit apapun waktu yang dimiliki, pasti akan kita kejar. Ya, sama seperti saya. Meskipun harus mencuri-curi waktu untuk mengikuti tema challenge.

Alasan kedua adalah untuk berlatih menulis. Menulis adalah salah satu kemampuan yang harus terus dilatih. Saya sadar betul, bahwa cara menulis artikel di blog tidak semudah yang dibayangkan. Ada aturan-aturan penulisan yang harus kita ketahui. Dengan mengikuti 12 Days Challenge ini, saya bisa berlatih menulis setiap hari. Belajar menyusun kata dengan baik, memilih kata-kata yang enak dipakai, dan juga belajar untuk mengemukakan ide dalam tulisan.

Alasan berikutnya, agar termotivasi untuk mengisi blog pribadi. Tahun lalu, saya baru “pindah rumah” maya alias mengganti domain blog, dari blogspot yang sudah saya pakai sejak sekitar 7 tahun lalu, lalu beralih ke wordpress. Sebenarnya sayang sekali saat memutuskan untuk pindahan, karena di rumah yang lama, tulisan sudah cukup banyak. Tapi memang sekitar dua tahun terakhir sebelum memutuskan pindah, saya sudah tidak rutin menulis disana. Hanya sesekali saja. Hal ini terutama terjadi saat saya hamil.anak kedua, lalu lanjut melahirkan, dan akhirnya tidak pernah memyentuh blog kembali. Tahun lalu, saya ingin memperbaiki semuanya. Saya memutuskan untuk memulai yang baru, termasuk dalam mengelola konten blog. Di blig sebelumnya, saya bisa menulis apapun, tema apapun, random sekali. Kali ini, saya ingin lebih menata konten dengan lebih baik. Tapi, kadang tekad itu naik turun dalam perjalanannya. Semangat mengisi blog yang kadang ada, kadang tidak, karena merasa sudah terlalu sibuk dengan rutinitas. Hehe… Alhamdulillah dengan mengikuti 12 Days Blog Challenge ini, saya bisa membuktikan bahwa saya bisa rutin menulis, jika meluangkan waktu untuk menulis. Meskipun terseok-seok, namun akhirnya sampai juga. Alhamdulillah…

Semoga setelah beres mengikuti 12 Days Blog Challenge ini, saya bisa membentuk kebiasaan untuk menulis di blog. Agar blog ini tak seperti sarang laba-laba. Hehe..

~ Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu ~

~ Bergeraklah, karena diam berarti kematian ~

Keutamaan Silaturahmi

Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturrahmi.” (HR. Bukhari no. 5985 dan Muslim no. 2557)

Ramadan sudah terlihat ujungnya. Kita sudah memasuki sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan. Ada yang disibukkan dengan i’tikaf di masjid-masjid tertentu, ada yang juga harus mempersiapkan acara mudik, ada juga yang masih berkutat dengan rutinitas kantor atau rumah, dan lain sebagainya. Tentu saja semua berharap agar bisa menjadi salah seorang hamba yang beruntung mendapatkan keutamaan malam Lailatul Qadr. Apapun kondisinya.

“Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 2020 dan Muslim no. 1169)

Salah satu hal yang paling terasa di bulan Ramadan adalah semangat untuk silaturahmi yang begitu besar. Terlihat dari ajakan buka bersama alias bukber yang begitu besar (semoga bukan sekedar wacana tiada akhir ya, hehe..), janji untuk bertemu saat i’tikaf, hingga silaturahmi saat hari raya tiba, baik yang mudik ataupun tidak.

Bagi teman-teman yang memiliki kampung halaman dengan jarak yang jauh dari tempat tinggalnya, pulang ke kampung untuk silaturahmi pun bisa dihitung dengan jari dalam setahun. Bahkan ada yang beberapa kali lebaran belum bisa pulang. Bukan seperti Bang Toyyib, tapi memang secara ekonomi tidak memungkinkan. Bagi mereka, momen lebaran dan bisa pulang ke kampung halaman, tentu menjadi momen yang sangat istimewa dan dinantikan. Mereka akan pulang membawa oleh-oleh terbaik yang mereka usahakan.

Silaturahmi ternyata sangat dianjurkan dalam Islam. Betapa banyak keterangan tentang pentingnya silaturahmi. Dan tentu saja, teladan dari Rasulullah SAW dalam menjaga hubungan dengan kerabat dan para sahabat beliau.

“Tidaklah masuk surga orang yang suka memutus, ( memutus tali silaturahmi)”. [Mutafaqun ‘alaihi].

Kerasa gak sih, akhir-akhir ini, kita terjabak dalam situasi yang begitu mudah untuk memutuskan hubungan pertemanan, atau silaturahmi dengan orang lain, karena alasan perbedaan pendapat?

Bagi saya, setiap orang berhak dengan pendapatnya masing-masing. Namun, sebagai muslim, saya pasti memiliki prinsip yang tetap harus saya pegang. Prinsip tersebut tentunya tidak dapat dipaksakan untuk sama dengan orang lain, dan saya pun tidak akan memaksa orang lain untuk mengikuti prinsip yang saya pegang.

Yang saya sedihkan adalah, betapa saat ini, lisan kita begitu mudah mengucapkan kata-kata kasar, bagi orang yang dianggap bersebrangan dengan kita. Padahal mungkin dulu, mereka adalah teman baik. Betapa mudahnya memutuskan silaturahmi hanya karena ngotot di media sosial. Ah, media sosial kadang membuat polarisasi perbedaan menjadi semakin tajam.

