Hakikat Shaum di Bulan Ramadan

Pagi itu, di hari keenam bulan Ramadan. Suasan hati sudah tidak karuan, padahal hari masih pagi. Anak-anak begitu menguji kesabaran. Semua meminta ini, itu, Ingin diperhatikan, sementara rumah masih belum beres sisa hari kemarin. mainan berantakan, cucian piring masih menumpuk, lantai belum disapu dan pel, setrikaan yang menggunung, peer untuk toilet training dan sapih anak kedua, dan masih banyak lagi hal yang berlarian dalam pikiran di kepala.

Berkali-kali menarik napas, untuk mengingat bahwa ini lagi Ramadan. Harus bisa menahan diri ketika Ramadan. Diri ini mengulang-ngulang kalimat tersebut. Sabar… Ini ujian….

Sebenarnya, jauh di lubuk hati yang terdalam, saya ingin melalui Ramadan dengan lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Bisa lebih fokus dalam beribadah. Hati tenang dan tentram saat menjalaninya, dan pikiran ideal lainnya. Hehe.. Siapa sih yang ‘gak mau melalui Ramadan dengan sempurna? Apalagi bisa mendapatkan keistimewaan di malam lailatul Qadr! Aah… pasti bahagianya bila mendapatkan anugerah tersebut. Karena kita tidak pernah tahu, bukan, sampai kapan kita dapat menikmati udara di bulan ramadan mulia ini.

Di pagi yang keenam itu, saya merasa ingin melampiaskan emosi saya. Kenapa sih, saya tidak bisa melalui Ramadan dengan suasana yang lebih kondusif? Kenapa ini sama seperti rutinitas yang juga sering terjadi di hari-hari lain? Pengen deh, Ramadan ini bebas rutinitas dulu.

Eits!

Seketika saya beristighfar. menyesali diri yang masih terbawa nafsu, masih suka berandai-andai. Saya lihat baik-baik diri saya dan sekitar. Hei, saya seorang ibu dari dua anak yang masih berumur lima dan dua tahun. Wajar sekali bila setiap hari ada saja tindakan anak yang mungkin tidak kita harapkan, satau insiden-insiden kecil di rumah yang membuat suasana menjadi ramai. Hehe.

Seorang ibu, tidak mungkin meninggalkan rutinitasnya ketika memasuki bulan Ramadan. Peran dan tanggung jawabnya harus tetap dilaksanakan. Pertanyaan besarnya dalah, bagaimana cara saya, untuk lebih bisa mengatur waktu , agar peran dan tanggung jawab sebagai seorang ibu dan istri tetap berjalan dengann baik, tapi saya juga mampu menngoptimalkan amalan di bulan Ramadan ini.

Pastinya bukan hal mudah untuk melaksanakan semua itu dengan baik. Kalau mudah, berarti ‘gak ada perjuangannya, dong! Hehe… Padahal, sesuatu yang berharga itu harus diperjuangkan. Misalnya apa? Yap, gelar takwa yang kita ikhtiarkan dari shaum kita di bulan ini.

Seketika saya teringat tausiyah dari seorang ustadz. Beliau bilang, sesungguhnya, hakikat shaum di bulan Ramadan adalah menahan. Menahan dari apa? Menahan diri dari sesuatu hal yang levelnya paling bawah, yaitu lapar dan dahaga, lalu menahan diri dari yang level selanjutnya, yaitu dari hawa nafsu, amarah, dst. Menahan diri ketika Ramadan, berarti menjaga diri dari kelalaian, kesia-siaan, dan kemaksiatan. Betapa banyak orang yang shaum ramadan, namun meraka hanya merasakan lapar dan dahaga. Saat berbuka, mereka balas dendam dengan memakan semua makanan yang ada. Hingga tak cukup ruang untuk bersujud pada Allah di malam hari.

Astaghfirullaah…

Berarti, kalau saya masih merasa terganggu dengan hal “remeh” nan “receh” macam rutinitas bocah, ada yang harus diperbaiki dalam “mindset” saya dalam menjalani hari-hari di bulan Ramadan ini.