Pantaslah kalau ganjaran menyambung silaturahmi itu begitu besar. Karena saat kita menyambung sesuatu yang sudah diputus, hal itu butuh energi besar dan menghilangkan ego pribadi. Menghilangkan perasaan bahwa saya yang paling benar, dan dia yang salah.

Kebayang dong, udah ngotot-ngotot, lalu harus meminta maaf, meski mungkin bukan salahnya sepenuhnya? Dan justru Islam sangat mengapresiasi inisiatif untuk memperbaiki silaturahmi ini. Tak peduli siapa yang salah, namun ia berinisiatif menyambung silaturahmi.

“Wahai Rasulullah, aku mempunyai kerabat. Aku menyambung hubungan dengan mereka, akan tetapi mereka memutuskanku. Aku berbuat baik kepada mereka, akan tetapi mereka berbuat buruk terhadapku. Aku berlemah lembut kepada mereka, akan tetapi mereka kasar terhadapku,” maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila engkau benar demikian, maka seakan engkau menyuapi mereka pasir panas, dan Allah akan senantiasa tetap menjadi penolongmu selama engkau berbuat demikan.” [Muttafaq ‘alaihi]

Meskipun untuk bersilaturahmi atau meminta maaf tak harus menunggu waktu lebaran, tapi, gak ada salahnya kan memanfaatkan momen berkumpul di hari raya untuk menyambung silaturahmi. 🙂

~ Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu ~

~ Bergeraklah, karena diam berarti kematian ~

Berbuka Puasa dengan Apa?

Apa sih yang paling ditunggu-tunggu oleh orang yang berpuasa? Lebaran? Iya sih, tapi ada lagi yang ditunggu-tunggu setiap harinya.

Ya, saat berbuka puasa. Adzan Maghrib menjadi adzan yang paling dirindukan setiap harinya di bulan Ramadan. Kalau hari-hari biasa, mungkin kita tidak terlalu memperhatikan adzan. Namun ketika bulan Ramadan, adzan Maghrib menjadi hal istimewa.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang berbuka puasa mempunyai dua kebahagiaan yang bisa ia rasakan; kebahagiaan ketika ia berbuka dan kebahagiaan ketika ia bertemu dengan Rabb-nya karena puasa yang dilakukannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bahkan dalam hadits pun, Rasulullah bersabda, salah satu kebahagiaan dari orang yang berpuasa adalah ketika ia berbuka. Wajar dong ya, kalau kita menantikan waktu berbuka puasa. Hehe. Yang gak wajar itu, baru juga lepas sahur, eh udah langsung pengen berbuka aja. Hehe. 🙂

Kalau bicara tentang waktu berbuka puasa, gak bisa lepas dari yang namanya makanan berbuka. Bahkan di bulan Ramadan, makanan yang biasanya tidak mampir di meja makan, kini tersaji manis di meja makan. Biasanya saat makan, kita cukup dengan nasi dan lauk plus sayur, kini cemilan pun banyak macamnya.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka dengan beberapa biji ruthab (kurma masak yang belum jadi tamr) sebelum shalat Maghrib; jika tidak ada beberapa biji ruthab, maka cukup beberap biji tamr (kurma kering); jika itu tidak ada juga, maka beliau minum beberapa teguk air.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi. Hadits Hasan Shahih)

Makanan favorit berbuka tiap orang tentu saja berbeda-beda. Ada yang senang berbuka dengan yang manis seperti kata iklan, ada yang senang berbuka dengan minuman-minuman menyegarkan, ada yang berbuka dengan kurma, dan lain sebagainya.

Saya pribadi, waktu kecil, makanan favorit berbuka dengan yang manis-manis. Ya teh manis, kolak, atau cendol. Hehe. Karena dulu memang yang tersedia di rumah, makanan atau minuman manis. Jadi saya berbuka dengan apa yang ada. Ketika mulai sering berbuka di luar, bukan makan di luar sih, namun karena saat waktu berbuka, saya belum sampai di rumah, hehe, saya terbiasa makan apapun yang ada. Misal, dulu saat masih kuliah, saya hampir setiap hari beres praktikkum menjelang Maghrib. Tentu saja saya berbuka di luar. Biasanya saya ke Salman untuk shalat Maghrib dan berbuka. Di Salman disediakan makanan untuk berbuka, hingga makanan beratnya, loh. Gratis.

Tapi biasanya saya mengambil kurma dan cemilan yang sudah ditempatkan dalam plastik. Kalau teman-teman saya yang kost, mereka juga mengambil makanan berat untuk berbuka. Lumayan loh, menghemat biaya sekali makan.

Begitu saya bekerja dulu, yang khas dari berbuka puasa adalah berbuka dengan gorengan, atau seblak, haha… Kalau seblak memang sesekali saja, tapi kalau gorengan, hampir tiap hari kerja. Teman-teman selalu pesan gorengan, jadi saya ikut juga hehe. Gorengan, batagor, sop buah, jus, dan semuanya bisa kami pesan tiap hari. Dulu saya bekerja di instalasi farmasi salah satu rumah sakit swasta di Bandung. Saat berbuka, kami tidak bisa istirahat semua. Harus bergantian. Agar pasien tetap terlayani. Jadi, kami kadang makan beratnya baru bisa saat pasien sepi atau bahkan menjelang pulang. Akhirnya, cemilan-cemilan tadi yang kami gunakan untuk meredakan lapar. Hehe.

Saat ini, apa makanan favorit berbuka saya? Nah, sekarang, beda banget sama dulu. Saya udah mulai taubat dari gorengan dan makanan manis-manis. Ya, meskipun sesekali masih, tapi sudah lebih minim dari dulu. Kini saya lebih mengimbangi dengan memperbanyak kurma, dan buah-buahan segar. Lebih enak aja terasa ke badan, dan lebih sehat pastinya. Saat sahur pun, saya tidak sebanyak dulu makan. Secukupnya saja. Bahkan kadang hanya makan buah-buahan dan infuse water. Kadang masih juga tergoda gorengan dan aneka panganan bermecin. Hehe. Tapi ya cukup mencoba saja. Tidak jadi makanan utama. 🙂

Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang-orang (umat Islam) senatiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (Muttafaqun ‘alaih)

~ Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu ~

~ Bergeraklah, karena diam berarti kematian ~

Ramadan, Aku Rindu

Alhamdulillah, kita sudah mulai memasuki sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan. Tak terasa, ya… Waktu begitu cepat berlalu. Kadang berpikir, target amalan yang sudah ada, belum terealisasi seutuhnya, namun Ramadan sudah hampir memasuki penghujungnya.

Ya Allah… Semoga masih bisa mengejar ketertinggalan di sepuluh hari terakhir ini. Oh iya, apakah teman-teman sudah memutuskan akan mengikuti i’tikaf dimana? Wah, pasti sedang mencari dan mulai mengunjungi masjid untuk melaksanakan i’tikaf ya. I’tikaf kini bukanlah sesuatu hal yang aneh. Saat dulu saya masih kecil, saya hanya tahu mengenai i’tikaf dri ceramah-ceramah yang saya dengar saja. Namun, saya tidak pernah melihat bagaimana orang yang beri’tikaf itu. Benar-benar sepuluh hari di masjid terus meneruskah, atau seperti apa. Karena memang dulu, i’tikaf bukan sesuatu hal yang lazim di masyarakat kita.

Ketika saya kuliah di Ganeca 10, saya mulai mengenal i’tikaf lebih dekat. Beberapa organisasi yang saya ikuti, mengadakan acara i’tikaf bareng, biasanya di malam-malam ganjil, di Masjid Habiburrahman. Dulu, masjid Habiburrahman inilah yang sangat terkenal dengan i’tikafnya, setiap malam, imam akan membaca ayat Alquran sebanyak 3 juz pada shalat tahajud. Masjid ini tidak pernah sepi pengunjung. Masjid-masjid lain saat itu belum ada yang mengadakan acara i’tikaf sebesar masjid ini. Beda dengan sekarang. Di Bandung sudah banyak masjid-masjid yang menyelenggarakan i’tikaf. Dari masjid bedar hingga masjid kecil, dan dari masjid yang terkenal, hingga masjid komplek perumahan. Masjid Habiburrahman tetap melaksanakan i’tikaf dan selalu dipadati pengunjung. Bahkan beberapa tahun ini pengunjung sampai harus memesan kavling untuk mendirikan tenda disana. Hehe.. Tenda ini digunakan di pelataran masjid, terutama bagi pengunjung yang membawa keluarga untuk i’tikaf.

Nah, momen i’tikaf ini adalah salah satu hal yang dirindukan dari Ramadan bagi saya pribadi. Suasana i’tikaf ini jarang bisa saya temui di bulan selain bulan Ramadan. Bagaimana seseorang meluangkan waktunya untuk berdiam diri di masjid, memenuhi waktunya untuk beribadah, dan meminimalisir waktu tidur dengan melakukan ibadah. Ini hal yang bisa saya dapatkab ketika sepuluh hari terakhir Ramadan.

Meskipun banyak pula orang-orang yang tak bisa beri’tikaf full selama sepuluh hari, karena alasan pekerjaan yang belum bisa cuti, misalnya, atau kuliah yang belum libur, namun mereka tetap berikhtiar untuk hadir di masjid-masjid. Buat saya, itu keren. Hehe.

Hal lain yang bakal saya rindukan dari Ramadan adalah semarak kajian dimana-mana. Ya, walaupun hari biasa pun sudah banyak jadwal kajian di Bandung, namun ketika Ramadan, kajian semakin banyak, apalagi yang berkaitan dengan Alquran. Teduh sekali melihat banyak orang yang bersemangat menghadiri kajian-kajian Ramadan. Berlomba-lomba dalam kebaikan.

Pernah gak sih merasa, kalau di bulan Ramadan, energi kita jadi jauh lebih besar daripada bulan yang lain? Misal, biasanya saat bulan selain Ramadan, kita hanya sanggup membaca Alquran tiap hari satu juz atau kurang dari itu. Namun begitu Ramadan tiba, banyak orang uang bisa khatam Alquran selama satu bulan. Ada yang bisa khatam satu kali, dua kali, bahkan tiga kali atau lebih. Berarti dalam satu hari minimal ia membaca Alquran sebanyak satu juz atau lebih. Bukankah ini luar biasa? Padahal secara logika manusia, di bulan Ramadan kita lebih lemas, karena tidak makan dan minum di siang hari. Masya Allah….