Harus banyak bersyukur. Itu hal yang ingin saya terapkan di bulan Ramadan ini. Salah satu misi menahan diri ketika Ramadan bagi saya adalah menahan lisan untuk mengucapkan keluhan-keluhan yang membuat saya jadi kurang bersyukur. Keluhan yang membuat saya menjadi fokus pada apa yang tidak saya miliki, dibandingkan dengan apa yang saya miliki.

Berat, yaa… Hehe… Ya, karena pahalanya juga besar. janji Allah ‘gak akan pernah salah. Yuk ah, kita upayakan merebut ridha Allah di bulan Ramadan ini! ๐Ÿ™‚

~ Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu ~

~Bergeraklah, karena diam berarti kematian ~

Jalan-jalan Saat Puasa, Why Not?

Sudah hari kedua mengikuti tantangan ngeblog yang diadakan oleh Indscript Writing. Doakan semoga saya bisa finish sampai akhir yaa…

Memasuki hari kedua belas berpuasa, aroma-aroma THR dan lebaran sudah mulai tercium ya… Hehe… Persiapan mudik atau lebaran biasanya sudah ada yamg memulai di sepuluh hari kedua. Meskipun lebaran masih jauh, namun banyak juga yang sudah mempersiapkan sejak awal.

Mudik biasanya dilakukan di akhir bulan Ramadan atau setelah Idul Fitri. Setelah pegawai kantor atau pelajar memasuki libur lebaran. Dan, tujuan utama mudik biasanya adalah untuk silaturahim dengan sanak saudara, orangtua, dan kerabat lain yang jarang bertemu di hari-hari lain.

Nah, sebelum mudik dan persiapan lebaran lainnya, saat Ramadan, seringkah teman-teman jalan-jalan saat puasa? Biasanya nih, saat sedang puasa, kita menghindari jalan-jalan. Kenapa?

Ada beberapa pertimbangan. Pertama, biar ‘gak terlalu lelah. Apalagi kalau jalan-jalan saat puasa bareng anak-anak yang sedang puasa juga. Khawatir jika anak-anak nanti kelelahan, lalu mereka meminta untuk berbuka lebih cepat. Hehe… Sayang ‘kan? Pertimbangan selanjutnya, tidak bisa makan saat jalan-jalan di siang hari. Biasanya, saat jalan-jalan, lalu perut terasa lapar, kita akan mampir ke restoran atau tempat makan. Tapi, karena sedang puasa, jadi opsi ini pun tidak ada. Atau mau janjian sama teman, bertemu untuk ngobrol-ngobrol, yang biasanya opsibpaling banyak dipilih adalah di tempat makan, kali ini pun tidak bisa. ‘Gak mungkin hanya numpang duduk di tempat makan, bukan? ๐Ÿ™‚

Tapi, benarkah jalan-jalan saat puasa sebegitu melelahkannya? Padahal, acara jalan-jalan bisa jadi satu alternatif untuk mengisi waktu luang saat puasa, apalagi bagi anak-anak yang biasanya saat Ramadan, sekolah akan diliburkan menjelang lebaran. Jalan-jalan bisa membuat anak-anak lupa kalau mereka sedang berpuasa, karena mereka asyik menikmati acara jalan-jalan.

Tahun lalu, saat anak pertama saya berusia 4 tahun, ia mulai belajar berpuasa. Sahurnya memang fleksibel, jam berapapun saat ia bangun pagi. Kadang jam setengah lima, kadang jam lima, atau jam enam. Tapi, alhamdulillah selalu sampai Maghrib. Tahun lalu kami pernah jalan-jalan saat puasa ke Floating Market dan Kota Mini di Lembang.

Jalan menuju Lembang saat itu sangat sepi. Tidak ramai seperti biasanya. Maklum, sedang berpuasa, tempat-tempat wisata cenderung lebih sepi. Tapi saat waktu menjelang berbuka, jalan-jalan biasanya macet, banyak orang yang buka bersama dengan kerabat mereka. Di Floating Market pun, pengunjung terbilang sepi untuk ukuran tempat wisata di Lembang. Kondisi yang sepi ini bagi keluarga kami malah menjadi keuntungan tersendiri. Tidak harus antri untuk mencoba fasilitas tertentu, dan kalau menemukan spot yang bagus untuk berfoto, bisa langsung berfoto, tanpa desak-desakan dengan pengunjung yang ramai. Hehe…

Minusnya hanya ‘gak bisa makan siang aja, meskipun tempat makan di Floting Market tetap buka.