Oh iya, hampir lupa, bicara sepuluh hari terakhir Ramadan, tentu tidak lepas dari satu malam istimewa, yaitu malam Lailatul Qadr. Ingin sekali bisa mendapatkan kemuliaan di malam itu. Sungguh beruntung orang yang mendapatkan kemuliaan malam Lailatul Qadr. Hidupnya akan berkah. Malam yang lebih baik dari seribu bulan ini gak ada di bulan-bulan lain. Hanya ada di bulan Ramadan. Jika gagal mendapatkan Lailatul Qadr di Ramadan tahun ini, maka kesempatan kita meraihnya ya di Ramadan tahun depan. Itupun jika Allah masih memberikan kesempatan untuk bertemu dengan Ramadan.

Ah, Ramadan terlalu banyak menyimpan hal-hal yang sangat dirindukan kelak. Termasuk lika liku mudik yang biasanya juga akan dihadapi di penghujung Ramadan. Repot tapi menyenangkan. Melelahkan namun membuat bahagia.

Yuk ah, kita manfaatkan sepuluh hari terakhir ini. Masih ada waktu.

Ramadan, semoga kita bisa bertemu kembali!

~ Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu ~

~ Bergeraklah, karena diam berarti kematian ~

Saat Hari Raya, Saatnya Mudik

Apa yang ada dalam pikiran dan bayangan teman-teman, saat mendengat kata “mudik”?

Ada yang membayangkan tradisi tahunan yang terjadi di Indonesia, membayangkan tiket transportasi darat, laut dan udara bisa habis dipesan bahkan jauh sebelum bulan Ramadan tiba, orang-orang yang memadati stasiun, terminal, bandara, dan pelabuhan, kemacetan lalu lintas, dan masih banyak lagi.

Ya, bagi kita, hal-hal diatas adalah sesuatu yang berhubungan dengan mudik. Silaturahim saat mudik di hari raya merupakan momen yang sangat dinantikan. Semua begitu bersemangat menyambutnya. Termasuk pemerintah, yang biasanya menjelang mudik, infrastruktur diperbaiki.

Bicara tentang mudik, waktu kecil dulu, tujuan mudik kami adalah ke Jakarta. Hehe. Disaat orang-orang justru meninggalkan Jakarta untuk mudik, saya dan orangtua beserta adik pergi ke Jakarta. Jalanan Jakarta tentu saja lengang.

Semua saudara kami, baik dari pihak ayah maupun ibu, berada di Jakarta. Kakak tertua dari ayah dan ibu, ada di Jakarta. Hanya sedikit saudara yang masih tinggal di Bukittinggi (saudara ibu), atau di Sidoarjo (saudara ayah). Sebenarnya, kakak dari pihak ibu masih ada di Bukittinggi, namun kami tidak pernah mudik kesana. Alasannya, tentu saja karena biaya mudik ke Bukittinggi yang besar, apalagi untuk kami berempat. Jadi, biasanya kalau ada hal mendesak dan mengharuskan ke Bukittinggi, biasanya hanya ibu yang berangkat. Sampai ketika kakek beberapa kali sakit, lalu akhirnya wafat, itu juga hanya ibu yang pulang.

Sementara nenek dari pihak ayah,kadang beliau di Bandung atau di Jakarta, dan pada saat beliau sakit, beliau ada di tempat kakak ayah yang tinggal di Demak. Nah, saat nenek sakit stroke inilah, baru tujuan mudik kami bergeser ke Demak. Selama lima tahun beliau sakit, kami beberapa kali mudik ke Demak.

Oh iya, dulu, saat nenek sehat, kami pernah sekali saja, berhari raya di tanah kelahiran ayah di Sidoarjo. Saya mengalami macet yang luar biasa seperti yang sering diberitakan di televisi. Selama enam jam, mobil kami berhenti sama sekali karena macet panjang. Macet total. Bagi saya, itu pengalaman yang tak terlupakan. Jalur Pantura memang padat sekali saat momen mudik lebaran. Harus kuat banget yang nyetir. Hehe. Saya sih belum sanggup.

Setelah nenek tidak ada, kami kembali mudik ke Jakarta. Hehe. Kemudian, saya menikah dan jalur mudik pun berubah hehe. Karena rumah orangtua dan mertua saya sama-sama di Bandung, seperti tempat kami tinggal, jadi peta mudik ya hanya di Bandung.

Tapi, biasanya kami juga pergi ke Lampung. Nah, setelah menikah ini, baru deh, perjalanan saya bergeser ke pulau Sumatera. Di Lampung, ada kakak tertua dari ibu mertua, dan adik ibu saya. Walaupun sebenarnya mertua saya berasal dari Bukittinggi, namun sempat pindah juga ke Lampung.

Saya mudik ke Bukittinggi baru di tahun 2016 lalu. Berhari raya disana. Melihat bagaimana tradisi masyarakat Minang dalam menyambut hari raya. Kami pergi menggunakan mobil pribadi. Tapi, buat kami, mungkin ke depan kalau mudik ke Bukittinggi, kami akan memilih jalur udara saja. Bukan apa-apa, meskipun jalanan lancar, tidak macet seperti Pantura, tapi perjalanannya jauh sekali, dan lumayan membuat pegal-pegal badan. Hehe. Sayangnya, tiket pesawat domestik sekarang mahal luar biasa. Jadi tahun ini pun, kami memilih Lampung sebagai tempat yang akan dikunjungi setelah hari raya.

Lampung ini bagi saya tempat yang memuaskan untuk mudik dan liburan. Anak-anak bisa bermain di pantainya yang banyak, tempatnya juga tidak terlalu jauh dari rumah tempat kami menginap, aneka hewan lautnya yang segar, dan ada kuliner khas yang sayang untuk dilewatkan. Ada bakso Sonny, ada pempek, kripik pisang coklat, kemplang, dan hidangan hewan laut yang super banget deh. 🙂

Mudik memang menyenangkan, bisa bertemu dengan kerabat dan saudara yang dirindu, bisa saling berkunjung, dan masih banyak lagi. Beberapa tips yang dilakukan sebelum mudik :

  1. Jika menggunakan kendaraan umum, maka pastikan tiket sudah dibeli jauh-jauh hari. Karena biasanya tiket mudik akan cepat habis, atau jika kita membeli tiket di dekat-dekat lebaran, harganya lebih mahal.
  2. Jika menggunakan kendaraan pribadi, persiapkan kendaraan agar dalam kondisi prima untuk melakukan perjalanan jarak jauh.
  3. Persiapkan bekal selama di perjalanan, agar saat dibutuhkan di perjalanan, kita tidak perlu sulit mencarinya.
  4. Jika membawa anak kecil atau balita, bahkan bayi, persiapkan kebutuhannya dengan baik. Termasuk hal-hal kecil.
  5. Membawa uang secukupnya. Jangan terlalu berlebihan, karena akan mengundang kejahatan.
  6. Berdoa agar perjalanan mudik lancar dan selamat sampai tujuan.

Nah, kalau teman-teman, biasa mudik kemana? Atau kalau tidak mudik, biasanya pergi kemana saja untuk menghabiskan waktu libur hari raya? 🙂

~ Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu ~

~ Bergeraklah, karena diam berarti kematian ~

Sedekah itu Mudah

Menulis ini dengan hati yang bercampur aduk. Melihat berita, banyak sekali yang menjadi korban di Jakarta, media sosial diblokir agar tidak dapat mengirim dan menerima gambar, hingga wafatnya K.H. Arifin Ilham.

Saya memilih untuk tidak mencari tahu lebih jauh tentang berita-berita di Jakarta. Kenapa? Takut bikin nyesek. Gak tega melihat kekerasan yang terjadi. Dan lagipula, saya sudah tidak terlalu percaya media mainstream hehe… Semua ada kecenderungannya. Entahlah, sudah sejak lama saya tidak terlalu berharap pada media-media tersebut. Biasanya, saya mencari kabar di media sosial, ya, walaupun tetap menggunakan filter. Nah, karena media sosial pun sudah dibatasi oleh pejabat yang terhormat, ya, saya fokus yang lain dulu, deh.

Sedih sekali. Marah, kecewa, semua perasaan itu sudah berkumpul dalam diri. Hanya bisa berdoa, semoga Allah karuniakan jalan yang terbaik, dan selalu melindungi negara ini dari tangan-tangan orang yang jahil dan zhalim. Aamiin.

Wah prolognya kepanjangan ya.. Hehe.. Hari ini, tema menulis tentang sedekah. Ah iya, sampai lupa, kalau bulan Ramadan juga bulan dianjurkan untuk memperbanyak sedekah. Nyambung deh sama tulisan kemarin tentang cara mengatur THR.

Kenapa sih harus bersedekah? Masing-masing ‘kan sudah dijamin rezekinya, kalau mau dapet rezeki yang banuak, ya kerja dong, jangan males-malesan. Hehe. Ini komen netizen julid, kalau bahasa sekarang. 🙂

Kalau gak ada orang miskin, apa bisa ada orang kaya? Kalau gak ada orang miskin, lalu zakat nanti untuk siapa? Kalau gak ada orang miskin, lalu bagaimana orang mampu bisa belajar memberi,belajar berempati?

Lagipula, hidup itu berputar. Semua akan dipergilirkan oleh Allah. Misal nih, mungkin yang dulunya berada, bisa jadi lima tahun kemudian, ternyata ia bangkrut, lalu jatuh miskin. Atau sebaliknya. Kita, tidak pernah tahu, apakah di masa yang akan datang, justru kita yang memerlukan sedekah.

“Harta tidak akan berkurang dengan sedekah. Dan seorang hamba yang pemaaf pasti akan Allah tambahkan kewibawaan baginya.” (HR. Muslim, no. 2588)

Jangan takut uang kita akan habis kalau bersedekah. Jangan galau kalau sedekah, THR akan habis. Hehe. Insya Allah akan diganti dengan yang lebih baik lagi.

Terus, kalau kita gak punya apa-apa untuk bersedekah, lalu bagaimana? Apakah sedekah itu hanya untuk orang-orang kaya atau orang yang tajir melintir aja? Hehe.. Ternyata gak juga kok. Kita pun, yang merasa masih kekurangan dari segi finansial, atau pas-pasan sekali, tetap bisa bersedekah, loh. Bagaimana caranya?

jauhilah api neraka, walau hanya dengan bersedekah sebiji kurma. Jika kamu tidak punya, maka bisa dengan kalimah thayyibah” (HR. Al Bukhari 6539, Muslim 1016)

Satu biji kurma pun sudah jadi sedekah. Bila tidak ada, kita bisa mengucapkan kalimat thayyibah. Mudah, bukan?

Oh iya, ada lagi yang lebih mudah, sedekah senyum dan berwajah ceria di hadapan teman kita, juga terhitung sedekah, loh.