Alhamdulillah anak saya saat itu tetap bisa menikmati jalan-jalan, meskipun dalam keadaan belajar berpuasa. Saat di Kota Mini, anak saya mengikuti beberapa arena role play, salah satunya menjadi koki. Disini, setelah beres membuat permen atau makanan lainnya, makanan tersebut bisa dibawa pulang oleh anak. Saya dan suami sempet deg-degan juga, apakah anak kami akan tergoda dengan makanan, dan akhirnya minta berbuka. Tapi ternyata, anak kami tetap melanjutkan berpuasa, meskipun ia melihat ada anak yang langsung memakan permen buatanya. Sekantung arumanis dibawa pulang oleh anak kami.

Selama berada di Kota Mini, anak tetap happy dan ceria seperti biasanya. Tidak jadi lemes, mungkin karena ia lupa kalau sedang berpuasa. Pulang dari sana, di perjalanan baru terasa lemes, karena dia dalam mobil, jadi anak tidak ada aktivitas tertentu. Hanya duduk menikmati perjalanan. Kami bujuk untuk tidur saja sambil menunggu waktu berbuka. Alhamdulillah, puasa anak hari itu tidak batal dengan pergi jalan-jalan.

Jadi, saat kita mengajak anak untuk jalan-jalan saat puasa, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, anak di-briefing terlebih dahulu, bahwa kita akan jalan-jalan, anak bisa melakukan apa saja, kecuali makan dan minum. Saat sahur, anak dianjurkan minum yang banyak. Lalu, pilih tempat wisata yang memiliki fasilitas bermain yang disukai oleh anak-anak, dan relatif sepi pada bulan Ramadan. Dampingi anak-anak selalu, agar saat ia mulai lelah, kita bisa menyemangatinya untuk tetap berpuasa bila ia kuat, dan kalau tidak kuat, ya berbuka. Apalagi untuk anak-anak yang masih dalam tahap belajat puasa.

Jangankan anak-anak, kita sebagai orang dewsa saja kadang merasa lelah saat jalan-jalan di bulan puasa, apalagi anak-anak. Hehe..

Oh iya, satu hal, puasa itu bukan berarti kita jadi males ngapa-ngapain ya… Puasa tetap harus produktif juga. Meskipun memang tetap melihat kondisi kita.

Semoga puasanya lancar ya, teman-teman!

~ Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu ~

~ Bergeraklah, karena diam berarti kematian ~

Istimewanya Ramadan, Penuh Berkah

Waaah, Ramadan sudah memasuki hari kesebelas! Alhamdulillah.. Sudah sepuluh hari pertama terlewati di bulan ini. Bersyukur banget Allah masih memberi kesempatan untuk meraih berkah Ramadan, yang ‘gak semua orang bisa mendapatkannya. Berapa banyak sih, orang yang sangat menantikan kehadiran bulan Ramadan, namun tidak Allah sampaikan di bulan ini? Tapi, jangan salah juga, berapa banyak orang yang sudah diberi kesempatan untuk masuk dan beramal di bulan Ramadan, namun tidak mampu mengoptimalkan waktunya di bulan Ramadan?

Ngomong-ngomong, di hari kesebelas ini, bagaimana Ramadan teman-teman? Bagaimana dengan target Ramadan yang sudah direncanakan di awal?

Sedikit curhat, .kalau saya pribadi, biasanya, awal Ramadan begitu bersemangat untuk melakukan banyak hal. Ingin bisa khatam Al-Qur’an berapa kali, ingin bisa sedekah sekian, ingin mengikuti kajian ini dan itu, dan masih banyak lagi. Hari-hari awal Ramadan, masih bisa mengikuti target, namun, semakin kesini, semangat itu mulai menurun, apalagi kalau dihadapkan dengan kondisi keseharian saya sebagai ibu rumah tangga yang kesibukan dan rutinitasnya tidak ada habisnya setiap hari. Saat sedang lelah,, kadang ingin menyerah, ingin segera beristirahat saja. Hehehe… Lemah banget ya…

Tapi, alhamdulillah, hal tersebut kadang muncul sesekali, saat diri dilanda kelelahan yang luar biasa. Biasanya, keesokan harinya saya mulai bersemangat lagi. Kenapa? Ya, saya tidak ingin melewati Ramadan ini begitu saja, .saya tidak ingin melewatkan berkah Ramadan yang begitu banyak di bulan ini.