‎“Senyummu terhadap wajah saudaramu adalah sedekah.” (HR. Tirmidzi 1956)

‎“Janganlah engkau meremehkan kebaikan sekecil apapun, walaupun itu berupa cerahnya wajahmu ‎terhadap saudaramu.” (HR. Muslim no. 2626)

Wuiiih, ternyata, mudah loh untuk bersedekah. Siapapun bisa. Apalagi di bulan Ramadan ini, semua kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya. Yuk ah, kita mulai bersedekah. Dari apa yang kita miliki. Tak harus rupiah, tapi bisa juga dollar, hehehe..

Ups, maksudnya, tak harus rupiah, namun dengan berwajah cerah dan senyum merekah pun, sudah dinilai sedekah. 🙂

~ Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu ~

~ Bergeraklah, karena diam berarti kematian ~

THR yang Dinanti

Waah… Sudah masuk hari ke 17 Ramadan ya… Biasa kita kenal dengan hari turunnya Alquran, atau Nuzulul Qur’an. Alhamdulillaah… Semangat masih oke kan teman-teman? Hehe.. Saya di hari-hari terakhir ini sedang sangat sulit mengatur waktu, nih. Baik waktu untuk menyelesaikan amalan pribadi, tapi tetap melaksanakan kewajiban di rumah. Semangat naik turun ketika menghadapi Ramadan. Adakalanya saya begitu bersemangat, adalakalanya saya menyerah dengan pekerjaan yang tak ada habisnya.

Ambil hikmahnya aja ya… Sesuatu yang baik itu harus diperjuangkan, bukan? Kalau lurus-lurus aja, tidak ada tantangannya, jadi kurang seru, dong? Hehe.

Oh iya, kita sudah hampir menyelesaikan sepuluh hari kedua di bulan Ramadan. Biasanya sih, menjelang lebaran, ada rezeki tambahan berupa THR. Apakah teman-teman sudah ada yang menerima uang THR? Bagi yang sudah, semoga uang THR nya bermanfaat dan jadi berkah. Bagi yang belum, semoga cepat turun ya. Hehe.. Mungkin diantara teman-teman ada juga yang seperti saya. Tidak menerima THR, hehe.. Karena saya sudah resign sejak hampir lima tahun lalu. Tapi, kalau THR suami, alhamdulillah ada. Hehe… 🙂

Bagaimana sih mengatur uang THR agar tidak ludes dalam waktu sekejap? Biasanya, uang itu akan lewat begitu saja, jika kita tidak mengelolanya dengan baik. Sayang, ‘kan, uang yang diperoleh susah payah, harus terbuang percuma.

Tidak bisa dipungkiri, kalau kebutuhan menjelang hari raya selalu bertambah, bahkan bisa membengkak anggarannya. Harga bahan kebutuhan pokok yang melambung tinggi, kebutuhan untuk membuat hidangan lebaran, kebutuhan untuk pulang mudik, memberi sanak saudara, dan masih banyak lagi pengeluaran tak terduga lainnya.

Uang THR itulah yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang banyak di momen hari raya.

Biasanga, saat mendapat uang THR, saya akan segera membagi-bagi uang tersebut ke dalam pos-pos pengeluaran. Pengeluaran yang paling pertama saga keluarkan adalah untuk kewajiban zakat, membayar fidyah, atau untuk infak. Zakat berfungsi untuk menyucikan jiwa dan harta kita. Dan karena zakat fitrah ini wajib, maka jangan sampai kelupaan untuk mengalokasikannya ya!

Setelah porsi untuk kewajiban sudah disisihkan, maka selanjutnya pos-pos pengeluaran bisa dibagi untuk kebutuhan lain.

Saya pribadi membagi untuk beberapa pos. Pos untuk memberi orang tua dan mertua, pos untuk keperluan anak-anak, dan untuk keperluan silaturahim di hari raya, termasuk untuk mudik hehe.

Pengeluaran anak-anak biasanya di baju lebaran. Meskipun bukan suatu keharusan untuk membeli baju lebaran, tapi kalau untuk anak, biasanya dibeli aja. Hehe.. Apalagi kakek neneknya juga udah wanti-wanti untuk membeli baju anak-anak. Kalau ayah ibunya sih lebih santai. Hehe. Ya anggap hadiah buat Umar yang sudah rajin shaumnya. 🙂

Biasanya, pos pengeluaran untuk mudik ini banyak biaya tak terduganya. Hehe.. Pengalaman tahun 2016, kami mudik ke Bukittinggi menggunakan mobil pribadi. Berangkat dari Bandung, ke Lampung. Menginap semalam di Lampung, lalu melanjutkan perjalanan menuju Bukittinggi. Hampir 24 jam perjalanan Lampung-Bukittinggi. Wow… Pengalaman tak terlupakan, saat itu Umar berumur 2,5 tahun, masih anak tunggal saat itu hehe.