Apa aja sih berkah Ramadan itu? Saya mau sedikit menuliskan tentang berkah Ramadan yang saya rasakan. Disclaimer, kalau tentang Ramadan yang lengkap dengan penjelasan ayat atau haditsnya, itu bisa teman-teman dapatkan dari kajian-kajian ustadz yang memang mumpuni. Hihi… kalau saya disini ingin berbagi tentang apa yang saya rasakan tentang Ramadan.

Salah satu berkah Ramadan adalah dilipatgandakan pahala saat kita berbuat kebaikan. Buat saya, ini kesempatan emas banget. Saat di bulan lain mungkin kita terlalu asyik mengejar dunia dan mencari seonggok berlian (hehehe…), di bulan ini kita secara sadar dikondisikan untuk lebih menata ibadah dan berbuat amal kebaikan. Dulu, saat masih kuliah, saya senang sekali untuk menghabiskan waktu selama bulan Ramadan di masjid kampus. Kenapa? Suasananya kondusif sekali untuk memotivasi memperbanyak ibadah. Lihat setiap sudut masjid, banyak orang sedang bertilawah, di masjid kampus juga setiap hari disediakan makanan berbuka puasa secara gratis. Bukan hanya ta’jil saja, tapi juga makanan beratnya. Ini salah satu berkah Ramadan buat anak kost yang paling terasa. Hehe… Meskipun saya bukan anak kost, sih… hehe…

Di hari-hari biasa, kadang saya merasa sangat berat untuk melakukan ibadah, atau amal kebaikan. Saya merasa sibuk sendiri. Namun, saat bulan Ramadan, atmosfer yang tercipta di sekitar saya membentuk saya untuk lebih bersemangat mengejar pahala. Oh iya, apalagi ada malam Lailatul Qadr yang begitu istimewa.

Berkah Ramadan berikutnya yang paling saya rasakan adalah kesempatan untuk menjalin silaturahim yang terbuka lebar. Bagaimana tidak, hampir setiap Ramadan selalu ada undangan buka bersama atau biasa disingkat bukber, bukan? Ya bukber teman-teman SD, SMP, SMA, kuliah, kerja, keluarga, sampai bukber dengan tetangga komplek. Hehehehe.. bahkan ada temaan-teman yang wakttu berbuka puasa di rumahnya bisa dihitung jari, karena sisanya mengikuti ajakan bukber dengan teman-teman.

Ilustrasi dari rawpixel.com

Bagi saya pribadi, semenjak punya anak, undangan bukber nyaris tidak bisa hadir, selain karena faktor anak, ditambah juga dengan pertimbangan tempat bukber. Sayang saja kalau undangan bukber di restoran mall, apalagi yang fasilitas mushalanya kurang, jadi malah bikin kita tidak nyaman melaksanakan shalat, atau bahkan terlewat waktu shalat Maghrib. Jadi, bagi saya, bulan Ramadan lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga, orang tua, dan saudara yang pada hari biasa sulit untuk bertemu, di bulan ini jadi diagendakan untuk bertemu.

Ada banyak lagi berkah Ramadan di sekeliling kita. Menjamurnya kajian keislaman yang menjadikan kita bisa memilih, mau mengikuti kajian yang mana, materi tentang apa, kegiatan i’tikaf yang makin banyak diselenggarakan oleh masjid-masjid, bahkan oleh masjid yang terbilang kecil sekalipun. Nah, menjelang lebaran, biasanya ada keberkahan lain yang ditunggu-tunggu nih, THR dan waktunya mudik. Hehe. Buat kita yang mendapatkan rezeki berlebih, waktu menjelang lebaran, adalah waktunya untuk berbagi lebih banyak. Zakat fitrah, dan infak bagi orang-orang yang membutuhkan di sekitar kita.

Ilustrasi dari Google

Nah, bagi teman-teman, apa sih keberkahan Ramadan yang paling terasa?

By the way, semoga tetap semangat menjalani hari-hari Ramadannya ya teman-teman.

~ Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu ~

~ Bergeraklah, karena diam berarti kematian ~

Istimewanya Waktu Berbuka Puasa

Bismillaah…. Hari pertama Ramadhan. Ramadhan kali ini, memberanikan diri untuk ikut challenge dari Blogger Perempuan Network lagi. Setelah akhir tahun lalu berhasil menantang diri untuk ikut challenge yang diadakan Blogger Perempuan Network, kali ini juga berharap bisa menyelesaikan tantangan. Soalnya, kerasa banget, kalau diri ini butuh ditantang untuk keluar dari perasaan malas. Saat ada tantangan yang harus dikerjakan, eh, ternyata bisa-bisa aja kok curi waktu untuk nulis di blog walaupun singkat. Jadi, lebih banyak alasannya ternyata saat ingin menulis. Hehe. Sok sibuk.

Awalnya aku ragu ikut challenge ini. Kebayang gak sih, challenge di bulan Ramadhan? Buat ngejar targetan Ramadhan aja masih ngos-ngosan, apalagi ditambah targetan nulis? Tapi, suami ikut mendukung, katanya, cobain aja. Yang harus dibenahi adalah manajemen waktu kita, bukan justru malah mundur dari setiap kesempatan yang ada. Baiklaah… Dicobaa yaa… ๐Ÿ™‚

Ngomong-ngomong tentang Ramadhan, apa sih yang paling berkesan di Ramadhan bagi teman-teman?

Ramadhan identik dengan buka puasa. Waktu yang begitu ditunggu-tunggu oleh kaum muslimin ini, memang berbeda dengan hari-hari biasa. Ketika Ramadhan, adzan Maghrib menjadi adzan yang paling dinantikan. Hehe… Semua channel tv dilihat untuk memastikan adzan Maghrib. Kalau lihat di jalan-jalan, hampir semua pedagang makanan saat menjelang berbuk penuh diserbu pembeli. Bahkan, makanan bisa habis dalam waktu sekejap.

ย Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda,

ู„ุงูŽ ูŠูŽุฒูŽุงู„ู ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณู ุจูุฎูŽูŠู’ุฑู ู…ูŽุง ุนูŽุฌูŽู‘ู„ููˆุง ุงู„ู’ููุทู’ุฑูŽ
โ€œManusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.โ€ (HR. Bukhari no. 1957 dan Muslim no. 1098)


Ternyata, Rasulullah pun menganjurkan untuk menyegerakan berbuka. Jadi, memang sudah sesuai dengan sunnah Rasulullah saat kita bersegera berbuka. Namun, tetap sewajarnya saja. Waktu berbuka puasa, bukan waktunya balas dendam karena seharian tidak makan, lalu saat berbuka semua disantap. Udah sering juga lihat orang-orang yang membeli banyak makanan untuk berbuka, tapi saat waktu berbuka tiba, hanya sedikit makanan yang masuk, ternyata sudah membuat kenyang. Hehe… Makanan pun bersisa. Sayang, kan… Makanan enak-enak, tapi harus bersisa, atau bahkan terbuang begitu saja, karena kita mengikuti nafsu yang begitu besar. Sejatinya, berpuasa adalah menahan diri, bukan? Termasuk menahan diri dari hal-hal yang sia-sia. Dan bukankah salah satu hikmah berpuasa agar kita bisa berempati dengan saudara-saudara kita yang kekurangan dan kelaparan?

Berbuka puasa harus semangat, tapi jangan sampai kita kehilangan makna saat berbuka puasa ya… ๐Ÿ™‚

Happy fasting everyone!

~ Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu ~

~ Bergeraklah, karena diam berarti kematian ~

Jangan Lupa Bersyukur!

Jangan Lupa bahagia!

Akrab dengan kalimat itu?