Pos pengeluaran untuk service awal mobil sebelum digunakan jarak jauh, lalu bensin yang selalu diisi full tank selama perjalanan, belum biaya makan, minum, ngemil, selama perjalanan, pergi ke tempat wisata, memberi angpao lebaran, wkwkwk… Pulang dari Bukittinggi, kami menginap beberapa hari di Lampung. Disana pun kami jalan-jalan lagi ke pantai. Haha… Kalau suami bilang, ga usah terlalu dipikirkan uang habis berapa. Haha.. Bisa stress. Kan memang niat liburan. Yah, saya nurut aja apa kata suami. Pulang mudik, mobil kami service kembali. Jadi dobel service deh. Tapi tetap harus dianggarkan pos pengeluaran maksimal untuk mudik berapa. Biar gak terlalu nyesek atau bahkan sampai menghabiskan jatah uang sekolah anak, misalnya. Hehe.. Semoga semua diberikan kelapangan rezeki untuk bersilaturahim di hari raya ya teman-teman. Aamiin…

Mengatur uang THR memang susah susah gampang. Harus cermat dalam menghitung kebutuhan dan pengeluaran yang ada. Jangan sampai berlebihan juga ya… Toh salah satu makna Ramadan adalah menahan diri. Jika masih berlebihan dalam sesuatu, termasuk pengeluaran yang sebenarnya masih bisa ditunda, atau bukan sesuatu yang penting dan mendesak, berarti ke depan kita harus lebih memaknai Ramadan yang sudah kita lalui.

Selamat mengatur uang THR, teman-teman! Jangan lupa zakatnya ya! 🙂

~ Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu ~

~ Bergeraklah, karena diam berarti kematian ~

Ramadan yang Tak Terlupakan

Ramadan selalu hadir di setiap tahun. Namun, kesan yang didapatkan di setiap Ramadan selalu berbeda. Ada saja hikmah baru yang membuat diri menjadiblebih baik. Hikmah-hikmah yang hanya bisa diperoleh di bulan Ramadan. Meskipun sudah melalui sekitar dua puluh tujuh kali Ramadan, setiap kesan yang didapat selalu berbeda.

Bicara tentang Ramadan yang paling berkesan, hm… Rasanya hampir semua berkesan. Ada ketika saya berpuasa penuh selama sebulan untuk pertama kali di usia lima tahun, ada saat Ramadan dimana saya melakukan perjalanan jauh melalui jalur darat ke Sumatera Barat, dan masih banyak lagi.

Dari sekian banyak hal yang terjadi di bulan Ramadan, ada satu Ramadan yang tidak akan terlupakan oleh saya. Kenangan Ramadan berkesan yang ingin saya tulis kali ini adalah saat Ramadan 2017, atau Ramadan 1438 H.

Memasuki Ramadan 1438 H dua tahun lalu, usia kehamilan saya sudah di usia 40 minggu. Ini adalah kehamilan kedua. Dan sudah hampir sepekan yang lalu, saat dokter melakukan pemeriksaan dalam, sudah bukaan tiga. Namun, kontraksi teratur belum juga hadir. Saya masih sempat menjalankan shalat tarawih di masjid di awal-awal Ramadan.

Hari itu hari ketiga Ramadan. Saya melakukan aktivitas seperti biasa. Malam setelah shalat tarawih, saya beristirahat. Sekitar pukul 00.30, Umar terbangun, katanya mau ke kamar mandi. Saya bangun dan menemaninya ke kamar mandi. Setelah beres, Umar pun tidur kembali. Saya juga mencoba untuk tidur kembali. Namun kali ini, istirahat saya tidak begitu nyenyak. Di tengah kantuk, saya merasakan ada sesuatu dalam perut. Saat itu saya tidak berpikir bahwa itu adalah kontraksi. Karena memang belum terlalu kuat, dan teratur. Tapi, sudah cukup mengusik saya.

Sudah mau 2 tahun usianya 🙂

Saya terus mencoba istirahat, namun semakin lama, saya semakin tidak bisa tidur dengan tenang. Saya hanya mengubah posisi tidur, berharap bisa membuat nyaman. Semua posisi saya coba. Hingga pukul 02.30, suami terbangun, dan menanyakan, apakah sudah terasa kontraksi, dan mau ke rumah sakit sekarang juga.

Saya bilang pada suami, kontraksinya masih bisa ditahan, dan belum sampai membuat saya meringis kesakitan, hehe… Saya mencoba menghitung kontraksi dengan menggunakan aplikasi yang sudah diinstall di telepon seluler.

Pukul 03.00, suami sahur dulu. Saya terus menghitung kontraksi. Ternyata kontraksi sudah teratur datangnya, sekitar 7 menit sekali. Saya pun mandi dulu. Awalnya, saya bilang ke suami, berangkat ke rumah sakitnya setelah subuh saja, atau jam 6 pagi hehe. Suami yang melihat saya sudah bolak balik tarik napas dalam, meminta saya ke rumah sakit saat itu juga. Jam 4 kami berangkat. Umar di rumah bersama kakek neneknya.

Di perjalanan, saya menahan kontraksi sambil terus berdzikir. Alhamdulillah, jalanan masih sepi. Sesampainya di rumah sakit, adzan Subuh terdengar. Saya bilang ke suami, mau shalat Subuh dulu sebelum ke UGD. Shalat Subuh sambil meringis. Hehe.

Pukul 05.15 kami ke UGD. Dicek bukaan, sudah bukaan 5 ke 6. Pantaslah. Suami mengurus administrasi dulu. Bidan memeriksa tekanan darah, dan mengambil darah untuk dilakukan pemeriksaan. Wah, disana saya sudah bolak balik jalan, berdiri, duduk, berbaring, posisi bersujud, dan tarik napas setiap kontraksi datang. Bidan sedang keluar, begitupun suami, belum kembali.