Ya, akhir-akhir ini banyak terdengar kalimat seperti ini, atau bahkan hashtag #JanganLupaBahagia di media sosial. Apa ada yang salah?

Hehe. Gak kok, gak ada yang salah. Bahkan, karena hashtag tersebut, saya jadi menyadari, bahwa menjadi bahagia itu ya harus diusahakan, bahkan sampai diingatkan seperti ini. Karena begitu cepatnya dunia di sekitar kita bergerak, dan diri kita sedang terengah-engah mengejar “dunia”, seringkali kita lupa untuk membahagiakan diri sendiri.

Betapa banyak orang yang memiliki harta yang berlimpah, tapi setiap hari, yang keluar dari lisannya adalah keluhan, dan wajah murung yang teramat jelas dari wajahnya. Nyatanya, harta berlimpah tak jadi jaminan untuk bahagia.

Ada yang bilang, hidup hanya sekali, jangan lupa bahagiakan diri.

Semakin kesini, saya jadi lebih berpikir, kalau untuk saya pribadi, saya lebih cocok dengan kalimat, “Jangan Lupa Bersyukur”. Kenapa? Buat saya, bersyukur adalah inti untuk mendapatkan hati yang lapang, dan bahagia pun akan hadir, insya Allah.

Kalau saya sedang kurang banget rasa syukurnya, mau sebanyak apapun nikmat di depan mata, rasanya ada aja yang bikin saya kesal, gelisah, banyak mengeluh, dan uring-uringan. Gimana perasaan mau bahagia?

Syukur itu, salah satu kondisi yang bisa membuat seorang mukmin tetap berada dalam kebaikan. Apapun kondisinya.

“Sungguh menakjubkan urusan seorang Mukmin. Sungguh semua urusannya adalah baik, dan yang demikian itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh orang Mukmin, yaitu jika ia mendapatkan kegembiraan ia bersyukur dan itu suatu kebaikan baginya. Dan jika ia mendapat kesusahan, ia bersabar dan itu pun suatu kebaikan baginya.” (HR. Muslim)

Dan selalu berada dalam kondisi syukur ini gak mudah untuk saya pribadi. Ada aja godaannya, ya selalu lihat rumput tetangga yang lebih hijau, sampe lihat akun instagram sebelah yang tampilannya kece banget. hehe… ๐Ÿ™‚

Jadi, jangan lupa bersyukur, biar bisa tetap bahagia, itu intinya…

Hidup hanya sekali, harus berarti. Berarti dalam apa? Ya dalam pandangan Allah. Pandangan manusia suka tipu-tipu dan menipu soalnya… ๐Ÿ˜€

~Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu~

~Bergeraklah, karena diam berarti kematian~

Ikut Setip Yuk, Biar Gak Mager Nge-blog!

Sudah 1 bulan ya, tahun 2019 berjalan. Gak kerasa udah masuk bulan Februari lagi. Langsung kepikiran sama resolusi 2019 gang sudah dirancang di awal tahun ini.

Ternyata, waktu 31 hari itu bisa berlalu sedemikian cepat tanpa kita sadari. Kita bisa terlena dengan waktu, tanpa menyadari bahwa ada banyak waktu yang kita sudah abaikan begitu saja.

Nah, sekitar 2 hari lalu, saya melihat postingan salah satu teman saya di Instagram, tentang event yang diadakan oleh Estrilook Community. Event ini tentang ajakan untuk ngeblog setiap pekan minimal 3 kali postingan, alias SETIP. Wiiih… Langsung dong, syaraf-syaraf di otak bekerja, dan menemukan “AHA” moment . Ini yang saya butuhkan.

Salah satu resolusi saya tahun ini dalam bidang blogging adalah membuat postingan minimal 2-3 kali sepekan, karena kalau sehari satu postingan, saya ga kuat deh. Hehe. Nyerah.

Makanya realistis aja di angka 2-3 postingan. Eh eh… Ternyata, setelah 1 bulan berlalu, saya juga gak berhasil menjalankan resolusi ini. Di bulan Januari 2019, saya hanya berhasil membuat 4 postingan aja, yang berarti kalau dirata-ratakan, seminggu hanya bisa 1 kali posting.

Begitu ketemu challenge SETIP ini, saya ingin banget bisa ikut, agar bisa memaksa diri saya untuk bisa mewujudkan resolusi yang sudah saya buat. Siapa tahu, kalau saya konsisten mengikuti SETIP ini, saya bisa terlatih untuk rajin nge-blog, dan gak mager untuk buat postingan.

Doakan semoga saya berhasil yaa… Buat teman-teman yang butuh menantang diri juga, bisa banget loh ikut SETIP, mumpung masih baru mulai. ๐Ÿ˜„

~Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu~

~Bergeraklah, karena diam berarti kematian~

Tulisan Favorit di Blog

Kalau nulis di blog, sukanya menulis tentang apa sih?

Sedikit cerita, blog yang saya gunakan ini adalah blog yang baru lahir di Agustus 2018 lalu. Masih newborn banget hehe… Postingannya pun baru beberapa. Karena itulah, jadi ingin men-challenge diri sendiri, dengan ikutan #BPN30dayChallenge2018 ini, sekaligus latihan konsistensi.

Jadi kalau ditanya, suka menulis tema apa di blog, masih terlalu dini untuk menjawab secara sempurna #tsaaah… ๐Ÿ™‚

Kalau di “rumah” ini, tulisan yang saya tulis masih dominan tentang review buku yang sudah saya baca, dan beberapa tulisan dalam rangka muhasabah.

Blog ini juga rencananya belum akan dijadikan blog dengan niche tertentu (sampai saat tulisan ini diturunkan yaa… hehe.. belum tahu ke depan seperti apa). Sebab, saya memposisikan diri saya sebagai “blogger wanna be” atau seseorang yang masih awam dan masih sangat perlu belajar segala sesuatunya tentang blog. meskipun sudah mengenal blog lama, tapi sebenarnya, saya belum tau apa-apa. Sama kaya orang yang sudah pacaran bertahun-tahun, tapi ternyata belum tahu luar dalam pasangannya.ย  Loh… jadi cocokologi hehe… Intermezzo… ๐Ÿ˜€

berdasarkan pengalaman menulis di blog sebelumnya, beberapa tema yang suka saya tulis, ada beberapa macam.

Tema tentang parenting dan keluarga. Tema ini baru saya tuliskan setelah saya melalui perjalanan menikah, menjadi seorang istri, lalu alhamdulillah menjadi seorang ibu. Semua hal yang berkaitan dengan parenting dan keluarga, sangat menarik bagi saya. Saya sadar banget kalau ilmu saya dalam bab ini masih kurang. Jadi, setiap mendapatkan pengalaman atau ilmu baru, rasanya ingin saya bagikan dalam blog saya. Mungkin saja dari pengalaman yang saya alami, bisa diambil hikmahnya oleh newbie mom macam saya dulu. ๐Ÿ™‚

Lalu berikutnya tema mengenai kontemplasi atau muhasabah diri. Saya senang mengamati sekitar saya, lalu saya pikirkan apa hikmah yang ada di dalamnya, lalu saya tuangkan dalam tulisan. No, bukan untuk menggurui siapapun ya.. Ini lebih ke reminder untuk diri saya sendiri.

Tema literasi, adalah tema yang juga saya suka sekali untuk menuliskannya. Termasuk dalam book review, atau perjalanan saat saya melahirkan beberapa buku, baik buku antologi maupun buku solo. Semacam portofolio hidup yang saya simpan kisahnya dalam blog.

Sisanya, masih random banget, ya cerita tentang perjalanan ke kota mana, pengalaman menghadapi situasi yang sulit, atau sekedar curhatan receh yang minim faedah, bisa juga terpampang nyata dalam blog saya. hehe. Inilah salah satu alasan saya untuk pindah rumah ke wordpress, biar lebih serius. Dan memang merupakan salah satu misi yang saya azzamkan di awal tahun 2018 lalu.

Itu tadi beberapa tema yang sering saya tuliskan dalam blog. Ada ide tema tulisan yang kece untuk ditampilkan di blog? Sharing, yuk!

~ Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu ~

~ Bergeraklah, karena diam berarti kematian ~