Rasanya sudah mules sekali. Saya merasa ingin buang air kecil. Saya turun dari tempat tidur. Mencoba memanggil suami. Lalu kontraksi datang lagi, saya terduduk di lantai. Suami datang. Membantu saya untuk ke toilet. Ketika saya mencoba berdiri, tiba-tiba ada suara “blurb” dan mengalir cairan disertai darah. Ketuban sudah pecah. Suami bergegas memanggil bidan, dan saya dibawa ke rusng bersalin. Sampai di ruang bersalin, saya sudah ingin mengejan. Ternyata memang sudah bukaan lengkap. Gak sempat nunggu dokter. Akhirnya lahiran dengan bidan. Alhamdulillah prosesnya cepat. Dua kali mengejan, Hilyapun lahir.

4 Ramadan 1438 H, alhamdulillah kami diberi amanah lagi. Yang paling merasa lega adalah suami. Karena sejak menyetir ke rumah sakit, sebenarnya suami deg-degan kalau tiba-tiba lahir di jalan. Hehe. Bayangkan kalau kami berangkat jam 6 dari rumah seperti permintaan saya, Hilya akan lahir di jalan. Sebab Hilya lahir pukul 06.31 WIB. Hehe…

~ Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu ~

~ Bergeraklah, karena diam berarti kematian ~

Ngabuburit, Aktivitas Khas Ramadan

Ramadan sudah berlalu hampir setengah bulan ya teman-teman. Di setengah bulan ini, ada baiknya kita mengevaluasi keberjalanan target Ramadan kita. Tujuannya apa? Ya, agar dapat meningkatkan amalan di setengah bulan berikutnya. Apalagi sebentar lagi sudah memasuki sepuluh malam terakhir, ada i’;tikaf juga yang bisa kita lakukan dalam target amalan Ramadan kita. Bisa keliling atau safari masjid untuk beri’tikaf, atau menetap di satu masjid. Seru, bukan?

Selain mengisi waktu di bulan Ramadan dengan meningkatkan amal ibadah, kita juga bisa mengisi waktu dengan hal bermanfaat lainnya. Prinsipnya, selama itu kebaikan, maka dilakukan saja. Kalau di daerah Jawa Barat, biasanya ada sebutan khusus untuk mengerjakan sesuatu sambil menunggu waktu berbuka, yaitu ngabuburit. Namun, seiring waktu, istilah ngabuburit ini mulai dipakai dimana-mana. Tidak hanya di Jawa Barat saja.

Saya mengenal istilah ngabuburit ini sejak saya masih kecil. Saat duduk di bangku sekolah dasar, saya dan teman-teman biasa ngabuburit ke komplek perumahan elite dekat rumah kami. Saat itu belum banyak penjual jajanan seperti saat ini. Dan kami juga bukan anak-anak yang diberikan banyak uang juga untuk jajan, hehe… Dulu, disana masih ada tanah-tanah yang belum dibangun menjadi rumah mewah. Masih ada akses untuk menembus ke perumahan lain juga. Di tanah-tanah yang belum dibangun itu, dulu kami bisa mencari tanah liat, atau sekedar menaiki bukit-bukit kecil dari tanah tersebut. Saat ini hampir semua tanah disana sudah dijadikan rumah, dan banyak perubahan yang terjadi disana. Tapi, kesan saya dulu, pergi ke komplek perumahan tersebut sambil menunggu waktu berbuka adalah ngabuburit asyik versi kami anak-anak kecil. Tidak butuh mengeluarkan banyak uang, hanya berjalan kaki, bersenda gurau dengan teman, dan ternyata itu cukup mengasyikkan. Ngabuburit bisa melupakan kita dari rasa lapar dan dahaga. Hehe.

Kalau membersamai anak yang sedang belajar berpuasa, ngabuburit ini susah susah gampang. Kita harus mencari aktivitas yang bisa melupakan anak dari rasa lapar dan dahaga, namun tetap asyik bagi mereka. Kadang, kalau sudah bosan, biasanya akan kepikiran lagi puasanya. Hehe.

Ngabuburit asyik versi kami adalah dengan berjalan ke udara terbuka, tidak perlu jauh-jauh, di sekitar rumah saja. Ke lapangan untuk bisa menghirup udara yang segar, menikmati langit senja yang meneduhkan, sambil mencari menu berbuka yang diinginkan anak. Biar lebih semangat saat berbuka puasa nanti. Atau, jika hari hujan, kami menghabiskan waktu untuk beraktivitas di rumah. Membuat sesuatu, bermain lego, kalau sudah habis ide, biasanya emaknya akan buka aplikasi Pinterest untuk mencari inspirasi. Menghadapi anak yang bosan, dalam kondisi lapar itu terkadang menguras emosi jiwa dan raga. Eh kok malah curhat hehe….

Ngabuburit asyik versi teman-teman, tentunya berbeda dengan saya. Apalagi saat ini banyak istilah-istilah baru yang disandingkan dengan kata ngabuburit ini. Misalnya, teman-teman yang memang terbiasa berolahraga lari, mereka akan mengisi waktu ngabuburitnya dengan berlari. Lari dilakukan di sore hari, menjelang berbuka. Biasa disebut dengan ngabuburun. Ada lagi seorang teman yang memang suka ngabuburit untuk jalan-jalan dengan motor kesayangannya ke tempat yang belum pernah ia datangi, ia menyebut aktivitasnya dengan ngabuburide. Hehe, ada-ada saja ya istilahnya.

Nah, kalau teman-teman, biasa ngabuburit dengan melakukan apa? Siapa tahu bisa jadi inspirasi saya untuk melakukan hal yang sama juga 🙂

~ Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu ~

~ Bergeraklah, karena diam berarti kematian ~